NovelToon NovelToon
Semar Mesem

Semar Mesem

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Jalanan Prawirotaman. Sore harinya.

Hari itu, Lusi memutuskan untuk jalan kaki pulang. Ia butuh udara segar. Butuh waktu sendiri. Tapi tentu saja, ia tidak benar-benar sendiri.

"Lus, lo yakin nggak mau gue anter? Jalan kaki lumayan jauh. Lo bisa capek."

"Aku nggak capek, Wan."

"Tapi…"

"Wan." Lusi berhenti, menoleh. "Aku butuh sendiri. Kamu pulang aja."

Wajah Irawan langsung berubah. Dari khawatir menjadi... takut. "Pulang? Tapi... tapi gue nggak bisa ninggalin lo. Gimana kalo lo kenapa-kenapa? Gimana kalo ada yang ganggu lo?"

"Nggak ada yang ganggu aku."

"Gue nggak bisa, Lus." Suara Irawan mulai bergetar. "Gue nggak bisa ninggalin lo. Sebentar aja nggak bisa. Nanti gue... nanti gue..."

"Nanti kamu kenapa?"

Irawan tidak menjawab. Tapi wajahnya menjawab semuanya. Ada ketakutan di sana. Ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang irasional. Seperti seorang anak kecil yang takut ditinggal ibunya di supermarket.

Lusi menghela napas. "Oke. Kamu anterin. Tapi diem. Nggak ngomong apa-apa. Aku capek dengerin kamu."

"Beres! Nggak bakal ngomong apa-apa! Janji!"

Dan mereka melanjutkan perjalanan. Irawan di samping Lusi, sedikit di belakang. Mulutnya terkunci rapat, tapi matanya terus memandangi Lusi dengan ekspresi yang sama: pujaan, ketergantungan, dan sedikit ketakutan.

Di sepanjang jalan, orang-orang yang mengenal mereka menatap dengan heran. Beberapa tetangga kost Lusi sampai berhenti menyapu halaman hanya untuk menonton.

"Eh, itu Irawan kan? Yang dulu sombong banget?"

"Iya. Kok sekarang kayak anak ayam kehilangan induknya?"

"Katanya sih... kena pelet."

"Pelet? Siapa yang ngasih?"

"Itu, Lusi. Cewek yang dia anterin."

"Hah? Lusi? Yang pendiem itu? Nggak mungkin."

"Makanya, dunia udah kebalik."

Lusi mendengar bisikan-bisikan itu. Tapi ia tidak peduli. Dulu, bisikan seperti ini akan membuatnya merinding. Sekarang, ia hanya merasa... hampa.

Depan kost Lusi. Pukul 16.30.

Mereka tiba di depan pagar kost. Lusi berhenti, menoleh ke Irawan. "Udah. Sampe sini aja."

Irawan mengangguk, tapi tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap Lusi dengan tatapan yang sama.

"Wan. Aku bilang udah. Kamu bisa pulang sekarang."

"Iya... iya, gue tahu." Ia masih tidak bergerak.

Lusi menghela napas. "Ada apa?"

"Nggak... nggak apa-apa. Gue cuma..." Irawan menunduk. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Gue cuma takut, Lus."

"Takut apa?"

"Takut... lo tiba-tiba ilang. Takut... besok gue bangun dan lo nggak ada. Takut... lo ninggalin gue." Ia mendongak. Matanya berkaca-kaca. "Lo nggak bakal ninggalin gue kan, Lus? Lo janji?"

Lo percaya sama gue, kan?

Dulu, Irawan yang mengucapkan kata-kata itu. Sekarang, ia yang memohon.

Roda kehidupan berputar. Dan Lusi adalah porosnya sekarang.

"Aku nggak bakal ninggalin kamu, Wan." Suara Lusi datar. "Selama kamu nurut."

"Aku nurut! Aku bakal nurut apa aja! Apa pun yang lo mau! Apa pun!"

"Oke. Sekarang pulang."

Irawan mengangguk cepat. "Pulang. Gue pulang. Besok gue jemput lo lagi ya? Buat anter ke kampus?"

"Terserah."

"Jam berapa? Jam tujuh? Jam delapan? Gue bisa lebih pagi. Jam enam juga bisa. Malah lebih bagus. Kita bisa sarapan dulu sebelum…"

"Wan."

"Maaf. Kebanyakan ngomong." Irawan tersenyum kikuk. "Pulang. Gue pulang sekarang."

Dan ia berbalik. Berjalan menjauh dengan langkah berat, seperti anak kecil yang dipaksa meninggalkan taman bermain. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Lusi masih di sana.

Lusi berdiri di depan pagar, menatap punggung Irawan sampai menghilang di tikungan.

"Astaga, Lus. Itu cowok lo?"

