Membaca novel ini, bisa menyebabkan shampo di rumah cepat habis.
Kehidupan Natahania berubah total setelah diperistri Elang Adhitama Gunardi, pria yang merupakan pemilik rumah tempatnya bekerja. Nathania yang polos, harus bisa mengimbangi gaya hidup Elang yang jauh berbeda dengannya. Dia kebingungan menentukan rasa, yang tak pernah Elang tunjukan dengan jelas. Kecewa, Nathania memutuskan pergi.
Apa yang Nathania lakukan berhasi membuat Elang sadar. Pria itu berusaha mencari dan membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Semalam
Suara desahan dan erangan manja si nyonya muda masih memenuhi kamar yang mewah dan luas itu.
Elang, melanjutkan apa yang menjadi sisa semalam, pagi ini.
Nathania tidak mengerti dengan pria yang satu ini. Kenapa sepertinya ia tidak pernah merasa bosan, dengan aktivitas menguras tenaga dan keringat seperti yang sedang mereka lakukan saat ini.
Entah makanan apa yang sering dikonsunsi pria itu, sehingga ia pun tidak pernah bermain dalam waktu yang sebentar. Nathania benar-benar harus kuat mental dengan menjadi istri seorang Elang.
Karena nyatanya, Elang bukan hanya seseorang yang tangguh dan kuat dalam kehidupannya, dan bukan hanya penguasa di dunia bisnis.
Namun, ia juga merupakan sosok yang tangguh dan perkasa di atas ranjang. Ia memang benar-benar seorang penguasa. Bahkan seolah-olah, Nathania hanya boleh menghadap ke depan atau ke belakang, hanya atas izin dari seorang Elang.
Seperti hari ini. Nathania baru selesai berpakaian. Begitu juga dengan sang suami.
Pria itu, terlihat sangat tampan dengan kaos polo putihnya. Sepertinya ia akan pergi bermain golf hari ini. Nathania pun hanya terpaku menatapnya.
Entah mimpi apa ia, karena kini ia berada dalam posisi seperti saat ini. Ini bukanlah bangku kuliah yang ia cita-citakan.
Namun, bertemu dengan Elang dalam setiap harinya, ia merasa seperti bertemu dengan seorang dosen yang akan selalu membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat karena tugas-tugas dan semua aturan yang harus ia patuhi. Sepertinya, Elang jauh lebih menakutkan dari seorang dosen killer.
Elang meraih topi berwarna putih yang tergantung rapi dengan deretan topi lainnya. Nathania tidak tahu, jika Elang ternyata suka mengkoleksi topi juga.
"Ah ... Elang mah bebas, suka-suka hatinya dia," fikir Nathania dalam hatinya.
Nathania masih berdiri dengan midi dress lengan pendeknya. Dress dengan warna toska itu, tampak sangat cantik, meskipun itu hanya sebuah dress polos tanpa aksen apapun.
Elang tahu jika sedari tadi ia sedang diperhatikan oleh sepasang mata teduh milik sang istri. Namun, ia biarkan saja, dan ia berpura-pura tidak menyadari hal itu. Meskipun dalam hati, rasanya ia ingin tertawa.
Apakah Elang pernah tertawa? Tertawa lepas hingga terbahak-bahak?
Hmmm ... sepertinya tidak.
Elang, seseorang yang selalu menjaga image di depan semua orang. Ia tidak pernah hilang kontrol. Dalam tertawa ataupun ketika sedang marah. Elang masih dapat mengatur dirinya dengan baik.
Sesaat kemudian, Elang pun menoleh. Nathania segera mengalihkan pandangannya ketempat lain. Ia pun menuju meja riasnya dan mencoba bermain dengan peralatan make up yang Elang sediakan untuknya.
"Pakailah, kamu terlihat sangat cantik dengan lipstick merah itu!" bisik Elang yang kini berdiri tepat di belakang Nathania.
Nathania meliriknya. Ia pun berbalik.
"Kamu akan pergi sekarang?" tanyanya pelan. Nada bicara si nyonya muda itu penuh harapan. Ia seolah-olah berharap agar Elang mengurungkan niatnya untuk keluar hari ini.
"Ya. Aku tidak akan lama. Seorang teman bisnisku, ingin mengenalkanku pada teman bisnisnya yang lain. Siapa tahu kami bisa menjalin kerjasama yang baik," jawab Elang dengan raut muka yang tidak seperti Elang yang pertama Nathania kenal dulu.
