Seorang gadis cantik, ia mahasiswa berprestasi tinggi bernama Sheril Mehrunissa. Ia terjebak dalam situasi yang sulit. Kesucian yang ia pertahankan selama ini akhirnya direnggut oleh pria yang tidak di kenalnya.
Tidak sampai disitu saja. Ternyata dia hamil. Pihak kampus langsung mencabut semua pasilitas yang dia dapatkan, ia di keluarkan secara tidak hormat karena sudah mencoreng nama baik kampus.
Nasib buruk terus saja menghampiri Sheril, sampai-sampai ia terkena tekanan batin saat ayah dari bayinya sendi menculik dan mengurungnya di sebuah villa.
Sheril terpaksa menikah sirih dengan pria yang sudah memiliki istri.
ikuti kisah selanjutnya ...
jangan lupa dukungannya
berikan 🔯 5 jika kalian terkesan.
wajib like dan vote jika sudah membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desi m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan batin
"Cepatlah katakan," ujar Zian setelah mereka duduk menjauhi kamar dimana perempuan itu berbaring.
"Santai Bro, masi pagi kok," ujar Irwin melirik jam tangannya sekilas.
Zian menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Zian, saya adalah dokter pribadi keluargamu sejak lama, sekaligus teman kamu sejak kecil. Saya hanya ingin tau, apa hubungan mu dengan gadis itu? Apakah dia hamil anak mu?" Tanya Irwin dengan hati-hati sambil menatap Zian mencari kebenarannya.
Zian tau kalau dokter Irwin tidak bisa di bohongi.
"Kenapa kamu selalu ingin ikut campur dengan urusan pribadi saya," tukas Zian sinis.
Irwin tersenyum samar mendengar ucapan Alzian.
"Zian, maaf jika saya terlalu ikut campur dengan urusan pribadi kamu, seharusnya memang tidak pantas saya menanyakan ini. Karena saya sudah ikut campur mengenai keluarga kamu, saya harus memberitahu mu mengenai satu hal, kamu sudah memiliki istri yang sangat kamu cintai bukan? Lalu kenapa dengan perempuan itu? Zian ayolah, apakah kamu tidak memikirkan akibatnya jika istrimu mengetahui hal ini?" Ujar Irwin membuat Zian menatapnya dengan pandangan kosong.
Yang di katakan dokter irwin adalah benar, jika istrinya tau, rumah tangganya pasti akan berada di ujung tanduk.
"Sekali lagi saya katakan, ini urusan pribadi saya, kamu tidak berhak ikut campur!" Ujar Zian dengan mengeraskan rahangnya.
"Tidak Zian, perempuan yang ada di dalam sana, dia adalah perempuan polos, dia wanita baik-baik saja, saya harap jangan kau lakukan untuk menambah beban pikirannya lagi," ujar Irwin.
"Irwin! Jangan sok tau mengenai perempuan itu," ujar Zian berbisik tapi tetap dengan suara khasnya.
"Ingat Zian, saya bukan sok tau, tapi saya memang tau, jangan sampai kamu menyesalinya di kemudian hari."
Dokter Irwin meninggalkan Zian yang mematung. Ia mencerna ucapan Irwin.
Setelah dokter Irwin menghilang di balik tembok, Zian bergegas masuk kedalam kamar itu lagi. Ia menatap lekat wajah perempuan itu.
"Benarkah dia perempuan baik-baik? Jika dia perempuan baik, lalu anak siapa yang di kandungnya? Apakah itu anak ku?" Pertanyaan hati Zian kembali memenuhi isi kepalanya.
"Tuan, dia belum juga sadar," ujar bibi Anum yang sengaja di perintah Zian untuk menjaganya.
Zian terdiam sejenak. "Bibi, tolong jaga dia, saya akan segera kembali," ujar Zian.
Zian melangkahkan kakinya dengan lebar, kemudian menutup pintu kamar itu dengan rapat.
"Tono, kau tetap disini, saya mau keluar sebentar," ujar Zian yang langsung di anggukkin oleh Tono yang menjadi bodyguard menjaga nona Sheril.
