NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Suara Gamelan

​Paviliun privat di bagian paling belakang klinik itu kini terasa lebih mirip sebuah bilik isolasi di tengah hutan ketimbang fasilitas medis kota. Garis polisi yang menyegel rumah utama di Pondok Indah memaksa Aryo untuk ikut menginap di kamar rawat Maya yang sempit.

Setiap malam, setelah kegelapan menelan hiruk-pikuk Jakarta, paviliun itu bertransformasi menjadi sebuah ruang tunggu maut yang sunyi, dingin, dan berbau busuk tanah makam.

​Malam itu, jam dinding di lorong klinik baru saja melewati angka dua lebih empat puluh lima menit. Suhu di dalam ruangan merosot drastis hingga ke titik ekstrem.

Hembusan napas Aryo yang sedang duduk bersandar di kursi kayu sudut kamar tampak mengeluarkan embun putih tipis, padahal pendingin ruangan sudah ia matikan sejak sore.

​Di atas ranjang besi, Maya terbaring dengan tubuh yang kian menyusut. Kulit wajahnya yang semula putih bersih kini telah sepenuhnya berubah menjadi keabu-abuan, dipenuhi guratan serat hitam yang kian tebal merayap dari bawah telinga menuju rahangnya.

Bagian tengah dadanya masih membuncit kaku, membentuk tonjolan keras pelepah bambu kering yang menyembunyikan detak jantung asing di dalamnya.

​Aryo memejamkan matanya yang panas dan perih karena kurang tidur. Namun, tepat ketika jarum jam dinding bergeser lurus ke angka tiga dini hari, keheningan malam itu mendadak berubah, sebuah suara yang sangat asing bagi telinga masyarakat metropolitan Jakarta.

​Tung ....

​Sebuah suara dentangan besi kuno bernada rendah bergaung lambat melintasi lorong paviliun. Suara itu disusul oleh suara ketukan kayu yang ritmis, lalu perlahan-lahan bergabung menjadi sebuah harmoni yang kaku dan magis.

​Itu adalah suara tabuhan gamelan Jawa.

​Iramanya lambat, mendayu-dayu, namun memiliki ketukan yang terasa sangat berat, seolah setiap tabuhannya sengaja ditekankan untuk menggetarkan urat saraf manusia yang mendengarnya. Gending yang dimainkan adalah gending pengiring upacara kematian tradisional Blambangan kuno.

​Aryo seketika menegakkan tubuhnya, matanya membelalak liar menatap sekeliling kamar yang temaram.

"Suara apa itu?" bisik Aryo, bulu kuduk di sekujur tubuhnya langsung berdiri tegak seperti jarum.

​Suara gamelan itu tidak terdengar jauh di luar gedung; suaranya bergema sangat dekat, seolah-olah sekelompok penabuh gamelan gaib sedang duduk bersila di atas lantai ubin tepat di sekeliling ranjang besi Maya.

Bunyi saron yang melengking tinggi berpadu dengan ketukan kendang yang konstan, menciptakan resonansi yang membuat dada Aryo mendadak terasa sesak dan nyeri.

​Srekk ... srekk ... srekk ....

​Di sela-sela tabuhan gamelan yang kian riuh, suara gesekan rumpun bambu kering ikut masuk, menyatu menjadi latar suara yang mengerikan.

​"Mas ... Mas Aryo ... mereka sudah datang ... pengiringnya sudah datang .pertama..." Maya mendadak tersentak bangun dari tidur komanya.

Sepasang matanya melotot putih sempurna tanpa ada bagian hitamnya, menatap lurus ke arah sudut kamar yang gelap di dekat lemari pakaian.

​"Maya! Kamu lihat apa?!" Aryo menerjang maju, mencengkeram bahu Maya yang sedingin es mayat.

"May, sadarlah! Apa yang kamu lihat?"

​"Di sana, Mas ... mereka sedang menabuh besi-besi itu ... wajah mereka bolong, Mas ... tidak ada matanya ...." Maya terus meracau histeris, tangannya yang kurus kering menunjuk ke sudut ruangan yang kosong.

​Tiba-tiba, suara pintu paviliun digedor dengan keras dari luar.

​Brak! Brak! Brak!

​Aryo tersentak kaget. Ia melepaskan cengkeramannya dari bahu Maya, lalu melangkah gemetar menuju pintu depan paviliun.

Begitu ia membuka pintu, ia menemukan dua orang penjaga malam klinik bersama seorang dokter jaga berdiri di lorong dengan wajah yang pucat pasi dan mata yang dipenuhi ketakutan yang nyata.

​"Pak Aryo! Tolong hentikan musiknya, Pak! Ini sudah jam tiga pagi, pasien di paviliun depan semua terbangun dan ketakutan!" seru dokter jaga itu dengan suara yang bergetar hebat.

​Aryo mengerutkan dahinya, bingung bercampur ngeri.

"Hentikan apa? Saya tidak menyalakan musik apa pun di dalam, Dok!"

