RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 Kembali ke Indonesia
Sebuah jet pribadi milik Don Vincenzo, perlahan mendarat halus di landasan pacu Bandara Internasional Jakarta. Di dalam kabin, seorang gadis cantik berusia tujuh belas tahun menatap keluar jendela dengan pandangan campur aduk antara rasa rindu akan tanah kelahirannya bercampur rasa asing yang mendalam.
Savira Aurelia Putri, atau akrab disapa Sara. Rambut coklatnya terurai indah menyentuh bahu, sepasang mata cokelat jernih menyimpan kecerdasan dan ketangkasan yang tak terlihat kasat mata. Baru saja tiba setelah bertahun‑tahun tinggal jauh di Italia, bersama kakek angkatnya.
Tak lama kemudian, ia berjalan keluar dengan langkah tegas. Di sana sudah menunggu seorang pemuda berbadan tegap, berwajah tegas dan tampan berusia sekitar 35 tahun, Leon, pengawal kepercayaan sekaligus pelindung yang dipercayakan langsung oleh Don Vincenzo untuk cucu kesayangannya.
"Selamat datang kembali di tanah air, Nona Sara,” ujar Leon sopan sambil mengambil alih tas koper di tangan Sara. “Semuanya sudah disiapkan. Mobil sudah menunggu di luar, kita langsung ke apartemen.”
Sara tersenyum manis sambil menggeleng pelan. “Terima kasih, Kak Leon. Tapi kau duluan saja bawa barang‑barang itu ke apartemen. Aku ingin berjalan‑jalan sendiri sebentar, menikmati suasana kota ini dulu."
Leon tampak ragu sejenak. “Tapi Nona… Tuan Don Vincenzo berpesan agar saya selalu mendampingi Nona ke mana pun.”
“Di sini aku hanya gadis biasa yang ingin berkenalan kembali dengan tempat ini,” potongnya lembut namun tegas. “Kau tahu aku bisa menjaga diriku sendiri dengan sangat baik. Pergilah duluan, aku akan menyusul segera.”
Melihat ketegasan yang tak bisa dibantah itu, sifat yang melekat kuat pada sosoknya yang dikenal sebagai Ratu Perang. Leon akhirnya mengangguk patuh. “Baiklah. Tapi tolong berhati‑hati. Segera hubungi saya jika ada sesuatu."
Sara mengangguk setuju, lalu melihat kendaraan yang membawa barang‑barangnya perlahan menjauh meninggalkan gerbang bandara. Ia pun berjalan santai keluar, memanggil ojek pangkalan yang ada di dekat situ, dan berkeliling menikmati pemandangan kota yang sibuk namun penuh kehidupan itu. Hatinya berdebar tak menentu, ada kenangan lama yang hilang tertutup kabut, namun ia berjanji perlahan akan mengungkapnya semua.
perjalanan Sara sampai di jalan raya yang agak sepi dan rimbun pepohonan, tempat yang tenang namun terasa agak sunyi. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat melintas di sana.
Sebuah mobil mewah berwarna gelap berhenti menyandar di tepi jalan, asap tipis mengepul dari bagian mesinnya. Seorang wanita paruh baya berpakaian anggun keluar dengan wajah cemas, berusaha memeriksa apa yang terjadi namun tak mengerti sedikit pun soal mesin kendaraan.
Belum sempat ia berusaha mencari bantuan, tiba‑tiba dua pria berpenampilan kasar berjalan mendekat dengan langkah tak ramah. Senyum jahat terukir di bibir mereka saat melihat perhiasan berkilauan dan tas mahal yang dibawa wanita itu.
“Wah, lihat Bro, kebetulan sekali ada mangsa empuk sendirian di sini,” ucap salah satu pria itu dengan nada ancaman, sambil menyandarkan tubuhnya ke body mobil. “Serahkan tas dan perhiasanmu, dan kami takkan menyakitimu.”
Wanita itu mundur kaget sambil memeluk erat tas tangannya di dada. “Siapa kalian? Pergilah! Jangan mendekat! Kalau kalian mendekat aku akan berteriak biar kalian di amuk massa!” ancamnya.
