Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Garis Keturunan
Malam terus merambat dingin, membalut rumah keluarga Broto dalam kesunyian yang mencekam. Jarum jam di ruang tengah baru saja melewati pukul satu dini hari. Seluruh penghuni rumah telah terlelap—Bayu ketiduran di bale-bale depan setelah pulang melangkah gontai, sementara Pertiwi dan adik-adiknya mendengkur halus di kamar samping karena kelelahan emosional.
Hanya Galang yang masih terjaga. Pemuda itu terbaring menatap langit-langit papan yang berbayang kusam. Pikirannya terus berputar pada kata-kata ibunya tadi pagi. Hari ke-120. Garis keturunan. Perjanjian yang tidak ditulis dengan tinta.
Tiba-tiba, sebuah suara asing merayap menembus keheningan malam.
Oweee ... oweee ... oweee ....
Galang seketika terduduk. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya begitu keras. Suara itu adalah tangisan bayi—melengking tipis, halus, namun sarat akan rasa sakit yang teramat sangat.
Tangisan itu tidak berasal dari luar rumah, tidak pula berasal dari tetangga jauh. Suara itu mengalun dari lorong tengah, merembes langsung dari dalam kamar ibu yang terkunci.
Galang berdiri tanpa suara. Dengan langkah bertelanjang kaki yang mengapung pelan di atas lantai semen dingin, ia melangkah menyusuri lorong temaram.
Bau asap yang menyengat—bukan sekadar bau kemenyan biasa, melainkan uap sangit dari kain terbakar bercampur lemak busuk—mulai merayapi hidungnya. Bau itu begitu pekat hingga membuat matanya perih berair.
Oweee ... oweee ....
Makin dekat Galang ke pintu kamar utama, suara tangisan bayi itu makin jelas terdengar. Namun, ada yang aneh. Suara itu tidak bergema di tengah ruangan kamar, melainkan terdengar tertahan, teredam rapat.
Galang berlutut di depan pintu. Asap hitam tipis terlihat membumbung merayap keluar dari celah bawah pintu kayu.
Galang membelalakkan mata. Kebakaran? Apakah ibunya berniat membakar dirinya sendiri di dalam sana?
Tanpa memikirkan ancaman ibunya tadi pagi, rasa panik mendesak Galang untuk bertindak. Ia meraih kait pintu, mendobraknya dengan bahu kirinya sekuat tenaga.
BUMM!
Suara hantaman itu bergema keras. Namun selot kayu dari dalam terlalu kokoh.
Galang menoleh ke samping lorong dan melihat sebuah linggis besi tua yang biasa dipakai Pak Broto mencabut paku, tergeletak di dekat rak sepatu.
Ia meraih linggis itu dengan kedua tangan yang gemetaran, menyelipkannya ke celah antara daun pintu dan kosen kayu, lalu menekannya dengan seluruh bobot tubuhnya.
KRAK!
Kayu jati tua itu terbelah dengan bunyi patahan yang nyaring. Selot besi di dalam kamar terlepas dari dudukannya, dan pintu kayu itu terdorong terbuka lebar.
Hawa panas bercampur uap asap tebal langsung menyambar wajah Galang, membuatnya terbatuk-batuk hebat. Udara di dalam kamar terasa teramat pengap dan pekat oleh aroma sangit yang membakar dada.
Dalam remang-remang kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh pendar merah dari bara api di lantai, Galang menyaksikan pemandangan yang membuat seluruh darah di tubuhnya membeku.
Bu Retno terduduk bersimpuh di atas tanah lantai kamar yang ubinnya telah diangkat sebagian. Wanita itu membelakangi pintu.
Bajunya kusam dan kotor oleh noda jelaga hitam.
Di depan lututnya, sebuah mangkuk tanah liat berisi bara arang menyala terang, memancarkan cahaya merah darah yang memantul di dinding-dinding kayu.
