Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback 3 Tahun Lalu (Cukup Gue Aja Yang Hancur)
Sesuai permintaan Jericho akhirnya Ethan memilih untuk diam seolah tidak mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya meskipun hatinya sangat hancur.
Senyum dan tawa yang terlukis di bibir Bilawal selama ini saat sedang bersama ternyata palsu, ia menyembunyikan semua lukanya sendiri.
"Kenapa lo diem mulu dari tadi?" tanya Bilawal saat mereka berada di kantin sekolah pada jam istirahat.
Hari ini Ethan tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan selalu terlihat bahagia, ia lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Wajahnya sedikit murung dan senyum dimple smile ciri khasnya hilang.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Ethan yang duduk di sampingnya dengan nada singkat dan datar tidak menoleh ke arah Bilawal.
Diambilnya siomay pesanan Ethan lalu dimakan sedikit demi sedikit meskipun nafsu makannya sedang hilang.
"Al, nanti sore anter Aluna ke toko buku, ya?" pinta Kelvin memintanya menemani Aluna ke toko buku.
Deg, Nares yang sedari tadi terlihat sangat senang banyak bicara tiba-tiba terdiam menatap Bilawal seolah merasa tidak suka kedekatannya dengan Aluna.
"Kenapa nggak sama Nares?" Bilawal balik bertanya menyuruh Nares yang mengantarkannya karena Bilawal tahu jika Nares sangat menyukai Aluna.
Mendengar Bilawal menyinggung namanya membuat Nares sedikit gugup sekaligus bahagia karena bisa mempunyai waktu berdua bersama dengan Aluna.
Senyum kecil terlukis di bibir Nares dengan sikap sedikit gugup berharap Aluna mau bersama dengannya. Tapi sayang keberuntungan tidak berpihak kepadanya.
"Aluna pengen sama lo," timpal Kelvin membuat Nares sangat kecewa dan sedikit tersinggung.
Sorot matanya yang sedari tadi begitu teduh berubah dengan tatapan tajam, senyum kecilnya seketika hilang memendam kekecewaan yang mendalam. Mengapa Aluna selalu ingin berada di dekat Bilawal, apa bener jika Aluna sangat menyukai Bilawal.
"Gue nggak bisa, ada perlu," tolak Bilawal baik-baik membuat Ethan yang sikapnya sedikit cuek mendadak mendelik menatap Bilawal.
Tatapan Ethan membuat Bilawal keheranan, mengapa tiba-tiba Ethan meliriknya dengan tatapan begitu sinis membuatnya sangat penasaran.
"Perlu kemana?" tanya Ethan tiba-tiba dnegan nada dengar sedikit sinis dan sikapnya begitu dingin.
Perubahan sikap Ethan sedikit membuat Bilawal ketakutan karena ia tidak pernah melihat sikapnya seperti ini, jika sikap Ethan sudah seperti ini berarti ada sesuatu yang sedang dicurigai olehnya.
"Em.....Privat sama Coach Andra," jawab Bilawal berbohong dengan alasan ada privat basket padahal sudah hampir beberapa bulan ia mengabaikan basketnya dan sudah diblacklist di klubnya dia timnas.
"Jangan bohong, lo udah diblacklist dari klub sama Timnas," tandas Ethan mematahkan ucapan Bilawal.
Glek, Bilawal hanya bisa menelan ludah karena ketahuan berbohong. Dari mana Ethan tahu tentang itu semua padahal selama ini ia sudah menyembunyikannya.
Ucapan Ethan tentunya membuat Kelvin dan Nares kaget bukan main, setahu mereka Bilawal masih aktif di klub basketnya apalagi sering dipanggil Timnas basket U18.
"What? Serius lo diblacklist dari klub sama Timnas?" teriak Kelvin kaget tidak percaya menatapnya begitu lekat.
Bukan hanya Kelvin tapi juga Nares yang sangat tidak percaya, tapi Jericho hanya bisa terdiam tidak berkata apa-apa.
"Lo nggak bohong, kan?" sambung Nares lagi tidak percaya semua mata tertuju pada Bilawal.
Rasanya Bilawal tidak bisa berbohong lagi dan menyembunyikan dari sahabatnya. Sesekali Bilawal menatap ke arah Jericho yang duduk di depannya hanya berbatasan meja saja.
Bilawal menduga jika Jericho yang memberitahu ketiga sahabatnya itu tentang dirinya sudah tidak aktif lagi bermain basket di klub dan diblacklist-nya dari Timnas.
"Gue cidera," jawabnya berbohong membuat Ethan hanya bisa tertawa ringan terkesan sinis dan kesal mendengar ucapan Bilawal yang masih saja berbohong.
"Tch.....Cidera dari mana," gumam Ethan seolah menyindir Bilawal dengan senyum sinis-nya membuat Kelvin dan Nares keheranan melihatnya.
"Kalau cidera kenapa nggak fisio(Fisioterapi)?" tambah Ethan lagi terus menghujani Bilawal dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Gue fisio, kok. Tapi nggak bilang sama Lo semua," tandasnya terus mencari alasan.
"Iya, bener. Lo harus fisio, sayang banget udah masuk Timnas malah diblacklist. Nares aja pengen masuk Timnas nggak lolos-lolos," timpal Kelvin ucapannya membuat Nares tersindir.
Impian menjadi seorang atlet basket profesional adalah mimpi Bilawal dan Nares. Berlatih basket di klub yang sama hingga keduanya sering lolos seleksi atlet daerah sampai ke tingkat Timnas.
Jalan menjadi atlet begitu mulus bagi Bilawal namun tidak bagi Nares yang kemampuan dan skill-nya masih di bawahnya.
