Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 - Panggil Aku Tante
Syukuran di rumah Pak Hendra dibuat sederhana, tapi tetap terasa lebih rapi daripada acara lamaran di rumah Pak Darto.
Tidak ada tenda besar. Hanya ruang tengah dibersihkan, karpet digelar, meja prasmanan kecil di teras, dan beberapa kerabat dekat datang membawa doa. Nasi kuning, ayam ungkep, sambal goreng kentang, urap, dan kue-kue basah tersusun dalam wadah kaca. Tidak mewah, tapi cukup.
Nadia duduk di samping Raka.
Untuk pertama kalinya, ia masuk rumah utama keluarga Wiratmaja bukan sebagai calon menantu Arman, melainkan istri sah Raka.
Perubahan itu terasa di setiap tatapan.
Pak Hendra memperkenalkannya kepada beberapa kerabat.
"Ini Nadia, istri Raka."
Bukan calon Arman.
Bukan perempuan yang hampir dipermalukan.
Istri Raka.
Nadia menerima salam satu per satu. Tante Mira tetap di dekatnya, membantu menyebutkan nama kerabat yang terlalu banyak. Bu Lilis sibuk di dapur, wajahnya masih kaku, tapi ia tidak berani menunjukkan penolakan terang-terangan di depan tamu.
Arman datang terlambat.
Ia masuk bersama Bella dan Bu Ratna. Bella memakai gamis warna krem, cukup rapi untuk terlihat pantas, cukup sederhana agar tidak dituduh ingin menyaingi pengantin. Arman memakai batik gelap. Wajahnya masam.
Begitu melihat Nadia duduk di samping Raka, langkah Arman melambat.
Pak Hendra menatapnya.
"Arman."
Arman mencium tangan ayahnya, lalu Bu Lilis. Setelah itu ia berdiri canggung.
Tante Mira, mungkin sengaja, berkata dengan suara ramah.
"Arman, sudah salaman dengan Om Raka dan Tante Nadia?"
Ruang tengah mendadak sedikit lebih hening.
Nadia menunduk mengambil gelas teh.
Bella membeku.
Arman menatap Tante Mira seperti tidak percaya. Tapi beberapa kerabat sudah melihat. Ia tidak bisa pura-pura tidak dengar.
Raka duduk tenang.
Nadia hampir kasihan.
Hampir.
Arman melangkah mendekat. Ia menyalami Raka lebih dulu.
"Selamat, Om."
"Terima kasih."
Lalu tangan Nadia terulur.
Arman menatap tangan itu.
Di kehidupan lalu, tangan itu pernah ia genggam saat akad. Lalu ia gunakan untuk menarik, mendorong, dan menekan Nadia agar patuh. Sekarang tangan itu memiliki cincin Raka.
Arman menelan ludah.
"Selamat."
Nadia tersenyum lembut.
"Terima kasih, Arman."
Tante Mira berdeham.
Pak Hendra menatap anaknya.
Bu Lilis pura-pura sibuk menuang air.
Raka menatap Nadia sekilas, tidak membantu, tapi matanya jelas tahu apa yang sedang terjadi.
Nadia memperbaiki kalimatnya.
"Maksudku, terima kasih, Mas Arman. Ah, salah lagi. Sekarang harus bagaimana, ya?"
Beberapa kerabat menahan senyum.
Wajah Arman memerah.
Raka akhirnya berkata, "Panggil Tante Nadia saja. Lebih jelas."
Arman seperti ditampar.
Bella menggenggam ujung tasnya.
Tante Mira langsung menyambung dengan nada ringan.
"Iya, supaya tidak bingung. Arman, Bella, mulai sekarang Nadia itu tante kalian."
Bella hampir tidak bisa bernapas.
Tante.
Ia yang semalam mengira Nadia akan menangis kehilangan Arman, kini harus memanggil Nadia dengan sebutan yang lebih tinggi.
Arman mengeluarkan suara dari sela gigi.
"Selamat, Tante Nadia."
Nadia tersenyum.
"Terima kasih, keponakan."
Sari yang duduk tidak jauh langsung menunduk, bahunya gemetar. Joko pura-pura minum. Rani tidak mengerti, tapi ikut tertawa kecil melihat ibunya tertawa.
Pak Hendra menutup situasi dengan mengajak Arman duduk.
Bella masih berdiri.
Nadia menatapnya.
"Bella, kamu tidak mau memberi selamat?"
Bella tersentak.
Semua mata beralih kepadanya.
Bu Ratna menatap putrinya dengan peringatan halus.
Bella memaksa senyum.
"Selamat, Tante Nadia."
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Apa?"
Bella mengangkat wajah. Matanya basah.
"Selamat, Tante Nadia."
Nadia mengangguk.
"Terima kasih. Semoga kamu dan Mas Arman segera menyusul."
Bella duduk dengan wajah pucat.
Arman tidak menatapnya.
Syukuran berjalan dengan doa pendek. Setelah itu orang-orang makan. Nadia membantu mengambil makanan untuk Raka karena ia melihat suaminya mulai batuk kecil. Raka berusaha menolak.
"Saya bisa sendiri."
"Aku tahu. Tapi piringnya di sana, tamunya banyak, dan aku sedang ingin mengambilkan."
"Kalau begitu saya terima."
Percakapan kecil itu diperhatikan Bella.
Ia melihat Raka menunggu Nadia duduk sebelum mulai makan. Melihat Nadia menaruh sambal sedikit karena Raka tidak boleh terlalu pedas. Melihat Raka memindahkan gelas agar Nadia tidak menyenggolnya.
