Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Sementara Romeo terlihat tidak terpengaruh, dia makan dengan tenang dan masih memasang wajah datar nan menakutkan.
Violet malah merasa tertarik dengan kepribadian Romeo yang dingin.
Bahkan dia memasang wajah berbinar dan terus menatap Romeo tanpa henti.
Hal itu tak luput dari tatapan tajam Felix.
Felix merasa hatinya seperti di iris-iris dan itu sangatlah menyakitkan.
Dia teringat, jika dahulu tatapan berbinar yang diberikan oleh Violet hanya ditunjukkan padanya dan sekarang sudah berpindah pada orang lain.
"Dan untuk kamu Violet, nenek akan mengaturkan acara pertunangan mu dengan Romeo," ucap Amarta lagi, hal itu membuat Violet, Romeo dan juga Felix menatap Amarta dengan tatapan begitu dalam dan penuh dengan tanda tanya.
Bahkan suasana langsung berubah hening, suara dentingan sendok pun sekarang agaknya langsung menghilang.
Violet buru-buru menundukkan kepalanya, sementara Romeo mengubah mimik wajahnya menjadi datar.
Dia sama sekali tidak berkomentar.
Selama ini bukankah dia memang selalu menuruti apa yang menjadi permintaan neneknya?
Kalau dipikir-pikir semua permintaan neneknya itu bukanlah hal yang buruk.
Dan Felix.
"Nenek pertunangan itu sama sekali gak bisa dilakukan!" Celetuk Felix dengan nada tidak terima.
Amarta yang sudah tahu latar belakang Violet dan Felix sebelumnya hanya memasang wajah datar.
"Kenapa gak bisa dilakukan?" tanya Amarta dengan nada penuh intimidasi.
Felix menggigit bibir bawahnya, saat dia ingin ...
Ekspresi wajah Felix yang sebelumnya marah langsung berubah cemas.
"Felix kenapa pamanmu gak bisa menikah dengan Violet? Bisa kamu jelaskan alasan yang logis pada nenek buyutmu ini?" Kata Amarta pura-pura tidak tahu tentang hubungan sebelumnya antara Violet dan juga Felix.
Felix malah semakin memasang ekspresi bingung dan cemas, bahkan dia sampai tidak menyadari, kalau Romeo sedang mengajak bicara Violet.
Romeo berkata dengan nada yang begitu rendah, "kamu makan yang banyak. Aku masih membutuhkan banyak bantuanmu, setelah ini kamu ikut ke kamarku."
Violet mendongak, lalu mengangguk-angukan kepalanya.
Romeo yang melihat sekilas rasa takut yang ditunjukkan oleh Violet.
Ia pun melanjutkan ucapannya. "Kamu gak perlu takut, aku dan nenek pasti akan melindungi mu!"
Violet kembali menganggukkan kepalanya, merasa lega karena ucapan Romeo yang terlihat begitu menyakinkan.
Amarta memang sangat menyayangi cicit tunggalnya, karena bagaimana pun juga darahnya mengalir dalam tubuh Felix.
Tapi dia tetap kan berlaku adil pada setiap keturunannya, dan dia juga tidak akan pernah membela kesalahan yang dilakukan oleh Felix.
Amarta sebenarnya sedikit kecewa dengan Felix yang menghamili Violet dan tidak bertanggung jawab, bahkan mengurung Violet dirumahnya dan hanya diberikan makanan sisa oleh Sandra dan Samuel untuk menyiksa Violet.
Mengakibatkan Violet melahirkan bayinya prematur, dan bayi itu sempat dirawat dua Minggu dirumah sakit, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya karena kekurangan nutrisi saat kehamilan.
Ada sedikit kecewa dalam wajah keriput Amarta, saat melihat keturunannya harus berakhir mengenaskan seperti itu.
Bahkan sampai sekarang dia juga masih terngiang-ngiang wajah polos bayi kecil itu.
Tapi apalah daya, upaya Amarta yang ingin menyelamatkan bayi dari cicitnya berakhir sia-sia.
Karena memang bayi itu sudah dalam keadaan sekarat dan buruk sejak di lahirkan.
