NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03

Alya tidak membalas pesan itu malam itu juga.

Ia menyalin nomor tersebut, menyimpannya dengan nama kosong, lalu mematikan layar ponsel. Di kehidupan lalu, ia belajar bahwa orang yang datang terlalu cepat membawa rahasia biasanya punya dua kemungkinan. Ia benar-benar putus asa, atau ia sengaja dikirim untuk menguji.

Keduanya berguna.

Pagi berikutnya, rumah Wiratama sudah sibuk.

Sinta memanggil perancang kebaya, wedding organizer, pengelola gedung, dan dua orang ustaz keluarga. Semua berjalan seperti persiapan pernikahan besar, tetapi Alya tahu siapa yang sebenarnya dirayakan.

Nabila.

Kain terbaik dibentangkan di depan Nabila. Perhiasan keluarga dikeluarkan untuk dicoba di leher Nabila. Sinta berkali-kali berkata bahwa pernikahan dua putrinya harus terlihat setara, tetapi setiap pilihan terbaik selalu lebih dulu diletakkan di tubuh anak kandungnya.

Alya duduk di ujung sofa, membuka tablet.

Di layar, ia membaca laporan lama tentang Pradipta Group.

Struktur perusahaan. Anak usaha. Rumah sakit. Yayasan. Daftar direksi. Nama-nama komisaris. Foto lama Bima Pradipta bersama istri pertamanya, Salma Wijaya.

Arga berdiri di foto itu saat masih remaja.

Wajahnya tajam. Matanya tidak terlihat seperti orang sakit. Ada senyum tipis di bibirnya, tetapi bahunya kaku, seolah sejak kecil ia sudah tahu bahwa di rumahnya sendiri ia tidak boleh terlalu bahagia.

"Mbak Alya."

Nabila duduk di sampingnya tanpa diminta.

Alya tidak mengangkat kepala. "Ya?"

"Mama bilang kamu belum memilih kebaya akad."

"Pilihkan saja."

"Jangan begitu. Ini pernikahanmu."

"Kamu yang lebih bersemangat."

Nabila tertawa kecil. "Mbak masih marah soal kemarin?"

Alya menggulir layar. "Tidak."

"Aku tahu Mama kadang terlalu mengkhawatirkan aku. Tapi bukan berarti Mama tidak sayang Mbak."

Alya akhirnya menoleh.

Nabila memakai kebaya brokat warna biru muda. Wajahnya polos, rambutnya disanggul setengah, matanya penuh kelembutan yang sengaja ditaruh di sana.

"Kamu datang untuk menenangkan aku?" tanya Alya.

"Aku tidak mau kita salah paham."

"Kita?"

"Mbak tetap kakakku." Nabila meraih tangan Alya. "Aku tahu mungkin orang luar mengira aku merebut sesuatu darimu. Tapi perjanjian itu sudah dari awal begitu, kan? Mbak dengan Mas Arga, aku dengan Mas Rafi."

Alya melihat tangan adiknya di atas tangannya.

Dulu tangan ini pernah menggenggamnya sambil menangis, meminta maaf karena rombongan pengantin tertukar.

Dulu Alya percaya itu kecelakaan.

Sekarang ia tahu, bahkan dalam hidup lalu pun Nabila sudah memilih dirinya sendiri. Bedanya, saat itu Nabila memilih Arga karena mengira Rafi tidak berguna.

Lucu sekali.

"Benar," kata Alya. "Dari awal begitu."

Nabila tersenyum lega.

"Jadi jangan terlalu cemas," lanjut Alya. "Aku tidak ingin Rafi."

Senyum Nabila membeku tipis.

"Mbak, aku tidak bilang--"

"Kamu tidak perlu bilang." Alya menarik tangannya perlahan. "Aku hanya menjawab hal yang kamu takutkan."

Wajah Nabila memerah.

Sebelum ia bisa membalas, Sinta datang membawa kotak beludru.

"Nabila, coba kalung ini. Mama rasa cocok dengan kebaya akadmu."

Nabila langsung berdiri. "Iya, Ma."

Alya kembali pada tabletnya.

Sinta meliriknya. "Alya, kamu jangan terlalu sibuk dengan hal lain. Pernikahan tinggal beberapa hari."

"Aku sedang membaca profil keluarga calon suamiku."

"Untuk apa? Nanti juga kamu mengenal mereka setelah menikah."

"Aku tidak suka masuk ke rumah orang tanpa tahu siapa saja yang ingin menyingkirkanku."

Kalung di tangan Sinta hampir jatuh.

Nabila menahan napas.

"Apa maksudmu?" tanya Sinta.

"Tidak ada. Hanya kebiasaan baru."

Sinta menatapnya dengan kesal. "Kamu berubah."

Alya menutup tablet. "Orang berubah ketika mulai berpikir."

"Selama ini kamu tidak berpikir?"

"Selama ini aku terlalu banyak berterima kasih."

Hening.

Perancang kebaya pura-pura merapikan kain. Wedding organizer menunduk pada catatan. Tidak ada yang berani bicara.

Sinta tampak tersinggung. "Jadi sekarang kamu merasa kami memperlakukanmu buruk?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi nada bicaramu seperti itu."

"Mama yang menyimpulkan."

Wajah Sinta makin merah. Nabila segera mendekat dan memegang lengan ibunya.

"Ma, jangan. Mungkin Mbak tegang."

"Kamu selalu membelanya," kata Sinta, tetapi tangannya menepuk tangan Nabila dengan sayang.

Alya melihat adegan itu.

Tidak sakit.

Hanya terasa tua.

