Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Panas Hati
Melati menarik napas dalam, meski matanya tak bisa melihat, ia menghadapkan wajahnya tepat ke arah suara Bagas. “Tuan Bagas yang terhormat,” ucapnya dengan suara bergetar tapi menohok. “Jika Anda berpikir dunia ini hanya berputar karena uang dan status, maka Anda jauh lebih buta daripada saya."
Bagas seketika terdiam seribu bahasa, lidahnya mendadak kelu diterjang kalimat menohok dari gadis yang ia remehkan.
“Salsa, tolong antar aku kembali ke atas,” pinta Melati dengan air mata yang mulai menggenang. Tak mau membuang waktu, Melati sambil menahan tangis segera berbalik dan melangkah terburu-buru menuju kamar.
Mengacuhkan Bagas yang masih berdiri terpaku menatap punggungnya dengan penuh niat busuk yang kian membara untuk merebut gadis itu dari pelukan Bram.
Ia mengumpat lirih, meremas gawainya dengan amarah yang membakar dada akibat penolakan Melati. Sambil melangkah gusar menuju mobil sport-nya.
Bagas segera mencari kontak Mawar di daftar blokir, membukanya, lalu menekan tombol panggil tanpa membuang waktu.
“Halo, Bagas?” sahut Mawar di seberang telepon, terdengar bergetar dilingkupi romansa dewasa yang sarat kepanikan. “Ada apa menghubungi malam-malam?”
“Aku akan berikan sisa uang dua miliar delapan ratus juta rupiah malam ini juga ke rekeningmu,” tukas Bagas dingin, memotong kalimat Mawar tanpa basa-basi.
“Benarkah? K-kamu serius?” Mawar tercekat, drama pemerasannya berbuah manis dengan nominal yang fantastis.
“Ada syaratnya. Besok pagi, kau harus meletakkan surat pengunduran diri di meja kerja ayahku. Aku tak mau melihat wajahmu lagi di kantor Utama Group. Paham?” perintah Bagas, suaranya merendah penuh penekanan intrik kelam.
“Baik, aku setuju. Aku akan mengundurkan diri besok pagi,” jawab Mawar mantap, terbutakan oleh kilau miliaran rupiah.
“Bagus. Urusan kita selesai.”
Sambungan diputus Bagas sepihak. Pemuda kaya itu menyeringai licik di balik kemudi, jemarinya lincah mentransfer sisa dana seraya otaknya menyusun rencana busuk untuk memanfaatkan keserakahan Mawar demi menghancurkan hubungan Bram dan merebut Melati di hari lamaran mereka nanti.
Pagi itu, Mawar berjalan dengan angkuh melintasi lobi kantor Utama Group. Ia mengenakan pakaian bermerek yang dibelinya dari uang transferan dari Bagas.
Melangkah angkuh menuju meja kerjanya dengan dagu terangkat. Bersiap mengakhiri drama pekerjaannya di sini dengan sebuah intrik kesombongan yang dramatis.
"Mawar? Tumben pakaianmu modis sekali hari ini," sapa Ratih, rekan kerjanya, bagian administrasi, dengan dahi berkerut heran.
"Tentu saja. Ini hari terakhirku menginjakkan kaki di kantor ini," sahut Mawar dengan nada sengaja dikeraskan, memancing perhatian karyawan lain. Ia melempar sebuah amplop putih tebal ke atas meja. "Aku ke sini cuma mau menyerahkan surat pengunduran diri."
"Lho, mendadak sekali? Kamu dapat pekerjaan baru yang lebih bagus, kah?" tanya Ratih kepo, sementara beberapa teman kantor Mawar mulai saling berbisik iri melihat penampilannya.
"Lebih dari sekadar bagus, Ratih. Aku mau fokus mempersiapkan pernikahanku," ucap Mawar setengah pamer, jemarinya yang lentik berpura-pura merapikan rambut. "Calon suamiku itu pria kaya raya, konglomerat mapan yang sanggup membelikan apa saja. Jadi, buat apa aku susah-susah jadi budak korporat di sini?"
"Wah, beruntung sekali kamu ya, Mai," bisik karyawan lain dari balik sekat, mata mereka memancarkan rasa tidak suka sekaligus dengki atas kesombongan Mawar. Apalagi Mawar memang terkenal tak mau kalah.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Suara bariton yang berat itu seketika menghentikan riuh bisikan di ruangan. Heru Utama, sang pemilik perusahaan, berdiri di ambang pintu koridor dengan tatapan mata yang tajam dan berwibawa.
