"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Teknik Penyembuhan
Angin malam Lembah Anggrek berhembus membawa hawa dingin dari arah pegunungan utara, menggoyangkan roda kincir air kayu yang telah lama terbengkalai.
Di dalam ruangan tertutup penggilingan air tua yang sepi, Wei Changqing membaringkan tubuh Mu Qingxue yang pingsan di atas tumpukan jerami bersih yang telah ia alasi dengan mantel jubah abu-abunya.
Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, Changqing menancapkan empat ranting bambu kecil di empat sudut pintu masuk bangunan sebagai formasi peringatan sederhana agar tidak ada patroli malam sekte yang mengganggu proses pengobatan ini.
Changqing kembali berlutut di samping Mu Qingxue.
Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah atap kayu, wajah gadis berusia sembilan belas tahun itu terlihat begitu pucat dan kesakitan. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi dahi bersihnya, sementara bibirnya yang menawan tampak membiru karena racun balik dari Jurus Teratai Darah mulai menggerogoti pembuluh darah di sekitar jantungnya.
‘Di kehidupan masa depan, kau bertahan hidup dengan racun ini selama puluhan tahun hingga akhir hayatmu dan membuatmu menjadi iblis yang kejam, Qingxue,’ batin Changqing dengan tatapan penuh empati. ‘Malam ini, biarkan aku mematahkan kutukan menyakitkan itu dari nadimu.’
Changqing mengeluarkan empat jarum akupunktur perak dari kantong jubahnya yang selalu ia bawa di pinggangnya.
Ia mengambil napas panjang. Di dalam kedua bola matanya, kilatan cahaya hijau zamrud menyala terang dan stabil—mengaktifkan presisi mutlak Mata Pedang Hijau.
Sring! Sring!
Keempat jarum perak itu ditusukkan dengan kelembutan dan keakuratan tingkat Grandmaster langsung ke empat titik meridian utama di sekitar dada dan bahu Qingxue.
Melalui keempat jarum perak tersebut, Changqing menyalurkan sehelai benang Niat Pedang Nirwana berwarna hijau zamrud yang hangat dan suci masuk ke dalam aliran darah gadis itu.
Energi hijau suci itu bekerja bagaikan mata pisau bedah kecil yang sangat halus—menyapu, mengikis, dan melarutkan kerak-kerak racun hitam pekat yang menyumbat di meridian jantung Mu Qingxue tanpa merusak satu pun sel jaringan ototnya.
Ugh...
Mu Qingxue terbatuk kecil dalam tidurnya. Dari ujung-ujung jarinya, menetes keluar beberapa tetes darah kotor berwarna hitam pekat beraroma bau busuk yang jatuh ke atas jerami.
Seiring dengan keluarnya darah beracun itu, warna biru di bibir Qingxue berangsur lenyap, digantikan oleh rona merah alami yang sehat. Napasnya yang tadi sesak dan tersengal kini menjadi begitu panjang, teratur, dan damai.
Satu jam berlalu dalam keheningan penggilingan air.
Ketika kelopak mata Mu Qingxue perlahan terbuka, hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit menusuk di dada yang telah menyiksanya setiap malam sejak ia berusia sembilan tahun. Yang ia rasakan adalah kelegaan yang sangat ringan dan jernih—seolah-olah bongkahan batu karang seberat seribu kaki baru saja diangkat dari atas paru-parunya!
Qingxue tersentak bangun, meraba dadanya sendiri dengan mata membelalak heran.
"Racun balik di jantungku... lenyap...?" gumamnya tak percaya. Aliran tenaga dalamnya di tingkat Pendekar Tinggi Tahap 3 kini mengalir empat kali lebih lancar dan murni tanpa ada hambatan sedikit pun!
"Racunnya belum sepenuhnya lenyap, tapi akar sumbatannya sudah kubersihkan," sebuah suara hangat terdengar dari sudut ruangan.
Qingxue menoleh dengan cepat ke arah suara itu.
Di dekat jendela kayu, Wei Changqing sedang duduk santai merebus air teh herbal di atas tungku api kecil tak berasap. Pemuda 19 tahun itu menatapnya dengan senyuman hangat sambil menyodorkan semangkuk ramuan hangat.
"Minumlah ramuan akar pinus ini untuk memulihkan cairan meridianmu," kata Changqing santai.
Refleks sebagai seorang pembunuh elite membuat tangan Qingxue langsung meraba pinggangnya mencari belati, namun ia baru sadar bahwa kedua belati merah darahnya telah diletakkan dengan rapi di atas meja kayu di sebelah cawan teh hangat tersebut—tanpa disita ataupun dirusak oleh Changqing.
Qingxue menatap pemuda berjubah abu-abu itu dengan perasaan yang sangat terguncang dan kompleks.
"Kau... kau mengalahkanku dalam pertarungan, menangkapku saat aku pingsan... tapi kau tidak membunuhku, tidak menyerahkanku kepada Sekte Pedang Langit, dan bahkan menyembuhkan racun jantungku?" suara Qingxue bergetar, mata dinginnya kini dipenuhi kebingungan mendalam. "Kenapa? Di dunia persilatan ini, tidak ada musuh yang memberi pengampunan tanpa meminta imbalan nyawa!"
Changqing meletakkan mangkuk ramuan di depan meja Qingxue, lalu duduk berhadapan dengannya.
"Karena kau bukanlah musuhku," jawab Changqing tenang, menatap lurus ke dalam jiwa gadis pembunuh itu. "Dan karena kau sedang dimanfaatkan sebagai bidak pengorbanan oleh musuh sejati kita."
Changqing membuka gulungan Surat Palsu yang berhasil direbutnya dari penginapan utara, lalu menunjuk pada cap stempel darah di sudut bawah surat tersebut.
"Lihat baik-baik cap stempel ini," jelas Changqing dengan nada serius namun sabar. "Tinta merah pada cap ini dicampur dengan bubuk Bunga Teratai Hitam—bahan rahasia milik komplotan Bayangan Gerhana. Ada pengkhianat tingkat tinggi di dalam Klan Teratai Darah yang bekerja sama dengan komplotan itu."
Mendengar fakta tersebut, mata Qingxue menyempit membaca serat surat itu. Sebagai pembunuh terbaik klannya, ia langsung mengenali kebenaran analisis Changqing!
"Jika surat palsu ini berhasil sampai ke tangan Tetua Sekte Pedang Langit besok pagi," lanjut Changqing, "mereka akan mengira klanmu hendak melakukan pembantaian malam ini. Besok siang, kedua sekte besar ini akan bertempur dalam perang darah yang membunuh ribuan murid muda dari kedua belah pihak. Dan kau... akan dituduh sebagai penyusup utama dan diburu sampai mati."
Mu Qingxue terdiam membisu. Tangannya yang putih gemetar memegangi tepi meja kayu.
Selama hidupnya, ia dilatih untuk menjadi pisau pembunuh yang dingin dan tidak banyak tanya. Namun malam ini, seorang pemuda dari sekte kecil pedalaman tidak hanya menyelamatkan nyawanya dari siksaan racun, tetapi juga membuka matanya dari kebutaan konspirasi yang hampir menghancurkan rumah sektenya sendiri.
Sebuah benih rasa hormat, rasa utang budi yang sangat besar, dan ketertarikan rahasia mulai tumbuh berakar di dalam hati sang iblis pedang wanita ini.
"Wei Changqing..." bisik Mu Qingxue menatap wajah pemuda itu di bawah rembulan penggilingan air. "Apa... apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menghentikan pengkhianat itu?"
lanjutkan Thor.....👍👍🙏