Di atas mangkuk bara api itu, Bu Retno sedang memegang selembar kain linen tua berwarna putih kekuningan. Dengan tangan kirinya yang gemetar kaku, ia membakar ujung kain tersebut.
Namun, itu bukan sekadar kain biasa. Di atas permukaan kain terdapat tulisan silsilah keluarga yang ditulis menggunakan tinta kehitaman yang mengering.
Oweee ... oweee ....
Tangisan bayi itu kembali melengking keras! Suara itu memancar dari dalam lemari kayu jati kuno berwarna gelap yang berdiri di sudut kamar. Pintu lemari tua itu tampak bergetar pelan dari dalam, seolah-olah ada jemari-jemari mungil yang sedang mencakar-cakar papan kayu dari dalam kungkungan yang gelap gulita.
"Ibu! Apa yang sedang Ibu lakukan?!" teriak Galang sambil menerobos masuk, mengabaikan asap tebal yang memenuhi paru-parunya.
Bu Retno tidak menoleh. Tangan kurusnya tetap memegang kain tua yang terbakar di atas bara api.
"Jangan mendekat, Galang!" bisiknya, suaranya terdengar sangat serak dan asing, bagaikan dua pita suara yang bergesekan bersamaan. "Ibu sedang menghapus nama-nama ini, sebelum mereka datang mengambilnya."
"Nama? Apa maksud Ibu?! Istighfar, Bu! Istighfar!" Galang berlutut, mencoba merebut kain tua itu dari tangan ibunya.
Namun, tatkala mata Galang melirik ke arah kain linen tua yang terbakar separuhnya itu, matanya menangkap deretan tulisan Jawa kuno dan nama-nama yang terukir di sana.
Di garis paling atas tertera nama Pak Broto. Di bawahnya, terdapat garis melingkar yang menghubungkan nama-nama anak mereka: Bayu, Pertiwi, Mia, Rian, dan Gilang ....
Setelahnya, ada sebuah garis cabang ganjil yang tercoret merah pekat di sudut kain. Di sana terukir satu nama tambahan yang tidak pernah diketahui Galang sebelumnya, nama yang tercoret silang oleh tinta darah kering. Dan tepat di samping nama itu, nama Galang terukir terpisah.
"Ibu ... ini apa?" Suara Galang bergetar hebat. "Ini kain untuk apa?"
Bu Retno mendadak menolehkan kepalanya. Gerakannya patah-patah dan kaku. Wajah ibunya kini sangat cekung, pipinya kempot bagaikan mayat yang dikeringkan, dan kedua bola matanya dipenuhi oleh urat-urat merah yang hampir pecah. Tidak ada pendar kehangatan seorang ibu di sana; yang ada hanyalah teror dan keputusasaan yang tak terobati.
BUMM!
Pintu lemari jati kuno di sudut kamar mendadak terhempas terbuka dari dalam!
Asap hitam pekat menyembur keluar dari dalam lemari kosong tersebut, membawa aroma tanah liat kuburan yang teramat pekat.
Tangisan bayi itu mendadak berubah menjadi tawa melengking yang parau dan dingin—suara ghaib yang bergema dari dalam rongga lemari tua yang gulita.
Dari balik tumpukan kain kusam di dalam lemari yang terbuka itu, Galang melihat sebuah gulungan kain kafan kecil berukuran seperti bayi baru lahir tergeletak di atas papan kayu.
Kain kafan kecil itu tampak bergerak-gerak liar, berguling-guling ke kiri dan ke kanan seolah-olah ada makhluk tak berwujud yang sedang terperangkap di dalamnya, mencoba melepaskan diri dari balutan kain kotor tersebut.
"Bapakmu ... menyerahkan yang pertama untuk modal warung itu, Galang!" teriak Bu Retno mendadak histeris, air mata kehitaman merembes dari matanya yang merah. "Anak pertama yang mati di dalam kandungan! Itu yang membuat nasi rawon kita laris!"
