Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
[ Hari Eksekusi ]
Dua minggu berlalu sejak vonis dijatuhkan.
Permohonan banding yang diajukan pengacara Vincent ditolak. Bukti-bukti baru yang dikumpulkan Zhava masih dianggap belum cukup untuk membatalkan putusan. Tanggal eksekusi akhirnya ditetapkan.
Tiga hari lagi.
Kabar itu membuat Zhava seperti kehilangan seluruh tenaganya. Selama dua minggu terakhir ia hampir tidak pernah tidur. Setiap hari ia berpindah dari satu kota ke kota lain, mencari jejak Leon Ardian. Namun pria itu seolah menghilang dari muka bumi.
Semua jalan buntu.
Semua saksi memilih diam.
Semua petunjuk berhenti di tempat yang sama.
Zhava mulai merasa waktu sedang mempermainkannya.
Malam itu, Damian datang menemui Zhava dengan napas terengah-engah.
"Aku menemukannya."
Zhava langsung berdiri.
"Apa?"
"Leon."
"Di mana?"
Damian menyerahkan secarik kertas.
"Sebuah gudang tua di pelabuhan timur."
Zhava segera mengambil jaketnya.
"Kita berangkat sekarang."
Damian langsung menggeleng.
"Tidak."
Zhava menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Karena Bos melarangku."
"Vincent?"
Damian mengangguk.
"Kalau aku memberitahumu lokasi ini..."
"...aku harus ikut."
Zhava menarik napas panjang.
"Baik."
Malam itu mereka berdua berangkat menuju pelabuhan.
Gudang itu tampak kosong dari luar.
Namun saat mereka masuk, suara langkah kaki langsung terdengar dari segala arah.
Puluhan pria bersenjata keluar dari balik peti-peti kontainer.
Zhava langsung mengeluarkan pistolnya.
"Polisi! Jangan bergerak!"
Suara tawa menggema memenuhi gudang.
Seorang pria berjas hitam melangkah keluar dari kegelapan.
Usianya sekitar empat puluh tahun.
Tatapannya tajam.
Senyumnya dingin.
"Akhirnya..."
"...aku bertemu dengan polisi yang membuat Vincent jatuh cinta."
Zhava langsung mengarahkan pistolnya.
"Kau Leon Ardian?"
Pria itu bertepuk tangan pelan.
"Cerdas."
Damian mengepalkan tangannya.
"Dasar pengecut."
Leon hanya tertawa.
"Pengecut?"
"Aku hanya pandai memanfaatkan orang."
Ia melangkah semakin dekat.
"Termasuk Vincent."
Zhava mengernyit.
"Maksudmu?"
Leon tersenyum tipis.
"Selama bertahun-tahun..."
"...semua kejahatan terbesarku selalu kubiarkan memakai nama Black Raven."
Jantung Zhava serasa berhenti.
"Mustahil..."
"Vincent terlalu sibuk melindungi wilayahnya."
"Dan polisi terlalu sibuk mengejarnya."
"Tak ada yang sadar kalau dalang sebenarnya adalah aku."
Damian langsung berteriak.
"Bohong!"
Leon hanya terkekeh.
"Bohong?"
Ia menjentikkan jarinya.
Salah satu anak buahnya melempar sebuah map ke arah Zhava.
Zhava membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat dokumen transaksi senjata.
Seluruhnya.
Ditandatangani oleh Leon.
Bukan Vincent.
Zhava membalik halaman demi halaman.
Semakin ia membaca...
Semakin wajahnya memucat.
Sebagian besar pembantaian yang membuat Vincent dijatuhi hukuman mati...
Ternyata dilakukan oleh kelompok Leon.
"Kenapa..." bisiknya.
Leon mendekat sambil tersenyum.
"Karena Vincent terlalu bodoh."
"Dia selalu mencoba menghentikanku."
"Tapi dia tidak pernah sadar..."
"...selama polisi mengejarnya..."
"...aku bebas melakukan apa saja."
Air mata Zhava mulai menggenang.
"Vincent tahu semua ini?"
Leon mengangguk santai.
"Tentu."
"Lalu kenapa dia diam?"
Leon tertawa kecil.
"Karena kalau dia membuka mulut..."
"...seluruh anak buahnya akan kubantai."
Zhava membeku.
Jadi...
Selama ini Vincent memilih memikul semua tuduhan sendirian.
"Sayang sekali..."
Leon mengeluarkan sebuah jam saku dari sakunya.
Ia melihat waktu sambil tersenyum.
"Eksekusi Vincent tinggal dua hari lagi."
Zhava mengepalkan pistolnya.
"Aku akan membawa semua bukti ini."
Leon menggeleng pelan.
"Sayangnya..."
"...kau tidak akan sempat."
Dor!
Suara tembakan memecah gudang.
Zhava refleks menghindar.
Baku tembak pun tak terelakkan.
Damian menarik Zhava berlindung di balik kontainer.
"Pergi!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu!"
"Kau harus membawa bukti itu!"
Peluru terus menghujani mereka.
Zhava menggenggam map itu erat di dadanya.
Ia sadar...
Dokumen ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan Vincent.
Namun di saat yang sama...
Leon masih berdiri sambil tersenyum dari kejauhan.
"Larilah, Letnan."
"Tapi ingat..."
"...kalau kau berhasil menyelamatkan Vincent..."
"...aku akan memastikan kaulah yang kehilangan orang yang paling kau cintai."
Zhava menatap pria itu dengan penuh kemarahan.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi polisi...
Ia tidak lagi hanya mengejar seorang penjahat.
Ia sedang berpacu dengan waktu...
untuk menyelamatkan pria yang dulu ia borgol dengan tangannya sendiri.
Sementara di sel tahanannya, Vincent menatap langit malam melalui jendela kecil.
Ia tidak tahu bahwa wanita yang dicintainya sedang mempertaruhkan nyawanya demi mencari kebenaran.
Ia hanya memejamkan mata, lalu berbisik pelan,
"Semoga... di kehidupan berikutnya..."
"Kita tidak dipertemukan sebagai polisi dan mafia." 💔