NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Bisikan Para Selir Terdahulu

Rasa menyengat dari hantaman rajah darah Bintang di dunia nyata mendadak bergaung di dalam inti kesadaran spiritual Sekar. Di atas singgasana batu kali hitam di Istana Sisik Hitam, tubuh ghaib Sekar tersentak hebat. Jantung spiritualnya memompa paksa, memicu rasa sakit yang luar biasa seolah-olah jiwanya sedang ditarik oleh seutas rantai berduri kembali ke atas, ke raga manusianya yang membeku.

Namun, ikatan gaib wilayah Kalingga terlalu kuat mengunci takhtanya. Tarikan itu tertahan, menyisakan denyut konstan yang menyiksa di belikat kanannya.

Pendaran kelabu di aula masif itu mendadak meredup ganjil. Desisan jutaan ular di lantai gua yang semula bising, perlahan-lahan surut, berubah menjadi keheningan yang jauh lebih menakutkan. Kelompok makhluk melata itu serempak membalikkan tubuh mereka, merayap cepat menyusup ke balik bayangan pilar-pilar tengkorak dan celah-celah dinding sisik. Mereka seolah sedang melarikan diri dari sesuatu, atau mengosongkan tempat bagi keheningan yang mutlak.

Dari kegelapan di atas langit-langit gua, sepasang mata emas raksasa Kalingga perlahan memudar, diikuti oleh hilangnya hawa tekan yang luar biasa masif. Sang Raja Ular telah pergi. Sesuatu di dimensi luar—gempuran rajah Pisau Sungsang Buwana milik Bintang—telah memaksanya untuk membagi fokus dan mengalirkan sebagian kekuatannya guna mempertahankan segel pembekuan di dunia atas.

Sekar menyadari kesempatan ini. Untuk pertama kalinya sejak dia terbangun di istana terkutuk ini, tekanan ghaib yang mengunci persendian manusianya sedikit melonggar. Jalinan sisik emas di lengan kanannya tidak lagi terasa sekaku besi cor.

Dengan napas yang kesat dan gemetar, Sekar memaksakan dirinya untuk berdiri. Setiap pergerakan tulangnya menimbulkan suara derak halus yang menggema di aula yang sepi. Dia melangkah turun dari undakan singgasana batu kali. Kakinya yang telanjang bersentuhan langsung dengan lantai batu yang dilapisi lendir dingin dan sisa-sisa kulit ular yang mengelupas. Bau minyak kenanga busuk di tempat itu kini bercampur dengan bau tanah basah yang pekat, seolah dia sedang berjalan di dalam liang kubur yang baru digali.

"Bintang... Ibu..." desis Sekar lirih.

Tidak ada jawaban. Hanya pantulan suaranya sendiri yang terdengar sumbang.

Sekar menolak untuk berdiam diri menanti tengah malam Sabtu Kliwon mengunci seluruh hidupnya. Didorong oleh insting manusianya yang menolak mati, dia melangkah membelakangi sendang hitam yang menyerupai oli. Dia berjalan menuju salah satu lorong gelap yang berada di balik pilar tengkorak manusia purba—sebuah jalan setapak alami yang seolah membelah dinding sisik hitam yang kian bergetar lambat.

Lorong itu luar biasa sempit dan claustrophobic. Dinding di kiri dan kanannya tersusun dari jalinan otot dan sisik ular yang terus berdenyut, mengeluarkan uap hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang spiritualnya. Semakin dalam Sekar melangkah, atmosfer di sekitarnya terasa semakin berat. Udara ghaib di tempat ini terasa begitu padat, seolah-olah dia sedang berjalan menembus cairan kental yang tidak terlihat.

Sreeet... sreeet... sreeet...

Suara langkah kakinya sendiri terdengar ganjil di telinganya. Ketika dia melirik ke bawah, dia tersentak ngeri. Jejak kaki yang ditinggalkannya di atas lendir lantai gua bukan lagi tapak kaki manusia biasa, melainkan guratan memanjang yang beralur—jejak yang ditinggalkan oleh perut makhluk melata. Ketakutan menyergap dada Sekar; proses transformasi jiwanya terus berjalan meski Kalingga tidak berada di tempat.

Setelah berjalan puluhan meter menembus kegelapan yang pekat, lorong itu mendadak melebar, bermuara pada sebuah ruang cekungan bawah tanah yang berbentuk lingkaran sempurna. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah kolam raksasa yang tidak berisi air, melainkan penuh dengan lumpur hidup berwarna hitam legam yang bergolak lambat.

Bau yang menguar dari kolam lumpur itu seketika membuat Sekar membekap mulutnya sendiri. Itu adalah bau busuk murni dari jaringan daging manusia yang membusuk selama ratusan tahun bercampur belerang panas.

Blup... blup... blup...

Gelembung-gelembung gas beracun meletus di permukaan lumpur hitam itu. Di bawah pendaran cahaya kelabu yang entah datang dari mana, Sekar melihat pemandangan yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri dan darah spiritualnya terasa berhenti mengalir.

Dari dalam golakan lumpur hidup itu, muncul belasan kepala manusia.

