MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~SOROTAN DAN PENOLAKAN
Gosip tentang Disya dan Min Jae belum mereda sedikit pun, justru semakin membesar dan menyebar ke seluruh penjuru media sosial. Nama Disya Putri kini dicari oleh ribuan orang—ada yang memuji ketulusannya, ada yang mendukung hubungannya dengan Min Jae, namun tak sedikit pula yang menghujat, menyindir kasar, dan menebak-nebak asal-usulnya dengan kata-kata yang menyakitkan.
Kini Disya sudah tidak lagi bekerja di kafe Nudake. Ia sibuk menuntaskan kuliahnya di Universitas Hayang jurusan Ekonomi, sekaligus menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi Jack. Meski begitu, para wartawan dan orang penasaran sering menunggu di depan gerbang kampus, membuat Disya merasa canggung dan tidak nyaman setiap kali berjalan keluar. Namun Nara, sahabatnya yang setia, selalu ada di sampingnya, melindungi dan menenangkan hati Disya setiap kali ia merasa lelah dengan semua tatapan itu.
Belum sempat suasana tenang, berita baru kembali meledak di seluruh media. Foto-foto hasil bidikan paparazzi saat Disya menemani Jack ke lokasi pemotretan tersebar luas. Di sana terlihat jelas momen saat Jack baru tiba, ia turun dari mobil dan membukakan pintu khusus untuk Disya. Ada foto Jack yang menggandeng tangan Disya erat saat melangkah melewati jalan yang tidak rata, dan foto yang paling menyentuh sekaligus membuat heboh: saat Jack tersenyum lembut sambil mengelus kepala Disya dengan penuh kasih sayang layaknya melindungi harta paling berharga.
Netizen semakin bingung dan berdebat. Ada yang mengira Disya adalah kekasih Jack, ada yang menduga ia adalah saudara jauh, dan ada pula yang menyambungkan dengan berita sebelumnya tentang Min Jae. Kekacauan semakin menjadi.
Siang itu, Min Jae dipanggil ke ruangan pemilik agensi Blue Sky. Sun Ju menatapnya serius di balik meja besarnya.
"Min Jae, situasinya semakin rumit," ucap Sun Ju pelan namun tegas. "Foto dengan Jack menambah keruwetan. Publik bingung, sponsor mulai bertanya, dan citramu terancam. Aku tidak melarangmu punya perasaan, tapi kau harus bertindak lebih hati-hati."
"Aku tahu risikonya, Bu. Tapi aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli lagi," jawab Min Jae tenang dan mantap. "Aku akan bertanggung jawab penuh atas semua keputusanku."
Tak lama kemudian, Jack mengajak Min Jae berbicara empat mata di ruang istirahat yang sepi. Suasana di sana terasa dingin dan menegangkan. Jack berdiri tegak, menatap Min Jae dengan tatapan tajam yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
"Dengar baik-baik, Min Jae," ucap Jack dengan suara rendah namun mengandung ancaman yang nyata. "Aku tidak melarangmu mendekati Disya. Aku tahu kau mulai tulus. Tapi ingat satu hal yang tidak akan pernah berubah: aku tidak akan pernah benar-benar melepaskan dia. Aku akan selalu berdiri di belakangnya."
Jack melangkah satu langkah mendekat, menatap lurus ke manik mata Min Jae.
"Jika kau berani menyakiti hatinya, jika kau berani mengecewakannya atau menganggap dia remeh... jangan kira aku akan diam saja. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan karirmu, menghancurkan apa pun yang kau banggakan, dan membuatmu menyesal seumur hidup pernah menyentuhnya. Disya adalah gadis yang terlalu berharga untuk disakiti."
Min Jae menelan ludah, namun ia tidak mundur sedikit pun. Ia mengangguk mantap.
"Aku paham sepenuhnya, Jack. Dan aku berjanji... aku rela apa pun terjadi padaku, asalkan Disya bahagia dan aman di sisiku. Aku tidak akan memberimu alasan untuk melakukannya."
Malam itu, Min Jae memberanikan diri pulang ke rumah besar keluarganya dan menceritakan segalanya pada kedua orang tuanya. Ibunya, Min Seo Hee, tersenyum haru mendengar anaknya akhirnya membuka hati pada seseorang.
"Syukurlah, akhirnya kau menemukan orang yang kau sayangi," ucap ibunya lembut. "Bawalah dia berkunjung ke sini suatu saat nanti ya."
Namun ekspresi ayahnya, Min Sung Hoon—dokter sukses dan pemilik rumah sakit ternama Min Medical Center—sama sekali tidak berubah lembut. Wajahnya justru terlihat semakin kaku dan tidak setuju.
"Kau sudah gila, Min Jae?" potong Min Sung Hoon dengan nada dingin dan tegas. "Kau mau menjalin hubungan dengan gadis yang latar belakang keluarganya tidak setara dengan kita? Ayahnya sudah tiada, ibunya hanya pemilik rumah makan kecil di Pulau Jeju. Dia bukan dari kalangan pebisnis atau keluarga terpandang yang pantas berdiri di samping anakku. Aku tidak merestui hubungan ini sama sekali."
"Ayah, Disya gadis yang sangat baik dan pekerja keras. Latar belakang bukan segalanya," coba Min Jae menjelaskan.
"Cukup!" bentak ayahnya. "Aku tidak butuh penjelasan. Putuskan hubungan itu sekarang, atau aku sendiri yang akan menemu gadis itu untuk memintanya menjauh darimu."
Min Jae pulang dengan hati yang sangat berat. Sementara itu, Jack berbicara dengan Disya untuk mempersiapkan hatinya.
"Kau dengar kan apa yang terjadi?" tanya Jack lembut. "Hidup bersama pria seperti Min Jae berarti siap menghadapi banyak penolakan, bahkan dari orang tuanya sendiri. Kau masih yakin mau melangkah?"
Disya menatap Jack dengan mata yang berbinar tegas, tak ada keraguan sedikit pun di sana.
"Aku tahu beratnya, Oppa. Aku tahu aku bukan siapa-siapa di mata orang lain. Tapi aku siap. Aku tidak mau lari lagi. Aku ingin berjuang bersama dia, membuktikan bahwa cinta dan ketulusan tidak melihat dari mana asal seseorang."
Jack tersenyum bangga, lalu mengusap kepala Disya pelan. Ia tahu gadis kesayangannya sudah tumbuh menjadi sosok yang kuat. Dan ia juga tahu, ia akan selalu ada di sana, siap menghadapi siapa pun—termasuk ayah Min Jae—yang berani meremehkan atau menyakiti Disya.