"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Jika ada tombol 'pause' untuk menghentikan waktu di dunia ini, Almeera berani membayar berapa pun harganya detik ini juga.
Tangan Almeera yang tadi bertaut erat dengan tangan Akram, kini merosot jatuh ke sisi tubuhnya, terasa sedingin es. Di depan mereka, Mama Ratna dan Mama Jihan menatap dengan tatapan mengintimidasi yang jauh lebih mengerikan dari guru BP mana pun di SMA Bina Bangsa. Layar tablet di pangkuan Mama Ratna masih menyala terang, memamerkan foto mading yang viral.
"Pacaran?" Mama Ratna mengulang kata itu dengan nada sarkas yang membuat bulu kuduk Almeera berdiri. "Kalian ini udah suami istri! Bukunya udah dicetak, sah di mata agama dan negara! Terus buat apa kalian bikin drama cinta monyet di sekolah sampai masuk akun gosip begini, hah?! Kalian mau main-main sama ikatan suci?!"
"Dan kamu, Akram," giliran Mama Jihan yang menimpali, menatap putranya tajam. "Kamu itu Ketua OSIS. Mama tahu kamu pintar jaga sikap. Tapi ngelap bibir Almeera di tengah kantin disorot ratusan siswa? Kamu sengaja mau cari penyakit?!"
Almeera menelan ludah. Wajahnya yang tadi merona karena kencan di arcade, kini pias seketika. Ia membuka mulutnya, bersiap merangkai kata maaf yang paling memelas. "M-Ma, Tante... i-ini tuh nggak kayak—"
"Ini strategi bertahan hidup, Ma, Tante," sela Akram dengan suara baritonnya yang tenang, mantap, dan sama sekali tidak bergetar.
Akram melangkah maju satu tindak, secara refleks kembali menempatkan tubuhnya sedikit di depan Almeera, melindunginya dari tatapan laser kedua ibu negara. Ia memasukkan sebelah tangannya ke saku celana, memasang aura diplomatis andalannya.
"Coba Mama dan Tante pikir pakai logika anak SMA," lanjut Akram, menatap kedua wanita paruh baya itu bergantian. "Kalau anak-anak di sekolah mulai curiga karena saya terlalu protektif sama Almeera, terus mereka selidiki dan ujung-ujungnya ketahuan kita tinggal bareng, apa yang bakal terjadi? Akibatnya jauh lebih fatal. Almeera bisa di-DO karena dianggap kumpul kebo, dan jabatan saya hancur."
Mama Ratna dan Mama Jihan saling berpandangan, kening mereka berkerut mencerna ucapan Akram.
"Tapi dengan mereka mengira kita pacaran," Akram melanjutkan argumen kemenangannya, "Semua perlakuan saya ke Almeera jadi masuk akal di mata mereka. Posesif, nganterin pulang, bahkan kalau sampai ada barang kita yang ketukar, mereka cuma akan mikir itu karena kita bucin. Rumor pacaran adalah tameng paling aman buat nutupin fakta bahwa kita udah nikah."
Ruang tamu itu hening selama beberapa detik. Logika Akram memang tidak tertembus.
Mama Ratna menghela napas panjang, kekakuan di wajahnya perlahan memudar. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Masuk akal. Tapi tetep aja, Jihan... anak-anak ini bikin jantungan. Gimana kalau gurunya tahu?"
"Kepala Sekolah udah tahu soal rumor ini, Ma," tambah Akram santai. "Dan beliau setuju tutup mata, dengan syarat saya harus jadi tutor pribadi Almeera sampai nilai Matematika dan Fisikanya tembus angka 80 di UTS nanti."
Mendengar itu, Mama Jihan langsung mendelik takjub, sementara Mama Ratna membelalakkan matanya menatap putri tunggalnya.
"Almeera? 80? Matematika?" ulang Mama Ratna dengan nada tak percaya yang sukses merobek sisa-sisa harga diri Almeera. "Akram, kamu yakin nggak mau menyerah dari sekarang aja? Nanti kamu stres lho ngajarin anak macan ini."
"MAMA!" protes Almeera tak terima, wajahnya merah padam menahan malu. "Almeera bisa kok! Asal tutornya nggak nyebelin!"
