Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Gymora membuka matanya perlahan, ia menoleh dan menemukan wajah bengis Draka yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Draka ... " gumam Gymora dengan suara lirih.
Wajahnya nampak terkejut dan menahan takut.
"Apa yang terjadi? Apakah benar rumor diluar sana kalau kamu adalah pencuri? Jika benar hukuman tadi yang kamu terima sepertinya pantas," ucap Draka tanpa basa basi langsung ke intinya.
Gymora merasa hatinya sakit.
Didunia ini apakah hanya ayahnya yang akan peduli padanya?
Gymora mengabaikan tuduhan Draka, toh menjelaskan pun tidak ada gunanya.
"Apakah kamu tahu dimana ponselku? Aku harus menghubungi ayahku!!" ucapnya seraya memaksa bangun dari tempat tidur.
"Ayah mu, Pak Alan Timoti, ya?"
Gymora menjawab dengan anggukan. "Tolong bantu aku menemukan ponselku??!!"
Wajah memohon Gymora membuat jantung Draka berdetak tak karuan, Draka merasa tidak asing dengan wajah Gymora setelah memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama dari jarak yang begitu dekat.
Apalagi bola matanya yang berwarna hazel dan sedikit memiliki corak berwarna biru.
Bola mata yang langka, mirip dengan gadis kecil yang dulu pernah ia temui.
Saat sedang melamun, Gymora sudah mencabut infusnya dan berjalan ke arah telepon yang berada didekat sofa.
"Halo, ayah ... Ini aku ... " Ucapan Gymora terhenti, ia malah menangis tersedu-sedu.
"Ayah ... Nggak ... " Telepon yang ada ditangannya terjatuh ke lantai.
Dengan tubuh tinggi tegap, Draka berdiri menghampiri Gymora. "Sepertinya ada yang melaporkan ayahmu atas tuduhan penyuapan!!"
Gymora menoleh menatap ke arah Draka. Wajahnya nampak menyedihkan, "Iya, ayahku sekarang berada dikantor polisi."
"Ponselku rusak, dan sekarang aku nggak punya tempat tinggal." gumam Gymora tanpa sadar.
Namun, suaranya yang lirih tetap terdengar sampai ke telinga Draka.
"Ayo sekarang kita lanjutkan perjanjian kita!!"
Gymora menatap Draka dengan tatapan takut. "Bisakah kamu memberikan waktu lagi padaku? Aku belum pernah melakukannya." Wajahnya semakin memerah. Walaupun tetap ada kesedihan dari balik kedua bola matanya.
Draka malah tersenyum jahil. "Masa?"
Gymora memundurkan kepalanya ke belakang, saat wajah Draka terus mendekat ke arahnya yang sedang duduk diatas brangkar rumah sakit.
"I ... Iya, aku sama sekali nggak berbohong!" Jawabnya dengan nada terbata.
"Baiklah!" sahut Draka.
"Apakah kamu percaya padaku?" tanya Gymora dengan wajah sedih.
Sekarang ini pikirannya kacau, bahkan tanpa sadar ia membahas hal yang tidak penting dengan Draka.
Sejak kecil, Gymora hidup dibawah tekanan ibunya.
Bahkan, ibunya mengunakan dirinya sebagai ancaman agar ayahnya mau bercerai.
"Aku belum percaya sih! Soalnya belum bisa membuktikan." Draka semakin mendekat, wajahnya yang terlihat semakin mesum. "Kalau aku sudah mencobanya dan membuktikan, baru aku akan percaya."
Hal itu sontak membuat Gymora semakin ketakutan.
Tubuhnya menjadi gemetar tidak terkendali.
"Ka - kamu ... Tolong jangan sekarang aku belum siap!!" tolak Gymora, berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain.
Draka malah semakin mendekatkan wajahnya, bahkan Gymora bisa merasakan hembuskan napas Draka. "Belum siap, ya? Tapi kenapa malah memuaskan diri sendiri dengan alat itu?"
Gymora tergagap. "A ... Aku ... " Ia tidak bisa menjawab.
Draka yang melihat wajah Gymora semakin merah seperti kepiting rebus, malah merasa gemas.
Bahkan merasa memiliki semangat baru sekarang ini, selama ini ia memilih menyamar menjadi murid bodoh dan biasa saja karena ingin mencari makna hidup dan ketulusan seorang padanya.
Karena hidupnya sebagai pewaris tunggal dan dari keluarga terpandang, kadang Draka merasa hidupnya terlalu mulus.
Bahkan saat menyamar jadi mahasiswa biasa saja yang bodoh dan bandel, hidupnya juga tetap saja mulus.
Terlepas dari didikan keras masa kecil yang dilakukan ayahnya, tapi ia merasa ingin mencari makna kehidupan.
Perawat mengetuk pintu ruang inap. "Tuan Draka, pasien atas nama nona Gymora boleh pulang!"
Draka mengangguk.
Lalu perawat itu memberikan kertas tagihan, dan menatap Draka dengan tatapan aneh.
"Tolong segera lunasi pembayarannya, agar obat bisa diambil!" Ucap perawat itu dengan nada gemetar.
"Oke," jawab Draka.
Perawat itu segera pergi tanpa memeriksa keadaan Gymora lebih lanjut.
Kening Gymora sedikit mengkerut, melihat tingkah laku perawat itu yang terasa janggal.
cerita nya seruuu👍