meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepingan Cermin Di Ruang Kerja Jakarta
Jakarta, pukul 23.45 WIB.
Hujan deras mengguyur kaca jendela floor-to-ceiling di lantai 45 gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Di dalam ruangan yang luas, dingin, dan steril itu, hanya ada satu sumber cahaya: lampu meja kerja Andrian Alexander yang menyala redup.
Andrian duduk di kursi kulit jatinya, menatap layar laptop yang menampilkan dokumen dakwaan kasus korupsi senilai triliunan rupiah. Namun, matanya tidak fokus pada angka-angka atau nama-nama terdakwa. Pikirannya melayang jauh, menembus hujan Jakarta, menuju Surabaya. Menuju sebuah halaman kecil yang penuh asap arang dan tawa lepas.
Telepon dari Meylani sore tadi masih bergema di kepalanya.
"Dia sedang sibuk membakar sate di halaman rumah sekarang."
Kalimat itu sederhana. Sepele. Bahkan konyol bagi seorang pria seperti Andrian, yang waktunya dihargai jutaan rupiah per jam sebagai Jaksa Agung Muda. Tapi entah mengapa, kalimat itu menghantam dadanya lebih keras daripada vonis hakim tertinggi.
Andrian melepaskan kacamatanya, meletakkannya di atas meja dengan gerakan lambat. Ia mengusap wajahnya yang terasa lelah, meski tubuhnya baru saja selesai berolahraga di gym pribadi apartemennya di SCBD.
Selama ini, Andrian selalu percaya bahwa ia telah membuat pilihan yang tepat. Dulu, saat masih menjabat di Semarang, ia memang dekat secara geografis dengan keluarga Meylani. Namun, ambisinya membawanya pindah ke Jakarta, ke pusat kekuasaan, demi karir yang lebih tinggi. Ia mengira Meylani mengerti. Ia mengira jarak fisik bisa dijembatani dengan kemewahan materi dan status sosial yang ia berikan. Ia pikir Meylani akan menunggu, atau setidaknya, menerima posisinya sebagai pasangan dari seorang pejabat tinggi yang sibuk.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Andrian merasakan hampa yang menusuk. Bukan kesepian karena tidak ada orang di sekitarnya ruangan ini selalu penuh dengan asisten, staf, dan rekan kerja melainkan kesepian eksistensial. Ia menyadari bahwa ia memiliki segalanya, kecuali seseorang yang benar-benar ada bersamanya.
Ia membuka laci mejanya, mengambil sebuah bingkai foto kecil yang jarang ia lihat. Foto itu diambil lima tahun lalu, saat mereka masih bersama di Semarang. Meylani tersenyum cerah, mengenakan kebaya modern, sementara Andrian berdiri kaku di sampingnya, matanya melirik ke arah ponsel yang berdering karena panggilan mendadak dari atasan.
Andrian menatap wajah Meylani di foto itu. Dulu, ia berpikir Meylani terlalu emosional, terlalu butuh perhatian, terlalu "rumit". Ia pikir ia bisa "memperbaiki" Meylani menjadi wanita yang lebih efisien, lebih mandiri, lebih cocok dengan dunianya yang serba cepat di Jakarta.
Kini, ia sadar. Meylani tidak perlu diperbaiki. Meylani hanya perlu didengar. Dan ia gagal mendengarnya.
Bima Arkhan Bagaskara. Nama itu muncul lagi di benaknya. Pria yang tidak punya gelar hukum tingkat tinggi, tidak punya koneksi politik di Senayan, dan tidak punya kekayaan materi yang bisa dibandingkan dengan Andrian. Pria yang mungkin bahkan tidak tahu cara memakai dasi handmade Italia dengan benar.
Tapi Bima memiliki sesuatu yang Andrian tidak miliki. Waktu. Dan Kehadiran.
