Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Anomali Biru dan Protokol Nol
Hujan menderas, memukul atap seng bengkel kumuh di pinggiran kota Jakarta dengan ritme yang memekakkan telinga. Aroma oli bekas, karat, dan debu basah menguar tajam di udara.
Di sudut ruangan yang temaram, diterangi lampu pijar yang terus berkedip, Yudha mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh pelumas. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu menatap lekat-lekat sebuah objek di atas meja kerjanya.
Itu bukan blok mesin motor atau papan sirkuit komputer. Itu adalah sebuah kubus hitam pekat sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Yudha menemukannya tiga hari lalu di lapak seorang pemulung tua. Benda itu sama sekali tidak memiliki sambungan, mur, atau celah. Permukaannya sedingin es, dan anehnya, cahaya lampu tampaknya terserap ke dalamnya alih-alih memantul. Insting mekaniknya mengatakan benda itu bukan berasal dari bumi, atau setidaknya, bukan dibuat dengan teknologi manusia modern.
"Satu aliran listrik lagi. Kalau masih tidak ada reaksi, aku akan membelahnya dengan gergaji mesin," gumam Yudha dengan suara serak. Matanya merah karena kurang tidur.
Ia mengambil penjepit buaya yang terhubung ke aki bertenaga tinggi, lalu menempelkannya ke dua sisi kubus yang berlawanan.
BZZZT!
Tiba-tiba, lampu pijar di atas kepalanya meledak kecil dan mati total. Bengkel itu tenggelam dalam kegelapan pekat. Suara rintik hujan terasa semakin keras. Namun, sebelum Yudha sempat mengumpat, kubus hitam di atas mejanya mulai bergetar.
Benda itu meretakkan kegelapan. Garis-garis cahaya biru cerah muncul di permukaannya, membentuk pola geometris yang mustahil dipahami oleh akal sehat. Cahaya itu semakin menyilaukan, menyapu seluruh ruangan, menembus dinding seng bengkel, dan melesat vertikal membelah awan badai di langit malam.
Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepala Yudha bak godam tak kasat mata.
Ia jatuh berlutut, mencengkeram kepalanya hingga kuku-kukunya memutih. Telinganya berdenging keras. Bersamaan dengan rasa sakit itu, sebuah suara bergema. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan langsung ditanamkan ke dalam korteks otaknya. Dingin, mekanis, dan tanpa emosi.
[PERHATIAN KEPADA SELURUH PENDUDUK SEKTOR 7-BUMI.]
[Fase Observasi telah selesai. Era isolasi telah diakhiri.]
[Integrasi Jaringan Semesta dimulai. Evolusi paksa diaktifkan.]
Yudha membuka matanya dengan susah payah sambil terengah-engah. Di udara kosong, tepat setengah meter di depan wajahnya, mengambang sebuah layar holografik berwarna biru transparan. Teks putih muncul di sana dengan kecepatan tinggi.
[Menganalisis inang...]
[Pemindaian fisik: Manusia biasa. Potensi dasar: Rendah.]
[Memasukkan inang ke dalam kategori populasi umum...]
Tiba-tiba, kubus hitam di atas meja hancur menjadi debu bercahaya biru, dan debu tersebut melesat masuk ke dalam dada Yudha. Udara di sekitarnya terasa membeku. Teks di layar biru seketika berkedip merah.
[ANOMALI TERDETEKSI!]
[Inang melakukan kontak langsung dengan 'Inti Data Kuno' sebelum inisialisasi Sistem selesai.]
[Menimpa otoritas Sistem... Berhasil.]
[Mengubah jalur evolusi inang...]
Yudha menahan napas, rasa sakit di kepalanya mulai mereda, digantikan oleh sensasi dingin yang mengalir di pembuluh darahnya. Di luar bengkelnya, sayup-sayup terdengar rentetan suara mengerikan. Ban mobil yang berdecit keras, benturan logam, ledakan dari kejauhan, dan... jeritan manusia yang disayat kepanikan.
Dunia di luar sana sedang runtuh dalam hitungan detik. Namun, mata Yudha terpaku pada layar di depannya yang kembali berubah warna menjadi biru keemasan.
[Kelas unik diberikan: Mekanik Anomali (Tingkat Pertumbuhan: Tak Terbatas)]
[Status Inang: Level 1]
[Atribut Dasar:]
Kekuatan: 7 (Rata-rata manusia: 10)
Agilitas: 9 (Rata-rata manusia: 10)
Ketahanan: 8 (Rata-rata manusia: 10)
Kecerdasan: 18 (Rata-rata manusia: 10)
Daya Komputasi: 100/100
[Misi Bertahan Hidup Pertama: Keluar dari Zona Pemijahan Monster]
Deskripsi: Sistem telah melepaskan entitas penguji tingkat rendah ke lingkungan Anda untuk merangsang evolusi.
Batas Waktu: 10 Menit.
Hadiah: +100 Poin Pengalaman, Pembaruan Cetak Biru Senjata Tingkat 1.
Hukuman Kegagalan: Kematian.
Kematian. Kata itu tertulis dengan jelas.
KRAAAAK!
Suara logam yang ditarik paksa membuat Yudha tersentak. Sesuatu sedang menggaruk pintu besi rolling door bengkelnya dari luar. Suara garukannya terlalu keras dan dalam untuk ukuran anjing liar. Itu adalah suara cakar yang menembus baja ringan.
BAM! BAM!
Pintu rolling door itu penyok ke dalam. Entitas di luar sana mencium bau daging manusia di dalam.
Yudha tidak berteriak. Ia tidak menangis. Bertahun-tahun hidup sendiri dan menghadapi kerasnya jalanan telah membunuh kepanikannya, menggantikannya dengan fokus yang mematikan saat terdesak.
Otaknya yang mencatat skor Kecerdasan 18 bekerja cepat. Melarikan diri lewat pintu belakang percuma jika ia tidak tahu apa yang mengejarnya. Ia butuh senjata.
Yudha menendang kursi kerjanya, melangkah menuju kotak perkakas raksasa di sudut ruangan. Ia mengabaikan obeng atau palu kecil. Tangannya meraih sebuah kunci inggris perpipaan terbuat dari baja padat berukuran hampir satu meter—sebuah alat berat yang biasanya digunakan untuk membongkar mesin truk. Beratnya mencapai lima kilogram.
Ia memutar lehernya hingga berbunyi krek, menggenggam erat kunci inggris baja itu dengan kedua tangan, dan mengambil posisi kuda-kuda menyamping di dekat pintu.
BAM! BRAK!
Engsel rolling door akhirnya menyerah. Pintu logam itu terkoyak dan terlempar ke atas. Bersamaan dengan kilat yang menyambar di langit malam, siluet makhluk itu terlihat.
Bentuknya menyerupai anjing seukuran anak sapi, namun tanpa kulit. Otot-otot merahnya terekspos, bernapas terengah-engah mengeluarkan uap panas, dengan deretan gigi setajam silet yang meneteskan air liur asam.
Di atas kepala makhluk itu, sebuah teks merah kecil melayang:
[Anjing Neraka Mutan - Level 2]
Makhluk itu menatap Yudha, menggeram, dan menerjang maju.
Yudha mengertakkan gigi, mengeratkan cengkeramannya pada gagang kunci inggris bajanya.
"Selamat datang di bengkelku, keparat."