NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Jarum jam dinding di Kamar Khadijah 3 hampir menyentuh angka sebelas malam. Suasana di dalam kompleks asrama putri Pondok Pesantren Al-Falah sudah sunyi senyap. Hanya terdengar dengus napas teratur dari para santriwati yang mulai terlayap ke alam mimpi.

Namun, di sudut kasur dekat pintu, tiga pasang mata masih terjaga. Naya, Sarah, dan Aliyah saling berpandangan dalam remang cahaya lampu tidur.

"Mbak Nay, beneran nih kita mau keluar jam segini?" bisik Sarah dengan suara super pelan, selimutnya ditarik sampai ke dagu. "Kalau ketahuan Ustadzah Maryam ronda, kita bisa dijemur di tengah lapangan besok subuh!"

Naya yang sudah duduk tegak langsung mendengkus kecil. Ia mengikat rambut pirangnya yang mencuat dari balik jilbab instan hitam dengan dongkol. "Gue udah janji kan tadi sore? Baju lu yang kotor gara-gara nenek sihir itu harus bersih malam ini juga. Besok pagi lu mau pakai baju apa kalau semuanya masih penuh lumpur? Lagian, kalau nyuci siang-siang, si Mbak Hijau itu pasti nyari gara-gara lagi."

"Tapi Mbak Nay, koridor luar gelap banget," cicit Aliyah sambil membetulkan letak kacamatanya. "Biasanya jam segini emang jadwalnya piket keamanan keliling."

"Halah, aman! Lu berdua tenang aja, di Jakarta gue biasa keluar jam dua malam buat balapan. Lorong sepi begini mah lewat!" ucap Naya percaya diri. Ia menurunkan kakinya dari kasur tanpa menimbulkan suara. "Ayo, bawa embernya. Pelan-pelan."

Dengan gerakan mengendap-endap mirip agen rahasia gagal, mereka bertiga berhasil menyelinap keluar kamar. Sarah memeluk ember plastik berisi pakaian berlumpur tadi sore, sementara Aliyah membawa senter kecil yang cahayanya sengaja ditutupi telapak tangan. Naya memimpin di depan, matanya waspada menatap ke kanan dan ke kiri koridor yang hanya diterangi lampu neon temaram.

Begitu sampai di area sumur bor di bagian belakang asrama, hawa dingin malam pedesaan langsung menusuk kulit. Berbeda dengan sore tadi yang ramai, tempat itu kini terasa sedikit angker.

"Nah, taruh sini embernya," perintah Naya begitu mereka sampai di depan bak air. Ia langsung berjongkok di atas ubin basah, tidak peduli bagian bawah gamisnya kembali kotor.

"Detergen kita habis, Mbak Nay," bisik Sarah setelah mengorek-ngorek bagian bawah ember. "Gara-gara tadi sore embernya kebalik pas perang air, sabunnya tumpah semua."

Naya menepuk dahinya kesal. "Sialan. Terus kita nyuci pakai apa? Air doang? Mana hilang lumpurnya!" Ia mulai mengucek selembar kain dengan emosi. "Duh, bener-bener ya! Si Fida itu awas aja besok. Dan yang paling bikin gue jengkel itu si Gus es batu sarap! Kenapa coba dia harus ikutan nyindir gue di masjid pakai mikrofon? Pengecut banget jadi cowok!"

"Sssttt, Mbak Nay! Jangan keras-keras ngomongnya!" Aliyah panik, buru-buru menyenggol bahu Naya.

"Biarin aja! Biar kedengaran sama angin!" omel Naya, tangannya mengucek kain dengan brutal. "Gue heran, Papa kok bisa-bisanya percaya sama modelan kayak dia. CEO katanya? CEO mah kerjanya di gedung tinggi, pakai jas, sibuk meeting. Lah ini? Malah sibuk ngurusin santri tidur di masjid. Kurang kerjaan banget!"

Sarah dan Aliyah hanya bisa meringis mendengar cerocosan bar-bar Naya. Mereka berdua ikut berjongkok, membantu mengucek pakaian dengan sisa-sabi sabun yang nyaris tak berbusa.