Kedua ibu itu akhirnya tertawa pelan. Suasana tegang yang tadi mengunci apartemen itu menguap tak bersisa. Mama Jihan berdiri, merapikan baju setelannya.
"Ya sudah, kalau memang itu strategi kalian, Mama dan Tante Ratna pegang kata-kata kamu, Kram. Jaga rahasia ini baik-baik," Mama Jihan tersenyum. Namun, tiba-tiba matanya turun menatap boneka beruang berjaket kulit yang dipeluk erat oleh Almeera, lalu beralih menatap tangan kanan Akram yang tadi sempat menautkan jari dengan Almeera saat masuk.
Senyum Mama Jihan berubah menjadi seringai jahil khas ibu-ibu. Ia menyikut lengan Mama Ratna. "Eh, Ratna. Coba kamu lihat. Kalau cuma akting buat di sekolah... ngapain pulang ke apartemen harus gandengan tangan segala? Pakai bawa-bawa boneka beruang pula."
Mata Mama Ratna ikut berbinar-binar. "Lho iya ya? Katanya musuh bebuyutan? Kok kayaknya ada yang mulai betah sama perjodohan paksa ini?"
Darah Almeera seketika mendidih kembali hingga ke ubun-ubun. Kepanikan karena kepergok tadi kini digantikan oleh rasa salah tingkah tingkat dewa. Ia langsung melempar boneka beruang itu ke dada Akram.
"I-ini boneka hasil taruhan main arcade! Gara-gara dia curang!" kilah Almeera panik, suaranya naik satu oktaf. "Dan pegangan tangan tadi... i-itu cuma... sisa-sisa akting dari parkiran! Biar natural!"
Akram menangkap boneka beruang itu dengan santai. Alih-alih membantah, cowok itu justru melirik Almeera dari sudut matanya, senyum miringnya mengembang.
"Iya, Ma, Tante. Kita lagi... pendalaman karakter," ucap Akram dengan nada bariton yang sengaja digantung, membiarkan makna ganda dari kalimatnya menggantung di udara.
Almeera memelototi Akram dari samping, namun yang ditatap malah membalasnya dengan kedipan mata kilat yang membuat lutut Almeera nyaris lemas.
"Halah, alasan anak muda," kekeh Mama Ratna sambil meraih tas tangannya. "Ya sudah, kita pulang dulu, Jihan. Biar 'pendalaman karakter' mereka nggak keganggu. Itu makanan di atas meja dimakan ya, Al, Akram. Tante masak rendang kesukaan kalian berdua."
Setelah cipika-cipiki singkat dan rentetan wejangan dari kedua ibu negara itu, pintu apartemen akhirnya kembali tertutup dan terkunci.
Begitu bunyi klik terdengar, Almeera langsung menghembuskan napas yang sedari tadi menyumbat paru-parunya. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding lorong, merosot hingga terduduk di lantai karpet.
"Sumpah, Kram, gue rasa harapan hidup gue berkurang sepuluh tahun setiap kali kita hampir ketahuan," rintih Almeera sambil memegangi dadanya yang masih berdebar.
Akram berjalan mendekat, berjongkok tepat di depan Almeera. Ia meletakkan boneka beruang itu di pangkuan gadis tersebut, lalu menumpukan kedua sikunya di atas lututnya sendiri. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa jengkal.
"Terus, tadi kenapa lo nggak ngelepasin tangan gue pas kita buka pintu?" goda Akram, suaranya merendah menjadi bisikan yang mematikan. "Nyaman ya gandengan sama gue?"
Wajah Almeera yang baru saja normal kembali memerah sempurna. Ia mendorong dada bidang Akram dengan kedua tangannya, namun cowok itu sama sekali tidak bergeser.
"Gue lupa! Otak gue error gara-gara lo ngomongin balapan mobil tadi!" bantah Almeera galak, meski matanya menolak menatap mata Akram yang menyorotkan ketertarikan terang-terangan. "Minggir! Gue mau mandi, gerah deket-deket lo!"
Almeera melompat bangun, merayap dari samping tubuh Akram, dan melesat masuk ke dalam kamar.
