Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pohon yang Miring ke Timur
KM 32 ditemukan persis di tempat yang peta katakan tidak ada apa-apa.
Simpang kecil yang mulutnya hampir tersembunyi di antara semak yang sudah lama tidak dipangkas, dengan jalan setapak tanah yang lebarnya hanya cukup untuk satu orang berjalan dan sudah jelas tidak dilalui kendaraan bermotor dalam waktu sangat lama — rumput tumbuh di tengahnya, tapi tidak cukup tinggi untuk menyembunyikan lekukan tanah yang membuktikan bahwa jalan ini memang pernah ada dan pernah dilalui, hanya sudah sangat lama tidak dikunjungi.
Rio berdiri di mulut simpang itu selama beberapa detik, menatap ke dalam.
Pohon-pohon besar di kedua sisinya menciptakan kanopi yang membuat cahaya sore yang sudah condong ke barat masuk dengan cara yang tersaring dan keemasan — bukan gelap, tapi berbeda dari cahaya di jalan utama yang terbuka. Lebih dalam. Lebih tenang dengan cara yang terasa aktif, bukan sekadar absennya kebisingan.
Wukong di pundaknya tidak bergerak.
Serigala di sisinya berhenti selangkah di belakang Rio, mengendus udara dari arah jalan setapak itu dengan gerakan yang lebih lama dan lebih serius dari biasanya.
Kemudian mendengkur pelan sekali.
Bukan tanda bahaya. Rio sudah hafal perbedaannya.
Tanda bahwa ada sesuatu di ujung jalan ini yang layak untuk didekati.
---
Perjalanan tiga jam yang Pak Darmawan sebutkan terbukti akurat untuk kaki manusia biasa.
Rio menempuhnya dalam dua jam empat puluh menit — bukan karena ia memaksakan kecepatan, melainkan karena ia tidak berhenti sama sekali dan jalur yang ia ikuti memiliki logika yang mengalir, seperti seseorang yang sudah mendesain rute ini dengan mempertimbangkan cara manusia bergerak secara alami melalui medan yang tidak rata.
Jalan setapak itu naik di dua pertiga pertama, cukup curam di beberapa titik tapi tidak pernah sepenuhnya terjal, kemudian turun dengan kemiringan yang gradual di sepertiga terakhir menuju suara yang mulai Rio dengar sejak sepuluh menit terakhir sebelum tiba.
Air.
Bukan deras, bukan diam. Sesuatu di antaranya — aliran yang konsisten dan tenang dengan suara yang bisa didengar dari jarak cukup jauh tapi tidak mendominasi suara sekitarnya.
---
Lembah itu lebih kecil dari yang Rio bayangkan.
Lekukan alami di antara dua bukit yang tidak terlalu tinggi, dengan sungai yang lebarnya mungkin tiga meter mengalir dari utara ke selatan membelah tengahnya. Vegetasi di sekitarnya padat tapi tidak liar — seolah alam di sini memutuskan untuk tumbuh dengan tertib tanpa ada campur tangan manusia yang mengarahkannya, dan hasilnya adalah sesuatu yang terlihat lebih seperti taman daripada hutan.
Dan tujuh batu.
Persis seperti yang Pak Darmawan ceritakan — batu-batu besar yang tersusun di tepi timur sungai dengan jarak yang terlalu teratur untuk disebut kebetulan, masing-masing setinggi antara pinggang dan bahu orang dewasa, permukaannya berlumut tapi bentuknya masih jelas dan tidak ada yang tampak lebih tua dari yang lain. Seolah ketujuhnya diletakkan di sana pada waktu yang sama oleh tangan yang sama.
Sungainya — di sore hari yang sudah condong jauh ke barat ini — berwarna tembaga.
Bukan metafora. Bukan efek cahaya yang bisa dijelaskan dengan cara sederhana. Air yang mengalir di antara bebatuan dasar sungai itu memantulkan cahaya sore dengan warna oranye kecokelatan yang bergerak mengikuti arus, seperti logam cair yang tidak panas dan tidak berbahaya tapi memilih warna tembaga sebagai wujudnya sore ini.
Rio berdiri di tepi sungai, menatap airnya selama beberapa detik.
Panel sistem menyala.
---
**[Konfirmasi Lokasi: Lembah Tujuh Batu — Koordinat Valid]**
**[Penanda Berikutnya: Pohon miring ke timur — tepi barat sungai]**
---
Rio menyeberangi sungai di titik yang paling dangkal — air setinggi pergelangan kaki, dingin dengan cara yang menyegarkan setelah hampir tiga jam berjalan. Serigala menyeberang tanpa ragu. Wukong melompat dari batu ke batu dengan presisi yang tidak butuh usaha.