"Gus Zayyan itu sebenarnya baik kok, Mbak Nay," sahut Aliyah mencoba membela. "Beliau tegas karena emang megang amanah besar. Bisnis ekspor keluarganya juga maju banget sejak dipegang beliau."

"Baik dari mananya?!" Naya mendengkus keras, membuang air kurasan pertama. "Baik itu kalau dia balikin HP gue tanpa syarat! Ini mah pakai bikin kontrak segala. Mana mukanya kaku banget kayak kanebo kering. Duo es batu sarap deh mereka itu, si Fida sama si Zayyan!"

KLIK.

Sebutir cahaya putih yang sangat terang tiba-tiba menyorot tepat ke arah wajah Naya, membuat kalimat makian gadis itu terputus di tenggorokan.

"Aduh! Siapa sih?! Silau tahu!" bentak Naya spontan, menghalau cahaya itu dengan punggung tangannya.

Sarah dan Aliyah yang melihat siapa sosok di balik senter tersebut seketika mematung. Wajah mereka berdua memucat, lutut mereka gemetar hebat hingga nyaris terjungkal ke dalam ember.

"G-Gus... Gus Zayyan..." cicit Sarah dengan suara nyaris habis.

Naya mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan sisa cahaya. Begitu senter itu sedikit diturunkan, sosok pria tegap dengan sarung tenun gelap, baju koko hitam, dan peci senada berdiri tegak di sana. Kacamata berbingkai tipisnya memantulkan cahaya bulan, dan sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Naya dengan tatapan yang sanggup membuat nyali orang biasa mencelos.

Gus Zayyan sedang melakukan ronda malam, dan ia mendengar dengan sangat jelas setiap bait kalimat makian yang keluar dari mulut Naya sejak lima menit lalu.

Suasana di area sumur mendadak mencekam. Hanya terdengar suara detak jantung Sarah dan Aliyah yang berpacu cepat.

"Menyebut pengasuh pondok dengan sebutan 'sarap' dan 'kanebo kering' di tengah malam. Apakah itu juga termasuk dalam adab berbicara yang kamu pelajari di Jakarta, Nona Nayanika?" suara bariton Zayyan memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun teramat dingin.

Naya menelan ludah. Sial, dia tertangkap basah lagi. Namun, ego raksasa si ratu onar menolak untuk terlihat takut. Ia perlahan berdiri, berkacak pinggang dengan tangan yang masih basah penuh air lumpur.

"Gue... gue cuma lagi ngeluarin pendapat! Lagian lagian lu ngapain sih jam segini berkeliaran kayak hantu? Sengaja ya mau nguping?!" balas Naya ketus, mencoba menutupi kegugupannya.

Gus Zayyan melangkah maju satu kali. Langkah kakinya yang beralaskan sandal kulit terdengar berat di atas ubin basah. "Ini jam sebelas malam. Aturan Al-Falah dengan jelas menyebutkan bahwa seluruh santriwati wajib berada di dalam kamar setelah jam sembilan. Kalian bertiga telah melanggar aturan berat."

"Gus... maaf, Gus. Ini salah saya," Aliyah buru-buru memohon sambil menunduk dalam, air matanya sudah mau menetes karena ketakutan. "Baju Sarah kotor karena... karena kejadian tadi sore, jadi kami terpaksa—"

"Jangan minta maaf sama dia, Al!" potong Naya lantang, menarik bahu Aliyah agar kembali berdiri di belakangnya. Naya menatap lurus ke arah mata Zayyan. "Heh, Gus Kaku! Kalau lu mau hukum, hukum gue aja! Jangan bawa-bawa Sarah sama Aliyah. Mereka keluar karena gue yang paksa!"

Zayyan diam. Ia menatap Naya dari atas ke bawah. Jilbab instan hitam Naya terpasang agak miring, dan bagian depan gamisnya basah terkena cipratan air sumur. Alih-alih meledak marah seperti yang ditakutkan oleh Sarah dan Aliyah, Zayyan justru mengalihkan pandangannya ke dalam ember plastik yang berisi baju-baju berlumpur tanpa busa.

