Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bayaran Untuk Ilmu
"Mas Bagas, bantu Seroja cabut sayur ini sampai akarnya. Pelan-pelan, jangan sampai daun luarnya rusak."
Suara Seroja memecah keheningan pagi di pinggir Hutan Jati.
Gadis itu berjongkok di atas tanah kapur, lalu menarik pangkal batang sawi dengan hati-hati. Sementara itu, Bagas masih berdiri terpaku, menatap deretan tanaman hijau yang tumbuh subur di lahan sempit itu.
"Ini sawi paling gemuk yang pernah kulihat, Seroja," gumam Bagas dengan suara takjub.
Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok menyentuh daun yang masih basah oleh embun.
"Daunnya tebal, batangnya juga besar. Sawi di kebun desa sebelah saja sering bolong dimakan ulat. Tapi yang ini bersih sekali."
Bagas menatap Seroja dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Kamu nanam pakai apa, sih? Kok bisa begini?"
Danu ikut berjongkok membantu mengumpulkan hasil panen pertama mereka.
Dadanya terasa hangat. Semalam ia masih bingung memikirkan bagaimana keluarganya bisa makan, tetapi pagi ini mereka sudah punya sesuatu yang bisa dijual.
Danu menatap sawi di tangannya, lalu melirik Seroja. Gadis itu benar-benar membawa harapan baru bagi mereka.
Seroja memberikan ikatan sawi terakhir kepada Bagas. Dengan hati-hati, mereka bertiga menata hasil panen pagi itu ke dalam dua keranjang bambu yang terikat di belakang sepeda ontel.
Seroja menatap tumpukan sawi di dalam keranjang. Pikirannya langsung menghitung berapa uang yang mungkin mereka dapatkan dari hasil panen itu. Mereka harus membeli beras dan menebus obat asma Nenek Warni pagi ini juga.
Ia menelan ludah, menahan perut yang masih kosong sejak kemarin siang. Tidak ada waktu untuk berlama-lama.
"Mas Bagas, kita berangkat ke pasar kecamatan sekarang."
Seroja menepuk sisa tanah di telapak tangannya, lalu membetulkan selendang lurik di bahunya.
Danu mengangguk. "Biar Mas yang jaga Bibi sama Mbah Warni. Kalian hati-hati di jalan."
"Tengkulak Supri berjaga di pintu masuk pasar, Seroja. Bisa-bisa kita dicegat sebelum sempat jualan," kata Bagas ragu.
"Kalau begitu kita masuk lewat jalan belakang, dekat tempat pembuangan sampah. Mereka pasti tidak mau berjaga di sana."
Seroja mengusap peluh di dahinya.
"Ayo berangkat. Nenek di rumah harus segera dapat obat."
Perjalanan ke pasar kecamatan memakan waktu sekitar setengah jam. Bagas menuntun sepedanya, sementara Seroja berjalan di sampingnya. Jalan berbatu yang mereka lewati mulai ramai oleh pedati, sepeda, dan beberapa truk yang melintas dari arah jalan raya.
Dari sebuah warung kopi di tepi jalan, suara siaran RRI mengalun pelan dari radio transistor.
Pasar kecamatan sudah ramai sejak pagi. Bau ikan asin bercampur dengan aroma terasi, minyak tanah, dan lumpur yang menggenang di bawah kaki para pengunjung.
Di dinding pasar yang mulai berlumut, beberapa poster film Benyamin S. masih menempel. Pinggirannya sudah kusut dan memudar diguyur hujan.
Seroja memilih menggelar daun pisang di emperan los sayur yang kosong. Tempat itu agak tersembunyi di balik tiang penyangga atap seng.
Belum sampai lima belas menit lapaknya dibuka, suasana mulai terasa lain.
Tiga pria berwajah sangar berdiri tak jauh dari los ayam. Kemeja flanel mereka tampak lusuh, sementara tatapan mereka terus mengarah ke lapak Seroja. Mereka adalah centeng suruhan Supri.
Senyum sinis perlahan muncul di wajah ketiganya.
Setiap ada ibu-ibu yang hendak mendekati lapak Seroja, salah satu centeng langsung memukul tiang dengan tongkat bambunya. Para pembeli itu sontak mengurungkan niat, lalu buru-buru pergi.
Bagas mengatupkan rahang. "Mereka sengaja mengusir pembeli kita. Kalau begini terus, sayur kita bakal busuk."
Danu mengepalkan tangan, bersiap menghampiri ketiga centeng itu.
Seroja cepat-cepat menahan lengannya. Kalau Danu sampai terpancing, yang rugi justru mereka sendiri.
Seroja menarik napas pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pasar.
Pandangan Seroja berhenti pada sebuah warung tenda di pojok pasar. Asap putih mengepul dari panci kaldu yang mendidih di atas tungku arang. Beberapa kuli panggul tampak sedang sarapan di sana.
