NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bodoh atau tolol?

BLAM!

Nadia menyandarkan tubuhnya di pintu yang tertutup sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Demi apa pun, melihat Devan seperti ini membuat dadanya berdegup kencang seperti genderang perang. Apa lagi ketampanan Devan yang berkali kali naik saat bangun tidur, membuat Nadia panas dingin dan juga salting melihat wajah jantan suaminya itu.

Tapi seolah tertampar angin pagi yang membuatnya sadar pada realita, Devan dan dirinya hanya lah pasangan di atas kertas. Mungkin cinta nya ini akan bertepuk sebelah tangan jika dirinya berani mencintai seorang Devan.

"Ingat Nadia, ini cuma pernikahan kontrak. Jangan terlalu bawa perasaan, okey!" Seru Nadia pada diri sendiri, bertekat penuh untuk tidak mencintai atau ada rasa sayang terhadap Devan.

Nadia buru-buru merapikan diri seadanya karena kekacauan tadi, dan memilih untuk segera turun ke lantai bawah.

Langkah kakinya membawa Nadia menuju dapur mansion yang megah. Di sana, ia melihat Bi Minah baru saja bersiap untuk memasak. Naluri Nadia yang terbiasa mandiri dan bangun pagi langsung bangkit.

"Selamat pagi, Bi Minah. Biar pagi ini aku saja yang masak sarapannya" ujar Nadia sambil tersenyum manis.

Bi Minah sempat terkejut sejenak. Tapi begitu melihat siapa yang datang, senyum menggoda langsung terbit di wajah paruh baya itu.

"Aduh, Nyonya Muda... Pengantin baru kok sudah di dapur saja? Harusnya kan masih istirahat manis di kamar sama Tuan Muda" kata Bi Minah sambil menyenggol lengan Nadia pelan dengan nada berguyon. "Tapi wajah Nyonya berseri-seri banget ya pagi ini. Kelihatan kalau malam pertamanya lancar jaya. Apa pak Devan mainnya lembut banget sampe nyonya Muda masih bisa jalan pagi?" Goda Bi Minah sembari mengulum senyum samar.

Pipi Nadia seketika meledak memerah mendengar godaan blak-blakan Bi Minah. "Ih, Bibi! Nggak kok!! I-ini cuman emang nya aku sendiri yang pengen turun ke bawah!" Jelas Nadia terbata bata. "Bi Minah jangan mikirin yang aneh aneh deh!" seru Nadia salah tingkah setengah mati, membuat Bi Minah tertawa renyah sebelum akhirnya mengalah dan membiarkan Nadia mengambil alih apron dapur.

Dengan cekatan, Nadia mulai mengikat rambutnya ke atas dan memotong bumbu-bumbu. la memilih untuk memasak nasi goreng mentega. Aroma harum mentega dan bawang yang digoreng perlahan memenuhi seluruh ruangan dapur.

Cesss!

Saat Nadia baru saja memasukkan nasi ke dalam wajan yang cukup panas, beberapa bulir minyak mentega mendadak memercik heboh. Nadia tersentak kaget dan refleks melangkah mundur untuk menghindari cipratan minyak. Namun, punggungnya justru langsung menabrak sesuatu yang keras dan kokoh di belakangnya.

Sebelum Nadia sempat menoleh, sepasang lengan kekar melingkar dari belakang tubuhnya. Sebuah tangan besar yang hangat langsung menggenggam jemari Nadia yang sedang memegang spatula, sementara tangan satunya lagi mematikan kompor dengan cekatan.

Devan sudah berdiri di sana, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain santai, menyisakan sisa-sisa wangi sabun mandi yang segar. Tubuh jantan nya menempel sempurna di punggung Nadia, mengukung wanita itu di antara tubuhnya dan meja dapur.

"Kalau takut minyaknya memercik, jangan dipaksakan. Biar saya saja yang teruskan" bisik Devan dengan suara bariton rendah yang serak tepat di ceruk leher Nadia, menyalurkan embusan napas hangat yang membuat seluruh tubuh Nadia meremang hebat.

Nadia membeku, jantungnya berdentum begitu brutal. Perlahan, Nadia memberanikan diri menoleh sedikit ke belakang, membuat jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. "Devan... ka-kamu kenapa nggak pakai baju?" bisik Nadia gugup, matanya tak sengaja melirik dada bidang Devan yang terekspos jelas.