Zayyan menghela napas pendek. Ia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku baju koko, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil yang sedari tadi dibawanya.

TUK.

Zayyan melemparkan bungkusan itu tepat ke atas tumpukan baju kering di samping ember. Naya mengernyit, melihat isinya. Itu adalah satu kotak detergen bubuk merek premium yang masih segel baru, dan di sampingnya ada sebungkus besar biskuit cokelat serta beberapa susu kotak.

"Pakai itu. Mencuci tanpa sabun tidak akan menghilangkan kuman," ucap Zayyan datar, wajahnya tetap kaku tanpa ekspresi.

Naya tertegun, matanya berkedip tidak percaya. "Hah? Ini... buat kita?"

"Itu milik Umi. Beliau menyuruh saya memberikannya jika melihat kamu bertingkah aneh malam ini," jawab Zayyan, meskipun sebenarnya ia sendiri yang mengambilnya dari koperasi pondok saat mendengar ada keributan kecil di area belakang asrama. Zayyan kembali menatap Naya dengan pandangan menusuknya. "Dan biskuit itu... makan sebelum tidur. Saya tidak mau tanggung jawab kalau kamu pingsan lagi di halaman saya besok pagi karena perut kosong."

Lidah Naya mendadak kelu. Sifat bar-bar-nya yang berapi-api seperti disiram air es. Ada rasa hangat yang aneh merayap di dadanya saat mendengar perhatian terselubung dari pria kaku di hadapannya ini.

"S-syaratnya apa?" tanya Naya curiga, matanya menyipit. "Lu pasti mau motong kuota HP gue lagi kan besok? Ngaku lu!"

Gus Zayyan membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang elegan. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis kembali terukir di sudut bibirnya. "Kuota ponsel kamu tetap satu jam. Dengan syarat... selesaikan cucian ini dalam waktu lima belas menit, lalu kembali ke kamar. Jika lewat satu menit saja dari waktu yang saya berikan..." Zayyan menggantung kalimatnya, menatap Naya lekat-lekat. "...kontrak kita hangus."

"Heh! Lima belas menit mana sempat buat baju sebanyak ini!" protes Naya histeris.

Zayyan tidak memedulikan protes Naya. Ia membalikkan badannya dengan anggun, bersiap melanjutkan langkah rondanya menuju area luar asrama. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia menghentikan langkahnya sebentar tanpa menoleh.

"Satu lagi, Nona Nayanika," panggil Zayyan, suaranya menggema di lorong yang sunyi. "Jam tidur kamu benar-benar berantakan. Besok subuh, saya sendiri yang akan memastikan kamu bangun tepat waktu. Selamat malam."

Punggung tegap Gus Zayyan perlahan menghilang di balik kegelapan lorong, meninggalkan keheningan yang kembali melanda area sumur.

Naya mematung di tempatnya, menatap kotak detergen dan biskuit cokelat di samping ember dengan perasaan campur aduk yang tak menentu.

"Mbak Nay... b-beneran kita dikasih sabun sama biskuit?" Sarah langsung menyambar bungkus biskuit itu dengan mata berbinar-binar, rasa takutnya langsung menguap. "Ya Allah, Gus Zayyan manis banget sih sebenarnya!"

Naya langsung mendengkus keras untuk menutupi debaran aneh yang mendadak muncul di dadanya. "Manis apanya! Itu mah taktik dia buat neror gue! Ayo buruan kucek bajunya, sisa waktu kita tinggal tiga belas menit tahu enggak! Kalau kontraknya hangus, gue ulek ya si Gus es batu itu besok pagi!"

Aliyah dan Sarah tertawa cekikikan melihat wajah Naya yang mendadak salah tingkah. Mereka bertiga segera menuangkan detergen baru tersebut dan melanjutkan cucian dengan gerakan super cepat, mengejar waktu di bawah bayang-bayang ancaman sang Gus CEO yang kaku namun diam-diam penuh perhatian.

BERSAMBUNG

Aaaa, udah mulai perhatian nih Gus kita wkwkwk

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!