NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Sidang (Bagian II)

...Sidang Agung Banua Ginjang...

..."Generasi baru bukanlah bayangan generasi lama. Mereka adalah cahaya baru yang harus belajar menerangi jalan dengan caranya sendiri."...

Keesokan paginya, seluruh permukaan Banua Ginjang belum pernah tampak seindah itu. Lengkung pelangi bersinar lebih terang daripada biasanya. Parhobas Rambu berjalan tanpa henti, memastikan setiap warna memantulkan cahaya sempurna.

Parjaga Holong menyalakan ribuan lentera biru keperakan yang melayang di udara seperti gugusan bintang kecil. Siboru Rintik menaburkan lebih banyak embun di sepanjang jalan menuju Hariara Bolon. Sitabeak Bintang menggantungkan kristal-kristal cahaya pada setiap cabang. Bahkan Siharpangan Rambu, burung agung penjaga pelangi pertama, membentangkan sayapnya tinggi di langit, menaungi seluruh Banua Ginjang dengan tujuh warna yang berkilau bagai doa.

Hari itu bukan hari perayaan. Bukan pula hari kemenangan. Hari itu adalah hari ketika seluruh semesta memilih untuk saling mendengarkan.

Makhluk-makhluk dari seluruh penjuru Banua Ginjang mulai berdatangan. Pane Na Balga melingkar di udara, meninggalkan jejak pita-pita cahaya. Simarmata Aek berenang di antara sinar matahari seperti ikan yang sedang menyusuri sungai yang tidak kasatmata. Parsilopuk Bayang menjahit bayangan yang terlepas agar setiap makhluk tetap utuh saat melintasi cahaya. Siboru Habutaran membawa kendi-kendi kabut yang menyejukkan udara. Parhorbo Bintang datang beriringan, jejak kaki mereka memancarkan titik-titik cahaya yang berubah menjadi bunga-bunga langit.

Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Tidak ada yang merasa lebih rendah. Di bawah Hariara Bolon, semua adalah anak-anak semesta.

Deak berdiri di sisi Ompu Sada Uluan. Hari itu ia mengenakan Ulos Cahaya pertama yang pernah ditenun khusus untuknya. Coraknya memancarkan pusaran air, akar Hariara, gunung-gunung, dan pohon bercabang tujuh yang perlahan berpendar setiap kali ia menarik napas.

Rambut hitamnya menjuntai hingga pinggang. Tatapannya bening seperti embun yang baru lahir. Namun di balik kejernihan matanya, tersimpan keberanian yang kini sudah dikenal seluruh Banua Ginjang.

Beberapa makhluk muda memandangnya dengan kagum. Sebagian karena ia adalah Putri Langit. Sebagian lagi karena cerita tentang pertanyaan-pertanyaannya yang berani dan telah menyebar ke seluruh penjuru.

...****************...

Setelah semua duduk pada tempatnya, Mulajadi Nabolon berbicara, "Hari ini... aku tidak memanggil kalian untuk memilih siapa yang benar."

Beliau memandang seluruh hadirin, "Aku memanggil kalian... agar mulai belajar untuk mendengarkan mereka yang memandang semesta dari tempat yang berbeda."

Keheningan turun. Bukan berupa keheningan yang dingin, tetapi lebih seperti keheningan yang membuka ruang bagi hati.

Setelah mengangguk hormat kepada Mulajadi Nabolon, Ompu Sada Uluan melangkah ke tengah lingkaran, "Hari ini, setiap Penjaga Keseimbangan akan memperkenalkan seorang yang telah mereka bimbing. Bukan sebagai pengganti. Bukan pula sebagai pewaris. Melainkan sebagai benih yang kelak akan menjaga semesta dengan caranya sendiri."

Seketika terdengar bisikan-bisikan penuh rasa ingin tahu. Selama ribuan musim, belum pernah ada perkenalan seperti ini.

Satu demi satu para calon penjaga diperkenalkan.

Ada si-Tabeak Bintang, Putra Bintang sang Penjaga Malam, ia anak dari Ompu Tiktik. Ia mampu membaca arah jatuhnya butiran Jam Pasir Bintang dan merasakan perubahan musim sebelum siapa pun menyadarinya.

Ada Mardalan Aek, sang Raden Hujan, murid dari Tetua Siboru Rintik. Ke mana pun ia melangkah, bunga-bunga yang layu kembali segar.

Ada Lindu Sihaporas, yang lebih dikenal sebagai Raden Surya dengan julukan Putra Matahari, putra dari Nai Api. Nyala rambutnya masih kecil, tetapi kehangatan yang dipancarkannya mampu menenangkan makhluk yang sedang diliputi ketakutan.

Ada Boru Pelangi Rambu, murid Parhobas Rambu. Ia sanggup memperbaiki satu lengkung pelangi hanya dengan sehelai kristal cahaya.

Dan masih banyak lagi. Satu per satu mereka memberi hormat kepada Mulajadi Nabolon dan juga Deak. Deak membalasnya dengan senyum yang hangat. Ia tidak melihat mereka sebagai calon pemimpin kecil. Ia justru menghormati mereka sebagai sahabat yang kelak akan berjalan bersama.