Devan menatap lekat sepasang mata Nadia, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. "Ini rumah saya, kenapa harus risih di rumah sendiri? Dan lagi pula kamu juga istri saya"

Nadia tertegun sejenak mendengar itu.

"Tapi kan bisa pakai baju dulu..." cicit Nadia, berusaha mencari alasan agar jarak mereka tidak seintim ini.

"Lupa tadi" sahut Devan cuek, wajahnya sama sekali tidak bergeser dari dekat wajah Nadia. "Sekarang diam, biar saya saja yang teruskan, atau tanganmu mau kena percikan minyak lagi?"

"Nggak usah sedekat ini juga, Devan... aku bisa sendiri kok" protes Nadia pelan, meskipun suaranya terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.

"Nggak usah ngebantah, kamu pegang spatulanya, biar saya yang mengarahkan" balas Devan mutlak. la kembali menyalakan kompor dengan volume kecil, lalu menuntun tangan Nadia untuk mengaduk nasi goreng itu bersama-sama. Sentuhan kulit mereka yang saling bergesekan menciptakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Nadia.

Setelah nasi goreng matang sempurna, Devan akhirnya melepaskan pegangannya dengan lambat seolah berat untuk menjauh.

Nadia bisa merasakan beban berat di belakang nya menjauh. "Pakai bajumu dulu, Devan. Aku akan siapkan ini di meja makan" ujar Nadia sambil memalingkan wajahnya yang merona.

Devan mengerutkan dahi melihat tingkah gelagapan Nadia yang menghindar seperti ini. Tapi Devan acuh saja, mungkin karena insiden tadi pagi Nadia jadi seperti ini. "Oke. Saya tunggu di meja makan" jawabnya sebelum melangkah pergi.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun duduk berhadapan di ruang makan yang tenang. Devan kini sudah mengenakan kemeja santai yang rapi. Nadia mengambilkan seporsi nasi goreng hangat untuk suaminya dengan telaten, mencoba bersikap biasa saja meski sisa kecanggungan di dapur masih terasa.

Devan menyuap sendok pertama ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan di bawah tatapan penuh harap dari Nadia.

"Bagaimana? Enak nggak?" tanya Nadia dengan mata berbinar.

Devan memasang ekspresi datar andalannya, walau dalam hati ia harus mengakui kalau masakan Nadia jauh lebih hangat dan nikmat daripada masakan koki bintang lima mana pun, atau dia saja yang lebay. "Lumayan. Bumbunya pas, tidak buruk untuk sarapan pertama kita" jawab Devan lempeng.

Nadia tersenyum puas, merasa senang karena Devan memakan masakannya dengan sangat lahap. "Syukurlah kalau kamu suka. Besok-besok aku bisa masakkan menu lain untuk mu." kata Nadia ceria.

Devan mengangguk."Tentu, lakukan sesuka mu di dapurku" sahut Devan sambil menatap Nadia lekat, menyalurkan perhatian hangat yang tersirat di balik kalimat datarnya.

Namun, momen tenang itu mendadak terusik ketika Bi Minah masuk ke ruang makan dengan langkah tergesa-gesa dan wajah yang tampak sangat panik.

"Tuan Muda, Nyonya Muda... maaf mengganggu sarapannya" ucap Bi Minah dengan napas sedikit terengah-engah.

"Ada apa, Bi?" tanya Devan bingung.

"Itu... penjaga gerbang depan baru saja memberi tahu lewat telepon. Di luar ada nona Ghea, Tuan. Dia nekat menerobos masuk dan sekarang sedang berlutut di depan sana, menangis histeris memohon untuk diizinkan bertemu dengan Nyonya Nadia" lapor Bi Minah ketakutan.

Mendengar nama itu, rahang Devan langsung mengeras sempurna. Sorot matanya berkilat tajam penuh amarah yang pekat. "Usir wanita itu sekarang juga. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di area mansion ini dan mengganggu istri saya" kata Devan tegas.

Namun, tiba tiba Nadia menahan lengan Devan pelan. Jantungnya berdegup kencang, membawa kembali ingatan pahit masa lalu yang sempat mengoyak hatinya. Nadia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Tunggu, Devan. Biarkan dia masuk. Aku ingin mendengar langsung apa yang ingin dia katakan."

Devan menoleh. "Untuk apa?"