Di lekukan bahu kirinya, kehangatan Abyssal Goddess Weaver berubah intensitasnya begitu kaki Rio menyentuh tanah di sisi barat sungai.
Lebih dalam. Lebih padat.
Seperti mengenali sesuatu.
---
Pohonnya ada dua puluh meter dari tepi sungai.
Rio menemukannya bukan karena mencari dengan teliti melainkan karena begitu matanya menangkap siluetnya di antara pohon-pohon lain, ia langsung tahu — tidak ada pohon lain di lembah ini yang tumbuh dengan kemiringan seperti itu. Batang utamanya yang sebesar pelukan dua orang dewasa miring ke timur pada sudut yang tidak ekstrem tapi sangat jelas dan sangat konsisten dari pangkal sampai ujungnya, seperti seseorang yang sudah lama berdiri condong ke satu arah dan tubuhnya sudah sepenuhnya menerima postur itu sebagai postur defaultnya.
Akarnya di sisi barat menyembul lebih tinggi dari sisi timur — mencuat dari tanah dengan cara yang menunjukkan bahwa sesuatu di bawah sisi barat membuat akar-akar itu memilih tumbuh ke arah lain sejak sangat lama.
Rio berdiri di depan pohon itu.
Menatap ke atas mengikuti kemiringan batangnya yang menjulur ke arah timur, kemudian kembali ke bawah ke akar-akar yang menyembul di sisi barat.
"Di bawah pohon itulah," gumam Rio, mengulang kata-kata dari cerita Pak Darmawan, "ia pertama kali menemukan tempat ini."
Ia berlutut di depan akar yang paling besar — akar yang mencuat hampir setinggi lutut dari tanah, dengan permukaan yang sudah dilapisi lumut tipis berwarna hijau tua. Di antara akar itu dan tanah di sekitarnya ada celah kecil yang terisi dedaunan kering yang sudah mengendap dalam lapisan-lapisan.
Rio menyingkirkan dedaunan itu dengan tangannya.
Di bawahnya, batu datar.
Bukan batu biasa — permukaannya terlalu rata untuk batu yang ada di sini secara alami, dan ukurannya terlalu pas untuk celah di antara akar-akar pohon itu, seperti sesuatu yang memang diletakkan di sana dengan tujuan.
Dan di permukaan batu itu, satu ukiran kecil.
Dua huruf.
*R.A.*
---
Rio menatap ukiran itu tanpa bergerak selama empat detik.
Cara pengukirannya persis sama dengan yang ada di benda logam yang Raymond berikan — tekanan yang sama, huruf R yang miring sedikit ke kiri dengan cara yang sama, proporsional yang sama.
Tangan yang sama.
Rio menjulurkan jarinya, menyentuh permukaan batu itu tepat di atas ukiran dua huruf itu.
---
Tanah di sekitar pohon bergetar.
Bukan gempa. Bukan ledakan. Getaran yang sangat spesifik dan sangat terlokalisir — hanya radius dua atau tiga meter dari pohon itu yang bergerak, selebihnya diam. Akar-akar pohon yang menyembul dari tanah bergerak seperti jari tangan yang sedang melepaskan genggamannya pada sesuatu yang sudah lama dipegang, dan di antara akar-akar itu tanah mulai bergerak dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme geologis biasa.
Turun.
Bukan runtuh. Turun dengan teratur, seperti elevator yang sudah menunggu penumpang dan baru sekarang dipanggil setelah bertahun-tahun tidak ada yang menekan tombolnya.
Rio berdiri cepat, mundur selangkah.
Batu datar yang tadi ia sentuh ikut turun bersama tanah di sekitarnya, membuka ruang di bawahnya — bukan lubang gelap, melainkan sesuatu yang jauh dari gelap karena dari dalam ruang yang terbuka itu cahaya naik ke atas, berwarna putih kebiruan yang tidak menyilaukan tapi cukup terang untuk menerangi area di sekitar pohon itu dalam radius beberapa meter.
Tangga.
Tangga batu yang turun ke bawah dengan rapi, dindingnya dilapisi sesuatu yang menghasilkan cahaya itu — bukan teknologi hunter yang Rio pernah lihat di dungeon manapun, sesuatu yang lebih tua dari itu dan lebih sederhana dari itu sekaligus.
---
Panel sistem menyala dengan warna yang sudah Rio kenal.
Biru tua.
---
**[Fragment Tambahan Terdeteksi — Adrian Albert]**
**[Bukan pesan tersimpan. Bukan rekaman.]**
**[Ini adalah transmisi langsung.]**
**[Pengguna sistem yang aktif telah mencapai lokasi yang dituju.]**
**[Seseorang di bawah sana tahu kamu sudah tiba.]**
---
Rio membaca baris terakhir itu sekali.