Andrian membayangkan Bima membakar sate. Membayangkan tangan kasar pria itu yang dengan sabar membalikkan tusukan daging, memastikan matang sempurna untuk wanita yang dicintainya. Membayangkan Meylani tertawa, bukan karena lelucon cerdas tentang yurisprudensi, tapi karena kehadiran tulus seorang suami yang tidak pernah membuatnya merasa menjadi prioritas kedua setelah jabatan.
"Andai..." bisik Andrian pelan, suaranya serak di ruangan hening.
Andai ia tidak terpaku pada promosi ke Jakarta. Andai ia memilih tetap di Semarang, membangun kehidupan yang lebih seimbang. Andai ia bisa menolak panggilan Menteri malam itu tiga tahun lalu. Andai ia bisa pulang lebih awal, memeluk Meylani yang menangis, dan berkata, "Lupakan pekerjaanmu sebentar, aku di sini."
Tapi penyesalan adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh uang sebanyak apapun.
Andrian menutup matanya, menarik napas panjang. Ia tahu batasannya. Meylani sudah menikah. Secara hukum, secara agama, dan secara hati, wanita itu kini milik orang lain. Meylani adalah burung merpati yang telah menemukan sarangnya di Surabaya, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang dingin. Ia terbang jauh dari jangkauan Andrian, menuju langit yang lebih hangat, lebih bebas, dan lebih nyata.
Mengganggu kebahagiaan Meylani sekarang bukan hanya tindakan yang tidak etis bagi seorang penegak hukum, tapi juga tindakan yang keji bagi seorang manusia yang pernah mencintai.
Andrian membuka mata kembali. Tatapannya kembali tajam, dingin, dan rasional. Topeng "Jaksa Andrian Alexander" kembali terpasang sempurna. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh ragu.
Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, ia menyimpan rasa hormat yang mendalam pada Bima. Bukan karena prestasi, tapi karena keberanian Bima untuk memilih cinta di atas ego. Bima mengajarkan Andrian pelajaran hidup yang pahit: bahwa kesuksesan tanpa kehadiran adalah kegagalan yang terselubung.
Ponsel Andrian berdering. Asistennya mengingatkan jadwal rapat pagi besok pukul 07.00 WIB dengan Komisi Yudisial.
Andrian menjawab singkat, "Siap."
Ia berdiri, merapikan jasnya, dan mematikan lampu meja. Ruangan kembali gelap, hanya diterangi cahaya kota Jakarta yang gemerlap di luar jendela. Kota yang tidak pernah tidur, kota yang penuh ambisi, kota yang membuatnya kaya namun miskin akan kehangatan.
Andrian berjalan menuju lift, langkahnya mantap. Ia akan terus bekerja. Ia akan terus mengejar keadilan di ibu kota ini. Karena itu adalah jalannya. Jalannya berbeda dengan Meylani. Jalannya sepi, dingin, dan lurus.
Saat pintu lift tertutup, Andrian melihat refleksi dirinya di cermin baja. Seorang pria sukses, tampan, dan berkuasa. Tapi di balik mata itu, ada bayangan seorang pria yang baru saja kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya, bukan karena direbut orang lain, tapi karena ia sendiri yang melepaskannya demi ambisi.
"Selamat bahagia, Mey," bisiknya pada keheningan lift yang turun cepat. "Kamu berhak mendapatkan dunia yang lebih hangat dariku."
Lift berhenti di lantai dasar. Andrian melangkah keluar, masuk ke mobil mewahnya, dan berkendara menembus hujan Jakarta sendirian. Tanpa penumpang di sebelah kanan. Tanpa tangan yang menggenggam tangannya. Hanya ada setir dingin dan musik klasik yang mengalun pelan, menemani perjalanan pulangnya ke apartemen kosong yang megah di tengah kota yang asing baginya.
Dan untuk pertama kalinya, Andrian Alexander merasa sangat, sangat tua.
Sementara itu di Surabaya
Musim hujan di Surabaya memasuki puncaknya. Langit tampak seperti kain abu-abu tebal yang siap robek kapan saja. Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering dan sampah plastik ke sudut-sudut jalan. Bagi warga Surabaya, ini adalah tanda bahwa banjir lokal akan segera datang, terutama di daerah-daerah rendah seperti Wonocolo.