Suara Dita dari balik pagar. Kepalanya menyembul dari jendela kamarnya, matanya melebar. "Gue nggak bisa tidur siang gara-gara dengerin kalian. Itu Irawan? Yang dulu cuek abis? Yang dulu mutusin lo lewat telepon?"

Lusi berjalan masuk ke halaman kost. "Iya, itu dia."

"Kok sekarang jadi kayak gitu? Lo... lo ngapain sama dia? Lo pake jampi-jampi ya?"

Lusi menatap Dita dengan tatapan datar. "Aku cuma jadiin dia seperti yang dia mau."

"Hah? Maksud lo?"

"Dia mau aku jadi miliknya dulu. Sekarang, dia jadi milikku."

Dan sebelum Dita bisa bertanya lebih lanjut, Lusi sudah masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Kamar kost Lusi. Malam harinya.

Lusi duduk di atas kasur. Kitab Semar Mesem terbuka di pangkuannya, tapi ia tidak membacanya. Matanya menatap kosong ke dinding.

Tiga foto tergeletak di meja. Dimas. Rendy. Bayu. Di atas foto Dimas dan Rendy, bayangan hitam semakin jelas pertanda bahwa ikatan mereka semakin kuat. Tapi di atas foto Bayu, bayangan itu masih samar. Berkedip-kedip. Kadang muncul, kadang hilang.

Dia punya pelindung, bisik suara di kepalanya. Keris pusaka. Itu yang menghalangi ikatannya.

Lusi menghela napas. Ia tidak tahu apa itu keris pusaka. Tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Kitab Semar Mesem tidak membahas hal-hal seperti ini.

Mungkin ia harus menelepon Mbah Buyut.

Ia meraih ponselnya. Tapi sebelum ia sempat membuka kontak, ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari Irawan.

"Lus, gue udah di rumah. Tapi gue nggak bisa tidur. Kalo gue merem, lo ilang. Gue takut. Boleh gue telpon? Sebentar aja. Gue cuma mau denger suara lo."

Lusi menatap pesan itu lama. Lalu ia mengetik balasan singkat.

"Tidur."

"Tapi-"

"Tidur."

Jeda. Lalu balasan terakhir.

"Iya, Lus. Gue tidur. Maaf. Selamat malam. Mimpiin gue ya. Walaupun gue tau lo nggak bakal. Tapi gue bakal mimpiin lo. Pasti. Setiap malam. Gue sayang lo."

Lusi meletakkan ponselnya. Tidak membalas.

Kekosongan itu masih ada. Lubang di dadanya masih menganga. Ia meraih liontin perak di lehernya, menggenggamnya erat-erat. Hangat. Seperti biasa.

"Mbah..." bisiknya pada liontin itu. "Apa aku bakal ngerasain ini selamanya? Hampa? Kosong? Nggak bisa ngerasain apa-apa?"

Liontin itu hanya bergetar hangat. Tidak menjawab.

Tapi di rumah joglo di lereng Gunung Lawu, Ki Sarowang membuka matanya dari semedi. Ia mendengar bisikan cicitnya. Dan di dalam hatinya, ia berbisik balik meski ia tahu Lusi tidak akan mendengarnya.

Itulah harga dari kekuatan, Nduk. Semakin besar apimu... semakin gelap bayanganmu.

[BERSAMBUNG…]

1
Wawan
Kembang buat Lusi 😄
Wawan
Manfaatkan Lus .... 🤣🤣🤣
Wawan
iklan buat mu Thor ✍️
Wawan
2 mawar buatmu Thor ✍️
Wawan
Zombie 🤣
Wawan
Iklan dan mawar buat Semar mendem 🤣🤣🤣
Wawan
Cepat pulih Thor 👍✍️
Dhatu Lukita: terimakasih ❤️
total 1 replies
Dhatu Lukita
Halo, semuanya! 🥰

Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏

Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.

Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
Wawan
Wah ngeri 🤭
Dhatu Lukita
semangat aku dewe🤭🫰
Wawan
Lah kok pakai jilbab 😄🤭
Wawan
iklan dan mawar buat Lusi 😍😄
Wawan
Ngeri juga nih si Lusi 😄💪
Alis Yudha
Thor,Semar mesem sama jaran goyang apa sama ya🤔?🤭
Dhatu Lukita: halo kak, sama2 'ilmu pengasihan' tapi berbeda cara pengamalannya kak kurang lebih 🙏
total 1 replies
Wawan
/Rose/
Firmahadi
izin mampir kak
Wawan
Setangkai mawar buatmu Thor 💪
Dhatu Lukita: terimakasih banyak 😍❤️💪💪
total 1 replies
Wawan
Iklan. buat Lusi 🤭
Wawan
Jam dinding 👍
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
💃🏻 Apa salah lan dosaku, sayang? 🥺
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻‍♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥
_r: kak baca novel ku juga dong judulnya, tower of souls
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!