"Mas Bagas."
Seroja menyerahkan lima ikat sawi paling bagus ke tangan sepupunya.
"Kasihkan ini ke pemilik warung di sana. Bilang saja, ini sawi dari petani pinggir hutan."
Bagas mengernyit. "Dikasih gratis? Kita butuh uang buat nebus obat Mbah Warni pagi ini."
"Orang tidak akan beli kalau belum tahu rasanya." Seroja menatap Bagas. "Minta Pak Kumis langsung masak sawi itu sekarang, biar semua orang lihat."
Bagas mengangguk, lalu berlari kecil menembus keramaian pasar. Seroja dan Danu hanya bisa menunggu dengan hati berdebar.
Dari kejauhan, Seroja melihat Bagas berbicara dengan pemilik warung. Pria berkumis tebal itu mematahkan sedikit batang sawi, lalu tersenyum saat terdengar bunyi renyah. Setelah itu, ia segera mencuci dan memasukkannya ke dalam kuah kaldu yang sedang mendidih.
Sepuluh menit kemudian, cara Seroja mulai membuahkan hasil.
Aroma kaldu sapi bercampur dengan harum sawi segar menyebar dari warung tenda itu. Para pelanggan mulai bertanya dari mana sayur itu berasal. Pak Kumis langsung menunjuk ke arah lapak Seroja.
Satu per satu ibu-ibu berdatangan. Tak lama kemudian, mereka sudah berkerumun di depan lapak. Tatapan centeng Surpi tak lagi mereka pedulikan. Yang ada di pikiran mereka hanya membawa pulang sayur segar untuk keluarga.
"Satu ikat berapa, Nduk?" tanya seorang ibu berkebaya motif bunga sambil memilih sawi.
"Lima belas rupiah, Bu," jawab Seroja sambil tersenyum.
Ibu itu mengangkat alis. "Lho, mahal amat? Di los depan cuma sepuluh rupiah."
"Sayur ini baru dipetik pagi tadi, Bu. Daunnya masih segar, tidak bolong dimakan ulat, rasanya juga manis. Coba beli satu ikat saja. Kalau besok rasanya tidak seperti yang Seroja bilang, uang Ibu saya kembalikan."
Jaminan dari Seroja membuat keraguan pembeli hilang. Uang logam dan uang kertas mulai berpindah ke tangannya.
Bagas sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan, sementara Danu mengumpulkan uang hasil jualan ke dalam tas kain.
Di tengah keramaian itu, Seroja tak sengaja bertatapan dengan seorang pemuda yang sejak tadi mengamatinya dari seberang pasar.
Pemuda itu berdiri di bawah atap seng sebuah kios kain yang masih tutup. Usianya sekitar dua puluh tahun. Pakaiannya sederhana, tetapi rapi. Kemeja putih berlengan panjangnya digulung sampai siku, dipadukan dengan celana kain berwarna gelap.
Ia berdiri tenang di tengah hiruk-pikuk pasar. Sepatu kulitnya terkena cipratan lumpur, tetapi ia tak memedulikannya. Tatapannya tak lepas dari Seroja, mengikuti cara gadis itu melayani pembeli dan menghadapi centeng Surpi.
Seroja berdiri tegak. Pemuda itu jelas bukan centeng suruhan Supri. Dari caranya berdiri, ia juga bukan orang desa biasa. Wajahnya pun belum pernah Seroja lihat sebelumnya.
Saat pembeli mulai berkurang dan sawi di atas daun pisang tinggal dua ikat, pemuda itu melangkah menghampiri lapak.
Ia berhenti di depan Seroja, lalu mengambil satu ikat sawi. Jemarinya membalik daun itu pelan, memeriksanya dengan saksama.
"Ini ditanam di tanah berkapur?"
Suaranya berat dan tenang. Logat Jawanya halus, berbeda dari kebanyakan orang yang Seroja temui di pasar.
Seroja mengangguk. "Benar."
Pemuda itu kembali memperhatikan sawi di tangannya. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepala dan menatap Seroja.
"Hebat. Di tanah seperti itu, biasanya cuma ilalang yang mau tumbuh. Sampeyan pasti bukan petani biasa."
Seroja membalas tatapan pemuda itu tanpa gentar. "Tanah kapur bukan berarti tidak bisa ditanami. Kalau tahu cara merawatnya, tanah ini tetap bisa memberi hasil."
Senyum tipis muncul di bibir pemuda itu. Ia mengambil dua ikat sawi terakhir, lalu mengeluarkan uang dari saku kemejanya dan menyerahkannya kepada Seroja.
"Mas, kembaliannya," ujar Seroja cepat. Ia tidak mau menerima uang lebih begitu saja.
Pemuda itu hanya mengangkat tangan sambil terus berjalan meninggalkan lapak.
"Anggap saja bayaran untuk ilmunya," jawabnya.