NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:324.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Tiga minggu berlalu seperti kedipan mata bagi Adila yang sedang menikmati masa pemulihan jiwanya di bawah atap istana megah Keluarga Wijaya. Namun, bagi keluarga Revan, tiga minggu itu berjalan lambat layaknya siksaan neraka tanpa akhir. Sepulang dari liburan mewahnya di Paris, penampilan Adila benar-benar berubah total. Aura elegan, mahal, tenang, dan berkelas kini melekat sempurna pada dirinya. Tidak ada lagi gurat lelah atau kesedihan di wajah anggun ala Koreanya.

Dan hari ini adalah hari yang paling mendebarkan sekaligus dinanti oleh seluruh civitas akademika Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Pusat Jakarta: hari pengumuman resmi hasil kelulusan Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) tingkat nasional.

Pagi-pagi sekali, sebuah baliho digital berukuran raksasa sudah terpasang megah di gerbang utama rumah sakit pendidikan dan area lobi kampus. Di atas layar LED raksasa tersebut, foto Adila terpampang sangat anggun dengan senyuman tipis khasnya yang menawan, mengenakan jas dokter yang putih bersih tanpa cela. Di bawah fotonya, tertulis dengan huruf kapital berwarna emas yang sangat mencolok:

SELAMAT DAN SUKSES ATAS PRESTASI LUAR BIASA

Dr. Adila Arrena Wijaya

Peraih Nilai Tertinggi Sempurna (100.0) dan Lulusan Terbaik UKMPPD Nasional Periode Ini.

Kabar itu meledak seperti bom atom di seluruh penjuru lingkungan rumah sakit dan universitas. Selama sejarah ujian negara kedokteran diadakan, hampir tidak pernah ada mahasiswa yang bisa menembus nilai sempurna bulat seratus, baik di ujian teori maupun praktik klinis. Dan Adila berhasil melakukannya setelah melewati badai rumah tangga yang begitu hebat.

Maya dan Sari langsung berlari kencang membelah kerumunan mahasiswa di koridor utama kampus begitu melihat hasil resmi yang diunggah di situs kementerian. Mereka berdua langsung menghambur memeluk Adila yang baru saja turun dari mobil Bentley hitam milik keluarganya.

"Dilaaa! Kamu hebat banget! Nilai sempurna se-Indonesia, Dila!" teriak Maya histeris sampai meneteskan air mata haru, menjatuhkan beberapa lembar berkas yang dipegangnya. "Kami bangga banget, bener-bener bangga punya sahabat sejenius kamu!"

"Iya, Dil! Satu kampus langsung gempar pagi ini. Semua dokter spesialis dan dekanat sedang membicarakan namamu!" timpal Sari dengan mata berbinar-binar penuh kepuasan. "Kami yang tahu perjuanganmu selama ini merasa ini adalah pembalasan dendam paling elegan!"

Adila terkekeh lembut, memeluk kedua sahabat setianya itu dengan erat. "Terima kasih banyak ya, Maya, Sari. Ini semua juga berkat dukungan kalian yang selalu menemani aku di masa-masa sulit kemarin. Kalian sendiri bagaimana hasilnya?"

"Kami lulus, Dil! Nilai kami juga sangat memuaskan, meskipun tidak se-monster nilaimu ini!" seloroh Maya yang langsung disambut tawa riang oleh mereka bertiga.

Di tengah kehebohan dan riuhnya ucapan selamat dari para mahasiswa lain, langkah kaki yang tegap dan berirama konstan terdengar mendekat. Kerumunan mahasiswa seketika terdiam dan memberikan jalan. dr. Adrian Dewantara berjalan membelah kerumunan dengan gaya dingin, kaku, dan berwibawa seperti biasanya. Jas dokter spesialisnya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang tegas.

Namun, saat sepasang mata tajam milik dr. Adrian bertemu dengan mata Adila, seulas senyuman tipis yang teramat sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun di rumah sakit ini perlahan terukir di wajah tampannya.

"Selamat, Dr. Adila Arrena Wijaya. Predikat lulusan terbaik nasional itu memang sudah seharusnya jatuh ke tangan asisten riset pribadiku," ucap Dr. Adrian sembari mengulurkan tangannya di depan semua orang.