Nathania tersenyum simpul. "Ya, sudah. Semoga berjalan lancar," jawab Nathania. Ia bingung harus berkata apa, karena Elang terus saja menatapnya.
"Tetapi, jika kamu ada waktu nanti aku ingin bicara denganmu," lanjut Nathania dengan nada agak ragu.
"Tentang apa?" tanya Elang tanpa mengalihkan tatapannya dari sang istri.
"Nanti saja," jawab Nathania. Ia tampak gugup dan agak kikuk.
"Oke. Jangan keluar hari ini. Tetaplah di rumah!" titah si Tuan Besar.
Nathania pun mengangguk. Ia tidak ingin mencari masalah dengan sang suami.
Elang menghela nafas panjang. Ia masih berada tepat dihadapan Nathania dan menatap wanita muda yang kini telah menjadi miliknya, seutuhnya.
"Terimakasih untuk semalam, dan juga pagi ini," bisiknya.
Seketika Nathania merinding mendengar bisikan nakal itu. Ia hanya tertunduk.
"Sudah kubilang, hilangkan kebiasaan menundukmu itu!" Elang mengangkat dagu sang istri dengan lembut.
"Kamu adalah istri Elang sekarang, dan jangan pernah menundukan kepalamu dihadapan siapapun. Kecuali dihadapanku. Tetapi untuk saat-saat teetentu saja," lanjut pria itu dengan tatapannya yang mulai berubah.
Nathania tidak menjawab. Ia mencoba melawan tatapan itu sejenak.
Elang kemudian mengalihkan tatapannya pada bibir yang masih polos itu.
"Pakailah lipstick nya, sebelum aku berangkat!" titahnya lagi.
Nathania pun menyodorkan benda kecil yang sedari tadi ia pegang itu kepada Elang.
Elang pun menerimanya. Membuka tutupnya dan memutarnya perlahan.
Dengan lembut, ia melukiskan warna merah itu pada bibir polos sang istri.
Nathania diam saja saat Elang melakukan hal itu, dan ia tidak dapat membayangkan akan seperti apa jadinya hasil karya Elang pada bibirnya itu.
Sesaat kemudian, Elang tersenyum puas. Nathania segera membalikan badannya kearah meja risanya dan melihat dirinya di cermin.
"Ya Tuhan, ...." pekiknya. Ia terbelalak kaget.
Elang tertawa pelan. "Setidaknya hari ini kamu ada kesibukan," ucapnya geli. Ia pun memakai topinya.
"Aku berangkat dulu," ucapnya lagi seraya mengecup lembut kening Nathania yang masih tampak kelabakan akibat ulah iseng sang suami.
Ya, Elang mengoleskan perona bibir itu dengan sangat tebal. Bibir Nathania kini terlihat seperti sebuah cabai merah yang terlalu merah. Dan ia tidak suka dengan hal itu. Ia salah, keputusannya membiarkan Elang bermain-main dengan perona bibir itu, adalah kesalahan yang besar baginya.
...🍀🍀🍀...
Nastya berdiri di depan pintu apartemen Roni siang itu. Ia harap Roni tidak sedang pergi keluar.
Sesaat kemudian, pintu pun terbuka dan munculah seraut wajah dengan kulit sawo matang dari balik pintu itu.
Nastya tersenyum, sementara Roni hanya mengerutkan alisnya melihat gadis itu ada dihadapannya lagi.
"Nastya," sapanya dengan senyum khasnya yang dihiasi kumis tipis itu.
Nastya tersenyum manis padanya. Namun, ia heran karena Roni tidak juga mempersilakannya masuk.
"Kamu sedang sibuk?" tanya Nastya pelan.
Roni tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gadis itu dengan wajah yang tampak kebingungan.
"Um ... aku ...." belum sempat pria itu melanjutkan kata-katanya, terdengar suara lembut memanggil namanya.
"Ron, dimana handuknya?" seru seorang wanita dari dalam sana.
Roni menarik nafasnya dalam-dalam. Sementara Nastya hanya tertegun mendengar hal itu. Dapat ia bayangkan, apa yang telah terjadi sebelum ia datang kesana. Nastya pun hanya tersenyum simpul.
"Ya, sudah. Mungkin kamu sedang sibuk, aku ... permisi dulu," Nastya pun berbalik dan melangkah dengan sejuta perasaan aneh dalam hatinya. Ia tidak mengerti. Akan tetapi saat ini, ia hanya pergi dan sendiri.
"Nastya!" panggil Roni seraya memperhatikan kepergian gadis itu.
Nastya tidak mempedulikannya. Ia terus melangkah menuju lift dan masuk kedalamnya.
