Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Dinas yang Bikin Heboh
Menjelang makan siang…
Rafael kembali datang ke Mahendra Group.
Begitu melihat Nayla di lobi…
Ia tersenyum ramah.
“Selamat siang.”
“Siang, Pak Rafael.”
“Saya dengar kantor kalian lagi ramai.”
Nayla langsung menutup wajah.
“Jangan dibahas, dong.”
Rafael tertawa.
“Tenang.”
“Saya cuma mau mengajak makan siang.”
“Hah?”
“Sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah membantu.”
Nayla berpikir sejenak.
Sebelum sempat menjawab…
Suara seseorang terdengar dari belakang.
“Nayla.”
Arga berjalan mendekat dengan wajah datar seperti biasa.
“Kita ada rapat.”
Nayla mengernyit.
“Rapat?”
“Iya.”
“Sekarang.”
Dimas yang berada di belakang Arga hampir tersedak.
“Rapat apa?”
“Saya aja nggak tahu.”
Rafael tersenyum sopan.
“Kalau begitu lain kali.”
“Silakan.”
Jawaban Arga singkat.
Setelah Rafael pergi…
Nayla menoleh.
“Pak.”
“Hm?”
“Tadi katanya rapat.”
“Iya.”
“Di mana?”
Arga terdiam.
Dua detik.
Lima detik.
Akhirnya ia berkata pelan,
“Belum jadi.”
Nayla menyilangkan tangan.
“Pak Arga…”
“Iya?”
“Bapak bohong ya?”
“Aku CEO.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku bisa mengubah jadwal.”
Nayla tertawa geli.
“Jadi memang cemburu.”
“Aku tidak cemburu.”
“Iya… iya.”
Nayla sengaja mengangguk panjang.
“Percaya kok.”
Ekspresi jahil di wajahnya membuat Arga menghela napas.
“Kalau kamu terus menggodaku…”
“Kenapa?”
“Nanti menyesal.”
“Emangnya Bapak mau ngapain?”
Arga mendekat satu langkah.
Jarak mereka kini tinggal beberapa puluh sentimeter.
“Aku…”
Belum sempat melanjutkan kalimatnya…
Pintu lift terbuka.
Rina keluar sambil membawa setumpuk map.
Melihat posisi Arga dan Nayla yang begitu dekat, matanya langsung membulat.
“Ehem…”
“Saya datang di waktu yang salah?”
Nayla langsung melompat mundur.
“Nggak!”
“Salah paham!”
Rina mengangguk sambil menahan tawa.
“Iya.”
“Aku percaya.”
“Percaya apanya?”
“Percaya kalau tadi belum ciuman.”
“RINAAA!”
Satu lantai langsung dipenuhi tawa.
Bahkan beberapa karyawan ikut menoleh.
Arga hanya memijat pelipisnya.
Sementara Nayla mengejar Rina sambil membawa map.
“Tunggu kamu!”
“Berani banget ngeledek aku!”
Melihat Nayla berlari sambil mengomel, Arga tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Kantor yang biasanya terasa dingin dan penuh tekanan kini dipenuhi tawa.
Dan tanpa ia sadari…
Penyebab semua perubahan itu hanya satu orang.
Nayla.
Gadis paling berisik, paling berani, sekaligus paling berhasil mengacaukan hidup seorang CEO yang dulu terkenal dingin dan nyebelin.
Keesokan paginya, Nayla datang ke kantor lebih awal dari biasanya.
Ia sengaja berangkat pagi karena masih malu dengan kejadian kemarin. Hampir satu kantor menggoda dirinya dan Arga.
“Semoga hari ini damai…” gumamnya sambil menyeruput kopi.
Sayangnya…
Harapannya langsung pupus.
Begitu memasuki ruang administrasi, Rina langsung menyambutnya dengan senyum lebar.
“Selamat pagi, calon Bu Direktur.”
Nayla memutar bola matanya.
“Pagi-pagi udah cari masalah ya?”
“Bukan aku.”
“Lihat tuh.”
Rina menunjuk papan pengumuman digital.
Di sana terpampang jadwal perjalanan dinas minggu ini.
Perwakilan Mahendra Group:
* Arga Mahendra (CEO)
* Nayla Pratama (Administrasi)
Nayla langsung membelalakkan mata.
“Apa?!”
“Aku?”
Rina mengangguk sambil menahan tawa.
“Katanya cuma dua orang yang berangkat.”
“Kenapa harus aku?”
“Ya tanya sama bosmu.”
Di lantai atas…
Nayla mengetuk pintu ruang CEO.
Tok… tok…
“Masuk.”
Arga sedang membaca beberapa dokumen.
“Pak.”
“Hm?”
“Ini jadwal perjalanan dinas.”
“Iya.”
“Kenapa nama saya?”
Arga menjawab santai.
“Karena kamu yang paling menguasai data proyek.”
“Kan masih ada Pak Dimas.”
“Dimas ada rapat dengan investor.”
Dimas yang kebetulan baru masuk hampir tersedak.
“Lho?”
“Saya nggak ada rapat, Pak…”
Namun melihat tatapan Arga, ia langsung mengerti.
“Oh…”
“Iya.”
“Saya memang sibuk.”
Nayla menatap Dimas dengan curiga.
“Serius?”
“Serius sekali.”
Padahal Dimas baru saja membatalkan rencana liburannya gara-gara sang CEO.
Perjalanan dinas dijadwalkan selama dua hari satu malam ke Bandung untuk bertemu klien besar.
Seluruh kantor langsung heboh.
“Pak Arga sama Mbak Nayla berangkat berdua.”
“Wah…”
“Film romantis dimulai.”
Nayla yang mendengar itu langsung memukul pelan meja.
“Kalian kerja, woy!”
Semua langsung tertawa.
Keesokan paginya…
Mobil hitam milik Arga sudah menunggu di depan kantor.
Nayla datang sambil membawa koper kecil.
“Pagi, Pak.”
“Pagi.”
Dimas membantu memasukkan koper ke bagasi.
“Selamat jalan.”
Nayla masuk ke kursi belakang.
Baru saja pintu ditutup…
Suara Arga terdengar.
“Duduk depan.”
“Hah?”
“Aku bukan sopirmu.”
“Oh…”
Dengan wajah sedikit malu, Nayla pindah ke kursi depan.
Mobil pun melaju meninggalkan Jakarta.
Awalnya perjalanan berlangsung sunyi.
Arga fokus menyetir.
Nayla sibuk melihat pemandangan.
Lima belas menit…
Dua puluh menit…
Setengah jam…
Nayla mulai gelisah.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak kalau nyetir memang sependiam ini?”
“Iya.”
“Bosen.”
“Ya tidur.”
“Nggak ngantuk.”
“Terus?”
“Ajak ngobrol.”
Arga menghela napas pelan.
“Mau ngobrol apa?”
“Misalnya…”
“Bapak waktu kecil nakal nggak?”
“Nggak.”
“Pernah dihukum?”
“Nggak.”
“Pernah bolos sekolah?”
“Nggak.”
“Pernah naksir orang?”
“…”
Arga tidak menjawab.
Nah, sekarang Nayla malah makin penasaran.
“Tuh kan.”
“Yang terakhir pasti pernah.”
“Konsentrasi.”
“Berarti pernah.”
Arga hanya tersenyum tipis sambil tetap melihat jalan.
Tak lama kemudian…
Mobil berhenti di rest area.
“Ayo turun.”
“Mau ngapain?”
“Sarapan.”
Mereka masuk ke sebuah rumah makan.
Begitu duduk…
Pelayan menghampiri.
“Mau pesan apa, Kak?”
Nayla langsung membuka menu.
“Saya nasi goreng.”
“Pak?”
Arga menjawab singkat.
“Sama.”
Pelayan tersenyum.
“Berarti satu pasangan—”
Belum selesai bicara…
Nayla langsung melambaikan tangan.
“Bukan!”
Pelayan langsung salah tingkah.
“Maaf… saya kira suami istri.”
Arga menoleh ke arah Nayla yang wajahnya sudah merah padam.
Entah kenapa…
Ia justru menikmati situasi itu.
Setelah makanan datang…
Nayla langsung makan dengan lahap.
Arga memperhatikannya.
“Kamu lapar?”
“Banget.”
“Makan pelan.”
“Nanti keselek.”
Belum selesai mengucapkan kalimat itu…
“Huk… huk…”
Nayla benar-benar tersedak.
Arga langsung menyodorkan segelas air.
“Makanya.”
Nayla meminum air itu sampai habis.
Setelah napasnya kembali normal, ia mendengus.
“Ini gara-gara Bapak.”
“Salahku?”
“Iya.”
“Bapak ngomongin keselek.”
Arga tertawa kecil.
Tawa yang sangat pelan.
Namun cukup membuat Nayla membeku.
“Pak…”
“Hm?”
“Bapak bisa ketawa?”
Arga langsung kembali memasang wajah datar.
“Tadi bukan ketawa.”
“Itu jelas ketawa.”
“Bukan.”
“Ih… gengsi banget.”
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Beberapa saat kemudian…
Hujan turun sangat deras.
Pandangan mulai kabur.
Arga memperlambat laju mobil.
Karena udara dingin dan suara hujan…
Nayla perlahan tertidur.
Tanpa sadar…
Kepalanya bersandar di bahu Arga.
Arga melirik sekilas.
Ia bisa saja membangunkan Nayla.
Namun melihat gadis itu tidur dengan wajah tenang, ia memilih membiarkannya.
Bahkan ia sengaja mengurangi kecepatan mobil agar perjalanan terasa lebih halus.
Beberapa menit kemudian, ponsel Arga berdering.
Ia buru-buru mengecilkan volume agar Nayla tidak terbangun.
Dimas menelepon.
“Pak, sudah sampai?”
“Belum.”
“Laporan sudah saya kirim.”
“Baik.”
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau boleh jujur…”
“Apa?”
“Saya rasa Ibu Clara benar.”
“Apa maksudmu?”
“Bapak memang sudah jatuh cinta.”
Arga terdiam beberapa detik.
Tatapannya beralih kepada Nayla yang masih tertidur di bahunya.
Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum kecil.
Kali ini…
Ia tidak membantah.
Mobil terus melaju menuju Bandung.
Sementara Nayla sama sekali tidak sadar bahwa sepanjang perjalanan…
Seorang CEO yang terkenal dingin itu rela mengalah demi menjaga tidurnya tetap nyenyak.
Namun mereka tidak tahu…
Sesampainya di hotel nanti, hanya tersisa satu kamar akibat kesalahan reservasi.
Dan kejadian itulah yang akan membuat Nayla dan Arga semakin sering salah tingkah.
jd senam jantung🤧