Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengagum di Baris Belakang
Celine mengendap-endap menuju loker yang setengah terbuka, beberapa saat yang lalu pemiliknya pergi terburu-buru. Sepertinya lupa mengunci loker. Dia dengan hati-hati menyelipkan kotak kecil dengan bungkus pita yang rapi, note kecil tertera di atasnya.
"Nanti waktu Ares balik dan nemuin kotak ini, pasti dia suka banget," kata Celine, dia tersenyum kikuk, memikirkan reaksi Ares secara berlebihan.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya. Agak malu rasanya jika dia ketahuan menyelinap masuk ke ruang ganti putra.
"Bisa hancur harga diriku!" Dia berbalik dan hampir saja terjungkal ke belakang, jika saja Gabriel tidak sigap menarik tangannya.
"Apa sih yang ada di otak kecilmu itu?!" Gabriel menyentil dahi Celine yang membuatnya panik setengah mati.
"Dih, lagian, kenapa kamu muncul tiba-tiba kayak setan? Ngagetin!"
"Malah nyalahin, harusnya kamu yang aku tanya, ngapain di sini? Ngintip?!" tuding Gabriel memicing.
"Sembarang, aku cuman," ucap Celine bingung, dia menggigit bibir bawahnya. "cuman...."
"Cuman apa?! Berani kamu sekarang, ya, aku kasih tahu tante. Anaknya nakal di sekolah, buka-buka loker anak laki-laki, kalau bukan ngintip buat apa lagi?!"
Celine merenggut, dia menghentakkan kakinya keras kemudian menatap tajam. "Aku cuman mau balikin barang, orangnya juga tadi udah bilang masuk aja. Kan gak ada orang juga! Pokoknya gak usah ngurusin aku," pungkas Celine, dia mendorong bahu Gabriel. "Minggir, aku mau pigi."
"Bocah ini ngeselin banget, pengen kubejek-bejek. Apa susahnya buat gak usah kejar-kejar laki-laki modelan Ares, segala ngintilin sampe ke loker. Mendingan aku perasaan." gumam Gabriel, sorot matanya kian tajam ketika rombongan anak basket masuk ke dalam. Aura permusuhan kentara menguar.
Gabriel pergi tanpa sepatah kata.
"Kutengok-tengok kalau dia papasan sama kita, bawaannya mau ajak berantem. Kayak kita diam aja dia udah anggap ancaman. Pernah Res kau nyinggung dia?" tanya Bian skeptis.
"Gak kenal juga ngapain cari masalah, paling juga orang sirik. Biarin aja selama gak ganggu banget," tukas Ares, dia melepaskan hoodienya, kemudian berjalan menuju loker. "Beneran lupa dikunci."
Aksinya berhenti begitu saja ketika menemukan kotak kecil di dalam. Note yang tersampir di sana menyita perhatiannya.
Semangat ya latihannya, jangan paksain! Ares pasti masuk jejeran tim basket yang menang. Percaya sama aku, deh.
Stiker lucu dengan hati merah besar yang terlalu ramai.
"Lagi nih ceritanya?" tanya Bian melipat kedua tangan di dada. Sejak satu bulan terakhir Ares mendapati banyak kado spesial di loker.
Ares berdehem kemudian menyimpan kertas itu di saku bajunya, matanya melirik kotak kecil yang tampak menarik. Dia membukanya dan mendapati banyak kukis keju.
"Bagi dong, lapar ini!" seru Bian berusaha merebut kukis dari tangan Ares. Namun Ares terlebih dahulu menyembunyikannya di balik punggung.
"Minta sama HTSmu, dimasakin sekalian."
Ares menutup lokernya tanpa peduli dengan ocehan beruntun yang keluar dari mulut Bian. Dia membawa kukis keju yang baru didapatnya menuju ruang basket.
Satu hal yang menarik perhatiannya, cara menyimpul pita itu tampak begitu rapi dan khas. Persis seperti pita yang dia lihat di album foto.
"Gak setia kawan nih bocah, malah ditinggalin ege. Padahal aku masih ngomong," kata Bian begitu dia sampai, dia berkacak pinggang, persis seperti perempuan yang sedang halangan, kata Cale, salah satu anak basket.