Nadia tak menjawab, tapi dia menatap Devan dengan mata penuh harap. Akhirnya Devan hanya bisa menghembuskan nafas lelah. "Oke, biarkan dia masuk" tintah Devan.

Setelah di perbolehkan masuk, di ruang tamu mansion Alister yang megah, Ghea duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Penampilannya benar-benar hancur dan berantakan. Tidak ada lagi pakaian bermerek, riasan tebal, atau tatapan angkuh yang dulu selalu ia pamerkan saat merebut Arkan dari Nadia.

Begitu mendengar suara langkah kaki, Ghea langsung mendongak, dan begitu dia melihat Nadia berjalan di samping Devan, Ghea langsung merangkak maju tanpa memedulikan lagi harga dirinya yang sudah runtuh total. la bersujud tepat di depan kaki Nadia.

"Nadia... aku mohon, Nadia... tolong aku..." tangis Ghea pecah seketika, suaranya parau penuh keputusasaan. "Aku tahu aku salah, aku tahu aku wanita jahat yang sudah merusak rumah tanggamu dulu dengan Arkan. Kamu boleh hukum aku, kamu boleh hina aku sesukamu. Tapi aku mohon... tolong bantu aku sekali ini saja, Nadia..."

Nadia mundur selangkah, menatap mantan rivalnya itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa perih sisa masa lalu, namun melihat kondisi Ghea saat ini, hati kecil Nadia yang pada dasarnya sangat baik, lembut, dan pemaaf tidak tega melihatnya.

"Ada apa, Ghea? Bangunlah, jangan seperti ini" ucap Nadia dengan nada suara yang melembut, tidak tega untuk bersikap kejam.

Ghea mendongak dengan air mata dan maskara yang luntur di pipinya. "Nadia, aku memohon kemurahan hatimu. Tolong ringankan tuntutan hukum atau bantu bicarakan pada pihak bank terkait kasus penggelapan dana yang menjerat Arkan. Sisa tabunganku dan penjualan seluruh barang mewahku tidak akan pernah cukup untuk menutupi dendanya. Arkan bisa membusuk di penjara, Nadia"

Ghea mencengkeram ujung pakaian Nadia dengan tangan gemetar. "Aku tahu kamu sudah bahagia dengan Pak Devan. Tapi tolong kasihanilah Arkan, Nadia... Aku bersedia melakukan apa saja, bahkan menjadi pelayanmu seumur hidup, asalkan Arkan bisa mendapatkan keringanan hukuman!"

Mendengar itu, Devan langsung melangkah maju secara protektif di depan Nadia. "Saya nggak peduli mau Arkan membusuk atau mati sekalipun di dalam penjara, hukum tetaplah hukum!" gertak Devan dingin.

Namun, Nadia terdiam mematung di belakang Devan. Kalimat-kalimat Ghea dan tangis keputusasaannya menembus langsung ke lubuk hati Nadia yang paling dalam. Nadia tahu betul bagaimana rasanya mencintai seseorang hingga titik terendah, dan ia bisa melihat bahwa Ghea benar-benar tulus mencintai Arkan di saat pria itu sudah jatuh miskin dan hancur.

Sifat dasar Nadia yang terlalu pemaaf dan berhati malaikat mulai mengambil alih pikirannya. la menjadi sangat bimbang. Kebenciannya menguap begitu saja digantikan rasa iba yang mendalam. la menatap Devan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca penuh permohonan.

"Devan..." bisik Nadia pelan, menarik-narik ujung kemeja Devan dengan ragu. "Apakah... apakah tidak ada cara untuk meringankan hukuman Arkan? Maksudku... hukuman dendanya saja yang dikurangi. Melihat Ghea yang sampai memohon seperti ini... aku tidak tega, Devan."

Devan menoleh dengan terkejut, menatap istrinya yang tampak begitu rapuh dengan mata berkaca kaca. "Nadia, jangan bilang kamu berniat menuruti keinginan wanita yang sudah menghancurkan masa lalumu ini?" tanya Devan dengan nada suara yang tertahan, tidak habis pikir dengan kebaikan hati Nadia yang terlalu luas.

Nadia menggigit bibir bawahnya dengan bimbang, air matanya sendiri mulai menetes karena tidak tega melihat penderitaan musuhnya. Nadia benar-benar berada di persimpangan jalan, berniat kuat untuk mengiyakan permohonan Ghea demi rasa kemanusiaan.

★★★

1
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!