Gadis berusia 21 tahun itu terduduk lemas dengan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Namun, bukannya langsung pergi kerumah sakit, ia malah memilih pergi dan menjauh saja.
Mobil mewah yang baru saja mengalami kecelakaan, tepat sepuluh kilometer dari tempatnya terduduk saat ini. Telah hangus terbakar oleh kobaran api, yang bisa saja ikut menelan dirinya, jika ia tak berusaha menyelamatkan dirinya sendiri tadi.
"Kenapa aku di lupakan? " Ujarnya dengan suara lirih, menyeka air mata yang jatuh dengan sendirinya tanpa diminta lagi. Sambil menatap sebuah mobil pengangkut barang, yang tadi pergi membawa Ibu dan juga saudaranya untuk kerumah sakit.
Siapakah, dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopita Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Selena
Dengan susah payah, Selena membimbing Zein. Untuk masuk ke dalam kamar mereka. Namun, pria itu terus saja mengoceh. Dan kadang tertawa sendiri, mungkin hatinya masih merasakan sedih mendalam. Membuat Selena terus bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Zein di masa lalunya.
"Akhirnya, sampai juga! " Lirih Selena, seraya berusaha membaringkan Zein ke tempat tidur.
"Kemarilah!. " Zein malah menarik tangan Selena. Saat wanita itu ingin beranjak pergi. Dan berniat, mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih santai.
"Aww,,, ! " Pekik Selena saat tubuhnya huyung kesamping. Dan jatuh di atas tubuh Zein.
Selena merasa detak jantungnya berdebar, dengan kencang. Seolah ingin keluar dari tempatnya saja. Tapi, Zein malah memejamkan matanya. Sambil mendengkur halus, memeluk erat tubuh Selena.
"Apa, dia sudah tidur? " Lirih Selena bertanya. Saat merasakan tak ada pergerakan lagi dari Zein.
Selena mencoba untuk bergerak. Saat ia rasa Zein sudah masuk kealam mimpinya. Namun, ketika ia bergerak Zein malah mengeratkan dekapan nya.
"Gimana, aku bernafas? " Selena masih berupaya, untuk melepaskan diri dari dekapan Zein. Sampai ia meraskan panas dan hampir sesak nafas.
Beberapa menit ia mencoba berdiam diri. Sampai Zein benar-benar tak ada pergerakan lagi. Selena perlahan dengan sangat pelan dan hati-hati sekali. Sebab, gaun pengantin nya pun terasa berat.
"Astaga, aku hampir kehabisan nafas" Selena menghirup udara dengan bebas. Lengan kekar Zein membelit pinggangnya. Sampai, Selena kesulitan untuk bergerak.
Di tatapnya lekat wajah tampan, yang saat ini tengah tertidur pulas. Tanpa, sadar tangan Selena bergerak dan mengelus lembut jambang tipis Zein. Wajahnya lelah, matanya terdapat lingkaran hitam. Yang terlihat saat jaraknya lebih dekat begini.
"Apa masalah hidupmu, jauh lebih berat. Dariku? " Tanya Selena mulai merasa iba. Saat ia baru sadar, jika ternyata Zein tak sebebas yang ia kira.
"Zein, aku janji. Aku akan membantumu melepaskan semua beban, yang ada!. Walaupun, harus dengan waktu yang lama sekalipun. Sebab, aku banyak berhutang budi padamu" Ujar Selena dengan yakin.
Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi nantinya. Ia tak akan meninggalkan Zein, meski pernikahan ini di awali sedikit terpaksa. Namun, ia tak akan menyerah. Apalagi, saat ia tahu. Rupanya Zein memikul beban yang sangat berat. Sehingga, dalam keadaan mabuk begini. Ia meluapkan semua isi hatinya.
Tanpa Selena sadari, dari balik pintu kamar yang masih sedikit terbuka. Han mendengar semua yang Selena ucapkan. Pria itu, menarik sudut bibirnya. Merasa jika pilihan nya untuk mendampingi Zein. Itu sudah tepat, ia menemukan wanita. Yang ia cari selama ini, dimana keyakinan dan harapan Selena itu akan membantu Zein bangkit dari masa lalunya.
"Aku harap, kalian akan selalu bersama! " Lirih Han dengan sangat pelan. Sebelum ia pergi meninggalkan pintu kamar tersebut. Dan membiarkan sepasang suami istri itu, untuk saling mengisi waktu yang ada.
Dengan doa agar mereka selalu dalam kebahagiaan, dan tak akan pernah saling mengecewakan satu sama lainnya. Baru beberapa langkah Han, beranjak pergi dari sana. Ponselnya berdering, membuat pria itu segera meraih benda pipih. Yang selalu ada di dalam saku nya.
Sebuah nomor telpon, yang selalu dihindari oleh Zein. Akhirnya, menghubungi dirinya juga. Membuat Han menghentikan langkah kakinya. Dan langsung menggeser tombol hijau tersebut.
"Han, apa kalian baik-baik saja? " Suara wanita paruh baya, langsung mencecar Han dengan pertanyaan.
"Dimana Zein?. Apa dia tidak ada niat untuk pulang? " Tanya wanita itu lagi dengan nada kesalnya.
"Nyonya, tuan Zein sedang tidak ada di tempat. Saya,,, "
"Ah, kalian itu sama saja. Bilang padanya, untuk pulang minggu ini!. Kalau masih ingin melihat Mommy nya sehat! " Ancamnya wanita paruh baya itu dengan nada penuh kekesalannya.
"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan, setelah tuan Zein pulang" Bohong Han, yang memang tak mau membuat situasi semakin runyam.
Zein masih menghindari keluarga besarnya, karena ia tak mau jika semua yang ia alami. Membuat keluarga besarnya merasa sedih ataupun bersalah padanya. Dan, hanya ini cara Zein agar mereka tetap tenang. Tanpa memikirkan semua beban hidup Zein terus menerus.
Han menoleh kembali kearah kamar sana. Saat telpon dari keluarga Zein terputus. Beruntung yang menelpon adalah mommy Zein. Kalau Daddy nya, pasti Han tak mau untuk mengangkat panggilan itu. Sebab, pria gagah pada masanya itu. Sampai saat ini masih saja di takuti banyak orang. Ia terkenal dengan jelmaan malaikat pencabut nyawa.
"Tuan, sampai kapan anda akan menyuruh saya, terus berbohong? " Tanya Han sambil menggeleng kan kepalanya. Dan mulai kembali melangkah pergi, meninggalkan kamar Zein serta Selena. Ia juga butuh ketenangan dan waktu istirahat sejenak. Untuk melepaskan semua penatnya.