"Eh, Pak Heru. Ini, Pak ... Mawar mau mengundurkan diri hari ini," lapor Ratih dengan gugup, menyerahkan amplop putih milik Mawar kepada sang atasan.
Heru menerima amplop itu, melirik Mawar dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang dingin. Selama ini, ia tahu betul kinerja Mawar tidak begitu baik dan sering melakukan kesalahan administrasi. "Mau mengundurkan diri? Sekarang?" tanya Heru memastikan, tanpa riak emosi.
"Benar, Pak. Saya rasa kapasitas saya sudah tidak di sini lagi. Calon suami kaya saya. Melarang saya untuk bekerja," jawab Mawar, mencoba beradu pandang dengan angkuh di hadapan sang CEO. "Biar nggak capek katanya."
Heru mendengkus pelan, merasa muak dengan koar kesombongan pegawainya ini.
Ia langsung berbalik arah tanpa membuka amplop tersebut. "Baguslah. Ratih, bawa surat ini ke ruang HRD sekarang juga. Katakan pada mereka untuk langsung memproses pengunduran diri Mawar hari ini tanpa penundaan. Kita tidak butuh karyawan yang tidak fokus pada pekerjaan."
"Baik, Pak," sahut Ratih cepat, langsung menyambar amplop di meja.
Mawar seketika ternganga, wajahnya memerah padam menahan malu karena tanggapan dingin Heru yang justru terkesan sangat bersyukur mendepaknya keluar dari perusahaan.
Usai dialog dingin itu, Heru melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi, membiarkan Mawar berdiri mematung di tengah kepungan tatapan sinis dan tawa tertahan dari rekan-rekan kantornya. Dengan sisa-sisa harga diri yang runtuh. Mawar menyambar tas mewahnya, lalu berbalik dan mengentakkan kakinya kasar menuju lift. Bertekad dalam hati untuk segera merealisasikan rencana kejamnya bersama Herwanto demi membalaskan sakit hati yang kian menumpuk di dadanya hari ini.
Mawar yang sedang rebahan di atas kasur kamarnya yang sempit mulai menyalakan gawai. Ia tak sabar ingin tinggal ke rumah yang lebih besar.
Jari-jemarinya yang agresif bergerak lincah. Menyusuri daftar kontak, berniat mencari nomor telepon anak tetangganya yang bekerja sebagai sales perumahan mewah.
Dengan uang miliaran di rekening hasil memeras Bagas. Mawar ingin segera angkat kaki dari lingkungan kumuh ini dan membeli sebuah rumah mentereng.
Begitu menemukan nama yang dicari, Mawar langsung melakukan panggilan video. "Halo, Cindy? Kamu masih kerja di perumahan elite Cluster Permata, kan? Aku mau cari rumah di sana. Kalau bisa yang lebih besar dan ada kolam renangnya."
"Wah, Mawar? Serius kamu?" sahut Cindy di seberang telepon, wajahnya tampak terkejut di layar gawai. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah heboh. "Aduh, tapi sayang banget, Mai. Unit yang ada kolamnya. Posisi hook pula. Baru saja laku terjual, pagi tadi."
"Apa?" Mawar tersentak. "Aku beli cash. Itu orang paling juga beli kredit."
"Jangan salah kamu," sergah Cindy sambil tersenyum kecil. " .... Dibeli tunai dong. Dan kamu tahu siapa yang beli?" Ia sengaja memancing.
"S-siapa memang yang beli?" Mawar mendengkus kecewa, merubah posisinya menjadi duduk tegak di tepi kasur. "Sebut harganya, aku bisa bayar lebih!"
"Nggak bisa, Mai. Yang beli itu salah satu konglo muda, sepupunya Bagas Utama. Namanya Bram Satya. Dia beli tunai tanpa nawar tahu!" Cindy berbisik heboh, memajukan wajahnya ke kamera. "Dan kamu tahu yang bikin satu kantor iri apa? Dia datang menggandeng calonnya. Melati ... sepupumu itu ... beruntung banget. Si buta itu dapat pangeran kaya raya, tahu, Mai!"