NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Terakhir Di Swiss.

Ini hari terakhir liburan Hwi-sol dan Seolhwa di negara yang dijuluki Surga Dunia atau Negeri Seribu Danau dan Pegunungan karena pesona alamnya yang memukau.

Beberapa jam sebelum keberangkatan ke bandara, Hwi-sol mengajak Seolhwa ke Arboretum Zürich.

Taman tepi danau yang selalu ramai oleh warga berjalan santai sambil menikmati sapuan angin Danau Zürich.

Tampaknya Hwi-sol sudah menyiapkan kejutan sejak awal hingga akhir, hanya untuk melihat Seolhwa bahagia.

“Tutup matamu dulu, ya,” ucap oppa pelan sambil menyelipkan sehelai kain lembut ke mataku.

“Ada apa sih, oppa? Kita mau ke mana?” tanyaku bingung, langkahku mengikutinya ragu.

“Sudah, ikut saja. Pasti kamu akan suka,” sahutnya sambil menuntun tanganku masuk ke dalam mobil.

Sesampainya di sana, Hwi-sol membuka penutup mata itu perlahan. Jemarinya sengaja berlama-lama di pelipisku, seolah menunda detik yang paling ia nanti.

“Jangan buka mata sebelum hitungan ketiga, ya,” bisiknya di dekat telingaku, hangat.

“Satu... dua... tiga.”

Mataku terbuka.

Udara sore menyapu wajahku, membawa wangi rumput yang baru dipangkas. Di hadapanku terbentang taman yang rapi, dipenuhi bunga-bunga berwarna warni yang bergoyang pelan diterpa angin. Dan di ujungnya, Danau Zürich berkilau bagai cermin raksasa, memantulkan langit jingga yang mulai meredup.

Untuk sesaat aku lupa bernapas. Ternyata, kejutan terakhirnya jauh lebih indah dari yang kubayangkan.

“Apa kamu suka?” tanya Hwi-sol oppa. Suaranya rendah, tapi matanya menatap wajahku seolah mencari jawaban yang lebih jujur dari sekadar kata.

“Sangat! Oppa kan tahu aku sangat menyukai taman bunga dengan danau di sekelilingnya,” sahutku, semangatku bocor sampai ke ujung senyum.

Setelah itu, Hwi-sol mengambil perlengkapan piknik dari dalam mobil. Tangannya cekatan. Ia menggelar sehelai kain kotak-kotak yang cukup untuk diduduki berdua. Lalu satu per satu ia mengeluarkan roti, buah anggur, dan sebotol jus dingin untuk dinikmati bersama Seolhwa.

“Ayo duduk...” ajak oppa, jemarinya hangat saat menggenggam tanganku dan menuntunku turun ke atas kain.

Sesaat setelah aku duduk, oppa pun bersandar ke sampingku. Tak kusangka, yang ia lakukan adalah berbaring, meletakkan kepalanya di pangkuanku. Ia membuka buku bersampul biru tua,buku yang belum lama ia beli di Seoul. Suara lembar kertasnya berdesir pelan, berpadu dengan riak air Danau Zürich.

Aku tersenyum tipis. Dari atas, aku bisa melihat jelas wajah kakakku,yang ternyata bukan kakak kandungku. Garis hidungnya mancung, bibirnya merah muda pucat, dan bulu matanya panjang setiap kali ia berkedip membaca. Dadaku sesak tanpa sebab.

Kubelai helai demi helai rambut hitamnya. Halus. Dingin. Beraroma sampo kayu cedar yang selalu ia pakai sejak kecil.

Jika aku bertemu oppa bukan dalam status kakak adik... apakah aku juga akan jatuh cinta padanya seperti aku jatuh cinta pada Eun-dam?

Pertanyaan itu menusuk, tapi aku buru-buru mengusirnya. Salah. Ini salah.

Lamunanku buyar saat dada oppa bergerak naik-turun lebih cepat. Ia bangkit dari pangkuanku, mengucek matanya yang sembab karena membaca terlalu lama.

“Ini hari terakhir kita di Swiss. Oppa harap kamu bisa mengenang perjalanan ini dengan ingatan yang membuatmu bahagia, ya...” ujarnya. Matanya menoleh, menatapku dalam. Ada sesuatu yang ia tahan di balik tatapan itu sesuatu yang berat.

“Semua hal yang pernah aku lewati sejak kecil bersama oppa, eomma, dan appa akan selalu kujadikan kenangan manis yang tak akan bisa kutukar dengan apa pun,” jawabku. Aku membalas tatapannya, meski ujung mataku perih.

Jauh di lubuk hati Hwi-sol, ia ingin sekali membongkar kebenaran yang selama ini keluarganya kunci rapat dari Seolhwa. Ia ingin mengatakan bahwa kalau ia bukanlah kakak kandungnya.Hwi sol ingin mengakui bahwa rasa yang ia pendam selama beberapa tahun ini bukan lagi sekadar sayang kakak pada adik. Tapi bibirnya terkunci. Ia sadar, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Luka Seolhwa karena kehilangan Eun-dam, cinta pertamanya, masih terlalu baru untuk ditimpa luka lain.

Di tempat lain, Tuan Seok bersama anak-anak buahnya, kecuali Eun Dam tengah menyusun rencana untuk menculik dan menghabisi Seolhwa.

Ya, Seolhwa adalah satu-satunya kelemahan yang dimiliki Hwi Sol dan Eun Dam.

