Agnes hanya bisa memperlakukan Kelvin sebagai teman.. Begitu juga Kelvin.. Mereka benar hanya berteman biasa.. Bukan sebagai sahabat... Tidak bersapa saat di sekolah.. Tapi Agnes bisa saja keluar masuk rumah Kelvin seenaknya layaknya rumah sendiri... Bagaimana bisa??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohos Otaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Dan Keinginan
Setelah Susan sudah menceritakan semuanya kepada Agnes.. Susan membawa Agnes bertemu Daren...
" Mah.. Malam ini kita akan makan di luar.. Daren mengundang kita sekeluarga untuk datang makan malam di resto milik ibunya Agnes teman Kelvin itu.."
" Apa aku bisa enggak pergi??" tanya Kelvin kepada Robert..
" Aahh.. Papa baru aja mau istirahat dari membawa mobil.. Yah sudah.. Gapapa kalo kamu gak mau ikut.."
" Haahhh.. Itu bukan maksud papa.. Aku akan akan siap-siap dulu.."
Di resto Susan sudah tersedia ruangan khas buat merek makan malam bersama.. Susan dan Agnes sendiri yang merapikan ruangan pertemuan itu... Tidak lama kemudian Daren datang...
" Maafkan saya telat datang.. Ternyata jalan di sini juga bisa macet.." jelas Daren lalu mencium pipi Susan.. Terlihat Jesica yang berdiri di belakang Daren sambil melihat Daren yang memeluk pinggang Susan.. Agnes mendekati Jesica...
" Jangan melihat mereka seperti itu... Apa kamu mau ikut sama aku untuk mengambil makanan lainnya??" sambil berdiri di hadapan Jesica.. Jesica menundukkan kepala...
" Mah.. Aku akan membawa Jesica untuk mengambil makanan lainnya.. Paman juga harus duduk.."
" Aahh anak mama.. Kamu manis sekali.."
" Terima kasih nak Agnes..." Daren tersenyum kepada Agnes lalu membantu Susan merapikan set piring di atas meja...
Keluarga Robert juga sudah datang lalu duduk di meja yang sudah di sediakan.. Mereka hanya duduk di lantai.. Lalu mejanya yang panjang...
Tidak lama kemudian Agnes dan Jesica masuk membawa makanan yang lain..
" Hallo kak Agnes..." sapa Fenny kepada Agnes.. Agnes tersenyum lalu membalas sapaan Fenny
" Hallo Fen.. Udah lama gak ketemu.."
" Kalian sudah datang.. Silakan duduk.. Agnes duduk di samping mama.." Susan bicara kepada Agnes.. Tiba-tiba Jesica bicara..
" Apa aku bisa duduk di samping tante??"
Daren kaget.. Susan hanya tersenyum paksa lalu melihat Agnes..
" Kamu bisa duduk di sana.. Saya duduk di sini saja.." Agnes bicara datar lalu duduk tepat dia hadapan Kelvin.. Semua melihat ke arah Jesica..
Jesica pun duduk di samping Susan.. Membuat suasana sedikit tegang.. Karna seharusnya Agnes yang duduk di samping Susan..
" Aahh.. Silakan makan dulu.. Saya akan mengambil makanan lain.." Susan berdiri lalu keluar... Tidak lama kemudian Susan datang membawa makanan lainnya lalu memberikannya kepada Agnes...
" Sayang.. Kamu bisa makan bubur yang ini saja.. Karna kamu gabisa makan bubur yang sudah sedia ada ini..." lalu memberikan semangkuk bubur kepada Agnes...
" Ahh saya lupa.. Maafkan saya.. Seharusnya enggak meminta bubur ini..." Daren bicara kepada Susan yang sudah duduk di sampingnya..
Kelvin melihat ke arah bubur yang dimakan oleh Agnes.. Terlihat tidak ada jamur...
" Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian??" Robert bertanya kepada Daren...
" Trraanggg..." suara sudu yang terlepas dari pegangan Jesica.. Membuatkan semuanya melihat ke arahnya... Jesica menundukkan kepalanya..
" Maafkan saya.. Tangan saya tidak kuat memegang sudunya.." dengan suara yang kecil..
" Aahh maafkan keponakan saya.."
