Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Daddy, tadi Keisya sempat meminum sari buah itu," lapor Ivan. Ia masih mampu menahan diri demi menyampaikan hal krusial ini kepada Gilbert, lalu segera berlari menyusul yang lain. Gilbert mengangguk berat, memahami maksud singkat keponakannya itu.
"Tak ada satu pun yang boleh meninggalkan ruangan ini!" perintah Abraham tegas. Tatapannya tajam menyapu seluruh hadirin, disertai aura dingin yang begitu pekat seolah sosok pembunuh berdarah dingin sedang berdiri di hadapan mereka.
Lesu dan tak bertenaga sepenuhnya, begitulah rupa Keyla saat ini. Dengan tas tersampir di bahu dan pakaian yang sedikit berantakan, ia menyeret kakinya menaiki tangga satu per satu, meninggalkan Geo yang masih di garasi memarkirkan kendaraan.
Ia sangat ingin segera merebahkan diri di kamar, memulihkan tenaga yang terasa terkuras berkali-kali lipat. Sebab besok mereka harus kembali ke tempat yang kini terasa seperti rumah kedua, tempat yang dipenuhi bau obat dan antiseptik.
Selain hari sudah sore, ia pun baru saja menyelesaikan kegiatan sekolah menengah atasnya. Padahal tahun ajaran baru sudah berjalan, dan ia tak bisa menunda lebih lama lagi. Hati kecilnya terasa sepi, awalnya ia berharap bisa menempuh masa sekolah ini bersama Keisya.
Namun semua kesibukan itu hanyalah pelarian. Keyla sengaja menyibukkan diri dengan tugas dan latihan basket, agar pikirannya tak terus-menerus melayang memikirkan Keisya.
Sudah lebih dari seminggu berlalu sejak kejadian mengerikan itu, namun Keisya belum juga membuka mata. Suasana rumah pun berubah suram, diselimuti keheningan yang mencekam.
Peristiwa malam itu menghantui setiap anggota keluarga Jordan dengan caranya sendiri. Alex dan Alden merasa sangat bersalah, mereka memaki kebodohan diri sendiri karena membiarkan racun masuk ke dalam minuman Keisya.
Bukan hanya mereka berdua, para tetua pun merasakan penyesalan yang jauh lebih dalam. Terngiang kembali bagaimana selama ini mereka memperlakukan gadis itu, dan rasa itu kini berubah menjadi duri yang menusuk hati.
Beban itu membuat Alex dan Alden semakin tertekan. Mereka meluapkan frustasi lewat pekerjaan, sekaligus menelusuri setiap jejak dan kemungkinan yang terlewat demi menemukan pelakunya.
Begitu pula Ivan. Dokter muda itu menghabiskan seluruh waktunya memantau kondisi Keisya yang masih belum stabil. Selepas bekerja, ia memilih tidur di tepi tempat tidur gadis itu.
Geo pun berubah drastis. Ia menjadi jauh lebih pendiam dari biasanya, membuat teman-temannya di sekolah heran, mengingat ia sosok yang ceria dan aktif. Saat mendengar sedikit tentang apa yang terjadi, mereka hanya bisa turut berduka dan berjanji membantu mencari kebenaran lewat orang tua mereka.
Tak ada yang tahu bahwa Geo kini menderita gangguan tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Keisya yang lemah dan berdarah dalam pelukannya kembali menghantui. Mimpinya selalu berubah menjadi kengerian yang tak sanggup ia ceritakan pada siapa pun. Dan sepertinya semua orang sedang menanggung beban yang sama beratnya.
Keyla pun menyimpan kenangan yang tak kalah tajam. Di dalam mobil menuju rumah sakit, ia merasakan genggaman lemah tangan Keisya yang duduk di samping Alex. Tatapan mata sayu itu seolah memanggil namanya, dan Keyla segera mendekatkan wajahnya.
"U-untung... i-itu... aku..." suara lirih itu terdengar di tengah keheningan mencekam, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri tegak. Keyla masih ingat jelas bagaimana senyum tipis Keisya terarah padanya seolah merasa bangga, padahal ia sendiri hampir gila karena ketakutan.
Kondisi mengkhawatirkan Keisya menyadarkan mereka betapa selama ini mereka mengabaikan gadis yang selalu tersenyum ramah itu. Sikap mereka berubah drastis, dan kini pertanyaan itu terus menghantui.. Apa kesalahan Keisya? Mengapa mereka bisa bersikap seburuk itu padanya? Padahal ia tak pernah berbuat salah sedikit pun. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mengubah hati mereka menjadi batu.
Mereka berdoa tanpa henti, memohon agar Keisya segera sadar sehingga mereka bisa memohon maaf secara langsung. Namun di balik harapan itu, terselip ketakutan yang tak terlukiskan, takut esok pagi mereka tak lagi melihat mata indah itu terbuka.
Keyla menghela napas panjang. Ia masih kesal pada keluarganya, kesal betapa bodohnya mereka membiarkan Keisya yang begitu tulus tersisihkan.
"Apa maksudmu?! Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal, Jena?!"
Keyla tersentak kaget mendengar bentakan Alex dari arah kamar Keisya. Jika saja ayahnya tak berteriak begitu keras, mungkin ia akan terus berjalan melewati pintu itu karena tenggelam dalam lamunan.
Bukan hanya ia yang penasaran, Geo yang baru tiba di lantai atas pun segera mendekat. Keyla menggeleng, ia sama sekali tak tahu apa yang terjadi.
Keduanya melangkah masuk ke kamar yang sudah lama tak ditempati pemiliknya. Ruangan itu tampak sunyi dan kosong. Di sana, Alex dan Jena berdiri mematung, sementara Alden mencengkeram selembar kertas hingga remuk basah oleh keringat tangannya.
Geo menyentuh lengan Alden, berharap mendapat penjelasan. "Kenapa, Kak? Apa yang sebenarnya terjadi?"
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu