NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

------------------------------

## BAB 34: Pembungkukan di Balik Altar Kuasa

Suasana di dalam ruang kerja utama Kakek Agung Syailendra mendadak berubah menjadi lautan kepingan es yang mencekam. Pandangan mata Albert Syailendra terkunci mati pada daun telinga kiri Elena Vance yang tertutup rapat oleh helai rambut hitam panjangnya. Di atas meja jati, draf foto polaroid kuno itu laksana sebuah vonis mati fisik yang tidak bisa dihapus oleh jaringan siber mana pun.

"Kenapa diam, Elena? Atau haruskah aku memanggil pelayan wanita untuk menyingkap rambutmu dan membuktikan keberadaan tanda lahir mawar hitam itu?" desis Albert rendah, suara lembutnya terdengar begitu mengerikan, sarat akan kegilaan intrik kelas atas.

Krek.

Nicholas Syailendra melangkah maju satu tapak penuh dominasi. Tubuh tegapnya yang tinggi besar laksana benteng langsung menghadang seluruh jalur pandang Albert dan Kakek Agung dari arah Elena. Aura membunuh yang sangat pekat menguar hebat dari seluruh tubuhnya, sanggup membekukan atmosfer ruangan dalam sekejap.

"Paman Albert, sepertinya sepuluh tahun tinggal di Swiss membuat Anda kehilangan akal sehat dan etika sebagai seorang pria terhormat," suara berat Nicholas berdesis dingin laksana lonceng kematian. "Elena Vance adalah istri sah saya, Nyonya Muda Syailendra yang memegang martabat tertinggi dinasti ini. Menuntut pemeriksaan fisik yang merendahkan tubuhnya di tempat umum seperti ini... sama saja dengan menginjak harga diri saya dan menyatakan perang fisik terbuka dengan saya!"

Nicholas memalingkan wajah elangnya, menatap langsung ke manik mata Kakek Agung yang sejak tadi mengawasi dengan pandangan tirani yang mendalam. "Kakek, jika dewan keluarga membiarkan orang luar atau anggota silsilah melakukan pelecehan verbal seperti ini pada istri CEO tertinggi, saya pastikan besok pagi seluruh draf operasional Syailendra Group di pasar bursa internasional akan saya hentikan total secara sepihak."

Ancaman ekstrem Nicholas seketika membuat tiga pengacara dewan keluarga di sudut ruangan menahan napas mereka karena ketakutan!

Kakek Agung Syailendra meremas kepala tongkat perak naganya dengan sangat erat. Pria tua itu tahu persis bahwa Nicholas tidak sedang menggertak. Kekuasaan siber dan finansial Nicholas saat ini sudah terlalu gurita untuk digoyang secara gegabah tanpa bukti hukum yang mutlak di atas kertas.

Tok!

Kakek Agung mengetukkan tongkat naganya ke lantai dengan satu ketukan keras laksana interupsi final. "Cukup! Albert, simpan foto polaroid usangmu itu. Silsilah keluarga Syailendra tidak akan melakukan pemeriksaan fisik murahan laksana menginterogasi narapidana di dalam rumah ini."

Pria tua itu kemudian beralih menatap Nicholas dan Elena dengan sepasang mata elang yang sedingin es. "Namun, bukti hukum internasional dari Prancis mengenai status anak angkat Elena tetap harus melewati proses verifikasi fisik oleh komite audit independen. Besok malam... dewan keluarga akan menggelar Pesta Selamat Datang resmi untuk merayakan kepulangan Albert dari Swiss di Grand Ballroom Hotel Syailendra."

Kakek Agung mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan tekanan psikologis yang sangat masif. "Seluruh rekan bisnis konglomerat saingan, termasuk silsilah dewan komisaris tertinggi, akan hadir. Nicholas, bawa istrimu ke sana dengan kepala tegak. Jika sampai besok malam draf identitas Elena masih memicu kejanggalan... aku sendiri yang akan menandatangani dokumen pencopotan jabatanmu."

"Itu tidak akan pernah terjadi, Kakek," jawab Nicholas dengan suara beratnya yang penuh dengan kepastian mutlak. Pria itu langsung merangkul pinggang ramping Elena dengan lengan kekarnya secara posesif, menuntunnya berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Kakek Agung tanpa memberikan celah bagi Albert untuk membuka mulutnya kembali.

------------------------------

Begitu pintu ganda paviliun utama tertutup rapat dan terkunci otomatis di tengah malam yang larut, Elena Vance langsung menyentakkan tangan Nicholas dari pinggangnya. Tubuh ringkihnya gemetar hebat, napasnya memburu sesak oleh horor kepanikan yang sejak tadi ia tahan mati-matian di hadapan Albert.

Elena menyibak helai rambut panjang di balik daun telinga kirinya, menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar tidur dengan sepasang mata indahnya yang berkilat cemas. Di sana, di atas kulit putih mulusnya, sebuah tanda lahir berbentuk mawar hitam kecil berdiameter beberapa milimeter tercetak nyata. Tanda lahir yang membuktikan secara mutlak bahwa dia adalah Adeline Wijaya.

"Nicholas... Albert benar," bisik Elena, suaranya parau dan bergetar samar saat menoleh menatap Nicholas yang sedang melepas kemeja kasual hitamnya. "Tanda lahir ini... ini adalah kartu mati fisik yang nyata. Besok malam di pesta selamat datang, Albert pasti sudah menyiapkan skenario licik yang baru untuk menyingkap rambutku atau mengambil foto dari jarak dekat di depan seluruh kamera media internasional. Kita tidak akan bisa lolos dari pemeriksaan fisik itu!"