Di antara para putra langit, terdengar bisikan-bisikan kecil.

"Itukah Deak Parujar, sang Putri Langit?"

"Putri Langit benar-benar secantik kisah-kisah yang beredar."

"Matanya seperti danau setelah hujan."

"Bahkan pelangi tampak lebih indah ketika memantul di ulosnya."

Beberapa putra dan putri langit itu tidak mampu menyembunyikan kekaguman mereka. Mereka berebut kesempatan untuk memperkenalkan diri dan mendekat ke arah Deak.

Namun Deak hanya tersenyum sopan kepada semuanya. Baginya, setiap pertemuan adalah kesempatan untuk mengenal hati seseorang, bukan sekadar wajahnya.

Di sudut lingkaran sidang, duduk seorang pemuda yang sejak tadi tidak banyak berbicara. Jubahnya berwarna biru tua, bertabur titik-titik cahaya seperti langit malam. Di bahunya bertengger seekor burung kecil berwarna perak. Tatapannya tenang.

Namanya, Raja Mangalabulan atau lebih dikenal sebagai Putra Mahkota Cahaya Bulan. Ia adalah murid dari penjaga gugusan bintang timur.

Ketika para putra langit lain berbicara memuji tentang kecantikan Deak, Mangalabulan justru memperhatikan sesuatu yang berbeda.

Ia melihat bagaimana setiap kali Mulajadi Nabolon berbicara, Deak tidak sekadar mendengar. Ia terlihat merenungkannya. Seolah setiap kalimat ditanamkan ke dalam hatinya sebelum diterima oleh pikirannya.

Mangalabulan tersenyum kecil. Lalu berbisik kepada dirinya sendiri, "Ia tidak sedang mencari jawaban. Ia sedang belajar memahami mengapa sebuah jawaban dilahirkan."

...****************...

Setelah sidang usai, para calon penjaga saling berkenalan dalam lingkaran yang lebih kecil.

Seorang putra langit bertanya kepada Deak, "Benarkah engkau ingin melihat Banua Tonga?"

Deak mengangguk, "Aku ingin memahaminya."

"Bukankah itu berbahaya?" tanya sang putra langit penasaran.

"Mungkin." jawab Deak singkat.

"Lalu mengapa engkau tetap ingin mengetahuinya?" tanya seorang putri langit menimpali pertanyaan sebelumnya.

Deak tersenyum dan menjawab: "Karena rasa takut bukan alasan untuk berhenti belajar."

Beberapa pemuda dan pemudi yang turut mendengar jawaban Deak itu, tampak saling berpandangan. Sebagian menganggap Deak terlalu berani. Sebagian lagi menganggapnya terlalu polos.

Hanya Mangalabulan yang melangkah mendekat dan berkata: "Hai, aku Raja Mangalabulan."

"Aku Deak." ujar Deak menanggapi sapaan itu dengan sopan.

Mereka saling membungkukkan badan sesaat. Tidak ada keheningan yang canggung. Yang ada justru rasa ingin tahu.

Mangalabulan bertanya, "Apakah engkau selalu mempertanyakan segala sesuatu Putri?"

Deak tertawa pelan dan menjawab: "Tidak. Aku hanya mempertanyakan hal-hal yang membuatku belum dapat mengasihi dengan lebih baik."

Pemuda itu terdiam. Jawaban itu jauh dari yang ia duga dan ia kembali bertanya untuk menegaskan asumsinya: "Kalau begitu... Pertanyaan yang kamu ajukan, bukan untuk mengalahkan siapa pun?"

Deak menggeleng, "Tentu saja, karena pertanyaan yang lahir dari kesombongan hanya akan melahirkan pertengkaran. Aku bertanya karena aku takut mengira telah mengerti, padahal belum."

Untuk pertama kalinya, senyum Mangalabulan berubah menjadi kekaguman. Bukan hanya kagum kepada kecantikan sang putri, namun lebih kepada kerendahan hatinya.

Ia lalu berkata pelan, nyaris berbisik: "Kalau begitu... izinkan suatu hari nanti aku menjadi orang yang mendengar pertanyaanmu sampai selesai."

Deak menatapnya sejenak. Lalu tersenyum dan menjawab: "Baiklah, tapi hanya jika itu baik untukmu."

Mangalabulan lalu berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya: "Itu jauh lebih berharga daripada memberiku jawaban yang tergesa-gesa."

...****************...

Dari kejauhan, Burung Erung memperhatikan keduanya. Ia tidak berkata apa-apa. Namun matanya memantulkan cahaya senja. Seolah melihat sebutir benih kecil baru saja ditanam. Belum menjadi pohon. Belum lagi berbunga. Belum pula berbuah.

Tetapi, semesta mengetahui, telah terjadi suatu perjumpaan yang kelak akan mengubah sejarah dua dunia.

Dan jauh di balik cakrawala Banua Tonga, riak-riak pada samudra purba kembali membentuk lingkaran-lingkaran cahaya. Seakan dunia yang belum bernama itu telah mengetahui, bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang rela meninggalkan langit. Bukan demi kemuliaan. Melainkan demi berjalan berdampingan dengan seorang perempuan yang berani bertanya.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke BAB 14. Panggilan.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!