Roni tertegun saat itu. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa bersalah kepada gadis itu. Sesaat kemudian ia pun segera masuk.
Nastya sendiri, ia hanya terdiam di jok belakang mobil sedan merah itu. Ia terus memikirkan hal yang baru saja ia dapati di apartemen Roni. Ia tidak menyangka jika ternyata Roni sama saja dengan pria kebanyakan, pria-pria yang ia kenal selama ini.
Ada rasa kecewa dihatinya. Ciumannya kemarin malam dengan pria itu, nyatanya tak berarti apa-apa untuk Roni. Itu mungkin hanya merupakan hal yang sudah biasa Roni lakukan dengan para wanitanya.
"Kita kemana lagi, Non?" tanya Firman, sopir pribadi Elang.
Pertanyaan pria itu telah membuyarkan semua lamunan Nastya. Gadis itupun berfikir sejenak.
"Kita pulang saja," jawab Nastya dengan wajah malasnya. Namun, sesaat kemudian ia meralat jawabannya. "Ah ... tidak. Kita ke apartemen kak Elang saja," ucapnya.
"Baik, Non," jawab Firman hormat dan sangat sopan.
Nastya pun mengirim pesan kepada Elang, jika hari ini ia akan pergi ke apartemennya. Ia beralasan ingin mengambil salah satu barang yang tertinggal disana.
Kebetulan saat itu Elang tengah dalam perjalanan pulang. Ia pun mengizinkan sang adik untuk kesana.
Singkat cerita, Nastya telah sampai di apartemen milik Elang. Ia pun meyuruh Firman untuk pulang dan kembali menjemputnya sore nanti.
Firman hanya menurut saja dengan apa yang menjadi perintah si nona muda.
Nastya pun segera naik ke lantai dua apartemen mewah itu. Ia dan sang kakak memang pernah tinggal di apartemen itu selama beberapa waktu lamanya. Mereka tinggal disana selama rumah yang mereka tempati saat ini, tengah dalam proses renovasi total.
Nastya terus melangkah menuju ruangan di ujung lorong. Adalah sebuah ruangan yang cukup luas dan kosong. Disana hanya ada sebuah locker besi. Nastya pun membuka kunci locker paling atas.
Di pintu itu masih tertempel foto antara dirinya dengan sang mantan kekasih, Dean.
Tanpa berlama-lama, Nastya segera mengambil foto itu dan merobeknya. Ia pun membuang sobekan foto itu ke dalam keranjang sampah.
Nastya kemudian membuka pintu locker nya yang lain. Ia mengambil sesuatu dari dalamnya. Sepasang sepatu balet yang sangat cantik.
Ya, Nastya adalah seorang ballerina. Ia sudah mencintai tarian indah itu sejak kecil. Akan tetapi, sudah lama ia tidak menari. Bahkan kini, ia lebih senang dengan modern dance.
Nastya pun meletakan kembali sepatu itu.
Kini, ia berdiri di depan cermin besar itu. Ia memperhatikan dirinya sendiri.
Ketika gadis biasa seperti Nathania mampu menaklukan seorang Elang, maka kenapa gadis sepertinya bahkan kalah dari seorang Dean yang bukan siapa-siapa?
Nastya berniat untuk merubah kembali model rambutnya. Ia ingin mencari suasana baru.
Menarik nafas, ia pun melakukan beberapa gerakan peregangan. Setelah beberapa saat kemudian, ia lalu melepas sepatunya dan meletakan tas selempangnya di lantai. Mengambil ponselnya dan memutar sebuah lagu dengan+ irama yang sangat energik.
Nastya pun mulai menari.
Seperti itulah caranya menghilangkan semua rasa gundah dalam hatinya. Ia menyukai setiap gerakan yang membuatnya menjadi lebih bersemangat itu.
Sementara itu di kediaman Elang.
Elang barusaja tiba dan langsung menuju ruang kerjanya. Ia pun memesan secangkir kopi kepada Titiek.
Sementara Nathania baru keluar dari kamar Aida. Setiap hari, ia pasti menengok nenek tua itu meskipun hanya sekedar untuk menyapanya saja.
Setelah itu, ia pun segera pergi ke dapur.
"Hai, Tiek," sapanya hangat. Meskipun sudah menjadi nyonya di rumah itu, namun Nathania tidak pernah menjadi sombong terhadap teman lamanya itu.
Titiek menoleh. Ia tengah menyeduh kopi untuk si Tuan Besar. Ia pun merasa iri dengan penampilan Nathania yang semakin cantik.