*Seseorang di bawah sana tahu kamu sudah tiba.*
Serigala di sisinya mendekati tepi tangga, mengendus udara yang naik dari bawah dengan cara yang lebih intens dari apapun yang pernah Rio lihat serigala itu lakukan sebelumnya. Kemudian duduk tepat di tepi itu, menatap ke bawah, dan mengeluarkan suara yang bukan geraman dan bukan dengkuran.
Sesuatu di antaranya.
Panggilan.
Sangat pelan. Sangat terkendali. Tapi dengan cara yang jelas memiliki tujuan — seperti makhluk yang tahu ada sesuatu di bawah sana yang bisa mendengarnya dan memilih untuk memberitahu bahwa ia ada di sini.
Wukong turun dari pundak Rio, berdiri di tepi tangga di sebelah serigala, menatap ke bawah juga.
Tidak ke Rio.
Ke bawah.
Seperti keduanya mengenali sesuatu dari cahaya yang naik itu — bau, energi, sesuatu yang tidak punya nama dalam kosakata sensor hunter manapun tapi sangat nyata bagi makhluk yang pernah berada di dunia yang sama dengan sumber cahaya itu.
---
Rio menarik napas pelan.
Di lekukan bahu kirinya, Abyssal Goddess Weaver berdenyut dengan cara yang berbeda dari semua denyutan sebelumnya — lebih panjang, lebih kompleks, seperti seseorang yang sedang berbicara dalam bahasa yang tidak punya terjemahan tapi maknanya bisa dirasakan langsung tanpa melalui kata-kata.
Bukan peringatan.
Bukan dorongan.
Sesuatu yang lebih dekat ke pengakuan — bahwa momen ini nyata, bahwa orang di bawah sana nyata, dan bahwa tiga hari ikatan jiwa yang baru terbentuk sudah cukup untuk membuat makhluk yang delapan puluh empat tahun tidak mempercayai apapun memberikan sesuatu yang sangat sederhana kepada Rio di momen ini.
Keberanian untuk melangkah.
---
Rio melangkah ke tepi tangga.
Menatap ke bawah ke cahaya putih kebiruan yang naik dari kedalaman yang tidak bisa ia lihat ujungnya dari sini.
Kemudian mulai turun.
Wukong mengikuti di belakang kanannya. Serigala di belakang kirinya. Di lekukan bahu dan leher kirinya kehangatan yang sudah tiga hari menjadi bagian dari ritme tubuhnya ada dengan cara yang paling stabil sejak pertama ia rasakan.
Tangga batu itu turun dua puluh tiga anak tangga sebelum berbelok ke kiri dan membuka ke sebuah ruangan.
Rio berhenti di belokan itu.
Ruangan di depannya tidak besar — ukurannya mungkin dua kali kamar kontrakannya, dengan langit-langit yang cukup tinggi untuk berdiri tegak tanpa risiko membentur apapun. Dindingnya terbuat dari batu yang sama dengan tangganya, dengan lapisan bercahaya yang sama yang menerangi ruangan ini dari segala sisi tanpa sumber cahaya yang bisa diidentifikasi.
Di tengah ruangan itu ada satu kursi batu.
Dan di kursi batu itu duduk seorang laki-laki.
Matanya tertutup. Nafasnya ada — Rio bisa melihat gerakan dadanya yang teratur dari jarak ini, lambat dan dalam seperti seseorang yang sedang tidur sangat nyenyak atau sedang dalam kondisi meditasi yang sangat dalam. Rambutnya sudah memanjang dari terakhir ia sempat dipotong, hitam bercampur abu-abu di pelipisnya. Tubuhnya lebih kurus dari foto buram di majalah tua itu tapi postur duduknya masih memiliki sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh waktu atau kekurangan dari penampilan seseorang.
Wajahnya.
Wajah yang sama.
Dua puluh tahun lebih tua dari foto itu. Lebih lelah di sekitar matanya meskipun matanya tertutup. Dengan satu garis kecil di sudut kiri bibirnya yang dalam kondisi istirahat seperti ini masih menyisakan bentuk senyum tipis yang tidak sepenuhnya hilang.
Rio berdiri di ambang ruangan itu selama tiga detik penuh.
Kemudian laki-laki di kursi batu itu membuka matanya.
Mata ayahnya terbuka. Dan hal pertama yang diucapkan Adrian Albert setelah tiga belas tahun bukan nama Rio, bukan permintaan maaf, bukan penjelasan. Tapi satu kalimat pendek yang membuat Rio berdiri sangat diam di ambang ruangan itu karena kalimat itu adalah kalimat yang persis sama dengan yang selalu Rio ucapkan kepada Wukong setiap pagi sejak hari pertama mereka bertemu.*
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