Hal-hal kecil.
Tapi justru hal-hal kecil itu yang membuat Bella gelisah.
Arman duduk di sampingnya, makan cepat tanpa bertanya apakah Bella sudah mengambil lauk. Ketika Bella berbisik meminta air, Arman berkata, "Ambil sendiri, tanganmu ada."
Bella terdiam.
Bu Ratna melihatnya dari jauh, tapi tidak bisa membantu.
Nadia melihat juga.
Ia tidak merasa kasihan.
Belum.
Karena Bella baru mencicipi ujung sendok dari hidangan yang dulu dipaksa Nadia makan bertahun-tahun.
Setelah makan, Pak Hendra memanggil Arman dan Bella ke ruang samping. Nadia tidak ikut, tapi pintunya tidak tertutup rapat. Suara Pak Hendra terdengar jelas.
"Saya sudah bicara dengan Pak Darto. Lamaran resmi kalian dilakukan tiga hari lagi. Akad dua minggu setelah itu."
Bella bersuara cepat, "Pak, tidak bisa lebih cepat?"
"Tidak."
Arman berkata, "Ayah, aku masih ingin daftar seleksi bulan depan."
"Kamu pikir setelah kejadian ini, fokusmu masih ke sana?"
"Justru kalau aku diterima, semuanya selesai."
Pak Hendra tertawa pendek.
"Tidak. Kalau kamu diterima karena saya memaksa orang menutup matanya, kamu tidak belajar apa-apa."
Arman marah.
"Jadi Ayah mau menghukumku?"
"Saya mau kamu bertanggung jawab."
Bella berkata pelan, "Saya tidak keberatan hidup sederhana dulu."
Arman menoleh cepat, seolah tidak senang Bella ikut bicara.
"Kamu tidak tahu apa-apa."
Bella terdiam.
Pak Hendra melihat mereka berdua.
"Bagus. Mulailah saling mengenal tanpa drama cinta."
Di ruang tengah, Nadia menyesap teh.
Raka duduk di sampingnya.
"Kamu mendengar?"
"Pintunya terbuka."
"Kamu sengaja duduk di sini?"
"Kursinya nyaman."
Raka menatapnya.
Nadia menoleh, tersenyum kecil.
"Baik. Sedikit sengaja."
Raka menggeleng pelan, tapi tidak menegur.
Menjelang sore, tamu mulai pulang. Pak Hendra mengumumkan bahwa Raka dan Nadia akan langsung menempati rumah kecil Raka. Bu Lilis tampak ingin membantah, tapi Pak Hendra menatapnya lebih dulu.
"Itu keputusan mereka."
Bu Lilis menutup mulut.
Nadia menghormatinya dengan mencium tangan sebelum pergi.
Bu Lilis berkata pelan, "Jaga Raka."
"Saya akan menjaganya. Tapi Mas Raka juga akan menjaga dirinya sendiri."
Bu Lilis menatapnya.
Mungkin ia ingin marah. Mungkin ia ingin menangis. Akhirnya ia hanya mengangguk.
Saat Nadia dan Raka berjalan ke mobil, Arman berdiri di teras.
"Tante Nadia."
Nadia berhenti.
"Ya, Mas Arman?"
Arman menatap Raka, lalu Nadia.
"Semoga bahagia."
Nadanya tidak tulus.
Nadia tidak peduli.
"Terima kasih. Kamu juga. Aku benar-benar berharap kamu dan Bella tidak saling melepaskan."
Arman mengerutkan kening.
Lagi-lagi doa itu.
Sebelum ia sempat menjawab, Raka membukakan pintu mobil untuk Nadia.
Nadia masuk.
Di kaca spion, ia melihat Bella berdiri di samping Arman. Perempuan itu menatapnya seperti orang yang baru sadar permainan yang ia menangkan punya aturan yang berbeda dari bayangannya.
Nadia memalingkan wajah.
Hari ini, ia tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mereka.
Ia punya rumah baru untuk dimasuki.
Dan untuk pertama kalinya, pintu itu bukan menuju penjara.
Di dalam mobil, Raka tidak langsung menyalakan mesin. Ia menunggu Nadia merapikan ujung kerudungnya, lalu bertanya pelan, "Terlalu berat?"
"Apa?"
"Dipanggil Tante oleh orang yang dulu hampir menjadi suamimu."
Nadia menatap halaman rumah utama. Arman masih berdiri di teras, pura-pura tidak melihat ke arah mereka. Bella di sampingnya tampak seperti seseorang yang baru menelan obat pahit.
"Tidak berat," jawab Nadia. "Aneh, iya. Tapi tidak berat."
"Kalau suatu saat kamu merasa tidak nyaman menghadapi mereka, kita bisa mengurangi pertemuan."
Nadia menoleh kepadanya.
"Mas Raka tidak akan menyuruhku menjaga hubungan keluarga apa pun yang terjadi?"
"Hubungan keluarga yang hanya hidup kalau satu orang terus diinjak bukan hubungan. Itu kebiasaan buruk."
Nadia diam beberapa detik.
Lalu ia tersenyum.
"Kalau begitu, ayo pulang."
Raka menyalakan mesin.
Kata pulang keluar begitu saja dari mulut Nadia. Ia baru sadar setelah mengucapkannya. Anehnya, ia tidak ingin menarik kata itu kembali.
Tidak lagi.
Tidak malam ini.
🤣🤣🤣