Akram hanya tertawa pelan, tawanya menggema renyah di ruang tamu yang sepi. Ia menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Malam ini, ia berhasil menyelamatkan situasi di dua medan pertempuran sekaligus—sekolah dan rumah. Dan yang terpenting, ia tahu bahwa tembok gengsi di hati istrinya itu sudah mulai retak berkeping-keping.
Pukul 20.30 WIB. Zona Perang Akademik, Meja Pantry.
Rendang buatan Mama Jihan dan Mama Ratna sudah ludes berpindah ke lambung mereka. Kini, meja pantry kembali disulap menjadi ruang penyiksaan batin bagi Almeera.
Buku cetak Fisika setebal kamus tergeletak tak berdaya di depan Almeera. Kacamata bulat besarnya sudah bertengger di hidung. Di sebelahnya, Akram duduk dengan kacamata baca berbingkai tipisnya, memancarkan aura tutor tampan namun sangat kejam.
"Gue nggak ngerti, Kram," keluh Almeera, menjatuhkan kepalanya ke atas buku paket Fisika dengan bunyi buk pelan. "Kenapa gue harus ngitung kecepatan bola yang dilempar dari gedung lantai lima? Mending gue turun ke bawah terus nangkep bolanya sendiri!"
Akram memijat pangkal hidungnya. Ini sudah kelima kalinya Almeera memprotes soal Gerak Parabola.
"Karena kalau lo nggak bisa ngitung kecepatannya, besok pagi gue yang bakal dilempar sama Pak Haris dari lantai lima," jawab Akram sinis, menarik kerah piyama beruang Almeera agar cewek itu kembali duduk tegak. "Bangun. Jangan banyak drama. Baca lagi soal nomor empat."
Almeera mengerucutkan bibirnya, menatap deretan angka dan rumus V0 serta sudut elevasi dengan pandangan kosong. Fokusnya benar-benar sudah melayang. Apalagi, posisi duduk mereka sangat berdekatan. Setiap kali Akram mencondongkan tubuhnya untuk menuliskan coretan rumus di kertas buram, wangi sabun mint cowok itu menusuk indra penciumannya, membuat otaknya yang memang lambat memproses angka menjadi semakin tumpul.
"Kram," panggil Almeera pelan, matanya melirik profil samping wajah Akram.
"Hm."
"Kalau misal... misal nih ya," Almeera memainkan ujung bolpoinnya dengan gugup. "Kalau nilai gue beneran nggak nyampe 80, lo... beneran bakal mundur dari jabatan Ketos?"
Gerakan bolpoin Akram di atas kertas terhenti. Ia menoleh, menatap wajah Almeera yang memancarkan rasa bersalah yang tersembunyi.
Akram meletakkan bolpoinnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Almeera sepenuhnya. Matanya yang gelap menatap lurus ke dalam mata cokelat terang gadis itu, mencari segala keraguan yang ada di sana dan menelannya bulat-bulat.
"Gue udah bilang tadi sore, gue nggak akan mundur," jawab Akram, suaranya sangat tenang dan meyakinkan. "Karena gue tahu lo bisa, Al. Lo cuma males. Lo bisa hapal ketukan double pedal yang rumit, lo bisa ngatur ritme band lo. Fisika ini cuma masalah logika, sama kayak ketukan drum lo."
Almeera tertegun. Tidak pernah ada orang yang membandingkan kemampuan bermusiknya dengan akademik sebelumnya. Guru-gurunya selalu menganggap musik sebagai distraksi yang membuat nilainya hancur. Namun, cowok di depannya ini... Akram justru menggunakan musiknya sebagai pembuktian bahwa ia pintar.
Perasaan hangat menjalar deras di dada Almeera, melunturkan seluruh kelelahannya malam ini.
"Kerjain soal nomor empat. Kalau jawaban lo bener..." Akram mencondongkan wajahnya sedikit, senyum miringnya kembali terbit, "...gue bakal kabulin satu permintaan lo. Apa pun."
Mata Almeera membelalak. Ego kompetitifnya tersulut seketika. "Apa pun?! Beneran?! Kalau gue minta dibebasin dari cuci piring sebulan?"
"Deal," jawab Akram tanpa ragu.