Setelah kepergian Zian, Sheril terbangun dengan berteriak histeris. Ia melempar semua barang yang ada di sekitarnya.
"Tidak ...! Jangan lakukan itu padaku lagi, kau bangsat, kau brengsek, kau bajingan! Hiks-hiks-hiks."
Bibi Anum kaget dengan teriakan nona cantik itu.
"Nona, tenanglah, bibi ada disini, kau tenang ya," ucap bibi Anum berusaha menenangkan nona cantik itu. Bibi Anum memeluknya dengan erat. Sementara Tono langsung membuka pintu kamarnya setelah mendengar ada keributan dari dalam.
"Ada apa bi?" Tanya Tono cemas saat melihat perempuan itu membanting semua barang yang ada di dekatnya.
Bibi Anum tidak cukup kuat mengendalikan tenaga Nona cantik itu, beberapakali ia terpental akibat terjangan kakinya.
"Pergi dari sini! Aku membencimu!" Teriak Sheril dengan suara seraknya.
"Tono, bantu saya memegangi tangannya," ujar bibi Anum.
Tono langsung memegang kedua tangan Sheril dan memaksanya untuk diam di tempat.
"Brengsek kau, bajingan, jangan mendekati ku, pergi dari sini!" Cerca Sheril lagi. Bibi Anum tidak mengerti siapa yang dikatakan Nona cantik itu. Ia kembali menenangkannya dengan memeluknya dengan erat.
"Bibi ada di sini, Nona tenanglah, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi, tenanglah," ujar Bibi Anum mengelus pucuk kepala Sheril dengan penuh kasih sayang.
Sheril menangis histeris. Ia tampak ketakutan memeluk bibi Anum. Bibi Anum cukup lega setelah Nona itu menghentikan aksinya.
"Menangis lah Nona, bibi akan memberikan tempatmu untuk bersandar," ujar bibi Anum menenangkan Sheril.
"Aku ingin pergi dari tempat terkutuk ini, aku ingin pergi, aku kangen dengan nenekku hiks-hiks-hiks,"
Bibi Anum merasa iba melihat perempuan itu.
"Nona, makan dulu ya, biar bibi suapi," ujar bibi Anum sambil menyodorkan bubur yang di buatnya barusan.
Sheril diam saja, ia tidak membuka mulutnya sama sekali, bahkan pandangannya terlihat kosong.
"Nona, buka mulutmu, nanti kamu sakit kalau tidak makan, ayolah sekali saja," ujar bibi Anum lagi.
"Tidak! aku tidak mau makan! aku ingin pergi dari sini! Aku ingin pulang!"
Prang ....
Sheril menepis mangkuk yang sedang dipegang bibi Anum hingga terjatuh dan berserakan di lantai.
Bersamaan itu juga Alzian dan dokter kandungan yang akan memeriksa Sheril masuk kedalam kamar. Mereka terkejut dengan apa yang di lakukan Sheril, ia menjerit histeris seperti orang tidak sadar.
"Kalian semua jahat, kalian jahat!" Teriak Sheril.
"Bibi apa yang terjadi?" Ujar Zian menatap mangkuk yang pecah berserakan di lantai.
"Nona tidak mau makan, ia menumpahkan makanan ini," ujar bibi Anum.
"Cepat bersihkan Bi," titah Zian, lalu menatap Sheril dengan ekspresi tanda tanya.
Sheril menggeser tubuhnya kesamping saat Zian menatapnya. Ia seperti ketakutan saat melihat Zian.
"Kenapa kau selalu mengganggu ku! Pergi dari sini! Pergi ... ! Aku tidak ingin melihat wajahmu! Pergi!" Sheril melempar Zian dengan semua barang yang ada di sekitarnya.
Zian ingin mendekati Sheril, tapi tangannya di tahan oleh dokter Sarah.
"Tuan, untuk saat ini jangan dekati dia dahulu, biar aku coba menenangkannya," ujar Dokter Sarah.
Zian menuruti saran dari dokter Sarah, ia langsung pergi keluar dengan langkah yang tidak pasti.
tekan like habis membaca ya, jangan lupa untuk vote dan juga dukungannya agar author update lagi.