Mereka adalah perempuan-perempuan muda. Struktur wajah mereka mencerminkan kecantikan bangsawan Jawa kuno dari berbagai era abad masa lalu—beberapa mengenakan sisa-sisa perhiasan patrem emas yang sudah menghitam, dan yang lain memiliki rambut panjang berkilau yang kini terjalin dengan tanaman pakis gua yang mati. Namun, kecantikan itu telah dirusak oleh kutukan yang mengerikan.

Setengah dari wajah mereka telah hancur, menyisakan tengkorak putih yang mengintip dari balik sisa daging yang membusuk. Sementara setengah bagian wajah yang tersisa ditutupi oleh lapisan sisik ular hitam yang tebal dan kasar. Kelopak mata mereka tidak memiliki selaput hitam; hanya ada bagian putih mata yang mengeruh dan terus meneteskan darah hitam kental.

Perempuan-perempuan itu bergerak kaku di dalam lumpur, tubuh bagian bawah mereka yang terendam tampaknya telah menyatu dengan dasar kolam, menjadi bagian dari fondasi istana ghaib ini. Ketika mereka menyadari kehadiran Sekar, belasan pasang mata putih itu serempak mengunci sosok sang gadis Sabtu Kliwon.

"S-Siapa... siapa kalian?" Suara Sekar bergetar hebat, tubuhnya mundur hingga merapat pada dinding otot yang berdenyut di belakangnya.

Bukannya menyerang, wajah-wajah setengah hancur itu justru menampakkan ekspresi penderitaan yang teramat dalam. Bibir mereka yang pecah dan keunguan mulai bergerak bersamaan, menciptakan paduan suara desisan ghaib yang terdengar seperti angin malam yang menusuk lubang telinga.

"Pengantin... pengantin baru telah datang..." bisik salah satu jiwa perempuan dari era kerajaan kuno, tubuhnya mencuat sedikit lebih tinggi dari lumpur, memperlihatkan pundaknya yang berselimut sisik pekat.

"Jangan dengarkan dia, Nduk... Jangan telan apa pun yang diberikannya..." sahut suara wanita lain dari sudut kolam, suaranya terdengar meratap gilu. "Kami adalah raga-raga yang dia sebut 'Ratu'. Kami adalah jiwa-jiwa Sabtu Kliwon yang terpikat oleh janji keabadiannya di abad-abad terdahulu..."

Sekar merasakan jantungnya mencelos. "Kalian... istri Kalingga?"

Gelak tawa yang terdengar menyakitkan dan parau meletus dari kolam lumpur tersebut. Belasan jiwa perempuan itu menggelengkan kepala mereka serempak dengan gerakan yang patah-patah, membuat tulang leher mereka mengeluarkan suara berderak ganjil.

"Istri? Dia tidak butuh istri... Dia tidak pernah mengenal cinta manusia, Cah Ayu!" Desisan wanita tertua di dalam kolam itu terdengar menembus langsung ke pusat kesadaran Sekar, menghancurkan segala bentuk tipu daya visual yang selama ini dibangun oleh Kalingga.

Perempuan itu mengangkat tangan kanannya yang hanya tersisa tulang dan sisik, menunjuk lurus ke arah punggung Sekar—tepat di mana tanda kutukan Sengkolo berada.

"Kalingga tidak mencintaimu... Dia mendekatimu, memujamu, dan mengurungmu di sini hanya untuk satu hal... Dia menginginkan tanda kutukan di punggungmu! Tanda Sabtu Kliwon murni yang mekar setiap dua puluh dua tahun sekali!"

Kata-kata itu menghantam Sekar bagai gada besi. Topeng manipulasi Kalingga yang selama ini membayangi pikirannya mulai retak, menyingkap esensi mengerikan dari seluruh rangkaian teror yang menimpa hidupnya sejak lahir.

Hawa sedingin es di dalam cekungan bawah tanah itu mendadak terasa membakar. Kata-kata yang keluar dari celah bibir para wanita setengah siluman di dalam kolam lumpur hidup itu merobek sisa-sisa kewarasan Sekar. Kebenaran yang telanjang kini terpampang di depannya, jauh lebih mengerikan daripada wujud ular raksasa milik Kalingga sendiri.

"Tanda... tanda di punggungku?" Sekar berbisik parau, tangannya bergerak gemetar mencoba menyentuh belikat kanannya sendiri. Di sana, di bawah lapisan pakaian spiritualnya, Sengkolo itu terasa berdenyut kencang, seolah-olah kutukan tersebut memiliki nyawa dan kecerdasan tersendiri yang merespons kebenaran ini.

"Benar, Cah Ayu..." sesal sosok wanita berkemben corak parang yang sebagian pipinya telah menampakkan tulang rahang putih. Lumpur hitam pekat bergolak di sekeliling dadanya saat dia memaksa tubuhnya merangkak lebih dekat ke tepi kolam.

"Kalingga adalah entitas purba yang dikutuk untuk terikat pada tanah lereng Gunung Raung. Dia kuat, tapi dia tidak abadi. Setiap seratus tahun, energi ghaibnya akan menyusut, kulit emasnya akan mengelupas dan membusuk, memaksa raga silumannya lumpuh di dasar bumi selama puluhan tahun jika tidak diganti dengan inti nyawa yang baru."

