NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35- Ketegangan di Meja Makan

Malam semakin larut, dan jamuan makan malam di ruang makan utama keluarga Bramantyo berlangsung dengan kemegahan yang kaku.

Meja panjang dari kayu mahoni mahal itu dipenuhi dengan hidangan kelas atas, mulai dari wagyu steak dengan saus khusus hingga anggur tahun tua yang dituangkan dengan anggun oleh para pelayan.

Bramantyo duduk di ujung meja sebagai kepala keluarga dan memimpin pembicaraan dengan suara beratnya yang berwibawa. Di sisi kanannya, Bara dan Alena duduk berdampingan, sementara di sisi kirinya, Sofia dan Mico berhadapan langsung dengan mereka.

Di sepanjang acara makan malam, suasana ruangan tersebut terasa terbelah. Di satu sisi, Bramantyo terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan hangat seputar rencana masa depan Bara dan Alena. Di sisi lain, ada sepasang mata yang tidak pernah benar-benar fokus pada makanannya.

Dialah Mico. Pria muda itu terus-menerus mencuri pandang ke arah Alena. Setiap kali Alena mengangkat garpu, menyesap air putih, atau sekadar tersenyum menanggapi ucapan Bramantyo, mata Mico selalu bergerak mengintai.

Tatapannya begitu intens, dipenuhi dengan rasa penasaran yang lancang saat melihat Alena tampak begitu memikat dan tak tersentuh di samping kakak tirinya.

Namun, Bara bukanlah pria yang buta. Instingnya sebagai seorang suami, ia langsung menangkap gelagat tidak beres dari Mico.

Rahang tegap Bara pun sempat mengeras sekilas setiap kali menyadari mata adik tirinya itu bergulir ke arah Alena. Tangannya di bawah meja pun sempat mengepal kuat.

Namun, Bara hanya menahan diri, karena ia melihat bagaimana wajah ayahnya, Bramantyo, begitu bahagia malam ini. Ayahnya tampak sangat bangga melihat keluarga ini berkumpul utuh tanpa ada pertengkaran.

Bara tidak ingin merusak suasana malam pertama kunjungan mereka, dan yang terpenting, ia ingin menjaga perasaan ayahnya yang sudah merencanakan malam ini dengan matang.

Oleh karena itu, Bara memilih jalan yang paling bijaksana. Ia menekan egonya, tetap bersikap tenang, penurut, dan tidak banyak membantah saat ayahnya memberikan petuah-petuah pernikahan.

Namun, meski begitu, perlindungan dan perhatian Bara pada Alena tidak pernah kendur. Secara berkala, Bara akan memotong daging steak di piring Alena dan menukarnya dengan piringnya sendiri agar Alena tidak kesulitan.

Selanjutnya, saat Mico mencoba melempar pandangan tajam, Bara sengaja memiringkan tubuhnya sedikit untuk memblokir sudut pandang Mico menggunakan bahunya yang tegap, yang secara efektif menjadi perisai yang melindungi istrinya.

"Bara, setelah ini Ayah ingin kamu mulai memegang proyek pengembangan di wilayah barat. Alena juga bisa mulai kau kenalkan dengan lingkungan yayasan keluarga," ujar Bramantyo sambil menyeka bibirnya dengan serbet kain.

"Baik, Ayah. Saya akan mengatur jadwal untuk mempelajari draf proyeknya besok pagi," jawab Bara dengan nada hormat dan patuh, menunjukkan sikapnya sebagai putra yang andal.

Melihat sikap Bara yang begitu protektif dan patuh, Sofia yang duduk di sebelah Mico pun tersenyum sinis.

Ia lalu menyenggol kaki putranya di bawah meja untuk memberi kode agar Mico tidak terlalu kentara dalam menunjukkan ketertarikannya yang bisa memicu kemarahan Bramantyo.

"Ekhem!" Sofia kemudian berdehem dan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada menyindir. "Mas Bram, jangan terlalu cepat memberikan tugas berat pada Alena. Bagaimanapun, Alena kan terbiasa di toko bunga yang tenang. Lingkungan yayasan kita diisi oleh istri-istri pejabat tinggi dan konglomerat. Takutnya, Alena nanti malah merasa tertekan karena belum terbiasa dengan pergaulan kelas atas."

Mendengar sindiran halus ibunya, Mico meletakkan gelasnya dan ikut menyahut dengan senyuman miring. "Ibu benar. Tapi aku rasa Kakak Ipar punya mental yang kuat. Bukankah begitu, Kak Alena? Kalau nanti Kak Alena butuh bantuan untuk mengenali lingkungan luar, aku dengan senang hati bersedia menemani. Lagipula, aku punya banyak waktu luang minggu ini."

Tawaran Mico yang terdengar penuh maksud tersembunyi itu membuat suhu di sekitar meja makan mendadak turun beberapa derajat.

Bara menatap Mico dengan pandangan sedingin es, tangannya yang memegang pisau makan tampak mencengkeram lebih erat.

Namun, sebelum Bara sempat membalas untuk melindungi istrinya, Alena sudah lebih dulu merespons.

Alena meletakkan sendoknya dengan ketukan yang sangat pelan namun terdengar jelas. Ia menatap Mico, lalu beralih pada Sofia.

Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa tersinggung. Sebaliknya, senyuman manis nan anggun tengah terukir di bibirnya.

"Terima kasih atas perhatian Tante Sofia dan tawaran dari Mico," ucap Alena, suaranya begitu lembut namun juga terdengar tegas. "Tapi kalian tidak perlu khawatir. Saya rasa saya tidak akan kesulitan. Dan untuk urusan bimbingan, saya sudah memiliki Bara. Suami saya jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, dan saya hanya akan melangkah jika Bara yang berada di samping saya."

Jawaban Alena yang menekankan kata "Suami saya" dan "hanya bersama Bara" seketika menampar harga diri Mico. Senyum miring di wajah Mico pun seketika memudar, berganti dengan kekesalan yang tertahan di matanya.

Sementara itu, Bramantyo yang mendengar jawaban Alena langsung mengangguk setuju sambil tertawa kecil. "Benar kata Alena. Suaminya adalah pembimbing terbaiknya. Mico, urus saja proyek tokomu sendiri, tidak perlu ikut campur urusan kakakmu."

"Baik, Ayah," jawab Mico, seraya menahan geram dalam hatinya sambil melirik Alena yang kini kembali bersandar dengan tenang di dekat bahu tegap Bara.

Bara yang melihat kemenangan kecil istrinya itu diam-diam mengulurkan tangan di bawah meja dan menggenggam jemari Alena dengan erat dan penuh rasa terima kasih.

Alena pun membalas genggaman itu dan memberikan usapan lembut di punggung tangan Bara. Hingga beberapa saat kemudian acara makan malam pun selesai.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!