Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sementara itu di rumah Rukmini, wanita itu terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu depan yang berulang kali membuatnya merasa sangat terganggu. Ia mengerjapkan matanya, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang hinggap.
Saat melirik jam dinding di kamar, ia terkejut mendapati jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Astaga! Siapa pula yang mengetuk pintu malam-malam begini?” gumamnya gusar. Ia merasa aneh, sebab warga desa jarang sekali berkunjung selarut ini.
Dengan perlahan, Rukmini turun dari pembaringan dan melangkah keluar menuju ruang depan. Suara ketukan itu kembali terdengar, kini bertambah keras dan tidak sabaran, seakan menuntut untuk segera dibukakan.
Rukmini melangkah mendekati jendela teras, menyibak sedikit tirai kain, dan mengintip ke luar. Namun, hanya kegelapan malam yang pekat menyambut pandangannya. Tidak ada sosok manusia satu pun di atas teras rumahnya.
"Siapa di luar?!" teriak Rukmini dengan suara parau.
"Aneh," pikirnya dalam hati. "Tidak mungkin tidak ada orang bertamu semalam ini." Hawa dingin yang tidak wajar mendadak merayap halus di tengkuk yang membuatnya ketakutan. Ketukan di pintu yang semula hanya memancing rasa penasaran kini perlahan berubah menjadi sedikit ketakutan yang mengikis keberaniannya.
Rukmini bergeming menatap daun pintu kayu di hadapannya, ragu apakah harus membukanya atau tidak. "Apa mungkin aku hanya salah dengar," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur diri.
Namun saat ia berbalik hendak kembali ke kamar, ketukan di pintu itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras, kasar, dan berubah menjadi gedoran.
Suara gedoran itu memantik rasa sebal Rukmini, mengikis rasa takut yang sempat membelenggunya. "Siapa sih yang jahil malam-malam begini?!" gerutunya jengkel. Dengan gusar, ia memutuskan untuk membuka pintu lebar-lebar.
Rukmini menarik napas panjang lalu memutar kunci dan menarik gagang pintu.
Krieeett...
Namun, begitu pintu terbuka, yang menyambutnya hanyalah hamparan kegelapan malam yang pekat dan hening yang mencekam.
“Siapa pun kamu, berhenti bermain-main!” teriak Rukmini garang, suaranya bergema di kesunyian malam.
Tidak ada jawaban. Hanya hembusan angin malam yang mendadak bertiup kencang, menerpa wajah dan pakaiannya hingga terasa menusuk tulang. Rukmini melangkah satu langkah keluar teras, matanya menyapu sekeliling pekarangan. Kosong.
"Ibuuuu...."
Rukmini membeku seketika di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup tak karuan.
Ada suara perempuan yang memanggilnya! Suara itu begitu jelas, mendayu-dayu dari arah kegelapan pekarangan. Ia memutar pandangan ke segala penjuru, namun tetap tidak menemukan wujud siapa pun.
"Ibuuuu...."
Kali ini suara itu terdengar jauh lebih dekat, tepat di batas terasnya!
Bulu kuduk Rukmini berdiri tegak seketika. Napasnya memburu cepat. Apakah ia sedang berhalusinasi? Ataukah ada hal tak kasat mata yang sedang bermain-main dengannya? Tubuhnya kaku, namun kakinya seolah kehilangan tenaga untuk melangkah mundur.
Udara di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat dingin membeku, disusul oleh aroma bau sangit daging dan rambut terbakar yang amat menyengat hidung!
Dari dalam kegelapan malam, tampak sebuah sosok berjalan, lebih tepatnya melayang cepat mendekat ke arah teras.
Di sanalah, berdiri tegak sosok Nina! Lebih tepatnya, arwah penasaran Nina, menantu yang sangat ia benci dan ia fitnah semasa hidupnya!
Wajah menantunya itu tampak pucat pasi bagai mayat, dengan kulit yang mengelupas hitam akibat luka bakar parah. Dan di bibir yang hitam itu, terukir sebuah senyuman mengerikan. Sebuah seringai dingin yang membuat seluruh sendi Rukmini lumpuh seketika!
"Ni... Nina...?" gumam Rukmini gemetar hebat. Matanya membelalak tak percaya.
Arwah Nina melayang kian mendekat. Matanya yang dulu redup penuh penderitaan kini berubah hitam pekat tanpa bola mata, menatap lurus menembus jiwa Rukmini. Seringai di wajah hangus itu tak juga pudar, seolah menikmati ketakutan yang kini menguasai mantan ibu mertuanya.
Rukmini menatap penuh ngeri saat arwah Nina menyodorkan sesuatu dari dekapannya. "Apakah Ibu tak ingin menggendong cucumu? Lihatlah, Gendis ini sangat cantik sekali..." ucap arwah Nina dengan suara dingin, parau, dan penuh dengan ejekan.