"Oke! Awas lo ya kalau bohong!" Almeera langsung menunduk, matanya kembali fokus ke arah soal Fisika. Energi bar-barnya kembali menyala. Ia mulai mencoret-coret kertas buram dengan semangat 45, bergumam sendiri memasukkan angka ke dalam rumus.
Akram menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di dada sambil tersenyum puas melihat taktik manipulasinya berhasil sempurna. Ia menatap wajah Almeera yang sedang serius. Poni gadis itu sedikit jatuh menutupi mata. Dengan gerakan perlahan agar tidak mengganggu fokus Almeera, Akram mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga gadis itu.
Sentuhan lembut itu membuat gerakan bolpoin Almeera sedikit melambat, namun ia menahan senyumnya dan terus mengerjakan soal.
Lima belas menit kemudian, Almeera membanting bolpoinnya ke meja.
"SELESAI!" seru Almeera heboh, menyodorkan kertas buram itu ke depan wajah Akram. "Kecepatan awalnya 20 meter per sekon! Bener kan?!"
Akram mengambil kertas itu, meneliti deretan angka yang ditulis dengan tulisan tangan cakar ayam khas Almeera. Ia membaca langkah penyelesaiannya, dan sebuah senyum bangga perlahan mengembang di bibirnya.
"Bener," ucap Akram, meletakkan kertas itu kembali. Ia menatap Almeera. "Gue bilang juga apa, lo itu pinter, cuma gengsinya doang yang gede."
Almeera bersorak kegirangan, mengangkat kedua tangannya ke udara layaknya memenangkan Grammy Awards. "Yesss! Bebas cuci piring sebulan! Tangan gue bakal mulus kayak skincare artis Korea!"
Akram terkekeh, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan absurd istrinya itu. "Ya udah. Sana tidur. Otak lo udah overheat buat hari ini."
"Asiap, Pak Tutor!" Almeera melompat turun dari kursi bar. Ia membereskan buku-bukunya dengan cepat.
Namun, tepat saat Almeera baru saja membalik badan menuju kamar, ponselnya yang tergeletak di ujung meja pantry bergetar dan menyala terang. Layarnya menampilkan pop-up notifikasi dari nomor yang tidak dikenal.
Almeera mengerutkan kening. Ia melangkah mendekat dan mengambil ponselnya. Akram yang sedang menyesap sisa kopi hitamnya ikut melirik karena melihat perubahan raut wajah Almeera.
"Siapa? Reyhan lagi?" tanya Akram, nadanya mendadak berubah dingin.
"B-bukan," gumam Almeera. Keningnya berkerut semakin dalam saat ia membaca pesan singkat yang tertera di layar.
Almeera membuka pesan WhatsApp tersebut. Tidak ada foto profil, hanya nomor asing. Namun, isi pesan itu sukses membuat jantung Almeera rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Udara di sekitarnya seolah disedot habis. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar hebat.
Unknown Number: Cincin yang bagus, Almeera. Sayang banget ya kalau Pak Haris sampai tahu cincin itu bukan cuma aksesoris biasa. Gue tunggu lo besok jam istirahat pertama di rooftop sekolah. Sendirian. Kalau lo bawa pacar palsu lo itu, gue pastiin foto cincin kalian berdua nyampe ke grup guru BP dalam hitungan menit.
Sebuah foto terlampir di bawah pesan itu.
Foto candid Almeera yang sedang mencuci tangan di wastafel toilet perempuan, diambil dari sudut belakang. Dalam foto itu, rantai kalung peraknya sedikit menyembul dari kerah seragamnya, dan pantulan cincin platina bertahtakan satu berlian kecil itu tertangkap samar namun jelas oleh lensa kamera.
"Al? Kenapa?" Akram berdiri, menyadari ada sesuatu yang sangat salah dari kepucatan wajah istrinya. Ia melangkah mendekat.
Almeera mendongak, menatap Akram dengan mata yang berkaca-kaca dipenuhi horor. Pertahanan yang baru saja mereka bangun dengan kebohongan 'pacaran' itu, rupanya sama sekali tidak ada artinya.
Seseorang telah memegang kartu as mereka yang sebenarnya. Dan skenario kiamat yang sesungguhnya... baru saja mengetuk pintu rumah mereka.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