Eve terpaksa menerima permintaan Erina, kakak sekaligus keluarga satu-satunya, untuk menikah dengan Adam, kakak iparnya.
Erina kritis setelah kecelakaan mobil menimpanya saat berniat menyusul Eve yang dikabarkan terpisah dari rombongan kegiatan outbond teman-teman kampusnya.
Adam pun terpaksa menerima permintaan terakhir istrinya untuk menjaga Eve yang tinggal sebatang kara kalau Erina sampai meninggal.
Adam berniat melampiaskan rasa bencinya pada Eve yang sudah mendarah daging di dalam hatinya sejak 5 tahun yang lalu.
“Dasar perempuan pembawa sial !”
Eve yang mencintai Adam sejak lama tetap bertahan di samping pria itu dan perlahan mulai meruntuhkan benteng pertahanan pria itu.
Di saat Eve mulai menemukan potongan puzzle alasan Adam membencinya, kejadian satu malam
membuat Adam seperti dilempar kembali pada perisitiwa masa lalu yang membuat hidupnya berubah.
Eve pun menyerah dan pergi membawa Lusia, putri Adam dan Erina, saat Adam berusaha meluapkan rasa marahnya dengan membawa wanita lain dalam hidup pernikahan mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karena Mama
“Kita mau kemana ?” tanya Eve dengan nada ketus saat Adam membawanya pergi tanpa Agus, sopir pribadi Adam.
Wajah Eve masih kelihatan kesal karena Adam tidak menyinggung atau memberi penjelasan apapun soal Siska.
“Duduk tenang dan kamu akan tahu begitu kita sampai,” sahut Adam dengan wajah datar.
“Terus tadi ngapain ngobrol lama sama Siska di parkiran ?”
Adam hanya melirik namun tidak mengeluarkan sepatah kata untuk membuat hati Eve tenang.
Kesal dengan sikap suaminya, Eve akhirnya pura-pura tidur sambil bersandar ke jendela. Memaksa Adam bicara malah membuat hatinya tambah emosi.
**
”Eve, bangun !”
Perlahan Eve membuka matanya. Dari pura-pura tidur akhirnya dia benar-benar ketiduran.
“Kita sudah sampai.”
Meskipun tanpa ekspresi, Adam tidak lagi bicara kasar pada Eve bahkan pria itu membangunkannya dengan tepukan halus di bahu.
“Kenapa pulang ke rumah ? Katanya mau ajak aku ketemu seseorang.”
“Iya, orangnya udah nunggu di dalam.”
Adam membuka pintu dan langsung turun. Eve yang masih kesal akhirnya mengikuti Adam masuk ke dalam rumah.
Kedua pelayan yang dipercaya mengurus itu menyapa Adam dan Eve di pintu masuk namun tidak ada tanda-tanda ada orang lain di sana.
“Kita ke atas.”
Eve tidak menyahut hanya mengikuti langkah Adam naik ke lantai 2, tapi kali ini pria itu langsung belok ke kiri menuju ruangan kamar yang letaknya di paling ujung.
Eve pernah masuk ke sana dan hanya ada lemari-lemari buku koleksi Adam, satu meja komputer dan satu kursi kerja, lalu di pojok ruangan hanya ada satu sofa single.
Mata Eve membola saat Adam menyuruhnya masuk dan bertemu dengan 3 orang pria yang sedang bekerja di sana dan seorang wanita yang usianya kira-kira sama dengan Adam.
“Kenalkan ini Gina, designer interior yang membantuku mengerjakan kamar kita. Gin, ini Eve, istriku.”
Eve makin terkesima saat Adam memperkenalkan dirinya sebagai istri pada orang lain.
“Pantas Adam mau yang spesial, ternyata istrinya memang spesial juga. Kenalkan aku Gina, teman Adam dari SMA.”
“Teman Mas Erlan juga ?” tanya Eve sambil membalas jabatan tangan Gina.
“Iya, kamu siapanya Erlan ?” Gina menautkan alisnya sambil menatap Eve dan Adam bergantian.
”Saya adik bungsunya Mas Erlan dan Mbak Erina.”
“Loh jadi kalian….” Gina menunjuk Adam dan Eve dengan satu alis terangkat naik.
“Penting banget membahas begituan ?” gerutu Adam.
“Lebih baik tunjukkan pilihan model tempat tidur dan warna cat pada istriku.”
Gina tersenyum saat melihat sikap Adam yang berbeda pada istri kecilnya ini. Saat Gina membantu Adam mendesign interior rumah ini, pria itu tidak pernah melibatkan istri pertamanya. Memperkenalkan Erina sebagai istrinya pun tidak pernah padahal mereka sempat beberapa kali bertemu.
“Gina !”
“Eh iya… sorry bablas. Istri kamu imut dan menggemaskan, Dam, jadi pingin balik muda lagi,” sahut Gina sambil terkekeh.
Gina mengambil tas kerjanya dan memberikan dua buku katalog pada Eve.
“Berapa umur kamu, Eve ?”
“Gina !”
“Duapuluh dua, Mbak Gina.”
Gina hanya melirik sambil tersenyum saat Adam menegurnya. Mata Adam sudah melotot tapi Gina malah senyum-senyum karena Eve dengan senang hati menjawab pertanyaannya.
