Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
Aroma tanah basah dan bau anyir darah yang tadi sempat tercium kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh bau debu kering khas gurun yang menyesakkan dada. Pusaran pasir yang mengelilingi Gaara semakin lama semakin pekat, membentuk sebuah pelindung berbentuk telur raksasa yang dilapisi oleh chakra pekat berwarna biru keunguan. Suara gemuruh dari dalam telur pasir itu terdengar seperti detak jantung monster purba yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Lee! Mundur! Jangan mendekat ke arah pusaran itu!" Neji berteriak dari atas pohon, menyadari melalui Byakugan-nya bahwa konsentrasi chakra di sekitar Gaara telah naik ke level yang sangat membahayakan, melampaui batas kapasitas seorang Genin normal. "Aliran chakranya berubah menjadi sangat kacau dan jahat! Itu bukan chakra manusia biasa!"
Lee mendarat dengan kedua kakinya di atas dahan pohon mati, tidak jauh dari Neji. Napasnya mulai sedikit memburu, bukan karena kelelahan otot, melainkan karena paru-parunya harus bekerja lebih keras menghirup oksigen di tengah udara yang dipenuhi debu pasir. Dia melirik ke arah pergelangan tangannya, di mana sisa-sisa perban pelindungnya mulai tampak agak koyak karena gesekan atmosfer.
Sistem, berikan analisis struktur pertahanan target, perintah Reymond dalam hati, menatap telur pasir yang berguncang di depannya.
[Analisis Selesai: Target mengaktifkan "Suna no Mayu" (Kepompong Pasir). Kepadatan materi meningkat 300%. Struktur pertahanan dilengkapi dengan sensor chakra eksternal. Setiap serangan fisik eksternal dengan kecepatan di bawah tingkat sonik akan dialihkan secara otomatis oleh medan gaya sekitar.]
[Rekomendasi: Untuk menembus pertahanan ini, dibutuhkan daya rusak beruntun yang konstan dengan peningkatan output chakra internal minimal dua kali lipat.]
"Begitu ya... jadi aku harus membukanya sekarang," gumam Lee pelan. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya yang tegas. Dia melompat turun dari dahan pohon, kembali menapakkan kakinya di atas permukaan tanah yang tertutup pasir tipis, menghadap langsung ke arah kepompong raksasa tersebut.
"Lee! Apa kamu tidak mendengar peringatan Neji?!" Tenten berteriak cemas dari atas dahan, tangannya memegang beberapa bilah kunai dengan posisi gemetar. "Jangan melangkah ke sana sendirian! Kita bisa menyusun rencana bersama! Kita bisa menggunakan taktik jebakan gulungan!"
"Terima kasih atas kekhawatiranmu, Tenten," Lee menjawab tanpa menoleh, suaranya tetap terdengar tenang dan penuh wibawa seorang petarung sejati. "Tapi ada beberapa pertarungan di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan dengan taktik atau jebakan. Orang di dalam sana... dia tidak sedang bertarung untuk lulus ujian. Dia bertarung untuk membuktikan bahwa dia berhak hidup dengan cara melenyapkan orang lain. Jika aku mundur selangkah saja hari ini, maka selamanya aku tidak akan pernah bisa melangkah maju."
Lee mengambil napas dalam-dalam, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada dalam posisi membentuk huruf 'X'. Aliran chakra di dalam tubuhnya yang tadinya tenang, mendadak mulai bergolak di sekitar area otak—tepat di titik di mana Gerbang Pertama, Kaimon (Gerbang Pembuka), berada.
"Neji," Lee memanggil dengan nada rendah. "Perhatikan ini baik-baik. Ini adalah teknik yang kubangun bersama Guru Guy... teknik yang akan menghancurkan semua teori tentang takdir klan besar yang selalu kamu agung-agungkan itu."
Huuufff—
"Gerbang Pertama: Kaimon... BUKA!" Lee berteriak dengan lantang.
BOOOMMM!
Sebuah ledakan aura berwarna hijau terang mendadak menyembur keluar dari seluruh pori-pori tubuh Lee. Aura itu begitu pekat hingga debu-debu pasir di sekeliling kakinya langsung terlempar menjauh, menciptakan area bersih berbentuk lingkaran sempurna berdiameter tiga meter. Urat-urat di pelipis dan lengan Lee menonjol keluar, berdenyut seiring dengan peningkatan aliran chakra yang naik secara drastis hingga beberapa kali lipat dari kondisi normalnya.
Neji terkesiap, mata Byakugan-nya melebar maksimal hingga urat-urat di sekitar matanya tampak seperti akan pecah. Melalui penglihatan khususnya, dia melihat seluruh sistem jalur chakra (Keirakukai) di tubuh Lee berubah warna menjadi merah menyala, memancarkan energi yang begitu masif hingga merusak sirkulasi udara di sekitarnya. "Ini... ini tidak mungkin. Dia melepaskan pembatas otak... dia memaksa tubuhnya mengeluarkan seratus persen dari potensi kekuatan ototnya!"
"A-apa itu?!" Kankuro yang berada di pihak Sunagakure ikut bergidik ketakutan melihat perubahan aura Lee. Energi hijau yang memancar dari tubuh Lee memberikan tekanan mental yang sangat berat, membuat lututnya terasa lemas. "Orang itu... dia menyembunyikan monster lain di dalam tubuhnya?!"
Dengan dibukanya Gerbang Pertama, batas kelelahan otot Lee sepenuhnya dihilangkan oleh sistem sarafnya sendiri. Setiap serat daging di tubuhnya kini siap meledakkan energi kinetik yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dia tunjukkan sebelumnya.
Syuuwt!
Lee bergerak maju. Kali ini, kecepatannya benar-benar berada di luar batas nalar Genin. Dia meluncur lurus ke arah kepompong pasir Gaara seperti sebuah komet hijau yang membelah kegelapan malam hutan.
DUAAARRR!
Pukulan pertama Lee menghantam permukaan kepompong pasir dengan daya hancur yang setara dengan ledakan kertas peledak tingkat tinggi. Lapisan pasir terluar kepompong itu langsung hancur berantakan, menyisakan lubang besar yang memperlihatkan lapisan dalam yang lebih padat. Namun, sebelum lapisan dalam itu sempat memulihkan diri, Lee sudah melayangkan tendangan tumit dari atas yang menghantam titik yang sama.
BUM! BUM! BUM! BUM!
Tarian pukulan beruntun (combo) berkecepatan tinggi dimulai. Lee bergerak mengitari kepompong pasir itu seperti badai sirkular, meninggalkan jejak-jejak pukulan yang memancarkan percikan energi hijau di setiap sudutnya. Kepompong pasir yang tadinya diklaim memiliki pertahanan mutlak itu kini berguncang hebat, mengeluarkan suara retakan yang semakin lama semakin keras, mirip dengan suara bendungan raksasa yang hendak bobol karena tidak kuat menahan tekanan air bah.
Dari dalam kepompong, mata Gaara yang melotot melihat retakan-retakan itu mulai muncul di depan wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, rasa takut yang murni—rasa takut akan kematian yang nyata—mulai merayap masuk ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Badai hijau dari Konoha ini benar-benar datang untuk menghancurkan dunianya.