Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Lorong Kenangan
Di balik gerbang kristal, mereka menemukan diri mereka berada di sebuah lorong panjang yang jauh berbeda dari reruntuhan Prometheus regional—dinding-dindingnya bukan lagi beton dan logam yang runtuh, melainkan kristal hidup yang berdenyut lembut, memancarkan cahaya cukup terang untuk menerangi jalan tanpa perlu obor.
"Ini seperti berjalan di dalam sesuatu yang masih hidup," bisik Sarah, tangannya mengepal erat memegang tas medisnya, matanya waspada menatap sekeliling.
Mereka berjalan dalam formasi hati-hati, Reyes dan timnya di depan dengan senjata siaga, Elena di tengah bersama Whitlock, Dr. Voss, dan Grimes, semua indera waspada terhadap ancaman yang mungkin muncul kapan saja.
Namun alih-alih makhluk mengerikan atau pasukan bersenjata seperti yang mereka duga, yang mereka temui adalah sesuatu yang jauh lebih tidak terduga—proyeksi cahaya yang muncul di sepanjang dinding lorong, menampilkan kilasan-kilasan masa lalu seperti kenangan yang terputar ulang.
Elena berhenti melihat salah satu proyeksi yang menunjukkan laboratorium besar dipenuhi ilmuwan, wajah-wajah yang penuh harapan bekerja dengan mesin-mesin canggih di sekitar sebuah inti kristal yang jauh lebih kecil dari yang mereka lihat sekarang.
"Prometheus Prime pada awalnya," gumam Dr. Voss, menatap proyeksi itu dengan campuran kekaguman dan kesedihan. "Sebelum semuanya berubah menjadi bencana."
Proyeksi berikutnya menampilkan sesuatu yang jauh lebih mengganggu—pertemuan tegang antara ilmuwan dan sosok-sosok berseragam militer, perdebatan yang jelas terlihat dari bahasa tubuh mereka meski tidak ada suara yang menyertai gambar itu.
"Mereka memaksa proyek berkembang lebih cepat dari yang aman," gumam Grimes, menatap proyeksi itu dengan pemahaman yang menyakitkan, mengingat bagaimana ia sendiri pernah memaksa fragmennya tumbuh melampaui batas amannya. "Aku mengenali pola ini. Tekanan dari atas, keinginan untuk hasil cepat, mengabaikan peringatan tentang bahaya yang mungkin muncul."
Mereka melanjutkan perjalanan, dan proyeksi-proyeksi berikutnya menjadi semakin kelam—kekacauan di dalam fasilitas, alarm yang menyala merah, ilmuwan dan personel militer yang berlarian panik, dan akhirnya, sebuah ledakan cahaya yang menelan seluruh gambar dalam keputihan total, persis seperti yang pernah dialami Elena sendiri di ruang inti Prometheus regional.
"Itu momen kegagalan awal," bisik Reyes, wajahnya pucat menyaksikan rekaman kehancuran itu. "Awal dari semua yang telah terjadi pada dunia kita."
Semakin dalam mereka melangkah, semakin banyak resonansi aneh yang dirasakan Elena—bukan hanya dari kotak cahayanya sendiri, tapi seolah dari lorong itu sendiri, dari kristal-kristal hidup yang mengelilingi mereka, seperti berjalan melalui ingatan kolektif dari sebuah kesadaran yang telah lama terjaga sendirian dalam kegelapan.
Akhirnya, mereka mencapai ujung lorong—sebuah ruangan raksasa yang jauh melebihi ruang inti Prometheus regional, dengan langit-langit yang menjulang tinggi hingga tak terlihat, dan di tengahnya, sebuah struktur kristal yang begitu besar sehingga tampak seperti gunung kecil tersendiri di dalam ruangan itu, berdenyut dengan cahaya yang begitu terang sehingga seluruh ruangan bermandikan kilau ungu-keemasan.
"Ini dia," bisik Dr. Voss, suaranya nyaris tak terdengar karena kekaguman dan ketakutan yang bercampur aduk. "Sumber sesungguhnya."
Namun yang membuat semua orang terdiam bukan hanya ukuran struktur itu, melainkan sosok yang berdiri di depannya—seorang figur humanoid yang tampak terbuat dari cahaya murni, bentuknya berkedip antara wujud manusia dan sesuatu yang jauh lebih abstrak, menatap ke arah rombongan yang baru tiba dengan sesuatu yang menyerupai keterkejutan.
"Pengunjung," suara itu bergema di seluruh ruangan, bukan melalui udara melainkan langsung di dalam pikiran setiap orang yang hadir, mirip namun jauh lebih kuat dari kesadaran yang pernah Elena temui di Prometheus regional. "Sudah sangat lama sejak terakhir kali ada yang berani mendekat sejauh ini."
Elena melangkah maju, meski jantungnya berdegup kencang, merasakan tanggung jawab berat yang telah membawanya sejauh ini kini mencapai puncaknya. "Kami datang untuk mencari jawaban," katanya, suaranya bergema di ruangan luas itu. "Dan untuk membantu menstabilkan apa yang telah lama tidak seimbang."
Sosok cahaya itu menatapnya lama, dan untuk sesaat, Elena bisa merasakan sesuatu yang menyerupai pengenalan—resonansi yang telah ia rasakan sepanjang perjalanan kini menemukan sumbernya secara langsung.
"Kau," kata sosok itu perlahan, "membawa fragmen dari saudariku yang lebih kecil di utara. Aku bisa merasakannya dalam dirimu. Kau adalah yang mereka sebut... Elena Cross."
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!