Wanita itu terbatuk, memuntahkan segumpal lumpur hitam bercampur belatung ghaib sebelum melanjutkan dengan desisan yang kian meninggi.

"Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan keabadiannya adalah intisari dari Sengkolo Sabtu Kliwon—tanda lahir ghaib yang hanya mekar sempurna pada tubuh manusia perempuan yang terpilih setiap generasi. Tanda di punggungmu itu bukan sekadar hiasan atau tanda kepemilikan, Nduk. Itu adalah wadah spiritual yang telah menyerap seluruh energi kehidupan fana dan spiritualitas murnimu sejak kau menarik napas pertama di dunia atas!"

Sekar mundur selangkah lagi, lututnya lemas. Lingkaran hitam di sekeliling kolam seolah kian menyempit. "Jadi... semua perhatian itu... janji bahwa aku akan menjadi ratunya..."

"Semua itu palsu!" Jerit belasan jiwa perempuan di dalam kolam secara serempak. Gema suara mereka meruntuhkan beberapa bongkah tanah kering dari langit-langit, jatuh berdenting di atas permukaan lumpur yang mendidih.

"Dia menyanjungmu agar jiwamu menyerah secara sukarela! Hukum ghaib alam ini melarang Kalingga mengambil Sengkolo itu secara paksa jika manusianya menolak. Kau harus memakan hidangannya, kau harus menerima takhtanya, dan kau harus merelakan dirimu disatukan dengan kerajaannya. Detik di mana kau mengucapkan sumpah setia sebagai ratunya di malam Sabtu Kliwon..." Wanita dengan patrem emas di rambutnya menangis, air mata darahnya meluluri sisik hitam di pipinya, "...dia akan merobek kulit belikatmu. Dia akan menelan tanda itu bulat-bulat untuk menyempurnakan ilmu keabadiannya!"

"Dan setelah itu... kau akan dibuang ke sini, bersama kami," sambung suara parau dari sudut kolam yang paling gelap. "Menjadi cangkang kosong yang setengah manusia dan setengah reptil, membusuk di dalam lumpur hidup ini selamanya, menjadi tumbal penyangga fondasi Istana Sisik Hitam agar istana ini tidak runtuh ditelan bumi."

Sekar menatap jemari tangannya sendiri yang kini telah dihiasi cakar hitam dan sisik-sisik emas tipis. Rasa ngeri yang teramat murni menjalar dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Kalingga tidak pernah menginginkannya sebagai pendamping. Dia hanyalah seekor ternak ghaib yang digemukkan dengan rasa takut dan penderitaan selama dua puluh dua tahun, bersiap untuk disembelih tepat pada puncak malam Sabtu Kliwon.

Tiba-tiba, getaran hebat melanda seluruh cekungan gua. GEMBREEENG!

Dinding-dinding otot dan sisik ular di sekeliling ruangan berkerut kencang. Lendir kenanga busuk yang menetes dari atas mendadak berubah menjadi tetesan darah kental yang berbau amis menyengat.

Belasan perempuan di dalam kolam lumpur langsung menampakkan wajah ketakutan yang luar biasa. Mereka serempak menarik tubuh mereka masuk kembali ke dalam dasar lumpur hitam, tenggelam terburu-buru hingga hanya menyisakan gelembung-gelembung gas yang pecah dengan cepat.

"Dia kembali... Dia tahu kau ada di sini! Lari, Cah Ayu! Amankan tandamu... Jangan biarkan dia menyentuh belikatmu!" Bisikan terakhir itu merayap masuk ke telinga Sekar tepat sebelum permukaan kolam lumpur itu kembali rata dan sunyi sepekat oli.

Dari arah lorong sempit tempat Sekar masuk tadi, sebuah hawa tekan yang teramat pekat dan beringas berembus kencang, meruntuhkan seluruh sisa udara dingin yang ada. Suara gesekan berat dari ekor ular raksasa yang menyapu lantai batu kali terdengar mendekat dengan kecepatan gila.

Sreeet... Sreeet... Sreeet...

Sekar membalikkan badannya dengan panik, namun lorong tempatnya datang kini telah tertutup rapat oleh jalinan sisik hitam yang mengeras sekeras baja. Dia terjebak. Di dalam ruang cekungan yang buntu, di depan kolam tumbal para selir terdahulu, Sekar menahan napasnya saat bayangan sesosok makhluk bertubuh manusia pucat dengan bagian bawah ular raksasa perlahan muncul, menembus dinding ghaib di hadapannya.

Sepasang mata silet berwarna emas milik Kalingga menatap Sekar dengan kilatan intrik yang kini telah berganti menjadi kemarahan purba yang teramat pekat.

"Kau melangkah terlalu jauh di rumahmu sendiri, Cah Ayu," desis Kalingga, suaranya tidak lagi menyembunyikan getaran ganda ghaib yang berat dan berwibawa. Senyum licik di bibir tipis keunguannya perlahan memudar, menampilkan deretan gigi taring yang meruncing penuh bisa mematikan.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!