"Nenek, aku gak setuju jika paman bertunangan atau menikah dengan Violet, karena Violet itu bukanlah orang baik," kata Felix yang kembali memecah keheningan.
Violet sendiri yang sedang asyik makan, dibilang buruk oleh Felix langsung mendongak dan menatap tajam ke arah Felix.
"Tidak baik? Bagaimana kamu tahu?" Ucap Amarta pura-pura tidak tahu.
Selain menyayangi Felix sebagai cicitnya, dia juga sangat menyayangi dan menyukai Violet sebagai orang yang membantu kehidupan Romeo.
Tanpa Violet, bisa dipastikan kalau gak lebih dari 3 bulan. Romeo sudah meninggal dunia.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh madame Gie sebelumnya.
Awalnya Amarta memang tidak ingin mempercayai ucapan madame Gie, mengingat mencari gadis dengan darah murni seperti Violet itu sangat sulit untuk dicari.
Apalagi yang harus habis melahirkan dan mengeluarkan ASI.
Tapi melihat keadaan Romeo yang setiap hari bertambah buruk.
Akhirnya Amarta memilih untuk setuju dengan apa yang dikatakan oleh madame Gie, dan mencari gadis itu, pada akhirnya ketemulah Violet.
Amarta melihat ke arah Violet yang duduk lumayan jauh dari meja makan besar, ia dapat melihat dengan sangat jelas, kekecewaan yang ditunjukkan dari wajah cantik Violet.
"Violet gadis yang baik dan sangat penurut, bahkan nenek buyut sangat menyukainya," kata Amarta dengan suara hangat, hal itu mempu menahan sedikit gejolak amarah yang sekarang ini menghantam dada Violet.
"Felix, tolong kamu jangan mengada-ada!" Imbuh Amarta.
Violet menatap nenek Amarta dengan mata berkaca-kaca.
"Itu hanya topeng nenek," sahut Felix, sekarang wajahnya mulai emosi.
"Aku itu sangat paham dengan watak dan juga perilaku Violet, karena aku teman sekelasnya selama beberapa tahun." Felix masih berusaha untuk menyakinkan Amarta.
Bagaimana pun dia tidak bisa membiarkan nenek buyutnya menikahkan Romeo dan juga Violet.
Karena sampai kapanpun, bagi Felix.
Violet tetaplah miliknya, dan gak bisa jadi milik orang lain.
"Topeng?" Kata Amarta bingung.
"Nenek gak mengenalnya, dia itu gadis miskin murahan yang mendekati para laki-laki kaya untuk mengangkat derajatnya, bahkan sekarang dia mendekati paman hanya untuk memanfaatkan kekayaan yang paman miliki ... "
Felix tidak mampu melanjutkan ucapannya lagi, kala sebuah sendok dilemparkan ditangannya.
Suara teriakan kesakitan Felix menggema di ruang makan yang besar dan luas itu.
"Paman apa yang kamu lakukan?" Celetuk Felix dengan wajah marah, tatapannya awalnya tertuju pada Romeo.
Karena dia tahu, orang yang melempar sendok tepat ditangannya pasti Romeo.
Felix beralih menatap Violet yang menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Kenapa kamu menjelekkan calon tunanganku, bahkan memfitnahnya begitu kejam," sahut Romeo dengan wajah menyeramkan.
Auranya sangat kuat, membuat nyali Felix yang sebelumnya tinggi langsung menjadi ciut.
Sementara Violet yang mendapatkan pembelaan dari Romeo hatinya sedikit menghangat, bahkan ada rasa haru yng sekarang ini menyelimuti dirinya.
"Pa ... Paman aku mengatakan yang sebenarnya, aku gak bohong. Aku mengenal gadis yang pura-pura polos itu. Aku gak mau kalau paman sampai terjebak seperti aku ... " Lagi dan lagi ucapan Felix terhenti, dia tentu saja tidak mau kalau sampai ketahuan.
"Terjebak seperti kamu, memangnya jebakan apa yang Violet lakukan padamu ... Hah?' Romeo berdiri, auranya begitu kuat dan sangat menakutkan.
Bahkan wajahnya yang putih pucat menambah kesan dirinya seperti seorang dewa kematian.