​"Jangan bohong, Pak! Suara gamelan dari dalam kamar istri Bapak ini keras sekali! Sampai bergetar kaca-kaca di lorong depan!" sahut salah satu penjaga malam sambil menunjuk ke arah dalam kamar Maya.

​Aryo menoleh ke belakang, menatap ke dalam kamar. Memang benar, di telinganya dan di telinga orang-orang luar itu, suara tabuhan saron dan gong kuno itu terdengar begitu nyata dan bergaung keras, memantul di dinding beton paviliun.

Suara itu begitu kencang hingga debu-debu di atas meja rias tampak ikut melompat-lompat kecil mengikuti ritme ketukan kendang gaib tersebut.

​"Ini ... ini bukan saya yang menyalakan ...," bisik Aryo dengan bibir yang mendadak kelu.

​Dokter jaga itu mencoba melongokkan kepalanya ke dalam kamar, namun begitu matanya menangkap sosok Maya yang sedang duduk kaku di atas ranjang dengan mata melotot putih dan perut yang bergerak-gerak meliuk kaku, ditambah aroma busuk kembang kantil hangus yang mendadak menyembur keluar dari dalam kamar, sang dokter langsung mundur tiga langkah dengan tubuh yang gemetar hebat.

​"Ini ... ini tidak beres. Ini bukan penyakit medis, Pak Aryo! Saya tidak mau ikut campur lagi! Silakan bawa istri Anda keluar dari klinik ini besok pagi!" teriak dokter itu ketakutan, lalu berbalik dan berlari cepat meninggalkan lorong paviliun diikuti oleh kedua penjaga malam yang tidak kalah paniknya.

​Aryo ditinggalkan sendirian di ambang pintu, dikepung oleh suara gamelan kematian yang kian melengking tinggi menembus sepertiga malam.

​Tung ... takk ... gung ....

​Suara gong besar bergaung panjang, menandakan puncak dari gending gaib tersebut. Bersamaan dengan ketukan gong terakhir, angin kencang entah dari mana berembus menerobos lorong, menutup pintu depan paviliun dengan dentumam yang memecahkan keheningan lorong.

​Brak!

​Aryo terisolasi kembali di dalam kamar bersama Maya. Suara gamelan itu mendadak melambat, nadanya berubah menjadi lebih rendah dan berat, bertransfomasi menjadi sebuah latar suara yang mengiringi sebuah kemunculan gaib.

​Dari balik cermin rias tua di sudut kamar, kabut putih tipis kembali keluar, merayap di atas lantai ubin seperti ular-ular asap yang lapar. Di dalam pantulan kaca, sosok wanita berkonde besar dengan kebaya beludru hitam—Sekar—kembali menampakkan dirinya.

Kali ini, ia tidak lagi tersenyum tipis. Wajah porselennya menatap Aryo dengan pandangan mata yang penuh dengan tuntutan balas dendam yang dingin.

​"Gamelan ini adalah pengiring mantumu, Mas Aryo ... pengiring untuk menyambut kepunahan seluruh keturunan pengkhianat." Suara bisikan Sekar bergaung serentak di dalam kepala Aryo dan Maya, mengalahkan suara tabuhan besi yang masih berdenging di udara.

​Maya menjerit histeris, menutup kedua telinganya dengan bantal hingga sprei tempat tidurnya kembali dibanjiri oleh muntahan cairan hitam pekat berambut pendek.

Tubuhnya kejang-kejang hebat, menahan siksaan suara dan tekanan gaib yang kian menghimpit dadanya.

​Aryo jatuh berlutut di tengah kamar, menutup mukanya dengan kedua tangan sambil menangis sejadi-jadinya. Suara gamelan di jam tiga pagi itu bukan sekadar teror psikologis untuk membuat mereka tidak bisa tidur. Itu adalah pengumuman resmi dari kekuatan Pring Sedapur bahwa waktu mereka sudah hampir habis.

Sumpah darah di Banyuwangi telah mengirimkan seluruh rombongan pengirim mautnya ke Jakarta, dan tidak ada satu pun sudut di kota modern ini yang bisa menyembunyikan Aryo dari eksekusi adat yang sedang berjalan menuju titik puncaknya.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sebelum paham soal Pring sedapur ini sempat berpikir, kenapa Sekar tidak langsung membalas sakit hatinya ke Aryo?

Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.

Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Danu menyuruh Sekar membalas Aryo secara langsung di tanah wetan. Apa Danu lupa kalau santett Pring Sedapur ini berlaku untuk seluruh keturunan Aryo? menghabisi keturunan Aryo sampai akar akarnya.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?

Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Cha Libra
mampus kau Aryo ..jngan kira perempuan klo udh sakit hati bkal diem inget perempuan klo udh sakit hati bkal lbih mengerikan
kinoy
ngeri BNR..angel temen ni santet. Yo Aryo. .km sih ah biang kerok
Cha Libra
syukurin ..emang 3nak makanya jngan suka selingkuh d ksih Istri yg baik mlah nyeleweng nikmatin ja buah dri penghianatan mu yo yo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!