"Bukan nggak lolos, cuma belum beruntung," tampik Nares mencoba membela dirinya membuat Kelvin tersenyum manis melihatnya karena berhasil membuatnya sedikit kesal.
*
*
*
*
Bilawal terlihat sedikit agak kesal kepada Jericho karena menganggap telah memberitahu Ethan tentang masalahnya dengan Ghio.
"Lo bilang sama Ethan tentang masalah Ghio?" tanya Bilawal kepada Jericho saat mereka berjalan menuju kelas selesai jam istrahat.
Pertanyaan Bilawal membuatnya terdiam sesaat mencari alasan jangan sampai tahu jika Ethan sudah mengetahui semuanya.
"Nggak. Gue nggak bilang apa-apa," jawab Jericho berbohong dengan napasnya sedikit tidak beraturan takut ketahuan.
"Tapi kenapa omongan dia kaya nyindir gue, ya?" gumam Bilawal bicara sendiri keheranan menatap Jericho.
"Dia udah mulai curiga karena lo udah jarang ikut kumpul lagi."
Ada benarnya juga yang diucapkan oleh Jericho, sekarang Bilawal sedang mencari cara bagaiman agar Ethan tidak semakin curiga.
"Pokoknya jangan sampai dia tahu, kalau sampai mereka tahu gue nggak akan pernah maafin lo," gertak Bilawal dengan nada tegas membuat Jericho semakin ketakutan karena ia sudah memberitahu Ethan tentang rahasianya.
Belum sempat Jericho menjawab tiba-tiba sebuah suara lebih dulu memotong pembicaranya, suara yang dikenal olehnya dan membuatnya kaget tidak percaya.
"Apa yang nggak boleh gue tahu?" tanyanya mengagetkan Bilawal dan Jericho.
Suara itu memecah pembicaraan di antara mereka berdua. Suara yang terdengar sedikit bariton membuat keduanya menoleh secara bersamaan dan seseorang sudah berdiri mematung tida jauh dari tempatnya.
Dengan sorot mata sedikit tajam dan wajahnya yang terkesan dingin menatap sinis ke arah Bilawal, dia adalah Ethan.
Langkah kaki Ethan berjalan mendekati Bilawal dengan tatapan tajam seolah sedang mengintimidasinya.
Seketika sikap Bilawal sedikit gugup dan berharap jika sahabatnya tidak mendengar pembicaraan antara dirinya dengan Jericho.
"Apa yang nggak boleh gue tahu, Al?" Ethan mengulangi pertanyaannya berdiri tepat di hadapan Bilawal yang tampak semakin gugup dan gelisah.
Mulut Bilawal masih terkunci terdiam membisu serta otaknya berpikir cepat mencari alasan agar Ethan percaya.
"Apa gue nggak boleh tahu kalau sebenarnya lo udah masuk bagian dari Genk- Ghio?" tebak Ethan membuat Bilawal tidak bisa berkutik dan berbohong lagi kepadanya.
Deg, detak jantung Bilawal berdetak sangat cepat kali ini ia benar-benar berada di dalam masalah besar dan tidak bisa lagi berbohong kepada Ethan.
Lama kelamaan mata Ethan memerah dan berkaca-kaca menatapnya tiada henti membuat Bilawal merasa sangat bersalah. Suasana berubah menjadi sedikit hari karena suara Ethan yang mendadak terdengar lirih dan sendu.
Tapi Bilawal masih mencoba memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan sedang berbohong kepadanya.
Padahal di dalam hatinya berkecamuk tidak karuan. Ingin sekali Bilawal bercerita kepada Ethan tapi ia tidak mau sahabatnya merasakan penderitaannya juga.
"Anjing lo memang, Al. Kenapa sampai berkorban sejauh ini, HAH!" Amarah Ethan pecah dengan suara lirihnya dan air mata menetas jatuh ke pipi.
Suara bentakan Ethan membuat tubuh Bilawal dan Jericho merinding, serta suaranya terdengar nyaring di lorong yang sedikit sepi.
Bibir Bilawal gemetaran menahan sedihnya yang hendak pecah dan tumpah, matanya dipenuhi buliran bening yang tidak bisa dibendungnya lagi.
"Kenapa lo nggak pernah bilang sama gue selama ini? Kenapa lo selalu berbuat sendiri, Al?" lirih Ethan membuat hati Bilawal sangat sakit dan sedih hanya bisa terdiam sambil menetaskan air matanya.
Tubuhnya membeku lidahnya kelu dan Bilawal hanya bisa menangis menundukkan kepalanya, sementara Jericho hanya bisa terdiam menahan air mata menyaksikan Ethan yang sedang meluapkan isi hati dan amarahnya yang ia pendam sejak kemarin.
"Kenapa lo sampai menghancurkan hidup Lo sendiri, Al? KENAPA?!" Teriakan suara Ethan semakin terdengar menggema membuat Jericho yang tadinya hanya bisa menahan air mata menjadi menangis.
"Gue minta maaf. Gue nggak mau ngeliat sahabat gue juga hancur, cukup gue aja yang hancur karena gue nggak sanggup kalau liat lo semua menderita," lirih Bilawal membatin dan suaranya terdengar bergetar.
"Bangsat memang lo! Sekuat apa lo sampai harus melindungi kita semuanya? Lo nggak bisa ngadepin dia sendirian. Anjing!"
"Maafin gue, Than. Gue nggak mau kalau Ghio sampai incar lo semua. Cukup hidup gue aja yang berantakan, gue nggak akan sanggup liatnya kalau sampe lo semua juga hancur berantakan." Bilawal membatin membuat Ethan semakin merasa bersalah kepadanya.