NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 - Aku Percaya Kamu

Nadira membaca pesan itu sampai huruf-hurufnya terasa bergerak.

Ibu angkat.

Kata itu bukan rahasia besar. Banyak orang tahu ia bukan anak kandung keluarga Prameswari. Di rumah sakit pun ada beberapa rekan lama yang pernah mendengar cerita itu. Tapi cara Vania menulisnya membuat kata itu terasa seperti pisau yang sengaja diletakkan di meja.

Arga menatap layar ponsel Kevin.

"Nomornya?"

"Nomor baru," jawab Kevin. "Masuk lewat aplikasi pesan. Foto profil kosong."

Bima mendekat. "Kirim tangkapan layar ke saya, Pak."

Kevin menyerahkan ponselnya.

Nadira memegang tangan Mama Ratih. Dingin.

"Ma, Vania pernah menghubungi Mama sebelum perempuan bernama Dewi itu?"

Mama Ratih menggeleng cepat. "Tidak. Ibu tidak kenal Vania. Ibu cuma tahu namanya dari berita yang Fadli tunjukkan."

"Dewi tanya apa saja?"

Mama Ratih menatap lantai. "Banyak. Tentang kamu, tentang Arga, tentang keluarga Wijaya."

"Tentang aku diangkat anak?"

Mama Ratih diam.

Nadira merasakan jawaban itu sebelum mendengarnya.

"Ma."

"Dia tanya," bisik Mama Ratih. "Dia bilang data itu perlu untuk perlindungan hukum. Dia tanya kamu dari panti mana, umur berapa waktu kami bawa pulang, apakah ada berkas lama."

Maya langsung menoleh. "Dia tanya berkas?"

"Iya."

"Mama kasih?"

"Tidak. Ibu bilang berkas ada di lemari rumah, tapi Ibu tidak mau kirim foto. Dia bilang tidak apa-apa, cukup cerita."

Nadira melepaskan napas pelan. Dadanya terasa terlalu penuh.

Arga berkata, "Kita antar Ibu Ratih ke tempat aman dulu."

Mama Ratih menatapnya. "Saya mau pulang."

"Malam ini jangan pulang ke Purwokerto dulu," kata Arga. "Orang yang menjemput Ibu tahu alamat rumah. Mereka mungkin tahu Papa Hendra juga."

Wajah Mama Ratih berubah. "Hendra sendirian."

Nadira langsung mengambil ponsel. Ia menelpon Fadli.

Fadli mengangkat pada dering kedua. "Kak?"

"Di mana Papa?"

"Di rumah. Aku baru sampai. Kenapa?"

"Jangan buka pintu untuk siapa pun. Kunci pagar. Kalau ada orang tanya Mama, telepon polisi atau aku."

"Kak, ada apa?"

"Nanti aku jelaskan. Sekarang lakukan dulu."

Suara Fadli langsung serius. "Oke."

Setelah telepon ditutup, Nadira merasa lututnya lelah. Malam itu terlalu panjang. Ia ingin duduk di lantai dan tidak menjadi kuat selama lima menit saja.

Tapi Mama Ratih menggenggam tangannya, dan Arga masih berdarah di balik balutan.

Kevin mendekat. "Saya bisa siapkan kamar hotel untuk Ibu Ratih malam ini. Lantai yang berbeda dari tamu acara. Pengamanan internal."

Arga menatapnya. "Bukan di hotel ini."

Kevin mengangguk. "Benar. Saya minta sopir pribadi saya antar ke apartemen serviced yang biasa dipakai perusahaan. Lokasinya tidak diumumkan."

Nadira menimbang. "Maya ikut Mama."

Maya langsung mengangguk. "Beres."

Mama Ratih panik. "Kamu tidak ikut?"

"Aku harus ke kantor polisi sebentar. Setelah itu aku datang."

"Nad..."

Nadira memeluk ibunya lagi. "Aku tidak marah sama Mama."

Mama Ratih menangis. "Tapi Ibu salah bicara."

"Mama takut. Orang memanfaatkan itu."

"Ibu pikir, kalau Ibu bicara tegas, mereka akan berhenti menyakiti kamu."

"Aku tahu."

Nadira ingin kata-kata itu cukup. Tapi wajah Mama Ratih belum tenang.

Arga tiba-tiba berkata, "Bu Ratih."

Mama Ratih menoleh.

Arga menundukkan kepala sedikit. "Saya yang membuat Ibu takut kehilangan Nadira. Bukan Ibu yang salah."

Mama Ratih memandangnya lama. "Kamu memang membuat kami takut."

"Saya tahu."

"Waktu dia menikah denganmu, kami percaya keluarga Wijaya akan menjaga dia. Tapi tiap kali Nadira pulang ke Purwokerto, dia selalu bilang baik-baik saja. Matanya tidak pernah baik-baik saja."

Nadira menutup mata.

Arga menerima kalimat itu tanpa membela diri. "Saya tidak punya alasan."

"Kalau kamu ingin dia kembali, jangan jadikan penyesalanmu beban baru."

"Saya sedang belajar."

"Belajar lebih cepat. Anak saya sudah terlalu lama menjadi orang dewasa sendirian."

Tidak ada yang bicara setelah itu.

Nadira mengantar Mama Ratih ke mobil Kevin bersama Maya. Sebelum masuk, Mama Ratih memegang wajah Nadira.

"Kalau kamu lelah, pulang ke Ibu."

"Iya."

"Bukan karena kalah. Karena rumah memang ada."

Nadira mengangguk. "Iya, Ma."