Galang membelalakkan mata, dadanya dihantam kenyataan Mengerikan yang tak terbayangkan.
Pesugihan.
Warung Nasi Broto yang selama ini menghidupi mereka ... benar-benar berdiri di atas fondasi darah dan janin yang ditumbalkan!
"Dan sekarang ...," lanjut Bu Retno sambil menunjuk kain tua yang terbakar di tangannya dengan jemari gemetar. "Garis itu menagih sisanya! Bapakmu sudah mati membawa hutangnya, dan sekarang mereka mau mengambil keenam anak biologisnya satu per satu!"
"Ke-keenam ...?" Galang gagap, otaknya berputar keras mencoba mencerna ucapan ibunya. "Mas Bayu, Mbak Pertiwi, Mia, Rian, dan Gilang ... itu lima orang, Bu! Kalau ditambah anak pertama yang mati, jadinya enam! Lalu ... lalu aku?!"
Bu Retno menatap Galang dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iba yang teramat dalam sekaligus rasa bersalah yang menghancurkan jiwa.
"Kamu ...," bisik Bu Retno dengan bibir gemetar, air matanya menetes jatuh ke atas bara api yang memercikkan asap sangit. "Kamu bukan anak biologis kami, Galang ...."
Dunia Galang rasanya runtuh seketika. Dinding-dinding kamar seolah berputar hebat, menimpanya dengan bobot berkuintal-kuintal. Ia bukan anak kandung Pak Broto dan Bu Retno. Ia bukan bagian dari keluarga ini.
"Karena darahmu berbeda ...," lanjut Bu Retno sambil meraih tangan Galang, mencengkeramnya erat-erat dengan jemarinya yang membeku. "Sajen itu tidak bisa menyentuhmu. Kamu adalah satu-satunya pengecualian dari perjanjian ini, Galang. Karrna kamu tidak terikat oleh garis keturunan ini!"
Oweee ... oweee ....
Gulungan kain kafan kecil di dalam lemari mendadak meloncat keluar, mendarat dengan dentuman pelan di atas tanah lantai kamar! Kain kecil itu berguling menuju arah lutut Bu Retno, mengeluarkan bau bangkai yang teramat sangat.
"Ibu!" Galang berteriak, refleks menarik tubuh ibunya mundur menjauhi gulungan kain kafan tersebut.
Bu Retno mendorong Galang kencang dengan sisa-sisa tenaganya.
Sebelum Galang terhempas, ia sempat meraih robekan kain linen tadi, lalu dengan cepat menyembunyikannya ke dalam kantong celana.
Sementara Bu Retno hanya menyambar sisa kain linen tua yang terbakar, lalu meniup bara api di mangkuk tanah liat hingga memercikkan bunga api yang membakar kain-kain kusam di sekitar lantai.
"Ibu! Awas, Bu!" Galang mencoba merangsek maju menepis api yang mulai membesar, namun bayangan hitam pekat yang menguar dari dalam lemari tua mendadak melompat menghadangnya—membentuk barikade hawa dingin yang menghempas tubuh Galang keluar menyusur lantai lorong!
BUMM!
Pintu kamar utama yang terbelah itu mendadak tertutup kembali oleh dorongan angin ghaib yang sangat kencang. Dari dalam kamar yang kini terkunci rapat, terdengar suara tangisan histeris Bu Retno yang beradu dengan gelak tawa dingin dari dalam lemari tua, tenggelam di balik kepulan asap sangit yang kian pekat.
Galang terkapar di lantai lorong, memegang dada dan kepalanya yang berdenyut hebat. Di dalam genggaman tangan kanannya, teremas sisa potongan kain linen tua tadi yang berhasil ia selamatkan—sebuah kain yang membawa kenyataan pahit tentang identitas dirinya, serta ancaman tak kasat mata yang sedang mengintai saudara-saudaranya.
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya