NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Peluh tipis yang membasahi dahi sama sekali tidak melunturkan binar bahagia di wajah Nadya saat ia meletakkan mangkuk terakhir di atas meja. Perjuangannya berkutat dengan pisau dan wajan akhirnya tuntas, menghasilkan semangkuk sup ikan gabus kaya nutrisi untuk memulihkan stamina Paman Amar yang masih sakit. Tak lupa, sebagai senjata utama untuk meluluhkan hati sang pangeran es, meja itu juga dipenuhi oleh deretan masakan favorit Rexsaka yang ia racik dengan penuh cinta. Kini, tinggal menunggu pria itu keluar dari kamarnya.

​Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tepat pada detik itu, Rexsaka melangkah keluar dari kamar dengan gaya kasual yang memikat. Pemuda itu mengenakan kaus oblong polos berwarna putih yang dilapisi kemeja flanel baby blue dengan kancing dibiarkan terbuka, dipadukan dengan celana black denim berpotongan lurus. Sepasang sepatu leather boots hitam menyempurnakan penampilannya hari ini. Gaya yang santai namun tetap rapi dan sopan itu justru kian menonjolkan aura ketampanannya yang maskulin.

"Ka, ayo sini sarapan dulu," panggil Amar begitu melihat putranya berniat melintasi area meja makan begitu saja. Pria paruh baya yang sejak tadi setia duduk menunggu Nadya selesai memasak itu melambaikan tangan, menghentikan langkah sang putra.

​Mau tidak mau, Rexsaka terpaksa menuruti panggilan ayahnya. Dengan helaan napas samar, ia berbalik arah lalu menarik kursi untuk duduk di samping Amar. Kepasrahan Rexsaka seketika membuat Nadya, yang sudah duduk manis di seberangnya tersenyum lebar penuh kemenangan.

"Selamat makan, Kak Rex! Semoga Kakak suka dengan masakan Nadya," ucap gadis itu dengan senyum manis yang merekah lebar. Namun, seperti biasa, tidak ada satu patah kata pun yang keluar sebagai balasan dari Rexsaka.

​Dalam keheningan itu, Rexsaka menarik piringnya dan mulai mengambil nasi serta lauk-pauk. Di balik wajahnya yang sedatar dinding, terselip sedikit keterkejutan saat menyadari bahwa hampir seluruh menu yang tersaji adalah makanan kesukaannya, kecuali sup ikan gabus yang sengaja diletakkan tepat di hadapan ayahnya. Namun, dengan cepat ia menguasai diri dan menyembunyikan keterkejutan itu di balik ekspresi dinginnya.

​Akan tetapi, begitu suapan pertama yang berisi perpaduan nasi hangat, ayam kecap, dan sayur bayam itu masuk ke dalam mulutnya, Rexsaka seketika tertegun. Rasa ini... begitu familier. Sebuah rasa hangat yang sudah sangat lama tidak ia kecap, rasa yang begitu mirip dengan masakan mendiang ibunya.

Netra hitam pekatnya perlahan terangkat, menatap lekat gadis di seberang meja dengan sejuta tanya yang tiba-tiba berkecamuk di kepala. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin gadis manja yang keras kepala ini sanggup menyajikan cita rasa yang begitu identik dengan masakan rumah buatan mendiang ibunya?

​Menyadari tatapan intens tersebut, Nadya memajukan sedikit tubuhnya dengan binar mata penuh harap. "Gimana, Kak? Enak?" tanyanya penasaran, tak sabar mendengar penilaian dari pria di hadapannya.

​Rexsaka buru-buru memutuskan kontak mata. Ia kembali mengunyah makanannya dengan tenang demi menyembunyikan riak emosi dan nostalgia yang mendadak bergolak di dadanya.

​"Lumayan," sahutnya singkat dan datar, terlampau gengsi untuk mengakui bahwa masakan itu sebenarnya terasa luar biasa hangat di lidahnya.

"Ish..." Nadya mendengus geli dengan senyum yang kian mengembang di bibir. Ia tahu betul pria itu sedang berbohong, terlihat jelas dari cara Rexsaka yang mulai menyuap makanannya dengan begitu lahap.

​Perjuangan dan air mata yang ia tumpahkan selama belajar memasak belakangan ini rasanya terbayar lunas hari ini. Meski belum bisa disebut koki andal dan baru menguasai menu-menu favorit Rexsaka, yang sengaja ia pelajari mati-matian mulai dari ikut kelas memasak, berselancar di YouTube dan media sosial, hingga diam-diam mengorek informasi dari Amar tanpa pria paruh baya itu sadari, usaha kerasnya akhirnya membuahkan hasil yang manis. Pemuda kaku itu terkesan, meski gengsi setinggi langit masih menahan lidahnya untuk melayangkan pujian.

​"Ini enak sekali, Non. Non Nadya belajar masak dari mana? Masakan Non ini rasanya mirip dengan masakan almarhumah ibunya Saka," puji Amar tulus, matanya berbinar haru menikmati hidangan di piringnya.

​"Hmm... Nadya nggak belajar khusus kok, Paman. Cuma sering bantuin Mama di dapur, terus coba-coba sendiri aja," kilah Nadya ringan.

​Namun, jawaban itu langsung mengundang tatapan intens nan menyelidik dari pria di seberangnya. Netra tajam Rexsaka awalnya terkunci pada wajah Nadya, sebelum akhirnya turun perlahan dan terpaku pada jemari mungil gadis itu di atas meja. Di sana, jari-jemari lentik Nadya tampak menekuk kaku ke dalam telapak tangan hingga membentuk kepalan samar, sebuah gestur psikologis pertahanan diri yang tak bisa berdusta saat gadis itu sedang menyembunyikan kebenaran.

​Menyadari kebohongan kecil yang menggemaskan itu, Rexsaka mendengus. "Cih," decihnya pelan, sarat akan ketidakpercayaan.

​Sontak, respons spontan dari pria dingin itu langsung menarik perhatian Nadya. Gadis itu mendongak, membalas tatapan Rexsaka dengan kening berkerut heran.

​Rasa herannya kian bertambah saat tiba-tiba Rexsaka bangkit berdiri. Pemuda itu mengangkat piringnya sendiri yang sudah tandas tak bersisa, lalu melangkah lebar menghampiri sisi meja tempat Nadya duduk. Tanpa sepatah kata pun, tangan kekar Rexsaka terulur menyambar piring milik Nadya, yang makanannya masih utuh dan bahkan belum sempat gadis itu cicipi sedikit pun, lalu membawanya begitu saja ke arah wastafel.

​"Eh, mau dibawa ke...ma..."

​Ucapan Nadya terhenti di tenggorokan. Kedua matanya seketika membelalak nanar menyaksikan Rexsaka membuang seluruh isi piringnya ke dalam tempat sampah tanpa ragu. Dada Nadya mendadak sesak, menyisakan rasa perih yang tertahan di hulu hati. Ingin rasanya ia menangis detik itu juga, meratapi makanan yang bahkan belum sempat menyentuh bibirnya, kini justru berakhir mengenaskan di dalam kantong plastik hitam itu.

Secepat kilat, Nadya mengangkat wajahnya dan menatap Rexsaka dengan sorot tajam, dipenuhi protes yang nyaris meluap. Namun, pria itu sama sekali tak menggubrisnya. Dengan tenang, ia meraih pergelangan tangan Nadya dan menariknya hingga gadis itu refleks bangkit dari kursinya.

Tanpa melepaskan genggamannya, Rexsaka meraih tas Chanel yang tergantung di sandaran kursi sebelah. Tas itu kemudian disodorkannya ke arah Nadya hingga refleks dipeluk oleh gadis tersebut.

"Ka... apa yang sedang kamu lakukan?" seru Amar akhirnya, tak lagi mampu membungkam keterkejutannya. Sejak tadi pria paruh baya itu hanya bisa melongo menyaksikan tingkah putranya.

Raut wajah Amar dipenuhi rasa tak habis pikir. Setelah semua jerih payah Nadya bangun pagi, berbelanja, lalu bersusah payah memasakkan sarapan untuk mereka, Rexsaka justru memperlakukan gadis itu dengan dingin tanpa sedikit pun menghargai ketulusannya. Sikap putranya itu benar-benar membuatnya tampak seperti tuan rumah yang tidak tahu diri.

"Dia harus pulang, Yah," jawab Rexsaka enteng. Nada suaranya begitu datar, sama sekali tidak terusik oleh protes keras sang ayah.

​"Tapi Non Nadya belum makan, Nak! Biarkan dia makan dulu. Kasihan dia, di rumahnya juga makan sendiri, tidak ada yang menemani," bela Amar bersungguh-sungguh.

​Mendengar pembelaan itu, Nadya langsung mengangguk cepat dengan gurat wajah sendu, melemparkan tatapan memelas ke arah Amar seolah meminta perlindungan.

​Namun, Rexsaka tetap bergeming. Ia tidak repot-repot membalas ucapan ayahnya.

"Dia berbohong," ucap Rexsaka dingin. Gestur jemari Nadya yang kembali menekuk sudah cukup menjadi bukti bahwa gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu. Rexsaka tahu, orang tua Nadya pasti masih berada di rumah.

​Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari sang ayah, Rexsaka langsung mencengkeram pergelangan tangan Nadya dan menariknya paksa keluar dari rumah. Langkah lebarnya menyeret gadis itu hingga mereka tiba di samping mobil milik Nadya.

​"Buka pintunya," perintah Rexsaka dengan nada suara yang begitu rendah dan dingin, membuat bulu kuduk Nadya meremang.

​Mau tidak mau, dengan tangan gemetar Nadya merogoh kunci dari tasnya. Begitu bunyi klik dari remote otomatis terdengar, Rexsaka langsung menyentak pintu mobil hingga terbuka, lalu mendorong Nadya masuk ke balik kemudi tanpa kelembutan sedikit pun.

​"Langsung pulang," desisnya tajam sebelum akhirnya membanting pintu mobil itu dengan keras.

Begitu mobil Nadya meluncur keluar melewati pagar rumah, dugaan Rexsaka terbukti benar. Sebuah mobil sedan hitam tampak bergerak mengintai, membuntuti kendaraan gadis itu dari belakang. Dari sorot mata taktisnya, Rexsaka bisa memastikan satu hal, itu bukan mobil pengawal milik Andy Sismoko.

​Tanpa membuang waktu, Rexsaka segera melangkah cepat menghampiri kendaraannya sendiri. Ia menyalakan mesin, lalu bergerak membayangi mobil penguntit itu, menjaga jarak aman agar kehadirannya tetap tak terdeteksi di tengah jalanan.

Di balik kemudi, setir mobil menjadi pelampiasan pertama kemarahan Nadya. Ia memukul benda berbahan kulit itu dengan telapak tangannya berulang kali, meluapkan rasa sesak yang sejak tadi menyumbat dadanya. Air mata yang sempat ia tahan di depan Rexsaka kini luruh tanpa permisi, membasahi pipinya yang memerah karena amarah dan rasa malu.

​"Cowok gila! Es batu berjalan! Manusia nggak punya perasaan!" umpat Nadya setengah berteriak, suaranya parau bergetar di dalam mobil yang tertutup rapat.

"Bisa-bisanya dia buang makanan itu! Apa dia nggak tahu gue belum makan? Emang dia pikir masak itu tinggal simsalabim langsung jadi?"

​"Gue benci kak Rex! Gue benci!" teriaknya lagi, napasnya tersengal-sengal.

​Namun, begitu kata 'benci' itu terucap, dadanya justru terasa kian sesak. Di sela isak tangisnya.

​Nadya menyandarkan kepalanya ke setir mobil, membiarkan tangisnya mereda menjadi isakan-isakan kecil.

​"Kenapa sih... kenapa gue nggak bisa benci kak Rex ?" bisiknya lirih pada kesunyian.

​Ia kesal, ia terluka, dan ia sangat ingin membalas perlakuan kasar pria itu. Namun setiap kali otaknya ingin memberi sinyal untuk membenci bayangan wajah damai rexsaka memakan masakannya kembali, meeuntuhkannya, Pada akhirnya, ego Nadya kembali kalah oleh rasa sayangnya yang terlanjur tumbuh terlalu dalam.

​"Ah, bodoh! Pokoknya gue benci Kak Rex sekarang!" gerutu Nadya kesal sembari memukul setir mobil yang tengah dikemudikannya.

​Sementara itu, beberapa ratus meter di belakang, sang sumber kekesalan tengah menatap tajam ke depan. Fokus Rexsaka terbagi dua, memantau Range Rover Velar putih mutiara milik Nadya sekaligus mengawasi pergerakan sedan hitam yang mencurigakan itu.

​Selama beberapa menit awal, sedan hitam tersebut masih membuntuti dalam jarak aman. Namun, insting tajam Rexsaka menangkap gelagat berbahaya saat mobil itu mulai menambah akselerasi, berniat mencegat Nadya. Begitu mereka memasuki area jalanan yang sepi, sedan hitam itu langsung bermanuver tajam untuk memotong jalur mobil Nadya.

​Tak tinggal diam, Rexsaka bertindak secepat kilat. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, melesatkan kendaraannya memotong pergerakan sang penguntit. Dengan manuver yang presisi, Rexsaka memojokkan sedan hitam itu ke sisi kanan jalan, memaksanya menurunkan kecepatan secara drastis.

​Setelah memastikan mobil Nadya berhasil lolos dan melaju jauh meninggalkan mereka, Rexsaka kembali menambah kecepatan. Ia membanting setir secara ekstrem, memosisikan mobilnya melintang tepat di depan sedan hitam tersebut demi mengunci ruang gerak sang penguntit sepenuhnya.

Rexsaka gegas turun dari mobilnya. Namun sayang, sebelum ia sempat menghampiri, mobil sedan hitam itu merespons dengan cepat. Mesinnya menderu keras saat sang pengemudi melempar transmisi ke gigi mundur, melesat ke belakang dengan gesit, lalu bermanuver tajam memutar arah. Kendaraan misterius itu langsung tancap gas dan membelah jalanan, meninggalkan Rexsaka yang hanya bisa terpaku di tengah kesunyian jalan yang sepi.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!