"Mulut gunanya bukan cuman buat nyocot, pusing dengarnya."
Bian menarik napas kemudian menghembuskannya secara berulang sebanyak tiga kali. Supaya rileks, tidak emosi.
"Yang waras ngalah."
Ares mengangkat bahu acuh tak acuh, sembari mulutnya mengunyah kukis keju. Kesukaannya, entah bagaimana si anonim ini mengetahui apa yang dia sukai.
...***...
Terik matahari tidak memadamkan semangat Celine untuk duduk anteng di kursi penonton, menjadi pengamat pertandingan basket yang sedang berlangsung.
Beberapa saat yang lalu Berlian masih duduk di sampingnya, menemani walau ocehannya membuat kepala Celine hampir pecah. Tapi perempuan itu permisi sebentar ke ruang kelas, karena ada sesuatu yang tertinggal. Sudah 15 menit berlalu sejak saat itu.
"Lama banget dia, ngapain sih? Dia ninggalin aku di sini. Mau pergi, tapi pertandingannya udah dimulai. Di sini malu banget, gak ada orang yang kukenal," gumam Celine, mengeratkan topinya yang nyaris tertiup angin.
Dia menopang dagu, menatap lurus ke baris depan. Fokusnya masih sama, pada satu objek yang membuatnya bingung dengan hatinya sendiri. "Kalau dulu aku mana percaya sama cinta yang berlangsung lama, sebelum aku ngalamin sendiri," kata Celine pelan.
"Dia pake guna-guna apa sih sama aku, sampai kecintaan gini?"
Berlian menepuk pundaknya santai, dia menempelkan milk tea dingin di pipi kanan perempuan itu. "Sorry lama, tadi mampir dulu ke kantin, panas gini minum yang dingin kayaknya enak. Nih, gratis!" ujarnya.
Celine memilih tersenyum manis alih-alih marah, dia menerima pemberian Berlian dengan baik. Perempuan itu tahu betul bagaimana cara membujuk Celine.
"Udah lama mulainya?" tanya Berlian ikut duduk.
"Enggak kok, baru lima menit kayaknya."
Berlian mengangguk mengerti.
"By the way, gimana sama surat cintanya? Udah dikasih?" tanya Berlian, dia merapatkan badannya dengan penasaran.
"Surat cinta apa? Cuman kalimat penyemangat juga."
"Sama aja perasaan. Udah ah, jawab aja!" tukas Berlian menuntut.
"Aku letakin di loker Ares pagi tadi, tapi aku malah kepergok Gabriel. Sial banget," ujar Celine menggebu, seketika perasaan was was itu muncul lagi. "Bingung aku gimana yakinin Gabriel kalau yang dia lihat gak seperti yang dipikirin."
Berlian melongo dibuatnya, lantas dia tertawa, berkata mengejek, "Gabriel lagi nih? Setiap ketemu dia, perasaan kamu apes mulu dah."
Celine mendengus geli, dia meneguk milk teanya kemudian beralih ke depan. Tanpa sadar matanya bertatapan dengan Ares yang juga menoleh ke arahnya. Waktu seolah berhenti, menyisakan ruang kosong yang membuat irama jantung Celine berpacu lebih cepat.
Dengan cepat Celine mengalihkan pandangan, sementara Ares memicingkan mata kemudian kembali fokus dengan pertandingan. Namun, pikirannya terus berdebat dengan kejanggalan yang membentuk pola rumit.
Celine terlalu sering muncul di radarnya, perempuan itu selalu duduk di barisan belakang bangku penonton. Seolah dia memperhatikan dirinya.
Apa yang salah?
Ares mencetak satu poin, sorakan kemenangan terdengar dari barisan penonton. Matanya kembali menemui Celine yang membulatkan mata, berbinar. Terlalu ceria.
Dia selalu bersemangat seperti ini, ya?
Tanpa sadar Ares menarik senyum tipis, sesuatu dalam dirinya seolah terbakar, memaksa Ares untuk mencari tahu kejanggalan yang membuatnya gusar. Rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi ketertarikan.
Siapa sebenarnya orang di balik album foto dan hadiah kecil itu?
Salut banget sih author lucu gemes