" Gapapa.. Itu biasanya akan terjadi.. Liat saja anak saya yang bungsu ini.. Dia juga sering menjatuhkan sudunya ahahaha..
Mereka makan sambil bicara.. Setelah selesai makan Robert dan keluarganya pun pergi..
Di dalam mobil Robert.. Mereka membicarakan soal Daren.. Kelvin yang menyetir hanya mendengar percakapan kedua orang tuanya...
" Pah.. Gimana bisa sekarang Daren baru ingin menikah.. Apalagi sama ibunya Agnes.. Apa mereka emang kenalan atau apa karna mereka rekan bisnis??"
" Naahhh.. Itu yang dikatakan sebagai jodoh enggak akan lari kemana kalo udah emang jodoh.. Mau beda planet kalo udah jodoh tetap jodoh..."
" Maksudnya gimana??"
" Jadi.. Daren itu juga teman dekat sama mendiang suaminya Susan.. Dulu saat kuliah.. Sebenarnya mereka bertiga itu temenan.. Daren itu sempat pacaran sama Susan.. Aku hanya tau sampai di situ aja..."
" Jadi gimana bisa kamu jadi sahabatnya Daren..."
" Karna dia sahabatku.. Kami itu sahabat sejak kecil.. Rumah kami itu dulu hanya sebelahan lohhh.. Daren itu bisa dekat sama mereka berdua karna keluarga mereka dekat karna bisnis..."
" Oh gitu.. Jadi Daren itu enggak pernah menikah??"
" Enggak.. Karna katanya dia enggak punya niat mau menikah.. Tapi aku jadi kaget karna sebelum ke sini katanya dia ingin menikah.. Ternyata itu ibunya Monica.. Yah mantan pacarnya sih..."
" Lalu keponakannya itu ngapain manggil dia papa??"
" Setau saya itu anak dari kakak laki-lakinya yang meninggal karna kecelakaan bersama keluarganya.. Jadi hanya anak itu yang selamat saat kecelakaan itu.. Daren yang menjaganya sampai sekarang..."
" Tapi.. Anak itu sepertinya ada yang aneh.. Aku juga gak tau.. Tapi aku enggak berapa suka melihat tingkahnya..."
" Emang kenapa?? Kita gak ada urusannya sama itu.. Ibunya Agnes juga seperti baik-baik aja.."
" Haaahhhh.. Pokoknya aku enggak nyaman melihat anak itu.. Liat aja tadi.. Dia itu hanya keponakan loh.. Yang pantas duduk di samping Susan itu bukannya dia.. Dia malah berani bilang ingin duduk di samping Susan.. Aahh aku jadi kesal liatnya.. Lalu sengaja menjatuhkan sudu saat orang lagi mau bicara soal pernikahan Daren.."
" Lhooo.. Kok mama sih yang peduli... Biarin aja Daren yang ngurusin bakal keluarganya... Sekarang anak perempuan kita satu itu.. Apa dia enggak mau pulang ke rumah??"
" Pah.. Dia kan lagi ujian akhir semester ini.. Biarin aja dia..."
" Dia itu seperti enggak punya keluarga aja.. Karna dia mendapatkan beasiswa dia jadi lupa diri kalo dia punya orang tua juga.."
" Ahahah.. Papa kok ngambek sih.. Eya sudah.. Nanti mama hubungin dia.."
" Mah.. Dia itu anak pertama dari cinta kita mah.. Aku ini adalah cinta pertamanya.. Anak itu terlalu keterlaluan.. Apa dia pikir teman-temannya itu keluarganya.. Bisa saja kan dia bawa teman-temannya datang ke rumah kita.. Papa enggak ngelarang kok.. Satu ruangan di bawah tangga itu papa sengaja membuatnya.. Supaya anak-anak papa kalo mau bawa teman ke rumah bisa nongkrong di sana.."
" Eya.. Eya.. Aku ngerti.. Tapi dia itu udah 22tahun loh... Kamu juga tau kalo dia itu terlalu pengen jadi dokter.. Nanti mama bilang sama dia.."
" Lalu.. Kel.. Kamu gimana?? Apa kamu sudah memutuskan di mana kamu ingin melanjutkan kuliah??" Robert bertanya kepada anaknya yang hanya diam di sampingnya..
" Udah pa.. Hanya tinggal nunggu resultnya aja.."