Pagi itu, Meylani bangun lebih awal dari biasanya. Ia merasa tidak enak badan. Kepalanya pening, tenggorokannya gatal, dan tubuhnya terasa dingin meski sudah dibalut selimut tebal. Flu. Mungkin karena terlalu banyak terpapar asap arang semalam atau karena kehujanan saat membantu Bima membereskan halaman.
"Meylani? Kamu nggak masuk kantor?" tanya Bima yang sedang bersiap-siap mengenakan jaket kerjanya. Ia memperhatikan wajah istrinya yang pucat dan mata yang sedikit bengkak.
"Aku... aku coba dulu, Mas. Ada presentasi penting siang ini untuk investor lokal. Kalau aku absen, tim Rian mungkin grogi," jawab Meylani sambil memaksakan diri duduk di tepi tempat tidur. Kepalanya berputar sejenak, membuatnya harus memegang pinggiran kasur agar tidak jatuh.
Bima mendekat, meletakkan punggung tangannya di dahi Meylani. "Kamu panas, Mey. Jangan dipaksa. Aku teleponkan izin ke kantormu."
"Jangan, Mas. Ini urusan profesional. Aku bisa handle," tolak Meylani keras kepala. Sifat perfeksionisnya kembali muncul. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan rekan-rekan kerja baru yang masih meragukan kemampuannya beradaptasi dengan budaya lokal.
Bima menghela napas, tahu bahwa argumen logis tidak akan mempan pada Meylani saat mode "karir"-nya aktif. "Baiklah. Tapi janji sama aku. Kalau kamu merasa nggak kuat, langsung pulang. Nggak usah tunggu jam pulang. Aku jemput. Oke?"
Meylani mengangguk lemah. "Oke, Mas."
Siang harinya, cuaca semakin buruk. Hujan turun deras disertai angin kencang yang membuat pohon-pohon di sepanjang jalan Ahmad Yani bergoyang hebat. Di dalam ruang meeting kantor cabang, Meylani berusaha fokus mempresentasikan data okupansi "Ruang Pulang". Suaranya terdengar serak, dan pandangannya sesekali kabur.
Rekan-rekannya, termasuk Rian, mulai saling bertukar pandang khawatir. Namun, Meylani tetap bertahan, didorong oleh adrenalin dan rasa tanggung jawab. Presentasi berjalan lancar, investor tampak puas, dan kontrak kerjasama ditandatangani.
Tepat setelah pertemuan usai, tubuh Meylani menyerah. Kakinya goyah, dunia berputar, dan ia hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh Rian.
"Mbak Meylani! Mbak!" teriak Rian panik.
Meylani hanya bisa menggeleng lemah. "Aku... aku mau pulang..."
Rian segera memanggil taksi online, namun karena hujan deras dan jalanan macet parah, estimasi kedatangan driver mencapai 45 menit. Meylani duduk di lobi kantor, menggigil kedinginan, menunggu dengan sabar meskipun kondisinya semakin memburuk.
Di sisi lain kota, Bima sedang berada di lokasi proyek di Gresik. Hujan juga turun deras di sana, membuat tanah menjadi lumpur dan pekerjaan terhenti. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Rian" muncul.
"Halo, Mas Rian? Ada apa?"
"Mas Bima, tolong segera ke kantor cabang Surabaya! Mbak Meylani sakit parah! Dia pingsan sebentar tadi setelah presentasi. Kami sudah panggil taksi, tapi macet banget dan drivernya belum sampai. Kondisi Mbak Meylani nggak bagus, Mas!" suara Rian terdengar panik.
Darah Bima mendesis. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berpikir dua kali, ia melempar helm kerjanya ke motor, menyalakan mesin, dan tancap gas menembus hujan deras menuju Surabaya.
