Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pertemuan di Pulau Misterius dan Tatapan Dua Aliansi
Satu minggu berlalu seperti kedipan mata. Hari yang dinanti-nanti untuk "Lelang Batu Giok Misterius" skala internasional akhirnya tiba. Pagi itu, langit di atas dermaga eksklusif tampak cerah saat sebuah kapal pesiar mewah milik Keluarga Liu membelah ombak, melaju tenang menuju sebuah pulau pribadi terpencil di perbatasan kota.
Di atas dek kapal, Chen berdiri tegap dengan setelan jas hitam kasual yang pas di badannya. Angin laut menerpa rambutnya, namun tatapan matanya tetap setenang air di dasar samudra. Di sampingnya, Liu tampak gagah dengan senyum penuh percaya diri. Mereka bukan datang untuk bersenang-senang; mereka datang untuk menjemput kemenangan.
Begitu kapal pesiar bersandar di dermaga pulau pribadi tersebut, kemewahan yang mencengangkan langsung menyambut mereka. Jajaran mobil limosin siap mengantar para tamu VIP menuju aula lelang bertaraf internasional yang dibangun megah di tengah pulau.
Gesekan di Pintu Aula
Saat Chen dan Liu melangkah melewati pintu gerbang aula yang dijaga ketat, atmosfer di sekitar mereka mendadak mendingin. Dari arah berlawanan, rombongan Keluarga Wang tampak berjalan masuk.
Di barisan paling depan, Long Wang melangkah dengan dagu terangkat tinggi. Begitu matanya menangkap siluet Chen dan Liu, langkah kakinya terhenti. Sepasang mata tua yang kejam itu menatap mereka dengan kombinasi antara rasa dendam yang membara dan kesombongan yang meluap-luap.
"Hahaha! Tuan Muda Liu, ternyata kau masih punya muka untuk datang ke acara berkelas seperti ini setelah kehilangan tambang pusakamu?" cemooh Long Wang dengan suara lantang yang sengaja memancing perhatian penonton di sekitar mereka.
Long Wang kemudian mengalihkan pandangannya pada Chen, menatap pemuda itu dengan kebencian mendalam. "Dan kau, bocah ingusan... nikmatilah sisa hari-harimu. Setelah aku memenangkan lelang hari ini dan membangkitkan kejayaan Keluarga Wang, kalian berdua adalah orang pertama yang akan kuhancurkan sampai ke dasar tanah!"
Menghadapi provokasi dan kesombongan Long Wang, Liu hampir saja melangkah maju untuk membalas, namun Chen menahannya dengan tenang. Chen justru menatap Long Wang dengan senyuman tipis yang sangat dingin. Melalui mata ajaibnya, Chen bisa melihat detak jantung Long Wang yang tidak stabil—tanda bahwa pria tua itu sebenarnya sedang sangat tertekan karena mempertaruhkan seluruh sisa asetnya.
"Tuan Besar Wang, simpan tenagamu untuk di dalam," ucap Chen datar namun sarat akan intimidasi. "Jangan sampai Anda kehabisan napas sebelum taruhan yang sesungguhnya dimulai."
Kehadiran sang Master Senior
"Hahaha! Kata-kata yang bagus, Anak Muda!"
Sebuah suara bariton yang berwibawa tiba-tiba menginterupsi ketegangan tersebut. Dari arah samping, muncul rombongan lain yang dipimpin oleh seorang pria tua berambut putih dengan jubah tradisional yang elegan. Ia tak lain adalah Tuan Feng, master pemotong batu legendaris sekaligus paman Liu yang tempo hari mengimbangi Chen di Paviliun Giok Surgawi. Sebagai salah satu tokoh paling dihormati di industri giok, Tuan Feng tentu saja mendapatkan undangan VIP khusus untuk lelang misterius ini.
Long Wang yang melihat kehadiran Tuan Feng langsung memasang wajah hormat yang dibuat-buat, berharap sang master akan berpihak kepadanya untuk menjatuhkan mental Liu.
Namun, Tuan Feng mengabaikan Long Wang. Pria tua itu justru berjalan lurus ke arah Chen, lalu membungkuk kecil memberikan penghormatan—sebuah gestur yang langsung membuat Long Wang dan para taipan di sekitar mereka terbelalak syok.
"Tuan Chen, suatu kehormatan bisa bertemu kembali dengan Anda di tempat ini," ucap Tuan Feng dengan nada yang sangat tulus dan penuh rasa hormat.
Tuan Feng kemudian melirik ke arah Long Wang yang masih mematung bingung, lalu beralih menatap keponakannya, Liu. Sebagai orang yang pernah merasakan sendiri kengerian kemampuan mata ajaib Chen secara langsung, Tuan Feng sama sekali tidak meragukan pemuda di depannya ini. Ia tahu persis tentang konflik pelepasan lahan tambang lama milik keponakannya.
Sambil menepuk pundak Liu, Tuan Feng berkata dengan suara yang cukup jelas untuk didengar oleh Long Wang, "Liu, kau tidak perlu khawatir tentang omongan kosong orang yang sedang sekarat. Selama Tuan Chen berada di sampingmu, jangankan memenangkan lelang ini... mengembalikan lahan tambang keluargamu dari tangan serakah yang tidak tahu diri pun adalah hal yang sangat mudah bagi Tuan Chen."
Mendengar penuturan mutlak dari Master Feng yang legendaris, wajah Long Wang seketika berubah menjadi sangat masam dan gelisah. Benih-benih kengerian mulai merayap di hatinya, sementara Chen dan Liu kembali bertukar senyum penuh arti, siap melangkah masuk ke dalam aula untuk memulai upacara kebangkrutan Keluarga Wang.
👍😁