Nicholas melangkah tegap mendekati Elena, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin mahalnya bercampur tembakau tipis kembali mengepung pertahanan logika Elena. Dengan gerakan yang sangat manis namun posesif, Nicholas menangkup kedua pipi Elena dengan tangan besarnya yang hangat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang memancarkan kegilaan kepemilikan mutlak.

"Tenanglah, Elena. Tatap mataku," perintah Nicholas rendah, suaranya begitu dalam dan kokoh, memberikan rasa aman yang aneh yang sanggup meruntuhkan seluruh ketakutan di dalam dada Elena. "Aku sudah tahu tentang tanda lahir mawar hitam itu sejak malam pertama aku memungut tubuhmu bersimbah darah di jalanan."

Elena membelalakkan matanya samar karena terkejut. "Kamu... kamu sudah tahu?!"

"Benar. Dan aku tidak akan membiarkan sepotong kulit kecil di tubuhmu menjadi alasan bagi ular-ular itu untuk menyentuh areaku," Nicholas menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang kejam. Pria itu merogoh gawai pintar khusus miliknya, menekan nomor enkripsi internal darurat. "Yan, hubungi dr. Maria, spesialis bedah estetika laser terbaik dari rumah sakit pusat Syailendra. Bawa peralatan laser pigmen mikro darurat ke paviliun sekarang juga di bawah enkripsi siber rahasia."

Nicholas kembali menatap Elena, mengelus lembut daun telinga kiri istrinya dengan ibu jarinya. "Malam ini juga, kita akan melenyapkan mawar hitam itu dari tubuhmu menggunakan teknologi penghancur pigmen laser tercanggih. Prosesnya hanya memakan waktu sepuluh menit dan tidak akan meninggalkan bekas luka sedikit pun. Besok malam di pesta... biarkan Albert melakukan draf jebakan apa pun yang dia mau. Begitu dia berhasil menyingkap rambutmu di depan publik... yang akan dia temukan hanyalah kulit putih bersih yang kosong, yang akan berbalik memotong leher bisnis dinastinya atas tuduhan pelecehan dan fitnah terhadap Nyonya Muda Syailendra."

Elena Vance tertegun mematung di dalam dekapan Nicholas, merasakan debaran jantung suaminya yang berdenyut keras melindunginya. Kecerdasan taktik kontra-intelijen Nicholas yang begitu brutal, dingin, namun terstruktur tanpa celah seketika mengirimkan sengatan debaran asmara asli yang meledak hebat di dalam dadanya. Pria ini benar-benar seekor singa penguasa yang siap menghancurkan logika dunia demi menjaga keberadaan dirinya di sisinya.

------------------------------

Keesokan malam harinya, Grand Ballroom Hotel Syailendra telah disulap menjadi lautan kemewahan kelas atas yang memukau. Ratusan lampu kristal gantung memantulkan kilau cahaya ke arah karpet merah beludru yang dipenuhi oleh ribuan tamu undangan konglomerat, pejabat, dan puluhan wartawan media internasional.

Cklek.

Pintu utama ballroom ditarik terbuka lebar. Nicholas Syailendra melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam potongan desainer Italia, menggandeng erat telapak tangan Elena Vance yang tampil menakjubkan dalam balutan gaun malam The Midnight Empress bersiluet emas hitam yang mengekspos leher jenjang dan bahu indahnya dengan sempurna. Daun telinga kirinya terpampang nyata tanpa ada helai rambut yang menutupinya, memamerkan kulit putih bersih yang kosong tanpa ada setitik noda pun.

Di barisan kursi VIP depan, Albert Syailendra berdiri memegang gelas kristal sampanyenya sembari mengulas senyuman miring yang penuh dengan kelicikan berkelas. Di sampingnya, seorang pelayan pria muda yang membawa nampan berisi deretan gelas minuman kristal tinggi sudah berdiri menunggu dengan pandangan mata yang menyipit licik ke arah Elena.

"Selamat datang di neraka duniamu yang baru, Elena," gumam Albert rendah laksana desis ular yang kejam.

Tepat saat Nicholas dan Elena melangkah melewati barisan koridor meja VIP depan, pelayan pria muda itu mendadak bergerak dengan refleks yang sengaja diskenariokan secara kasar. Tubuhnya sengaja tersandung kaki meja, membuat seluruh nampan besi dan belasan gelas kristal sampanye berisi cairan lengket di tangannya meluncur deras, jatuh menghantam dan tumpah brutal tepat ke arah bagian dada dan bahu kiri gaun malam mewah milik Elena Vance!

Prang! Duar!

Suara pecahan gelas kristal yang hancur berantakan di atas lantai marmer seketika membungkam seluruh riuh rendah musik ballroom. Ratusan pasang mata tamu undangan dan jepretan kamera media internasional serempak berbalik arah, terbelalak horor menatap kekacauan fisik yang mendadak meledak di tengah-tengah jalur jalan sang Nyonya Muda. Babak baru dari kepunahan total draf pernikahan kontrak di atas kertas emas kini telah resmi meledak di tengah pesta, mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah sangkar jebakan maut fisik yang jauh lebih berdarah dan mematikan.

------------------------------

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!