“Kamu nggak nyesel nikah sama om duda udah tua dan galak begitu ? Dengan wajah dan fisiik yang imut-imut, aku yakin banyak pria seumur kamu…”
“Gina !”
Gina malah tertawa saat Adam kembali menegurnya, Eve ikut tersenyum sambil mendekati Adam dan memegang lengannya.
“Duda lebih menggoda, Mbak. Lagipula Mas Adam sudah seperti belahan jiwa saya karena kenal dari kecil,” canda Eve sambil melirik suaminya yang diam tanpa ekspresi malah membuang muka ke samping.
Inilah yang membuat aku takut berada di dekatmu, Eve. Pesonamu membuat benteng pertahananku mudah goyah tapi hatiku masih ragu kalau kamu tidak akan menyakiti aku lagi saat cintaku hanya untukmu, batin Adam.
Adam tidak sadar kalau Eve sudah melepaskan pegangannya dan sibuk membuka lembaran buku katalog yang diberikan oleh Gina.
Berbagai macam model kamar set membuat Eve bingung memilihnya. Eve yakin harga perabotan itu lebih dari biaya kuliahnya 1 semester.
“Mas Adam suka model apa ?” tanya Eve meminta pria itu mendekat.
“Terserah kamu aja, makanya aku ajak ketemu langsung sama Gina.”
Eve menunjukkan 3 pilihan yang sudah ditandai oleh Gina. Ketiganya bertema design minimalis dengan warna kayu natural hanya berbeda bentuk dan ornamennya saja.
“Dari 3 ini, Mas Adam suka yang mana ?”
Adam mengamati 3 design yang dipilih Eve dan akhirnya ia menunjuk satu gambar dengan design paling sederhana.
“Ini aja Mbak Gina.” Eve menunjukkan gambar yang dipilih Adam.
“Warna cat ruangan ini ?” tanya Gina menatap pasangan suami istri itu bergantian.
“Terserah Mas Adam aja. Mas Adam lebih tahu selera saya daripada saya sendiri,” sahut Eve sambil terkekeh.
Gina tersenyum melirik Adam yang masih berusaha tenang tanpa ekspresi padahal Gina tahu kalau temannya ini sedang berbunga-bunga.
Eve pamit keluar duluan karena ingin bertemu Bik Asih di dapur. Rasanya kangen juga sudah sepuluh hari meninggalkan rumah yang sudah menjadi bagian hidup Eve.
Sekitar jam 5.45 Adam dan Eve meninggalkan rumah mereka sedangkan Gina dan 3 orang karyawannya sudah duluan pulang.
“Mau makan malam di luar atau di rumah ?”
“Terserah Mas Adam aja.”
Adam meraih handphone dan menghubungi mama Ami, mengabarkan kalau mereka akan makan malam di luar.
“Terima kasih,” ujar Eve saat Adam selesai menelepon.
“Memangnya kamu mau selamanya tinggal di rumah papa dan mama ?”
“Aku sudah jadi istrinya Mas Adam, jadi dimanapun Mas Adam ngajak tinggal, aku nggak keberatan. Lagipula aku udah nggak punya siapa-siapa lagi.”
Adam hanya diam dengan tatapan fokus ke depan.
“Terima kasih karena menyiapkan kamar yang berbeda dan melibatkan aku juga.”
Eve menyentuh jemari Adam yang memegang gigi persneling tapi pria itu hanya menoleh sekilas dan tangannya tidak membalas sentuhan Eve.
“Bukan masalah besar, hanya menggunakan ruangan yang belum terpakai. Tadinya ruangan itu disiapkan untuk kamar Lusi saat dia sudah cukup besar untuk tidur di lantai 2.”
“Apapun alasannya, terima kasih karena Mas Adam mengerti dan tidak memaksaku untuk tidur di kamar pengantin kalian.”
“Jangan ge-er. Semuanya ini karena aku tidak mau ribut sama mama tapi nggak mau juga selamanya tinggal di rumah mereka. Ditambah lagi Lusi sudah menerimamu jadi maminya, akan aneh kalau kita tidur terpisah.”
Eve hanya tersenyum tipis, Adam masih saja gengsi mengakui perasaanya yang mulai mencair.
Tidak lama keduanya masuk ke dalam restoran yang dipilih Adam dan memesan makanan tanpa banyak bicara layaknya pasangan suami istri.
“Aku boleh tanya sesuatu ?” tanya Eve hati-hati.
“Soal apa ? Siska ?”
“Bukan,” Eve menggeleng.
Adam meletakkan handphonenya di atas meja, menunggu Eve melanjutkan kalimatnya dengan posisi bersandar pada kursi dan kedua tangannya melipat di depan dada.
“Mas Adam bilang, tidak ada perempuan lain selain aku yang tidur di ranjang Mas Adam. Lalu dimana Mbak Erina tidur saat menginap di rumah mama ?”
“Apa jawabanku sangat penting untukmu ?”
Adam menghela nafas panjang saat melihat Eve menganggukan kepalanya. Pria itu tidak langsung menjawab hanya menatap Eve lekat.