Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Kedua dari Neraka
Dira melihat Ayu yang sedang bersantai diruang tengah. Ditemani berbagai macam cemilan, dengan beberapa kantung cemilan itu tumpah sehingga isinya berserakan diatas lantai yang sudah tersapu bersih oleh Dira tadi pagi.
Dira melangkah pelan, ia menarik nafas berusaha agar emosinya tidak meledak pada Ayu, bahaya jika itu terjadi karena Ayu akan menangis sejadi-jadinya, dan melaporkan pada Arhan seolah Dira yang sudah menjahatinya.
Dira wanita yang memakai dress rumahan yang berwarna maroon itu sudah terlihat cantik pagi ini, sudah wangi bersih dan wajahnya sudah memakai riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat lebih segar. Berbanding terbalik dengan Ayu, wanita yang lebih tua dua tahun diatas Dira itu masih terlihat acak-acakan setelah bangun tidur. Muka bantalnya masih terlihat pada Ayu.
"Kalau tidak bisa bersih-bersih, setidaknya jaga, jangan sampai makanan itu tumpah dan berserakan dilantai. Mbak Ayu sudah dewasa, masa gak bisa mungut makanan sendiri yang jatuh dilantai." Dira berkata dengan suara yang begitu halus, dengan wajah yang masih menampakkan senyum manis.
Ayu yang sadar akan kehadiran Dira disampingnya sontak menatap Dira dengan sorot mata tajam dan lalu beralih pada tatapan meremehkan. "Terserah saya dong Dira, ingat posisiku disini sebagai istri kedua yang sangat disayangi oleh suaminya."
Dira semakin dibuat kesal, lagi-lagi ia harus menghela nafas untuk menetralkan emosinya yang semakin ingin meluap. "Jangan seenaknya gitu dong mbak."
Ayu kembali mendelik ke arah Dira, dengan sekali hentakan Ayu bangkit dari sopa. Langkahnya semakin mendekat ke arah Dira. "Saya butuh istirahat, tidak boleh setres, tidak boleh kecapean sedikitpun, karena saya sedang mengandung benih cinta dari mas Arhan."
Deg.
"Kamu hamil mbak, padahal usia pernikahan kalian baru berjalan dua Minggu. Apa kalian selama ini sudah berzina?" ucap Dira tegas, suaranya memenuhi setiap sudut ruang tengah, bahkan suaranya mengalahkan suara televisi yang sedang menyala.
"He em, kami saling mencintai. Lantas apa yang menjadi penghalang untuk kami melakukan hubungan itu." ucap Ayu santai.
Sementara dibalik pintu kamar, tidak sengaja Bu Rena mendengar percakapan Ayu dan Dira. Hatinya begitu sakit kala mendengar pengakuan dari Ayu, Bu Rena merasa gagal dalam membesarkan putra satu-satunya itu. Arhan yang di didik dengan ajaran agama yang tidak kurang, bahkan Bu Rena pernah memasukan Arhan ke pesantren agar pemahaman agamanya tidak kurang.
Bu Rena menyeka matanya yang mengeluarkan air, ibu mana yang tidak bersedih kala mengetahui bahwa putranya selama ini telah melakukan suatu perbuatan dosa besar.
Bibir Dira seolah terkunci dengan apa yang ia dengan dari mulut Ayu, emosi yang tadinya meluap diatas ubun-ubun kini berubah menjadi rasa sesak yang menghimpit dadanya. Seketika Dira merasa jijik dengan suaminya, adegan panas semalam dengan Arhan seketika membuat perutnya terasa mual.
"Kalian dengan sadar melakukannya?" ucap Dira pelan, dadanya begitu sesak. Bibirnya bergetar, serta air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Tentu saja, kami secara sadar melakukannya. Karena kami percaya, kami akan menikah setelah mas Arhan naik jabatan menjadi direktur diperusahaan nya, dan itu kini semua sudah terjadi. Ayu Pratiwi telah sah menjadi nyonya dirumah ini, bahkan semua gaji mas Arhan saya yang pegang. Jadi kamu Dira, wanita rendahan yang tidak berpendidikan. Kamu jangan macam-macam sama saya, jika kamu macam-macam saya akan memangkas semua uang belanja." Ayu dengan ekspresi wajah penuh kemenangan.
Dira tidak sekuat itu, hatinya sungguh ingin menjerit. Kenyataan pahit yang harus ia terima dirumah yang kini terasa panas. Air mata mulai meleleh dipipi bersih putihnya.
"Dasar...." ucap Dira tegas. Ia menghela nafas kasar.
"Apa?" Ayu dengan tatapan menantang.
"Apalagi kalau bukan Istri kedua dari neraka jahanam, jin dasim yang kerjaannya menggoda suami orang..." Dira dengan sisa tenaga ditubuhnya, sebenarnya kakinya sudah terasa sangat lemas.
"Jangan kurang ajar ya kamu Dira.." sentak Ayu lagi.
Arhan yang sedari tadi menguping dibalik tembok dekat tangga, ia belum berangkat ke kantor karena ada barang yang tertinggal dikamar Dira.
Rahangnya mengeras, ia cukup kesal dengan aib yang selama ini ia tutupi itu dibongkar oleh Ayu.
"Kurang ajar mana mbak sama kamu? yang berhasil merayu suami orang sampai melakukan perbuatan keji."
"Kamu ya...." Ayu menggertakkan giginya. I berjalan dan menarik keras rambut Dira yang tergerai.
"Aww....sakit mbak. Lepaskan!"
"Akan saya lepaskan jika kamu bersujud dan minta maap dibawah kaki Ayu Pratiwi." Ayu makin mengeratkan jambakan pada rambut Dira.
Sangat sakit, bahkan beberapa helai rambut sudah terlepas dari kulit kepala Dira.
"Sakit mbak.."
"Dira!, Ayu! apa yang kalian lakukan." Arhan datang, wajahnya sudah terlihat tegas.
Dengan kedatangan Arhan sontak Ayu melepaskan jambakan tangannya dari rambut Dira.
Dira hanya bisa meringis, sambil merasakan denyutan nyeri pada kulit kepalanya wajahnya memerah akibat menahan rasa sakit.
"Mas, Dira tadi nyakitin hati aku. Katanya aku istri kedua dari neraka, terus ngatain aku jika dasim." ucap Ayu dengan suara yang dibuat manja.
Tatapan tajam Arhan sontak beralih pada Dira.
"Ra, tolong jangan buat ayu setres. Ayu lagi hamil muda." pengakuan dari Arhan, kini terasa lebih menyakitkan di hati Dira.
Kini Arhan merangkul pundak Ayu, mengajaknya untuk beristirahat diatas. Sementara Dira, hanya bisa terduduk dilantai dengan rasa sakit yang kian menusuk secara perlahan didalam hatinya.
Ya Allah sakit sekali rasanya, tolong lebarkan jalan keluar ya Allah. Aku memang tidak punya siapa-siapa lagi disini, tapi tolong ya Allah Dira ingin terbebas dari belenggu rumah tangga yang menyakitkan seperti ini.