Dada Rukmini serasa mau pecah. Di hadapannya, Nina menyodorkan jasad Gendis yang matanya hitam kelam. Yang paling mengerikan, bagian kepala balita itu bolong menganga bekas tembakan peluru, mengucurkan cairan merah pekat yang menetes pelan membasahi pakaian mungilnya!
"Ini… ini tidak mungkin...!" bisik Rukmini dengan tenggorokan tercekat. Ia ingin berlari mundur, namun kedua kakinya serasa dipaku ke ubin teras. Seluruh kejahatan dan kebencian masa lalu yang ia curahkan pada Nina kini berbalik meneror dirinya.
"Hihihihihi..." Tawa melengking arwah Nina memecah heningnya malam, bergema mengerikan menyaksikan wanita tua itu tak berdaya.
Mila semakin menyodorkan sosok Gendis. "Gendonglah, Ibu... Bukankah ini juga cucumu? Gendis sudah lama menunggu untuk dipeluk oleh neneknya..." tutur Nina dengan nada yang kian mencekam. Seringainya kian melebar hingga merobek sudut bibirnya yang terbakar.
Arwah Nina merangsek maju, wajah penuh dendam itu kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rukmini. "Kenapa? Kau takut?! Kau jijik?! Padahal kita semua adalah bagian dari keluarga yang sama!"
Rukmini yang benar-benar dikuasai kepanikan mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Jangan ganggu aku, setan! Pergi kau!" teriaknya histeris sembari mengibaskan tangannya ke udara.
Namun, tangannya hanya menembus udara kosong yang dingin. Arwah Nina sama sekali tak bergeming. Seringai kejam itu tetap menghiasi wajahnya.
“Kau pikir bisa mengusirku semudah itu, Ibu?” tanya Nina dengan suara yang perlahan berubah menjadi sangat berat, dalam, dan mengganda. “Aku tak akan pernah pergi... Aku dan Gendis akan selalu ada di sini, bersamamu!”
Cairan merah pekat yang menetes dari kepala bolong Gendis makin deras mengalir, membasahi jemari Nina dan meluber ke lantai teras.
Saat ikatan gaib yang melumpuhkan kakinya mendadak terlepas, Rukmini menjerit histeris dan berbalik berlari kesetanan masuk ke dalam rumah tanpa sempat menutup pintu depan!
Rukmini berlari menuju kamarnya secepat mungkin, membanting pintu, dan memutar kuncinya rapat-rapat. Ia bersandar di balik pintu sambil terengah-engah, berharap kamar ini menjadi benteng pertahanannya dari kejaran arwah Nina dan anaknya.
Namun, saat ia memutar badannya menatap ke arah ranjang... pemandangan yang jauh lebih mengerikan telah menunggunya!
Di atas kasurnya, sosok Gendis sedang melompat-lompat! Matanya kosong tak bernyawa, namun memancarkan kebencian yang mendalam. Kepalanya yang bolong terus mengucurkan darah segar yang membasahi sprei setiap kali tubuh mungil itu melompat!
Plok... plok... plok...
Setiap kali sosok balita itu melompat, tawa kecil yang amat melengking dan mengerikan bergema memenuhi seluruh sudut kamar.
“Hihihi... Nenek... main yuk... hihihi...”
Jantung Rukmini serasa berhenti berdetak saat itu juga. Udara di dalam kamar terasa habis melenyap. Pandangannya mendadak gelap gulita, kesadarannya hilang, dan tubuh tua Rukmini pun ambruk pingsan tak sadarkan diri di atas lantai dingin.
*
Pagi harinya, Mbok Siti pembantu di rumah Rukmini bangun lebih awal untuk bersiap-siap pergi ke pasar desa.
Namun, begitu ia melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tengah, wanita paruh baya itu seketika terperanjat hebat melihat kondisi rumah majikannya yang berantakan. Pintu depan terbuka lebar, dan banyak barang berharga di ruang tamu serta ruang keluarga yang lenyap tanpa bekas!
Salah satu yang paling mencolok adalah hilangnya televisi layar datar berukuran besar yang biasanya terpajang anggun di atas meja ukir ruang tengah.
Mbok Siti seketika diserang rasa panik dan cemas yang luar biasa. "Aduh! Gusti... kenapa rumah bisa kebobolan begini?!" gumamnya gemetar sembari memeriksa ruangan demi ruangan yang acak-acakan.
Dengan langkah tergesa-gesa, Mbok Siti berlari menuju kamar Rukmini dan Ruhi, berharap kedua majikannya itu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi sepanjang malam tadi.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