Tuan Seok tahu bahwa jika Seolhwa berada dalam genggamannya, dua pria yang begitu mencintai wanita itu pasti akan menuruti setiap keinginannya. Keserakahan telah membutakan mata dan nuraninya. Baginya, Seolhwa hanyalah alat untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Ia tidak pernah ingin melihat Eun Dam hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya. Selama ini, Tuan Seok selalu berusaha mengendalikan hidup pria itu sesuai kehendaknya. Jika rencananya berhasil dan Seolhwa menjadi tawanannya, ia dapat memanfaatkannya untuk menekan Hwi Sol. Apa pun akan ia minta sebagai imbalan demi keselamatan adik semata wayang pria tersebut.

Sementara itu, Eun Dam sama sekali tidak mengetahui rencana busuk yang sedang disusun di belakangnya. Jika ia sampai mengetahuinya, amarahnya pasti akan meledak. Ia tidak akan ragu melawan Tuan Seok maupun seluruh anak buahnya.

Apa pun akan ia lakukan untuk melindungi Seolhwa.

Karena jauh di lubuk hatinya, Eun Dam sadar bahwa semua kekacauan ini bermula dari kesalahannya sendiri di masa lalu.

***

Seolhwa dan Hwi Sol kini telah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Seoul. Tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas.

Seolhwa menyandarkan kepalanya pada kursi sambil memandangi hamparan awan di balik jendela. Ia benar-benar menikmati liburan yang dihabiskannya bersama Hwi Sol. Namun, jauh di dalam hatinya, masih ada satu nama yang terus mengisi setiap sudut pikirannya.

Eun Dam.

Selama penerbangan, ia lebih banyak terdiam dan larut dalam lamunannya. Seolhwa tidak mengerti mengapa pria itu terus menjauhinya. Padahal, ia yakin perasaan yang dimiliki Eun Dam tidak berbeda dengan perasaannya sendiri.

"Tunggu aku, Eun Dam. Aku akan datang menemuimu. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dariku. Aku merindukanmu..." gumamnya pelan sambil menatap langit malam di luar jendela.

Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Seoul tepat pukul sepuluh malam.

Begitu tiba di rumah, rasa lelah akibat perjalanan panjang langsung terasa.

"Terima kasih untuk liburan yang menyenangkan ini, Oppa!" ucap Seolhwa dengan senyum cerah.

Tanpa menunggu jawaban, ia berlari kecil menuju kamarnya sambil menyeret koper.

Hwi Sol hanya tersenyum melihat tingkah adik kesayangannya itu. Bagi pria tersebut, kebahagiaan Seolhwa selalu menjadi hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Setelah memastikan Seolhwa masuk ke kamarnya, Hwi Sol berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia meletakkan koper di sudut ruangan, lalu bergegas mandi dan beristirahat.

Malam itu, rumah mereka kembali dipenuhi keheningan. Namun, di balik keheningan tersebut, masing-masing menyimpan pikiran yang berbeda. Hwi Sol memikirkan cara menjaga kebahagiaan Seolhwa, sementara Seolhwa hanya memikirkan satu orang yang terus dirindukannya.

Eun Dam.

***

Pagi itu begitu cerah. Matahari telah bersinar hangat, menyelimuti kota dengan cahaya keemasannya.

Begitu melangkah masuk ke toko, aroma harum banana cake yang baru saja keluar dari oven langsung menyambut indera penciumanku. Senyumku pun mengembang tanpa sadar.

"Selamat pagi, semuanya!" sapaku kepada para karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

"Selamat pagi juga, Nona Seolhwa!" sahut mereka serempak dengan penuh semangat.

Aku tertawa kecil melihat antusiasme mereka.

"Bos kalian yang cantik ini sudah pulang, lho." Aku mengangkat beberapa kantong belanja yang kubawa. "Dan coba lihat apa yang kubawa dari Swiss."

Mata mereka langsung berbinar penasaran.

"Wah, oleh-oleh!"

"Terima kasih, Nona!"

Suasana toko yang sejak tadi ramai mendadak dipenuhi sorak gembira. Aku hanya bisa tersenyum melihat reaksi mereka. Rasanya menyenangkan bisa kembali ke tempat ini setelah beberapa hari pergi dan membagikan sedikit kebahagiaan kepada orang-orang yang setiap hari bekerja bersamaku.

Tanpa sepengetahuan Seolhwa, di seberang jalan, tepat di luar toko, seseorang tengah memandanginya dari kejauhan.

Eun Dam berdiri diam dengan kedua tangan tersimpan di saku mantel. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok wanita yang selama ini memenuhi pikirannya.

Dari balik kaca toko, ia melihat Seolhwa tertawa bersama para karyawannya. Senyum cerah yang begitu dirindukannya kini kembali menghiasi wajah wanita itu.

Sudut bibir Eun Dam terangkat membentuk senyum tipis. Namun, matanya justru tampak berkaca-kaca.

"Seolhwa..." gumamnya lirih.

Tatapannya melembut, seolah sedang mengabadikan setiap detik yang dilihatnya.

"Senyum itu..." Ia menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak di dadanya. "Senyum yang selalu kurindukan."

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Begitu banyak penyesalan yang ingin ia ungkapkan. Namun, untuk saat ini, melihat Seolhwa tersenyum dan baik-baik saja sudah lebih dari cukup baginya.

Meski hanya dari kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!