Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Di Lantai Teratas
Dengan bantuan dua staf kafetaria yang dengan senang hati membantunya membawa beberapa nampan besar, Kirana kembali ke lantai 12. Semua pesanan kopi specialty dan kue-kue premium yang bernilai fantastis itu tersusun rapi.
Satu per satu, Kirana membagikan cangkir kopi hangat dan kotak kue tersebut ke setiap meja karyawan dengan senyuman ramah dan ucapan salam kenal yang tulus. Para karyawan yang baru saja kembali dari jam istirahat terkejut sekaligus takjub. Kopi dan camilan yang dibeli Kirana bukanlah pesanan murah, melainkan menu kelas atas dari kafetaria privat Devan Corp.
"Wah, Kirana! Terima kasih banyak, ya! Ini mahal sekali, lho," ujar salah satu staf senior dengan mata berbinar seraya menyeruput kopinya.
"Sama-sama, Kak. Semoga suka, ya," jawab Kirana lembut.
Ketika Kirana meletakkan pesanan paling mahal di atas meja Siska, wanita itu menatap cangkir kopi dan kuenya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Rencana Siska untuk mempermalukan atau membuat Kirana panik karena kehabisan uang hancur total. Kirana membayar seluruh pesanan itu menggunakan kartu hitamnya tanpa berkedip sedikit pun—sebuah kenyataan yang membuat Siska makin gigit jari.
"Ini pesanannya, Mbak Siska. Selamat menikmati," tutur Kirana ramah tanpa ada sedikit pun nada dendam di suaranya.
Siska hanya bisa mendengus kesal, menyilangkan tangan di dada tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meski matanya terus memperhatikan Kirana yang tetap tenang dan anggun.
Tak lama kemudian, jam istirahat makan siang giliran Kirana dan beberapa staf lainnya tiba. Para karyawan yang terkesan dengan kebaikan dan kerendahan hati Kirana mulai mengajaknya berbaur.
"Kirana, ayo turun makan siang bareng kami!" ajak seorang staf wanita ramah.
"Iya, ayo! Biar sekalian kita ngobrol-ngobrol," timpal yang lainnya.
"Baik, Kak. Terima kasih ajakannya," jawab Kirana dengan riang.
Kirana merapikan mejanya lalu berjalan menuju lift bersama rekan-rekan barunya untuk turun ke kafetaria. Ia merasa lega dan bersyukur. Meski ada satu dua orang yang mencoba menjatuhkannya, ia berhasil melewati hari pertamanya dengan harga diri yang tetap tegak—dan tanpa perlu mengandalkan nama besar suaminya.
Jam makan siang telah usai. Suasana di lantai 12 kembali riuh dengan dentikan papan ketik dan hilir mudik dokumen. Kirana kembali ke mejanya dengan perasaan lebih rileks setelah menikmati makan siang dan mengobrol hangat bersama teman-teman barunya.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Siska yang masih menaruh dendam dan iri hati karena rencananya tadi pagi gagal, terus memutar otak untuk mencari cara mempermalukan Kirana. Kali ini, sebuah ide licik melintas di kepalanya.
Di Devan Corp, semua karyawan tahu betul betapa mengerikannya sosok sang CEO. Devan terkenal dingin, tegas, dan sangat tidak menyukai gangguan, apalagi dari seorang anak magang yang tidak punya kewenangan langsung melangkah ke ruangannya.
Dengan senyum culas yang terukir di wajahnya, Siska mengambil sebuah stopmap tebal berisi berkas laporan analisis proyek yang cukup rumit dan belum genap diperiksa. Ia melangkah menuju meja Kirana dengan gaya angkuh.
"Hei, Kirana," panggil Siska seraya menepuk berkas itu ke atas meja Kirana cukup keras.
Kirana mendongak, menatap Siska dengan tenang. "Iya, Mbak Siska? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ini berkas penting analisis pasar untuk proyek minggu depan," ujar Siska dengan nada yang dibuat-buat mendesak. "Manajer minta berkas ini harus mendapatkan tanda tangan dari Direktur Utama—Tuan Devan—sekarang juga. Karena kau anak magang di tim ini, tugasmu adalah membawa berkas ini ke lantai teratas dan minta tanda tangan beliau."
Beberapa karyawan di sekitar mereka yang mendengar hal itu langsung terdiam dan saling berpandangan cemas. Mereka tahu betul bahwa melangkah ke lantai atas untuk menemui Devan tanpa janji resmi adalah tindakan yang menyamai penyerahan diri ke dalam sarang singa.
"Tapi Mbak Siska... bukankah berkas seperti ini biasanya diserahkan melalui sekretaris atau manajer?" tanya seorang staf senior mencoba membela Kirana.
Siska langsung menatap tajam staf tersebut. "Manajer sedang rapat luar kantor! Tuan Devan tidak suka ditunda-tunda. Lagipula, ini latihan bagus untuk anak magang agar mentalnya teruji!" Siska kembali menatap Kirana dengan senyum meremehkan. "Kenapa, Kirana? Kau takut? Atau kau tidak sanggup?"
Kirana menatap berkas di mejanya, lalu beralih menatap mata Siska. Ia tahu betul Siska sedang berusaha memasukkannya ke dalam perangkap agar ia dimarahi habis-habisan atau bahkan dipecat oleh sang CEO di hari pertamanya bekerja.
Namun, Siska tidak pernah tahu... sosok 'singa mengerikan' yang ditakuti semua orang di gedung ini adalah pria yang tadi pagi menyuruhnya memanggil nama panggilannya, pria yang memeluk pinggangnya dengan protektif, dan pria yang berjanji akan menjadi perisai hidupnya.
Kirana menyunggingkan senyum tipis yang sangat anggun, lalu mengambil berkas tersebut.
"Baik, Mbak Siska. Saya akan membawanya ke atas sekarang," jawab Kirana santai.
Siska tersenyum puas dalam hati. Ia membayangkan Kirana akan diusir oleh para pengawal ketat di lantai teratas atau dibentak habis-habisan oleh Devan hingga menangis terisak-isak.