Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Mengatur Strategi
Nama Arnoldy Darmawan yang diucapkan gadis itu barusan seolah menekan tombol pause di dalam diri Teddy.
Ia mematung, menatap Aira dengan sorot mata yang perlahan berubah dari kesal menjadi tatapan yang sangat tajam. Nama itu bukan sekadar nama penguji bagi Teddy; itu adalah nama pria yang telah merebut Lova, cinta pertamanya, dan mengubah arah hidup Teddy hingga hari ini.
"Siapa yang kamu bilang tadi?" tanya Teddy dengan nada suara yang merendah, berat, dan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Dokter Arnoldy Darmawan?"
Aira tidak menyadari perubahan aura pria di hadapannya. Ia masih terisak, bahunya berguncang hebat.
"Iya ... Dokter gila itu! Dia cuma peduli pada reputasi kliniknya yang angkuh itu, dan dia tidak peduli kalau saya yang masih mahasiswa ini hancur! Dia kejam, Om! Dia ... kayaknya, dia orang yang tak punya hati deh!" Aira mengusap keningnya dan berselonjor menatap deburan ombak.
Teddy beralih duduk di samping gadis itu, menatapnya dari samping. Sejenak, bibirnya terulas senyum tipis lalu beralih menatap kegelapan di balik pagar dermaga.
Rahangnya mengeras hingga otot di pelipisnya menonjol. Di dalam kepalanya, memori dua tahun lalu berputar kembali: Lova yang tampak bahagia di samping Arnold, Lova yang sedang mengandung, dan bagaimana Arnold dengan angkuhnya memenangkan segalanya sementara Teddy harus mengubur perasaannya dalam-dalam.
'Arnold ... jadi kamu sekarang kau menjadi dosen yang gemar menindas mahasiswanya sendiri?' pikir Teddy yang kesulut hasutan gadis yang tak ia kenal itu.
Dengan senyum sinis yang tipis dan penuh intrik perlahan muncul di sudut bibirnya.
"Berapa lama lagi waktu yang kamu miliki praktek di sana?" tanya Teddy tiba-tiba, membuat Aira mendongak bingung.
"Apa?" tanya Aira bingung dengan kening yang mulai membiru sedikit mengerut.
"Waktu yang kamu punya untuk merevisi laporanmu, tinggal berapa hari lagi?"
Aira menyeka air matanya dengan punggung tangan yang kotor. "Tiga hari lagi, Om. Kenapa Om? Mau bantu?" cerocosnya dengan wajah cemberut.
Teddy berdiri, kembali merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan gerakan tenang. Dia tidak lagi terlihat seperti orang yang baru saja menyelamatkan nyawa seseorang, melainkan menemukan wadah untuk pembalasan dendam atas penderitaannya selama bertahun-tahun.
"Dengar, Anak Kecil. Nama saya Teddy. Dan sepertinya, kita memiliki musuh yang sama. Bukan kah, musuh dari musuh itu adalah rekan kerja?"
Aira mengerjapkan matanya yang sembap, menatap pria di depannya dengan perasaan campur aduk antara bingung dan penasaran. "Maksud Om, apa?"
"Arnoldy Darmawan itu bukan hanya pria yang kejam terhadap musuhnya. Ternyata terhadap seorang mahasiswa yang sedang belajar pun, tak ada bedanya," ucap Teddy, mencoba menarik kesimpulan sendiri.
"Kalau kamu ingin melawannya, kamu butuh seseorang yang tidak bisa dia remehkan. Seseorang yang memiliki status, punya koneksi, dan tentu nyali untuk melawan tatapan matanya tanpa gemetar."
Teddy mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk membangunkan Aira.
"Bagaimana kalau aku membantumu lolos dari ujian praktik itu, dengan satu syarat, kita buat Dokter Arnoldy Darmawan itu merasakan apa artinya dipermalukan di depan umum?"
Aira menatap tangan Teddy, lalu menatap wajah pria itu lekat-lekat. Ada sebuah tekad yang luar biasa di mata pria asing ini. Dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi, Aira merasa secercah harapan.
"Caranya?" tanya Aira lirih.
Teddy menyeringai, sebuah seringai yang sangat gelap dan menantang. "Kita buat dia percaya bahwa mahasiswi yang dia tindas ... sekarang sudah menjadi wanita yang aku lindungi."
Gadis itu tertegun melirik pria asing yang terlalu dewasa untuk dirinya itu.
"Om ... Jangan bilang Om mau ... pura-pura pacaran denganku?" tebak Aira dengan suara melengking.
Teddy tidak menjawab, namun tatapannya yang intens sudah cukup menjadi jawaban.
"Kamu bangun dulu. Kita harus segera pergi. Aku tidak suka bermain drama dengan penonton di tempat sampah seperti ini." Teddy mengulurkan tangannya.
Aira meraih tangan Teddy. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan kokoh pria itu, Aira merasakan sebuah kekuatan baru. Badai di dadanya memang belum reda sepenuhnya, tapi setidaknya, dia sekarang punya sekutu untuk menghadapi badai itu bersama-sama.
"Om, foto dulu yuk? Biar aku pamerin juga sama pengkhianat cinta yang telah kami bina selama satu tahun ini. Biar dia sadar, aku baik-baik saja meski telah tahu dia menikah dengan wanita lain," ucap Aira dengan menggebu.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