" Yaaahh.. Terserah kamu mau milih jurusan apa.. Papa sama mama mendukungnya.. Tapi kalo bisa jangan ngambil jurusan kedokteran kayak kakak kamu itu.. Liat dia.. Sibuk terus.. Itu baru kuliah lho.. Kalo saja dia udah jadi dokter.. Pasti.. Papa yakin pasti tuh anak tambah susah ditemuin... Apalagi betah di rumah..." ngomel Robert lagi... Siska hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya...
Sampai di rumah Kelvin menghubungi kakak perempuannya lalu diangkat panggilan dari kelvin
" Kenapa??" tanya kakaknya kepada Kelvin
" Papa ngomel karna kamu udah lama enggak pulang.. Mungkin kamu bisa pulang membawa temanmu ke rumah.. Ruangannya juga sudah ada..."
" Aahhh eya.. Nanti aku pulang.. Tapi.. Setelah selesai ujian.. Ya udah aku sibuk.." lalu mematikan panggilannya..
" Haahhh..." Kelvin menghembus napasnya lalu menutup matanya..
Keesokan harinya Randy, Kelvin, Monica dan agnes bertemu..
" Nes.. Aku pikir kamu gabisa datang.. Karna bukannya ibumu lagi sibuk ngurusin pernikahnnya??" Monica bicara kepada Agnes
" Yah.. Yang nikah bukan aku.. Jadi wajar kalo aku enggak harus sibuk Mon.. Tapi kamu tau dari mana??" Agnes bertanya kepada Monica
" Lhooo.. Papaku juga dapet kok undangan dari paman Daren.."
" Oh.. Aku lupa kalo paman Daren juga kenalan orang tuamu.."
" Lalu.. Tentang Jesica.. Apa kamu baik-baik saja??" Monica bertanya lagi...
" Uum.. Biasa aja.. Lagian dia kan hanya keponakan paman Daren.. Aku juga anak dari orang yang dinikahin baik-baik aja.."
" Tsk.. Enggak sih.. Eemmm..."
" Gini aja yaa Nes.. Kita itu bukannya mau masuk campur... Tapi aku sama Monica ini mendengar percakapan kedua orang tua kami kalo Jesica itu sepertinya enggak benar... Karna paman Daren itu sebetul pernah punya pacar tapi Jesica itu sering lengket sama paman Daren menyebabkan paman Daren putus sama pacarnya..." Randy bicara langsung kepada Agnes.. Agnes melihat ke arah Randy lalu mengerut keningnya...
" Mungkin karna dia enggak punya keluarga lain.. Kan paman Daren yang menjaganya dari kecil.. Lagian.. Dia pasti udah mengerti karna paman Daren juga sekarang ini sudah mau menikah sama mamaku..."
" Tapi Nes.."
" Mon.. Aku cukup kenal sama mamaku.. Itu pasti bisa diselesaikan oleh mamaku.. Sekarang yang penting adalah.. Tujuan kita ketemu.... Mari liat keputusannya..."
Masing-masing mereka menekan ponsel mereka..
" University International Defense Military.. Section Internal Medicine..." Monica menjelaskan keputusan yang dia dapatkan..
" University International Defense Military.. Section Emergency Internal Medicine.." Agnes bicara lalu meletakkan ponselnya..
" University International Defense Military.. Section Health And Safety.." Randy juga bicara sambil melihat ponselnya...
" University International Defense Military.. Section Military Defense Force.." Kelvin melihat ponselnya lalu melihat ke arah Randy..
Mereka berempat saling berpandangan..
" Haha.. Apa kalian mengikutiku?? Atau?? Apa kalian emang harus menjadi temanku sampai tua.." Randy tertawa tapi dengan wajah tidak percaya.. Karna mereka masing-masing tidak mengatakan universitas pilihan mereka...
" Jadi apa alasannya?? Aku hanya ingin masuk ke sana karna aku suka melakukan hal yang kasar tapi harus dokter dan berguna..." Agnes bicara..
" Aku karna ingin melihat tubuh ciptaan tuhan yang kekar, berotot lalu ingin berguna juga buat masyarakat..." sambil tersenyum memandang Randy...
" Aku karna ibuku menginginkan aku jadi dokter tapi aku lebih milih jadi tentara.."
" Karna sudah diterima jadi jalani saja..." jelas Kelvin...