Adila menyambut uluran tangan konsulen pembimbingnya itu dengan kemantapan seorang dokter baru yang matang. "Terima kasih banyak atas bimbingan keras dan siksaan draf risetnya selama ini, Dokter Adrian. Tanpa tekanan tinggi dari Dokter, saya tidak akan pernah melatih otak saya sampai ke titik batas seperti ini."

Adrian menaikkan sebelah alisnya, ada binar kebanggaan yang tidak bisa ia sembunyikan dari balik tatapan matanya yang biasanya sedingin es. "Jangan senang dulu, Dokter Adila. Besok adalah hari Sumpah Dokter Mu dan aku dengar dari jajaran direksi, Bapak Hadi Wijaya sudah menyewa seluruh aula utama hotel bintang lima termewah di Jakarta Pusat hanya untuk merayakan kelulusanmu, bukan?"

Adila tersenyum kecil dengan pipi yang agak merona. "Papi memang sedikit berlebihan, Dokter."

"Itu tidak berlebihan untuk seorang putri dari Wijaya Group," sahut Adrian dengan nada rendah yang menenangkan. "Bersiaplah untuk besok. Karena begitu lafal sumpah dokter selesai kamu ucapkan, draf riset internasional kita yang sempat tertunda karena liburanmu ke Paris sudah menunggu tanda tangan resmimu sebagai seorang dokter profesional. Tugasmu baru saja dimulai."

"Baik, Dokter Adrian. Saya siap," jawab Adila dengan binar mata penuh tekad.

Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer yang teramat kelam dan menyesakkan sedang terjadi di kantor instansi tempat Revan bekerja. Hari ini adalah hari pertama Revan kembali masuk kerja setelah jatah cuti tahunannya habis terpakai demi mengantar Meisya ke rumah sakit tempo hari.

Dengan langkah kaki yang gulai, bahu yang merosot dan wajah sekuyu kain pel, Revan berjalan lambat melewati lobi kantor. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, menandakan bahwa pria itu sudah berhari-hari tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya benar-benar hancur dan terkuras habis.

Masalah di rumah sederhananya seolah datang bertubi-tubi tanpa memberikan jeda untuknya bernapas. Kepergian Tiara yang nekat kabur dari rumah karena muak dengan kemiskinan dan drama Meisya membuat ibunya jatuh sakit karena stres. Ditambah lagi, pihak bank sudah mengirimkan surat peringatan terakhir mengenai penyitaan tanah investasi milik ibunya yang jaminan hutangnya gagal bayar. Dan yang paling membuat dadanya sesak adalah kenyataan bahwa tabungan pribadinya kini terkuras drastis hanya untuk membiayai segala tuntutan pemeriksaan kandungan mewah Meisya yang notabene hanyalah teman kecilnya, bukan siapa-siapa yang memiliki ikatan hukum kuat dengannya.

Revan mengembuskan napas berat, berniat menuju ruang pantri untuk menyeduh secangkir kopi hitam pekat guna mengusir rasa pusing yang mendera kepalanya. Namun, baru saja langkah kakinya sampai di ambang pintu pantri, ia mendadak membeku.

Di dalam ruangan tersebut, beberapa staf wanita dan rekan kerja satu divisinya sedang berkumpul mengelilingi meja makan sembari menatap layar televisi dinding yang sedang menyiarkan berita lokal pagi. Suara bisik-bisik yang tajam dan penuh gosip langsung tertangkap oleh indra pendengaran Revan.

"Eh, kalian lihat tidak berita pagi ini? Serius, aku sampai merinding melihatnya!" ucap salah satu staf administrasi dengan mata melebar menatap layar televisi.

"Iya, aku juga lihat! Itu kan mantan istrinya Pak Revan, kan? Dokter Adila yang sering datang mengantar kotak bekal ke kantor ini dulu?" timpal rekan kerja pria yang duduk di sebelahnya.

