NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Tes yang Tidak Bisa Dibatalkan

Arga datang sebelum Ratna sempat turun ke lobi.

Ia tidak memakai jas. Kemejanya digulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan, seperti orang yang pergi tanpa sempat berpikir panjang. Begitu melihat Ratna duduk di kursi tunggu kantor Siska, langkahnya melambat.

"Ratna."

Satu kata itu membuat dada Ratna panas.

Siska berdiri dari sampingnya. "Saya ambilkan air dulu."

Ratna tahu Siska sengaja memberi ruang. Biasanya ia akan menolak dikasihani. Malam itu ia tidak punya tenaga untuk pura-pura kuat.

Arga duduk di depannya, bukan di sebelahnya. Ia tidak langsung menyentuh. Ia hanya menatap wajah Ratna yang pucat.

"Apa Clara menyakitimu?"

"Dia membawa cerita." Ratna menggenggam tasnya terlalu kuat. "Tentang Raka."

Arga diam.

"Dia bilang ada bayi yang tertukar. Di klinik kecil di Depok. Ada dua bayi laki-laki. Satu anakku. Satu..." Ratna berhenti. Napasnya tersangkut. "Aku bahkan tidak sanggup menyebut kemungkinan itu."

Arga menunduk sebentar, lalu berkata pelan, "Kita cari bukti."

"Kalau buktinya menghancurkan semuanya?"

"Maka kita hadapi pelan-pelan. Tapi jangan biarkan Clara memegang hidupmu hanya dengan kata-kata."

Ratna menatapnya. "Kamu pikir aku bodoh kalau takut?"

"Tidak." Suara Arga tetap datar, tapi matanya lunak. "Aku pikir kamu manusia."

Kalimat sederhana itu hampir membuat Ratna menangis. Selama puluhan tahun, ia selalu diminta menjadi istri kuat, ibu sabar, menantu yang tahu diri. Tidak ada yang mengizinkannya takut.

Siska kembali membawa air mineral. Ia juga membawa map tipis.

"Saya sudah cek cepat," kata Siska. "Klinik yang disebut Clara sudah tutup lama. Dulu namanya Klinik Bersalin Melati. Catatan kelahirannya mungkin sudah tidak lengkap, tapi bidan senior yang dulu bekerja di sana masih hidup. Namanya Nanik. Sekarang tinggal di Depok, dekat rumah anaknya."

Ratna memegang botol air, tapi tidak membukanya. "Bagaimana Clara bisa tahu?"

"Kemungkinan dari Hendra," jawab Siska. "Atau dari orang tua Hendra. Clara bukan tipe orang yang menyimpan rahasia tanpa sumber."

Nama Hendra membuat Ratna merasakan mual.

Arga bertanya, "Apa langkah paling cepat?"

"Tes DNA." Siska menatap Ratna hati-hati. "Untuk awal, Ratna dan Raka. Kalau hasilnya sesuai dugaan Clara, baru kita perlu melebar ke Hendra dan keluarga lain."

Ratna langsung menggeleng. "Aku tidak bisa meminta Raka datang dan berkata, 'Nak, Ibu ragu kamu anak Ibu.'"

"Tidak perlu begitu," kata Siska. "Bisa lewat sampel pribadi, tapi secara hukum hasil awal hanya untuk arah penyelidikan. Kalau nanti masuk perkara, harus tes resmi dengan persetujuan."

Arga menatap Siska. "Jalankan yang paling etis. Jangan pakai cara yang bisa dipakai menyerang Ratna nanti."

Ratna menoleh kepadanya. "Kamu bicara seperti sudah menjadi pengacaraku."

"Aku tidak mau kamu dipermainkan prosedur."

Ratna ingin membalas, tapi ponselnya bergetar. Nama Raka muncul.

Ia memandang layar seolah benda itu bisa menggigit.

"Angkat," kata Arga pelan. "Jangan ubah suaramu dulu."

Ratna menekan tombol hijau.

"Ma," suara Raka terdengar ragu. "Mama di mana?"

"Di tempat Siska. Ada urusan."

"Maya bilang Mama sempat sakit. Kenapa Mama tidak bilang?"

Ratna memejamkan mata. Anak itu masih menyebutnya Mama. Suara yang dulu menangis saat demam, suara yang minta dibelikan sepatu sekolah, suara yang membentaknya saat dewasa karena merasa uang selalu kurang.

"Mama baik-baik saja."

"Aku... aku mau ketemu. Bukan sekarang kalau Mama capek. Tapi aku mau bicara."

Ratna menggigit bibir. "Besok siang, datang ke apartemen. Sendiri."

"Iya."

Panggilan terputus.

Ratna meletakkan ponsel. Tangannya gemetar lagi.

"Aku membesarkannya, Arga." Suaranya pecah. "Kalau darah berkata dia bukan anakku, apa semua malam yang aku lewati di rumah sakit jadi palsu?"

Arga akhirnya mengulurkan tangan. Ia tidak menggenggam keras, hanya menyentuh punggung tangan Ratna.

"Tidak ada tes yang bisa menghapus itu."

"Tapi bisa mencuri sesuatu dariku."

"Ya." Arga tidak berbohong. "Itu sebabnya kita harus tahu siapa yang mencurinya."

Besok siang Raka datang dengan wajah kusut. Ia membawa kantong plastik berisi bubur ayam dan roti tawar, seperti anak kecil yang tidak tahu cara meminta maaf selain membawa makanan.

Ratna membuka pintu. Ia hampir memanggilnya Nak, lalu kata itu berhenti di tenggorokan.

Raka melihatnya.

"Ma?"

Ratna tersenyum kaku. "Masuk."

Mereka duduk di ruang tamu. Raka meletakkan bubur di meja.

"Maya bilang aku harus belajar datang tanpa minta uang." Ia tertawa hambar. "Jadi aku bawa makanan."

"Terima kasih."

Keheningan turun.

Raka menggaruk tengkuk. "Aku tahu aku banyak salah. Aku tidak mau membela diri. Tapi aku benar-benar tidak tahu Papa sejauh itu. Soal Clara, soal Alif, soal uang..."

"Kamu tahu cukup banyak untuk diam."

Raka menunduk.

"Iya."

Ratna menatap wajahnya. Garis rahangnya mirip siapa? Matanya mirip siapa? Selama ini ia tidak pernah bertanya. Ia hanya percaya karena bayi itu diletakkan di dadanya, karena semua orang berkata itu anaknya.

"Raka, waktu kamu kecil, kamu pernah tanya kenapa wajahmu tidak mirip Mama?"

Raka mengangkat kepala, bingung. "Pernah. Mama bilang anak tidak harus mirip orang tua untuk disayang."

Jawaban itu menampar Ratna sendiri.

Ia berdiri. "Mama ambil minum."

Di dapur, ia menarik napas. Siska sudah menitipkan alat pengambilan sampel yang sah untuk pemeriksaan awal: cotton bud steril, plastik bukti, formulir. Ratna merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.

Saat kembali, Raka sedang memakan bubur dengan sendok plastik. Ia terlihat jauh lebih muda dari usianya.

"Mulutmu kena kecap," kata Ratna otomatis.

Raka tertawa kecil. "Dari dulu Mama cerewet soal itu."

Ratna mengambil tisu, mengulurkannya. Ketika Raka menyeka bibir, ia membuang tisu ke tempat sampah kecil di samping sofa.

Setelah Raka pulang, Ratna berdiri lama di depan tempat sampah itu.

Siska datang satu jam kemudian. Ia tidak banyak bicara. Ia mengambil sampel, menyegel, mencatat.

"Hasil paling cepat tiga hari," kata Siska.

Tiga hari.

Ratna merasa tiga hari itu lebih panjang daripada dua puluh delapan tahun.

Malamnya Arga menelepon. Tidak ada pembicaraan panjang. Ia hanya bertanya apakah Ratna sudah makan.

"Belum."

"Aku kirim makanan."

"Aku tidak lapar."

"Aku tahu. Makan tiga suap saja. Untuk bertahan sampai besok."

Ratna duduk di lantai dekat sofa. "Arga, kalau nanti hasilnya buruk, jangan suruh aku tenang."

"Aku tidak akan."

"Jangan bilang semua akan baik-baik saja."

"Aku juga tidak akan."

"Lalu kamu akan bilang apa?"

Di seberang, Arga diam sebentar.

"Aku akan bilang aku ada."

Ratna menutup mata.

Untuk malam itu, kalimat itu cukup.

Setelah panggilan ditutup, Ratna akhirnya membuka kotak makanan yang dikirim Arga. Isinya nasi tim hangat, sup bening, dan buah potong. Bukan makanan mahal yang ingin menunjukkan perhatian, hanya makanan yang bisa masuk ke perut orang yang sedang gemetar.

Ia makan tiga suap seperti yang diminta. Pada suap keempat, air matanya jatuh ke punggung tangan.

Di layar ponsel, Arga mengirim pesan.

"Tiga suap?"

Ratna membalas, "Empat. Jangan bangga."

"Terlambat."

Ratna menatap balasan itu lama. Di tengah ketakutan yang menunggu hasil tes, percakapan kecil itu terasa tidak masuk akal. Namun justru hal kecil yang membuatnya tidak jatuh sepenuhnya malam itu.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!