"Tambah cantik saja, Bu," pujinya dengan senyum ramah.
Nathania hanya tersenyum.
"Pasti sangat menyenangkan jika mempunyai suami seperti pak Elang," gumamnya seraya mengaduk kopi itu.
Nathania hanya menggumam pelan. Ia tidak ingin membahas masalah itu.
"Kopi untuk siapa?" tanya Nathania.
"Pak Elang," jawab gadis berkacamata itu.
Nathania tertegun. Ia tidak tahu jika Elang sudah pulang dari bermain golfnya.
"Sini, biar aku saja yang membawakannya," Nathania mengambil alih tugas Titiek.
Gadis berkacamata itu hanya tersenyum dan mengangguk.
Nathania pun naik ke lantai dua. Berdiri di depan ruang kerja Elang.
Nathania menarik nafas panjang. Setelah menikah, ini kali pertama ia kembali berdiri di depan ruang kerja itu. Ia masih ingat semua yang terjadi di dalam ruangan dengan dinding berwarna merah hati itu.
Nathania pun mengetuk pintu.
Terdengar jawaban dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk.
Nathania pun masuk.
Terdengar alunan lembut sebuah lagu,
Feel_ Robby William.
Sementara itu, Elang tampak sibuk dengan laptopnya. Ia bahkan tidak menyadari jika Nathania yang membawakannya kopi saat itu.
"Simpan saja disana," suruh Elang tanpa menoleh.
"Dimana?" tanya Nathania.
Mendengar suara lembut itu, Elang pun tertegun. Ia mengalihkan pandangannya dari layar laptop itu pada seraut wajah manis dengan bibir merahnya. Ia pun tersenyum dan terus memperhatikan si pembawa kopi itu.
Nathania hanya tersipu malu. Ia tidak berani melawan tatapan mata nakal sang suami.
"Kenapa Elang memiliki banyak sekali tatapan aneh?" fikir Ntahania.
Elang pun beranjak dari meja kerjanya. Ia melangkah dan menghampiri sang istri yang masih berdiri terpaku dengan wajah malu-malunya.
Elang berdiri dan menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja kerjanya. "Kemarilah!" ia menarik tangan Nathania sehingga wanita muda itu kini ada dihadapannya.
Elang segera merangkul pinggang ramping sang istri.
"Kenapa kamu yang membawakanku kopi kemari?" tanyanya dengan wajah yang sangat mencurigakan.
Nathania tampak gugup. Ia hanya gelagapan, apalagi kini Elang merangkulnya dengan lebih erat.
"Aku ... hanya ingin ... melakukan kewajibanku, sebagai ... seorang ... istri yang baik," jawab Nathania terbata.
Elang tersenyum, dan seperti biasa, tanpa permisi ia meluangkan waktunya selama 10 detik untuk sang istri.
"Aku ingin 'bermain' denganmu, tapi saat ini aku sedang sibuk. Ada beberapa file yang harus kupelajari. Jadi, jangan temui aku dulu sampai aku keluar dari ruangan ini. Karena melihatmu hanya akan membuatku hilang konsentrasi," bisiknya setelah selesai dengan warna merah itu.
"Iya," jawab Nathania mengerti. "Aku turun dulu, aku akan menyiapkan makan siang. Tapi, Nastya sepertinya belum pulang."
Elang mengangguk pelan. Ia pun kembali ke meja kerjanya.
"Nastya sedang keluar. Biarkan saja. Aku memberinya waktu hingga sore," jawab Elang. Ia kembali pada layar laptopnya.
"Ya, sudah. Permisi," Nathania pun beranjak keluar dari ruangan itu.
Menutup pintu, ia menghela nafas panjang.
Tadinya ia berniat untuk membicarakan masalah Rahman. Namun, Elang tengah sibuk dengan pekerjaannya, dan Nathania pun harus mengurungkan niatnya itu.
Ia pun kembali turun, dan di bawah sana ia berpapasan dengan Roni.
Roni mengangguk sopan. "Pak Elang ada?" tanyanya.
"Di ruang kerjanya," jawab Nathania.
Roni pun mengangguk. "Permisi," ucapnya seraya naik menuju ruang kerja Elang.
Sebelum mengetuk pintu berwarna cokelat itu, Roni sempat melirik kearah kamar Nastya.
"Apa yang sedang dilakukan gadis bermata indah itu? " gumam Roni dalam hatinya.
Nih, ceuceu kasih visual Roni.
Ada yang kenal siapa dia????
semangat selalu dalam menulis
cerita ini bikin baper banget