Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Perjodohan, Katanya
Kinan kembali menyuap bakso ke mulutnya tanpa bertanya lebih lanjut, sementara Andira menatap Oca dengan mata menyipit, seolah curiga, sebelum akhirnya membuka mulut.
"Lo beneran nggak apa-apa, Ca?" tanya Andira sambil terus memperhatikan Oca.
"Nggak apa-apa, cuma keselek doang," jawab Oca cepat sambil menggelengkan kepala, meyakinkan Andira.
Andira akhirnya mengangguk. Setelah itu, mereka kembali menghabiskan sisa bakso sambil bercerita hal-hal random yang membuat mereka tertawa, hingga lupa sama kejadian barusan.
Bel berbunyi menandakan jam istirahat telah habis. Beberapa siswa mulai keluar kantin, begitu juga Oca, Andira, dan Kinan—ketiganya bergegas masuk ke dalam kelas, mengikuti pelajaran-pelajaran berikutnya.
______
Jam pelajaran terakhir akhirnya selesai. Oca, Andira, dan Kinan berjalan bersama menyusuri koridor menuju gerbang sekolah, masih sempat mengobrol soal tugas kelompok yang baru diumumkan barusan.
"Hufft, kenapa sih tugas kelompok mulu," gerutu Kinan sambil membenarkan tali tas di bahunya. "Mana kelompoknya digabung sama kelas sebelah lagi.”
"Yang penting bukan sekelompok sama si Reno aja udah untung," sahut Andira. "Orangnya nyebelin banget, tau. Suka sok ngatur.”
"Eh, tapi enak juga kali kalau sekelompok sama dia," celetuk Oca asal. "Lumayan, kan, ganteng.”
"Ih, najis," Andira mencibir sambil mendorong bahu Oca pelan. Mereka bertiga tertawa.
Belum sempat obrolan itu lanjut, ponsel Andira tiba-tiba berdering. Ia merogoh saku roknya dan melirik layar ponselnya sebentar. Begitu melihat nama Bryan tertera di sana, Andira langsung mengangkat panggilan itu.
Saat Andira hendak membuka suara, pria di seberang telepon lebih dulu berbicara.
"Coba liat ke arah parkiran.”
Andira menurut. Tak jauh dari gerbang, seorang pria berdiri santai di samping mobil sport hitam, ponsel masih menempel di telinganya. Matanya menatap lurus ke arah gerbang sekolah—ke arah Andira.
"Itu siapa?" tanya Kinan, mengernyit bingung.
Oca ikut menoleh ke arah yang sama. "Lah, itu siapa, Ndira?"
Andira menutup teleponnya, lalu menyengir bangga. "Biasa. Gebetan baru."
"Lah, bukannya kemarin lo sama Gio, cowok kelas sebelah?" Oca mengangkat alis.
"Udah putus," jawab Andira santai. "Ternyata dia playboy, masih deketin cewek lain pas masih sama gue."
"HAH?!" Kinan dan Oca kompak kaget, sebelum akhirnya tertawa.
"Untung cepet ketauan," lanjut Andira sambil mengangkat bahu. "Nah, yang sekarang beda. Namanya Bryan. Udah kuliah, anak konglomerat. Liat aja tuh, baru jemput doang udah bawa mobil gitu.”
“Yehh, kebiasaan nih anak.” ucap Oca sambil memutar bola matanya.
“Tau, tuh,” Kinan ikut menimpali.
Andira cuma nyengir. "Yaudah, gue duluan, ya. Bye, my friend!" ucapnya sambil melayangkan ciuman ke arah Oca dan Kinan, lalu berlari kecil menghampiri Bryan.
Oca dan Kinan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Setelah Andira pergi, kini tinggal mereka berdua yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.
Oca menoleh ke Kinan. "Lo pulang gimana, Nan?"
"Gue dianter—"
Belum sempat Kinan menyelesaikan kalimatnya, suara motor besar terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan mereka. Devan, sang Ketua OSIS, duduk di atasnya dengan helm masih terpasang.
"Cepetan naik," ucap Devan singkat.
Kinan mendesah, tapi tetap melangkah mendekat. "Ya udah, Ca. Gue duluan, ya!"
Oca hanya melambai sebelum Kinan naik ke motor itu dan mereka berdua melaju pergi, menyisakan Oca sendirian di depan gerbang sekolah.
Tak lama, mobil sedan hitam yang ia kenal berhenti tepat di hadapannya. Sopir keluar, membukakan pintu untuknya. Oca segera masuk dan duduk di kursi belakang.
Di tengah perjalanan, ia mengeluarkan ponselnya, membuka kembali aplikasi Instagram. Jarinya bergerak mencari nama yang sama seperti yang ditunjukkan Kinan tadi siang.
Dan di sana, muncul foto Anthony bersama Emma, tersenyum akrab di sebuah restoran mewah.
Oca memperbesar foto itu, memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya. Tangan Emma melingkar manja di lengan Anthony, posisinya begitu dekat seolah mereka memang sepasang.
Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Seperti perasaan kesal juga cemburu.
Matanya tanpa sadar turun ke arah dadanya sendiri yang biasa-biasa saja, lalu kembali ke foto Emma yang terlihat jauh lebih berisi. Oca mendengus pelan. Pantas saja, batinnya sinis, cowok mana yang nggak betah deket-deket kalau begitu.
Tapi detik berikutnya, ia mengerutkan kening sendiri.
Ngapain juga gue mikirin ini? batinnya, agak panik dengan pikirannya sendiri. Toh, hubungan dia sama Anthony cuma sebatas perjodohan. Bukan pernikahan karena cinta. Nggak ada alasan buat dia ngerasa kesal cuma karena ngeliat suaminya deket sama wanita lain.
Oca buru-buru mengunci ponselnya, lalu membuangnya begitu saja ke jok sebelah. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, mencoba mengabaikan perasaan asing yang baru saja muncul itu.
Tapi sepanjang sisa perjalanan, bayangan tangan Emma yang melingkar di lengan Anthony tetap saja muncul, berulang-ulang, seakan menolak untuk pergi dari kepalanya.