"Bukan cuma mirip, itu memang dia! Tapi kalian lihat namanya di layar kaca sekarang... dr. Adila Arrena Wijaya! Dia meraih nilai sempurna seratus bulat dan jadi lulusan dokter terbaik se-Indonesia!" suara staf wanita itu meninggi karena syok. "Dan yang paling bikin gila... dia itu anak bungsu dan anak kandung dari Hadi Wijaya! Pemilik tunggal Wijaya Group yang punya anak perusahaan di mana-mana!"

"Hah?! Serius kamu?! Jadi selama ini Pak Revan menikah dengan putri konglomerat nomor satu?!"

"Iya! Tapi kabarnya Adila dulu menyembunyikan identitasnya karena mau melihat ketulusan. Eh, malah diselingkuhi sama Pak Revan demi teman kecilnya yang tidak jelas itu. Benar-benar rezeki nomplok yang ditendang sendiri ke jurang!" cemooh staf itu dengan nada berbisik namun terdengar sangat sinis. "Sekarang lihat, setelah cerai, Adila langsung pulang ke Paris pakai jet pribadi, hidup seperti ratu. Sedangkan Pak Revan... denger-denger rumah ibunya mau disita bank dan sekarang harus menampung teman kecilnya yang hamil itu di rumah sempit."

Deg!

Kata-kata dari rekan kerjanya itu terasa seperti gada besi raksasa yang dihantamkan tepat di atas dada Revan. Jantungnya berdesir tajam, darahnya mendadak terasa dingin mengalir ke seluruh tubuh. Kakinya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada daun pintu pantri agar tidak ambruk ke lantai.

Revan memaksakan matanya untuk menatap ke arah layar televisi dinding. Di sana, stasiun televisi nasional sedang menayangkan siaran tunda wawancara eksklusif Adila di lobi kampus. Wajah Adila nampak begitu bersinar, cantik, dan sangat berkelas di bawah jepretan kamera para awak media. Di sisi kiri dan kanannya, berdiri kokoh Papi Hadi Wijaya dan Mami Ratna Wijaya yang menatap Adila dengan pandangan penuh kasih sayang dan kebanggaan yang teramat besar. Di belakang mereka, barisan mobil mewah Rolls-Royce dan pengawal pribadi berbadan tegap berdiri menjaga privasi keluarga elit tersebut.

Melihat pemandangan itu, air mata penyesalan yang teramat pekat perlahan mengalir membasahi pipi Revan yang cekung. Rasa sesak yang teramat menyiksa menghimpit tenggorokannya hingga ia hampir tidak bisa mengeluarkan suara.

“Dila... Kamu benar-benar anak Keluarga Wijaya...?” batin Revan meratap dalam kehancuran batin yang sedalam-dalamnya.

Satu per satu memori masa lalu berputar di dalam benak Revan bak kaset rusak yang menyiksa jiwanya. Ia teringat bagaimana dulu Adila selalu tersenyum manis menunggunya pulang kerja di rumah sewaan mereka yang sederhana, bagaimana Adila dengan telaten memasak makanan kesukaannya, dan bagaimana ringannya hidup Revan dulu karena Adila tidak pernah menuntut uang nafkah sepeser pun darinya. Adila adalah wanita mandiri yang memiliki segalanya, namun rela merendahkan dirinya demi hidup bersama Revan.

Dan dengan bodohnya, dengan ego yang dibutakan oleh rintihan palsu Meisya, Revan telah membuang berlian paling berharga di hidupnya demi segumpal tanah liat yang kini justru menjadi beban hidup yang mencekiknya dari berbagai arah.

Revan membalikkan badannya dengan cepat, membatalkan niatnya untuk membuat kopi, lalu berjalan terengah-engah menuju ruang kerjanya sendiri dengan air mata yang terus menetes tanpa bisa ia bendung lagi. Di koridor kantor yang dingin itu, Revan menyadari satu hal dengan teramat sangat terlambat: ia telah resmi kehilangan surga hidupnya, dan kini ia harus bersiap menjalani sisa hidupnya di dalam neraka finansial dan sosial yang ia ciptakan sendiri.

1
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
Eric ardy Yahya
MAMPUS KAU REVAN , makanya jadi orang jangan kayak MONYET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!