NovelToon NovelToon
REMBULAN YANG DIRINDUKAN

REMBULAN YANG DIRINDUKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.

Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Malam yang merayap di markas Kepolisian Resor Kota Besar tidak membawa ketenangan. Di dalam ruang kerjanya yang diterangi lampu neon putih yang benderang, AKBP Ridwan berdiri di depan sebuah papan tulis besar. Papan itu dipenuhi dengan potongan foto, manifes kendaraan, dan garis-garis merah yang saling silang. Di bagian atas papan, dua nama dilingkari dengan spidol merah tebal: **Iptu Deni** dan **Barja**.

Pintu ruangan diketuk dengan tergesa-gesa. Seorang bintara intelijen masuk, memberikan penghormatan kaku sebelum menyodorkan sebuah map jepit berwarna kuning.

"Lapor, Komandan. Informan kita di sektor barat baru saja memberikan konfirmasi. Informasi mengenai hilangnya Iptu Deni mulai menemui titik terang. Ini bukan sekadar pelarian biasa," ucap petugas intelijen itu dengan napas yang sedikit memburu.

Ridwan menerima map tersebut, membukanya dengan cepat. Matanya menyipit saat membaca baris demi baris laporan lapangan. "Jadi... rumor itu benar? Deni bekerja sama dengan Barja?"

"Siap, Komandan. Laporan dari unit siber dan informan di area pelabuhan menunjukkan bahwa Iptu Deni telah lama menjadi mata-mata dan pembersih jalur logistik untuk bisnis Barja. Barja bukan hanya bos gangster lokal; dia adalah pengendali jaringan prostitusi kelas atas dan mucikari lintas provinsi."

Ridwan menggebrak meja kerjanya hingga cangkir kopi berbahan kaleng di atasnya bergetar. "Bajingan! Seorang perwira pertama kepolisian menjadi anjing penjaga seorang mucikari!" Ridwan memutar tubuhnya, menatap papan tulis dengan rahang yang mengeras. "Lalu, kenapa sekarang mereka saling memburu?"

"Ada perselisihan internal, Komandan. Dari penyadapan nomor sekunder yang diduga milik anak buah Barja, mereka sekarang justru bermusuhan sengit. Barja mengerahkan seluruh jaringan premannya di pinggiran kota untuk memburu Deni. Mereka ingin menghabisi Deni secara mandiri."

Ridwan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke halaman parkir mapolres. Pikirannya berputar cepat laksana mesin. Situasi ini sangat berbahaya, namun sekaligus menjadi peluang emas. Deni adalah pria yang licin. Selama bertahun-tahun, dia berhasil lolos dari pengawasan divisi profesi dan pengamanan (Propam) karena memiliki kolega, seorang perwira tinggi di markas besar yang posisinya jauh berada di atas Ridwan. Kolega itulah yang selalu membisikkan rencana pergerakan tim Ridwan ke telinga Deni.

Di sisi lain, Barja bukanlah gangster jalanan yang mudah diringkus. Dia memiliki kekuatan finansial yang luar biasa untuk menyuap dan memiliki backing politik yang kuat di jajaran birokrasi pemerintahan daerah. Menangkap salah satu dari mereka tanpa bukti yang mutlak sama saja dengan bunuh diri karier bagi Ridwan.

"Deni memegang kunci semua dokumen transaksi Barja," gumam Ridwan, suaranya terdengar dingin dan penuh kalkulasi. Dia berbalik, menatap tajam anak buahnya. "Kita tidak boleh membiarkan Barja menemukan Deni lebih dulu. Jika Deni mati di tangan preman Barja, kita akan kehilangan satu-satunya saksi mahkota yang bisa meruntuhkan seluruh jaringan mereka, termasuk para pejabat yang melindungi mereka di atas."

Ridwan melangkah tegap ke mejanya, menekan tombol interkom untuk menghubungkan seluruh unit taktis.

"Dengarkan perintah saya!" seru Ridwan dengan nada menggelegar yang memecah keheningan malam di seluruh koridor unit reserse. "Cepat sebarkan seluruh unit intelijen ke sektor-sektor rawan! Masuk ke sarang-sarang perjudian dan prostitusi milik Barja. Cari Deni sampai dapat! Jangan sampai dia bertemu dengan anak buah Barja. Kita harus mengamankan Deni hidup-hidup agar kita bisa memeras keterangan darinya untuk meringkus Barja dan membersihkan institusi ini!"

"Siap dan laksanakan, Komandan!" jawab suara dari seberang interkom dengan serentak.

### **Murka Sang Mucikari**

Di sebuah kompleks pergudangan tua yang terisolasi di kawasan industri pelabuhan, suasana terasa sangat mencekam. Ruangan kantor di lantai dua gedung itu beraroma cerutu murah, minuman keras, dan keringat dingin.

KRETEKK!

Suara tulang jari yang patah terdengar mengerikan, disusul jeritan melengking dari seorang pria yang tubuhnya sudah berlumuran darah, terikat di atas kursi besi. Di hadapannya, berdiri seorang pria berbadan tambun dengan tato ular naga yang menjalar dari leher hingga ke lengan kirinya. Pria itu adalah Barja.

Barja mengembuskan asap cerutunya tepat ke wajah pria yang terkulai lemas itu, lalu membuang puntungnya ke lantai, menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya yang mengkilap.

"Brengsek! Si Deni itu benar-benar tidak tahu diri!" Barja berteriak, suaranya berat dan serak, memantul di dinding ruangan yang lembap. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun. "Dia sudah kubayar ratusan juta untuk mengamankan jalur pengiriman dari Tasikmalaya! Dia sudah sepakat untuk menyerahkan si Bella ke kelabku sebagai gantinya! Tapi apa yang dilakukan anjing seragam itu?!"

Barja menjambak rambut anak buahnya yang gagal menjaga jalur komunikasi dengan Deni. "Dia justru ingin mencicipi si Bella sendirian! Dia menyembunyikan perempuan itu di rumah aman lamanya dan mencoba bermain di belakangku!"

Barja berjalan mendekati meja kayu besar, mengambil sebilah pisau komando yang berkilau tertimpa cahaya lampu yang temaram. Wajahnya tampak sangat menjengkelkan, penuh dengan guratan keserakahan dan kebengisan yang absolut. Bagi Barja, Bella bukan sekadar wanita, melainkan komoditas berharga tinggi yang bisa ia jual kepada kolega-kolega politiknya untuk memperkuat posisinya. Tindakan Deni yang mencoba menguasai Bella secara pribadi adalah penghinaan besar bagi kekuasaannya.

"Cari Deni! Kerahkan semua anak-anak dari Terminal Barat sampai Pelabuhan Utara!" perintah Barja kepada orang kepercayaannya yang berdiri tegap di dekat pintu. "Aku tidak mau dia mati dengan mudah. Bawa dia ke hadapanku hidup-hidup! Aku ingin membuat dia memohon-mohon meminta kematiannya sendiri sebagai hadiah tertinggi. Aku akan menguliti kesombongannya sebagai seorang polisi!"

"Baik, Bos. Pergerakan sudah dimulai. Kami juga mengawasi pergerakan mobil-mobil dinas anak buah Ridwan," jawab pria itu sebelum membungkuk dan keluar dari ruangan.

### **Pelarian Sang Serigala Licin**

Sementara dua kekuatan besar sedang mengobrak-abrik kota untuk mencarinya, orang yang paling diburu saat ini sedang duduk di sebuah sudut gang sempit yang gelap, di kawasan pemukiman padat penduduk yang kumuh.

Iptu Deni, pria yang dulunya selalu tampil necis dengan seragam cokelat yang rapi, kini nyaris tidak dikenali. Wajahnya kusam, dipenuhi jambang tipis yang mulai tumbuh tidak teratur. Dia mengenakan kaos oblong putih yang sudah menguning oleh keringat dan celana kain murah yang longgar.

Deni benar-benar berada dalam kondisi terdesak. Statusnya kini adalah buronan—baik oleh hukum maupun oleh dunia hitam. Setelah rencana penculikannya terhadap Bella gagal total karena intervensi mendadak dari Ridwan, dan setelah dia tahu Barja mengamuk karena merasa dikhianati, Deni terpaksa melarikan diri tanpa membawa apa pun kecuali sepucuk pistol dinas dengan dua magasin tersisa dan sisa uang tunai di dalam tas pinggangnya.

Awalnya, dia mencoba bersembunyi di rumah salah satu temannya sesama anggota polisi di luar kota, namun temannya itu menolak karena takut terseret kasus Propam. Dia kemudian mendatangi rumah saudaranya, namun desas-desus bahwa dirinya dicari oleh gangster Barja membuat saudaranya ketakutan dan mengusirnya di tengah malam.

Kini, Deni menyewa sebuah kamar kontrakan petak yang sempit dan berbau apak di pinggiran kota. Untuk menyambung hidup dan menghindari kecurigaan warga sekitar serta endusan intelijen Ridwan, sang perwira polisi ini terpaksa menurunkan martabatnya sedalam-dalamnya. Dia menyamar menjadi seorang pedagang asongan.

Deni menatap sebuah kotak kayu persegi yang tergantung di lehernya menggunakan tali rapiah. Kotak itu berisi beberapa bungkus rokok, permen, dan tisu murah.

"Sialan... Benar-benar sialan!" umpat Deni dengan suara berbisik, matanya bergerak liar memandangi setiap orang yang lewat di ujung gang. Gigi-giginya bergemertak menahan amarah dan kehinaan yang harus ia tanggung. “Ridwan... Barja... kalian pikir kalian bisa menangkapku? Aku tidak akan membiarkan kalian menjebloskanku ke penjara atau membunuhku di gudang tua itu!”

Deni meraba lambung kanannya, memastikan keberadaan pistol yang terselip di balik kaos oblongnya. Senjata itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. Di dalam otaknya yang licik, dia masih memikirkan cara untuk menggunakan koneksi koleganya yang berada di jajaran atas markas besar. Dia hanya butuh waktu untuk menghubungi perwira tinggi tersebut tanpa terlacak oleh unit siber Ridwan.

“Begitu aku bisa menghubungi Jenderal... aku akan pastikan Ridwan dicopot dari jabatannya, dan aku sendiri yang akan memimpin tim untuk meratakan seluruh bisnis Barja,” batin Deni penuh dengan racun balas dendam yang menjengkelkan. Dia tidak merasa bersalah sedikit pun atas kehancuran rumah tangga Fatih dan penderitaan Bella yang telah ia ciptakan. Baginya, semua orang hanyalah bidak catur yang boleh dihancurkan demi kepuasan pribadinya.

Deni yang semalaman kurang tidur, karena gelisah nyawanya sedang terancam, kini dia bangkit dari duduknya, membetulkan letak kotak asongannya, lalu melangkah keluar dari gang sempit itu, membaur di antara hiruk-pikuk masyarakat kelas bawah yang mulai memadati pasar tradisional pagi itu. Dia berjalan dengan kepala menunduk, menjadi serigala berbulu domba yang bergerak di antara bayang-bayang, sementara di luar sana, jaring takdir dari Ridwan dan murka dari Barja semakin mendekat, siap mencabik-cabiknya dari dua arah yang berbeda. Ketegangan di kota itu kini berada di titik didih, menunggu sumbu pendek yang akan meledakkan segalanya.

1
falea sezi
😒😒 umi umi klo qm. jodohin fatih pasti bella pergi jauhh🤣🤣🤣 biar mampus anak mu itu
Katumbiri Lazuardi: iya kak, makasih komen nya.. sehat selalu.. jangan lupa like dan subcribe ya.. ikuti terus
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Katumbiri Lazuardi: siap kak, jangan lupa like dan subcribe nya .. terus ikuti yah🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!