"Hahaha! Coba saja berteriak, tak ada yang akan mendengarmu di sini!” sahut pria berkepala plontos sambil mencoba merebut paksa tas mahalnya. Wanita itu tak menyerah begitu aja ia sekuat tenaga menahan tasnya namun kekuatannya kalah besar dibandingkan dua preman di hadapannya.
Saat itulah Sara lewat bersama kang ojek. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan yang tak ia sukai. Tanpa ragu sedikit pun, ia menyuruh Kang ojeknya berhenti tak jauh dari Sana. "Pak, tunggu sebentar ya!" ucap Sara lalu langsung melangkah mendekat dengan langkah tenang namun mantap.
"Hati-hati Nona!" teriak kang ojek dengan rasa khawatir pada penumpangnya yang nekat itu.
“Lepaskan!” ucapnya pelan namun tegas.
Kedua preman itu menoleh serentak, lalu saling pandang sekilas sedetik kemudian mereka tertawa meremehkan melihat gadis asing yang tampak tak berdaya tapi berani menegur mereka.
“Minggir saja kalau tak mau ikut celaka, cantik! Ini urusan kami!” ancam salah satu sambil menatapnya tajam.
Namun Sara tak bergeming. Sorot matanya berubah dingin dan tajam, sifat aslinya kembali muncul, sifat pemimpin yang tak kenal takut dan terlatih menghadapi bahaya berat sekalipun.
“Aku tak akan mengulang perkataanku untuk kedua kalinya,” ucapnya tenang. “Kembalikan barang itu dan pergilah selagi masih bisa berjalan tegak.”
Kedua preman itu tak terima ditentang gadis muda di hadapannya, mereka berdua langsung menyerang serentak. Namun mereka tak tahu siapa yang sedang dihadapi.
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Dalam sekejap mata, Sara bergerak lincah bak bayangan, menangkis serangan satu demi satu dengan gerakan bela diri yang sempurna, cepat, dan tepat sasaran. Tanpa melukai mereka parah, namun cukup kuat menjatuhkan keduanya terguling ke tanah tak berdaya dalam hitungan detik saja.
“Kalian beruntung aku tak berniat menyakiti,” ucapnya dingin sambil berdiri tegak kembali. “Tapi jangan pernah berbuat jahat lagi pada siapa pun, atau lain kali aku tak akan selembut ini.”
Kedua nyali preman itu langsung menciut mereka dengan susah payah bangkit sambil menahan rasa remuk di badannya lalu lari tergopoh‑gopoh meninggalkan tempat itu secepat mungkin seolah takut jika gadis itu akan berubah pikiran.
Sara menghela nafas pelan lalu berbalik menghampiri wanita yang masih berdiri terpukau takjub melihat kejadian itu. Ia menyerahkan kembali tas yang sempat di ambil si preman tadi.
“Ini milik Ibu, semoga tak ada yang hilang,” ucapnya lembut kembali, wajahnya kembali ceria dan ramah.
Wanita bernama Maria dengan cepat mengambil tasnya matanya tak lepas mengamati gadis penolongnya dengan berbinar kagum sekaligus lega yang luar biasa. "Terima kasih, Nak… terima kasih banyak. Kau sangat hebat bisa membuat dua preman itu lari terbirit-birit seperti itu. Siapa namamu? Ibu berhutang nyawa sama kamu!"
Sara hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. “Aku Sara Bu! Dan tak perlu terima kasih segala, aku hanya berbuat apa yang seharusnya saja."
Sara kembali tersenyum lalu langsung pamit dengan tergesa menuju kang ojek yang menunggu tak jauh dari sana.
Sebelum sempat Maria bertanya lebih jauh atau menahan langkahnya, ojek yang ia tumpangi sudah melesat membelah jalanan kota dan menghilang dari pandangan seolah tak pernah ada di sana. Namun kesan mendalam yang ditinggalkannya takkan mudah hilang dari ingatan Maria.
"Tunggu deh tapi wajahnya terasa tak asing deh! Tapi siapa ya? gumamnya pelan.
Bersambung...
💞 Hy semua apa kabarnya? semoga sehat selalu ya. Author sedang nulis karya baru lagi, jika kalian suka jangan lupa tinggalkan jejak dan nilai buku ini ya. terima kasih sebelumnya 💞