Mobil itu pergi.

Baru setelah lampu belakangnya hilang, Nadira menyadari Arga berdiri tidak jauh. Wajahnya pucat.

"Kamu harus ke IGD," katanya.

"Tidak perlu."

"Jangan membuatku mengulang."

Arga menatapnya, lalu membuka pintu mobil. "Baik."

Mereka tidak pergi ke Cakra Medika. Terlalu banyak mata di sana. Nadira membawa Arga ke klinik kecil yang bekerja sama dengan satuannya, tempat Bima bisa mengurus administrasi tanpa membuat keributan.

Di ruang tindakan, Nadira membuka balutan. Luka di lengan Arga harus dijahit tiga jahitan. Luka lama di sisi tubuhnya tidak terbuka, tapi daerah sekitarnya memerah karena benturan.

"Kamu beruntung," kata Nadira sambil memakai sarung tangan.

"Aku sering tidak beruntung."

"Itu karena kamu sering bodoh."

Arga menatapnya. "Aku tidak bisa membantah."

Nadira membersihkan luka. Arga tidak meringis.

"Sakit?"

"Tidak."

Nadira menekan sedikit lebih kuat.

Arga menarik napas.

"Sakit," katanya akhirnya.

"Bagus. Berarti sarafmu masih bekerja."

Sudut mulut Arga bergerak kecil.

Mereka diam saat Nadira menjahit. Dulu diam di antara mereka selalu seperti tembok. Malam ini diam itu seperti kursi kosong di tengah ruangan, masih canggung, tapi tidak mengusir siapa pun.

Setelah selesai, Nadira melepas sarung tangan.

"Jangan banyak gerak. Jangan latihan. Jangan pura-pura kuat di depan Bima."

"Baik."

"Jangan cuma bilang baik."

"Aku akan patuh."

Nadira menatapnya curiga. "Kamu terdengar aneh."

"Aku sedang belajar lebih cepat."

Kalimat Mama Ratih kembali di antara mereka.

Nadira menunduk merapikan alat. "Jangan bawa ucapan ibuku sebagai tugas militer."

"Aku tidak."

"Lalu?"

Arga berdiri perlahan. "Aku baru sadar, selama ini aku selalu ingin kamu percaya aku berubah. Tapi malam ini, kamu yang butuh dipercaya."

Nadira berhenti bergerak.

Arga melanjutkan, "Tentang ibumu. Tentang keluargamu. Tentang masa lalumu. Tentang apa pun yang Vania coba pakai. Aku percaya kamu."

Nadira menggenggam kain kasa terlalu kuat.

"Kamu belum tahu apa-apa soal masa laluku."

"Aku tahu kamu."

"Itu kalimat yang mudah."

"Tidak mudah bagiku," kata Arga. "Dulu aku bahkan tidak melihat kamu. Sekarang aku tidak mau pura-pura buta lagi."

Nadira tertawa pelan, tapi matanya panas. "Kamu selalu memilih kata-kata di saat aku terlalu lelah untuk marah."

"Kalau kamu ingin marah, aku tetap di sini."

"Aku tidak ingin kamu jadi tempat sampah emosiku."

"Aku pernah menjadikan kamu tempat sepi dalam hidupku. Kalau sekarang kamu marah, aku bisa menerimanya."

Nadira menatapnya lama.

Ia tidak memeluk Arga. Tidak menggenggam tangannya. Tidak mengatakan maaf atau rindu.

Tapi untuk pertama kalinya, ia berkata, "Aku takut."

Arga tidak bergerak mendekat.

"Aku tahu."

"Kalau Vania tahu soal panti, berarti ada orang yang mencari terlalu jauh."

"Kita cari lebih dulu."

"Kita?"

Arga menatapnya. "Kalau kamu izinkan."

Nadira membuang napas. "Kamu boleh membantu. Tapi semua keputusan tentang keluargaku, aku yang ambil."

"Setuju."

Nadira menatap lantai. "Kenapa kamu tidak tanya aku anak siapa?"

Arga terdiam.

"Orang lain pasti penasaran," lanjut Nadira. "Kalau ada kata panti, gelang, berkas bayi, semua orang langsung ingin membuka kotak itu. Kamu tidak?"

"Aku penasaran," kata Arga jujur. "Tapi rasa penasaranku tidak boleh lebih penting dari kesiapanmu."

Nadira menggigit bagian dalam bibir.

"Dulu," kata Arga lagi, "aku sering mengambil keputusan karena merasa paling tahu apa yang harus dilakukan. Aku tidak mau mengulanginya pada hal yang paling pribadi dalam hidupmu."

"Kalau ternyata masa laluku buruk?"

"Itu tidak membuatmu buruk."

"Kalau ternyata keluargaku menyembunyikan sesuatu?"

"Kita bedakan antara melindungi dan berbohong setelah kita tahu faktanya."

Nadira memejamkan mata. Jawaban itu tidak menyelesaikan apa pun, tapi cukup untuk membuat napasnya lebih panjang.

Ponsel Nadira berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Ia mengangkat dengan hati-hati. "Halo?"

Suara perempuan tua terdengar gemetar. "Ini Nadira Prameswari?"

"Iya. Siapa?"

"Saya Bu Salmah. Dulu dari Panti Asuhan Kasih Bunda."

Nadira membeku.

Arga langsung menatapnya.

Bu Salmah melanjutkan dengan suara berbisik.

"Nak, maaf menelpon malam-malam. Tapi sore tadi ada orang datang menanyakan berkas bayimu."

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!