Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mobil Kanaya akhirnya memasuki halaman rumah dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Sejak menerima pesan dari Bu Cintia, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Berbagai kemungkinan terus bermunculan di kepalanya sepanjang perjalanan.
Namun begitu pintu mobil terbuka dan kakinya menginjak halaman rumah, seluruh tubuhnya langsung membeku.
Di sana, Arkana berdiri tegak di teras rumah. Pria yang selama lima tahun terakhir berusaha ia kubur dari hidup dan ingatannya. Orang yang pernah menjadi pusat dunianya. Pria yang juga menjadi sumber luka terdalam yang pernah ia rasakan.
Untuk sesaat dunia di sekitar Kanaya seolah menghilang. Suara angin, bunyi kendaraan yang lalu lalang, Bahkan suara napasnya sendiri, memuanya mendadak lenyap. Yang tersisa hanya wajah Arkana yang berdiri beberapa meter di depannya.
Rasa sakit yang selama ini Kanaya pendam rapat-rapat mendadak menyeruak keluar seperti bendungan yang jebol. Semua kenangan itu kembali datang tanpa diundang.
Kenangan pernikahan mereka yang mendadak dan sederhana, tetapi membahagiakan. Walau hidup begitu sederhana, tetapi keduanya selalu bahagia. Sampai penghinaan yang menghancurkan hidupnya. Hari ketika ia pergi membawa hati yang sudah remuk berkeping-keping, tanpa disadari olehnya.
Tangan Kanaya perlahan mengepal. Jika bisa memilih, semua ingatan itu menghilang dari kepalanya.
Sementara itu, di sisi lain, Arkana hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang berdiri didepannya itu benar-benar Kanaya. Kali ini bukan bayangan, juga bukan mimpi, tetapi nyata..
Jantung Arkana berdegup begitu keras. Matanya langsung memanas. Kerinduan yang selama ini tertahan akhirnya menemukan jalannya untuk keluar.
"A-Aya ...." Suara Arkana bergetar dengan bibir berusaha untuk tersenyum.
Air mata yang menggenang di pelupuk mata pria itu jatuh begitu saja tanpa sempat ia sadari. "Aya ...."
Panggilan itu membuat rahang Kanaya mengeras. Dulu, suara itu selalu membuat hatinya hangat dan jatuh cinta. Namun, sekarang justru terasa seperti pisau yang menggores luka lama.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Kanaya dingin.
Nada suara Kanaya begitu sinis hingga membuat Bu Cintia, Pak Adjie, dan Shaka terkejut. Selama ini mereka mengenal Kanaya sebagai perempuan yang lembut. Perempuan yang selalu berbicara dengan sopan. Bahkan saat sedang marah pun Kanaya masih berusaha menjaga ucapannya. Namun, sekarang berbeda. Tatapan matanya tajam dan nada bicaranya dingin.
Kemarahan yang selama ini tidak pernah mereka lihat terlihat jelas di dari sinar matanya. Saat itulah mereka semakin yakin, pria ini memang orang yang pernah menghancurkan hidup Kanaya.
Di tengah ketegangan itu, Abinaya segera menarik tangan Anaya. "Ayo!"
"Kemana, Abi?" tanya Anaya bingung.
"Kita ke Bunda."
Tanpa menunggu jawaban, Abinaya langsung membawa saudara kembarnya mendekati Kanaya. Begitu sampai di depan ibunya, keduanya langsung mencium tangan Kanaya seperti kebiasaan mereka setiap kali Kanaya pulang atau pergi bekerja.
Kanaya otomatis membalas dengan mengusap kepala kedua anaknya. Hanya sentuhan kecil itu saja sudah cukup membuat hatinya sedikit tenang. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Karena suara Arkana kembali terdengar. "Aya ... Aku selalu mencarimu selama ini."
Kalimat itu akhirnya berhasil keluar dari tenggorokan Arkana setelah lima tahun menahannya. Suara pria itu terdengar serak penuh penyesalan dan penuh kerinduan.
Namun, semua itu tidak mampu menggoyahkan hati Kanaya. Justru membuat luka lama kembali berdenyut. Kanaya menatapnya dingin.
"Mencariku? Setelah menghancurkan hidupku? Setelah membuatku pergi dalam keadaan hancur? Setelah membuatku membesarkan anak-anak seorang diri?" batin Kanya
Kanaya ingin tertawa. Tertawa karena ironisnya keadaan. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara polos Anaya terdengar.
"Kenapa Om panggil-panggil Aku? Kita kan tidak kenal." tanya Anaya dengan ucapan polos itu membuat tubuh Arkana tersentak.
Semua orang menoleh. Anaya menatap Arkana dengan wajah bingung. Dadanya terasa diremas begitu kuat. Anak perempuannya sendiri malah tidak mengenalnya. Bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Arkana menelan ludah dengan susah payah. "Om panggil istri—"
"Jangan mengaku-ngaku." Potong Kanaya memotong dengan nada tegas. Hubungan kita sudah lama putus!"
Tatapan tajamnya langsung tertuju kepada Arkana. Kalimat itu menghantam Arkana seperti palu godam. Wajahnya langsung memucat.
Sementara Kanaya terus menatapnya tanpa belas kasihan. "Aku sudah bukan siapa-siapamu."
"Aya, dengarkan aku dulu—"
"Cukup." Suara Kanaya meninggi.
Untuk pertama kalinya sejak datang, Arkana melihat amarah yang selama ini disimpan perempuan itu
"Aku tidak punya hal apa pun untuk dibicarakan denganmu.
"Aya, aku mohon."
"Aku bilang cukup!"
Suasana mendadak hening. Bahkan Anaya yang biasanya cerewet ikut terdiam. Abinaya langsung menggenggam tangan adiknya lebih erat.
Kanaya memejamkan mata sesaat. Dadanya naik turun berusaha mengendalikan emosi. Ia tidak ingin kedua anaknya melihat pertengkaran ini.
Mereka tidak pantas menjadi saksi dari luka masa lalu orang tuanya. Karena itu, Kanaya menoleh kepada Shaka. Hanya satu lirikan. Satu kode sederhana yang langsung dipahami oleh pria itu. Shaka mengangguk pelan.
"Ayo, Abi ... Aya, kita mainannya banyak."
Abinaya langsung mengerti. Namun sebelum pergi, anak laki-laki itu sempat menatap Arkana dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada marah. Ada bingung, sda penasaran, tetapi juga ada luka yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.
"Ayo," ulang Shaka lembut.
"Tapi Bunda—"
"Pergi dulu sama Om Shaka, Sayang," ucap Kanaya sambil berusaha tersenyum.
Meski senyum itu terlihat sangat dipaksakan. Setelah memastikan kedua anak itu menjauh bersama Shaka masuk ke dalam rumah, Kanaya kembali mengalihkan pandangannya kepada Arkana. Kini tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan. Tidak ada lagi alasan untuk menahan emosinya.
Lima tahun lalu pergi tanpa sempat mengatakan semua yang ada di dalam hatinya. Namun, hari ini berbeda.
Hari ini, pria yang menjadi sumber seluruh penderitaannya berdiri tepat di depan mata. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arkana bisa melihat dengan jelas betapa besar luka yang pernah ia tinggalkan di hati perempuan yang paling dicintainya.