Seperti menonton drama yang dialognya sudah ia hafal.

Siang itu, Hadi memanggil Alya ke ruang kerjanya.

Ayah angkatnya duduk di balik meja kayu besar. Berkas perjanjian keluarga Pradipta berada di samping laptopnya.

"Duduk."

Alya duduk.

Hadi menatapnya beberapa saat. "Kamu membuat ibumu tidak nyaman."

"Ibu atau Mama?"

Hadi terdiam.

Alya tersenyum tipis. "Maaf. Lanjutkan."

"Alya, aku tahu kamu mungkin merasa keputusan ini berat. Tapi perjanjian dengan Pradipta penting untuk keluarga. Untuk perusahaan keamanan kita, untuk proyek rumah sakit militer, juga untuk posisi politik keluarga."

"Aku paham."

"Kalau kamu paham, jangan membuat suasana semakin rumit."

"Aku hanya bertanya dan menjawab."

"Nada bicaramu berubah."

"Mungkin karena posisi hidupku berubah."

Hadi menyandarkan punggung. "Kamu menyalahkan kami?"

Alya menatap wajah lelaki itu.

Dalam kehidupan lalu, Hadi tidak sepenuhnya jahat. Ia hanya terlalu percaya bahwa selama memberi rumah dan nama, ia sudah cukup menjadi ayah. Ia membiarkan Sinta memanjakan Nabila, membiarkan Alya tumbuh menjadi anak yang tidak meminta apa-apa, lalu menyebutnya dewasa.

"Tidak," jawab Alya. "Aku hanya ingin satu hal."

"Apa?"

"Setelah aku menikah, jangan biarkan siapa pun di keluarga ini memakai namaku untuk meminta keuntungan dari Pradipta. Jangan mengatakan aku setuju jika aku tidak pernah setuju. Jangan mengirim Mama atau Nabila untuk menasihatiku atas nama keluarga."

Hadi mengerutkan kening. "Kamu belum menikah sudah bicara seperti orang ingin memutus hubungan."

"Aku ingin batas."

"Keluarga tidak memakai batas seperti itu."

"Keluarga yang sehat tidak perlu takut pada batas."

Hadi tidak langsung menjawab.

Alya tahu kalimat itu tidak nyaman baginya.

Ia melanjutkan, "Aku akan menjalankan perjanjian. Aku akan menikah dengan Arga. Aku tidak akan mempermalukan keluarga Wiratama. Tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menjual kepatuhanku lagi."

"Menjual?"

"Bukankah itu kata yang tepat?"

Wajah Hadi mengeras. "Alya."

"Papa mengajarkan aku membaca kontrak sejak SMA." Alya menatap berkas di meja. "Di kontrak ini, namaku disebut sebagai bagian dari kesepakatan. Aku tidak menolak. Aku hanya ingin mulai membaca semua syaratnya."

Hadi diam lama.

Untuk pertama kalinya, ia tampak melihat Alya bukan sebagai anak tenang yang mudah diatur, tetapi sebagai perempuan dewasa yang duduk di hadapannya dengan mata terbuka.

"Apa yang kamu inginkan dari Arga?" tanya Hadi.

"Awalnya? Akses."

"Akses?"

"Ke rumahnya, penyakitnya, orang-orang yang mengendalikan hidupnya."

"Kamu bicara seolah ada kejahatan."

"Mungkin ada."

Hadi mencondongkan tubuh. "Apa kamu tahu sesuatu?"

"Belum cukup."

"Alya, kalau kamu menuduh keluarga Pradipta tanpa bukti, itu berbahaya."

"Karena itu aku mencari bukti."

Hadi mengusap wajah.

"Kamu bukan dokter."

"Aku punya latar farmakologi dan manajemen rumah sakit. Cukup untuk tahu kapan obat seseorang perlu dipertanyakan."

Hadi menatapnya tajam. "Dari mana kamu tahu obat Arga perlu dipertanyakan?"

Alya berdiri. "Dari fakta bahwa Ratna Pradipta terlalu senang melihatku menikah dengannya."

Hadi tidak bicara.

Sebelum keluar, Alya berhenti di pintu.

"Pa."

Hadi mengangkat kepala.

"Kalau suatu hari Arga sembuh, jangan terlalu cepat merasa lega. Orang yang ingin dia tetap sakit pasti tidak akan diam."

Ia keluar tanpa menunggu jawaban.

Di koridor, ponselnya kembali bergetar.

Nomor tanpa nama itu mengirim satu foto.

Botol obat kecil. Labelnya buram. Di belakangnya terlihat nama pasien: Arga Pradipta.

Pesan berikutnya muncul.

`Obat ini diberikan setiap malam. Tidak tercatat di resep resmi. Kalau Nona ingin bukti, datanglah sebelum akad. Setelah menikah, mereka akan mengganti semuanya.`

Alya menatap foto itu.

Kali ini ia mengetik balasan.

`Besok malam. Kirim lokasi. Jangan beri tahu siapa pun.`

Balasan datang cepat.

`Saya takut, Nona.`

Alya membaca pesan itu dua kali.

Di lantai bawah, suara tawa Nabila terdengar lagi. Ringan, manis, seolah tidak ada satu pun hal buruk yang sedang ia rencanakan. Sinta ikut tertawa, lalu menyuruh pelayan mengambil kotak perhiasan lain.

Alya menatap pintu kamarnya yang tertutup.

Rumah ini pernah mengajarinya berterima kasih. Malam itu, rumah yang sama mengajarinya menyimpan pisau.

Lalu membalas.

`Bagus. Orang yang takut biasanya masih ingin hidup.`

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!