ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Pagi berikutnya, sinar matahari pagi menyelinap masuk lebih terang dari biasanya, seolah ingin menyapa Adelia yang baru saja selesai merapikan pecahan kaca semalam. Matanya masih sedikit bengkak, tapi ia berusaha menenangkan diri. Hari ini ada jadwal kunjungan Gyantara Raharja bersama ibunya, Sofia Morens, untuk membicarakan persiapan pertunangan resmi. Itu adalah momen yang paling ditunggu keluarga Yhosep—dan momen yang paling ditakuti Adelia.
Ia sudah berniat tetap di dalam kamar seperti biasa, sampai suara ketukan pelan terdengar di pintu. Belum sempat ia menjawab, pintu terbuka, dan Adelin Yhosep masuk dengan senyum yang tampak sangat manis—senyum yang selalu ia pakai saat ingin menipu orang lain.
Adelin duduk di tepi kasur Adelia, menatapnya seolah mereka adalah kakak-beradik yang paling akrab. "Adelia, kakak mau bicara sebentar ya," ucapnya lembut, jauh berbeda dari nada tajamnya kemarin.
Adelia mundur sedikit, waspada. "Ada apa, Kak?"
"Nanti datang Gyantara dan Ibu Sofia," Adelin membelai rambut Adelia seolah penuh kasih sayang, tapi matanya menatap tajam. "Kamu tahu kan, Gyantara adalah pria impianku. Dia CEO Raharja Groups yang hebat, dan dia mencintaiku sepenuhnya. Jadi tolong ya, tetap di sini. Jangan sampai kamu terlihat. Kalau mereka melihat wajahmu yang mirip denganku, nanti mereka bingung. Dan kamu pasti tidak mau merusak kebahagiaanku, kan?"
"Selama ini aku memang selalu bersembunyi, Kak," jawab Adelia pelan. "Aku tidak akan keluar."
Adelin tersenyum puas, lalu menepuk pipi Adelia pura-pura sayang. "Itu baru adikku yang penurut. Ingat ya, jangan pernah berharap dia akan melirikmu. Dia mencintaiku, bukan bayanganku."
Setelah Adelin pergi, Adelia memeluk lututnya erat. Ia tahu senyum manis kakaknya itu hanyalah topeng. Di baliknya tersembunyi rasa takut tersaingi dan keinginan kuat untuk memastikan tak ada satu pun hal yang bisa mengganggu rencananya—termasuk keberadaan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, suara mobil mewah terdengar berhenti di depan rumah. Adelia mendengar sapaan hangat Adam Yhosep dan Belinda Yhosep menyambut tamu penting itu. Rasa penasaran yang tak bisa ia tahan membuatnya perlahan berjalan menuju tangga, bersembunyi di balik tiang besar yang menghalangi pandangan orang ke arahnya.
Dari kejauhan, ia melihat sosok pria tinggi tegap berdiri di ruang tamu. Itu Gyantara Raharja. Pria itu tampak gagah dengan setelan jas abu-abu yang pas di badan, raut wajahnya tegas namun sorot matanya begitu lembut saat menatap Adelin yang berjalan menyambutnya. Di sampingnya berdiri Sofia Morens, wanita berpenampilan anggun dengan senyum yang begitu hangat—senyum yang belum pernah Adelia rasakan dari ibunya sendiri.
"Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik," ujar Gyantara dengan suara rendah namun berwibawa. Matanya tak lepas dari Adelin. "Saya sangat menantikan hari besar kami nanti."
Adelin tersenyum manis, merangkul lengan Gyantara dengan erat. "Aku juga, Tantara. Aku sudah membayangkan hari itu sejak lama."
Saat itulah, angin berhembus pelan membuka sedikit gorden jendela, dan bayangan Adelia jatuh tepat di lantai ruang tamu. Sofia menoleh ke arah tangga, sedikit mengernyitkan dahi. "Maaf, apakah ada orang lain di sana?"
Jantung Adelia berdegup kencang. Ia hendak bersembunyi lebih dalam, tapi Adelin sudah bereaksi lebih dulu. Ia tertawa renyah, lalu menjawab dengan tenang: "Ah, mungkin itu bayangan gorden saja, Bu. Di rumah ini cuma ada kami berempat dan pelayan kok."
Belinda segera menambahkan cepat: "Benar sekali. Tidak ada orang lain. Mari kita masuk ke ruang kerja untuk membicarakan detail acara."
Namun sekilas, mata Gyantara sempat melirik ke arah tiang tempat Adelia bersembunyi. Tatapannya singkat, seolah ia merasakan ada keberadaan lain, tapi ia tak sempat melihat wajah Adelia dengan jelas sebelum Adelin menarik perhatiannya kembali.
Adelia segera berlari kembali ke kamarnya, napasnya memburu karena ketakutan. Ia tahu betul apa yang baru saja terjadi. Adelin siap melakukan apa saja—bahkan berbohong di depan calon suaminya sendiri—untuk menjaga rahasia keberadaannya. Topeng manis kakaknya itu mampu menutupi kebusukan hatinya dari siapa pun, bahkan dari pria yang ia cintai.
Siang harinya, saat tamu sudah pulang, Adelin datang lagi ke kamar Adelia. Kali ini senyumnya sudah hilang, berganti dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.
"Kamu tadi hampir ketahuan!" bisiknya marah. "Kalau sampai Gyantara atau ibumu tahu ada kamu di sini, aku pastikan kamu tidak akan bisa tinggal di rumah ini lagi. Dan jangan harap kamu bisa pergi kuliah ke mana pun!"
"Aku tidak bermaksud, Kak. Aku hanya ingin melihat sedikit saja..."
"Melihat apa? Melihat apa yang tidak bisa kamu miliki?" potong Adelin sinis. "Dengar ya, Adelia. Dunia, nama baik keluarga, dan Gyantara adalah milikku. Kamu cuma sampah yang kebetulan lahir bersamaku. Jangan pernah berani bermimpi menjadi sepertiku."
Adelin berbalik pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Adelia yang diam terpaku. Ia akhirnya sadar sepenuhnya: Adelin bukan sekadar kakak yang cemburu. Ia adalah orang yang pandai menyembunyikan sifat aslinya di balik senyum ramah, dan siap menghancurkan siapa pun yang berani mengganggu posisinya—bahkan adik kandungnya sendiri.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Adelia berjanji dalam hati: ia akan bersabar sedikit lagi. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk pergi dari sini, sebelum ia terjebak lebih dalam dalam kebohongan kakaknya yang tak berujung.