"Bertahan, Mey... Aku datang," gumam Bima di balik helmnya, matanya waspada menerobos genangan air dan kemacetan.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam, Bima tempuh dalam 40 menit dengan manuver nekat namun hati-hati. Ia tidak peduli jika jas hujannya basah kuyup, atau jika sepatunya penuh lumpur. Yang ada di pikirannya hanya satu: Meylani.
Saat tiba di lobi kantor, Bima melihat Meylani duduk terbungkus jaket milik Rian, wajahnya pucat pasi, matanya setengah tertutup. Bima segera menghampiri, mengangkat tubuh ringan istrinya dengan mudah.
"Mey? Bisa dengar aku?" tanya Bima cemas.
Meylani membuka matanya perlahan, senyum tipis terbentuk di bibirnya yang kering. "Mas... kamu datang..."
"Tentu saja. Ayo, kita pulang," kata Bima tegas. Ia menggendong Meylani keluar, mengabaikannya protes lemah dari Meylani yang merasa malu dilihat orang banyak. Bagi Bima, kesehatan istri jauh lebih penting daripada gengsi.
Di perjalanan pulang, Meylani bersandar di dada Bima yang basah. Aroma hujan, bensin, dan keringat Bima menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Maafin aku, Mas... aku memaksakan diri..." bisik Meylani lemas.
"Nggak usah minta maaf sekarang. Istirahat aja. Nanti kalau sudah sehat, baru kita hitung-hitungan," canda Bima pelan, meski hatinya masih diliputi kecemasan.
Sesampainya di rumah, Bima langsung memandikan Meylani dengan air hangat, mengganti pakaiannya, dan memberikannya obat flu serta jus jeruk hangat buatan sendiri. Ia duduk di samping tempat tidur, memegang tangan Meylani erat-erat, memastikan suhu tubuhnya turun.
Malam harinya, demam Meylani mulai reda. Ia terbangun dan menemukan Bima tertidur pulas di kursi sebelah tempat tidurnya, kepala terkulai ke depan, tangan masih menggenggam ujung selimut Meylani.
Meylani menatap suaminya dengan haru. Pria ini rela meninggalkan pekerjaannya, menerobos hujan deras, dan mengurusnya dengan telaten tanpa mengeluh sedikitpun. Tidak ada tuntutan, tidak ada syarat. Hanya cinta murni.
Ia teringat Andrian. Dulu, saat ia sakit demam tinggi di apartemen Jakarta, Andrian hanya mengirimkan asisten pribadi untuk membawakan obat dan sup kalengan, lalu melanjutkan rapat via video call dari ruang sebelah. Andrian peduli, tapi jarak emosionalnya terasa begitu jauh.
Sedangkan Bima... Bima ada di sini. Fisik dan jiwanya.
Meylani mengusap rambut Bima yang berantakan. "Terima kasih, Mas," bisiknya pelan, agar tidak membangunkan suaminya.
Bima bergerak sedikit, matanya terbuka. "Kamu udah mendingan?" tanyanya serak.
"Iya, Mas. Demamnya turun. Terima kasih sudah jaga aku."
Bima tersenyum lelah, lalu berdiri dan merebahkan diri di samping Meylani, menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. "Sudah jadi tugasku, Yang. Kamu itu harta karunku. Kalau kamu rusak, aku rugi besar."
Meylani tertawa kecil, lalu memeluk Bima erat. Di pelukan itu, ia merasakan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan di masa lalunya. Kehangatan yang nyata, sederhana, dan abadi.
Di luar, hujan masih turun deras, mengetuk-ngetuk jendela rumah kecil mereka. Tapi di dalam, badai telah berlalu. Digantikan oleh ketenangan dua jiwa yang saling melengkapi, saling menjaga, dan saling mencintai tanpa batas.
Meylani menutup matanya, merasakan detak jantung Bima yang stabil di dadanya. Ia tahu, apa pun tantangan yang akan datang baik dari Jakarta, dari lingkungan, atau dari penyakit, ia akan selalu memiliki Bima. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa aman, dicintai, dan berharga Selamanya.
...****************...