Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Di Balik Perban
Di dalam ruang rawat yang sunyi, Vano masih mendekap ibunya dengan erat. Air mata bocah itu membasahi tangan Anita. Dengan sangat hati-hati agar tidak menyentuh perban yang membungkus wajah ibunya, Vano mendongak dengan tatapan mata yang dipenuhi kebingungan dan rasa takut.
"Mama... kenapa Mama bisa begini? Kenapa wajah Mama ditutup perban? Vano takut, Mama sakit ya?" tanya Vano dengan suara yang bergetar polos.
Anita merasakan dadanya sesak melihat kesedihan putranya. Menggunakan sisa-sisa tenaganya, dia menggerakkan tangan kanannya yang masih terpasang jarum infus untuk mengelus lembut rambut Vano. Dari balik celah perban mulutnya, suara Anita keluar dengan parau namun terdengar sangat menenangkan.
"Vano sayang... Mama nggak apa-apa. Mama cuma... mengalami kecelakaan akibat perbuatan Tante Valeria. Tapi Vano nggak usah takut lagi, ya? Mama di sini, Mama kuat karena ada Vano. Mama janji akan selalu jagain Vano," bisik Anita menahan perih yang luar biasa di pipinya saat dia memaksakan diri untuk berbicara.
Vano mengangguk pelan, menenggelamkan wajahnya di pelukan Anita. Kelelahan emosional setelah melewati malam yang menegangkan akhirnya membuat mata bocah itu perlahan terasa berat. Tak lama kemudian, Vano tertidur lelap dalam posisi memeluk ibunya.
Setelah memastikan Vano benar-benar terlelap, Trian dengan sigap mengangkat tubuh bocah itu dan memindahkannya ke sofa panjang di sudut ruangan, menyelimutinya dengan jaket tebal. Pintu kamar rawat dikunci rapat dari dalam oleh Niko yang berjaga di dekat pintu.
Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah mencekam saat Bu Kiara mulai membuka suara, menceritakan seluruh kejadian gila yang baru saja dialaminya di rumah mewah Randy.
"Anita... Trian..." suara Bu Kiara bergetar karena sisa trauma dan amarah yang membakar.
"Perempuan iblis itu... Valeria, dia tidur di rumah kamu, Anita! Dia bermalam di sana seolah-olah dia sudah jadi pemilik rumah itu. Ibu melihat mereka. Mereka sepertinya berhubungan mesra disaat Randy berpura-pura kehilangan dan mencari kamu di luar!"
Mendengar hal itu, rahang Trian mengeras seketika. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
"Bukan cuma itu," lanjut Bu Kiara dengan air mata yang kembali menetes.
"Ibu dan Vano ketahuan. Perempuan jalang itu menyerang Ibu, kami sempat berantem hebat. Untungnya Vano bantu gigit tangannya, dan Ibu berhasil pukul dia sampai kita lolos. Saat kami kabur, Randy mengejar mobil Ibu di tengah badai. Dia mencoba mencelakai kami, tapi untungnya mobil si bajingan itu malah hilang kendali dan jatuh ke dalam jurang perkebunan!"
Brak!
Trian memukul meja nakas di samping tempat tidur dengan keras, mengabaikan rasa sakit di tangannya. Matanya berkilat penuh amarah yang meledak-ledak.
"Mereka benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Valeria nggak cuma menyiksa kamu, Anita, tapi sekarang mereka juga berani mencoba mencelakai Ibu dan Vano!"
Di atas brankar, Anita bernapas dengan cepat. Air mata kemarahan mengalir menembus perban putihnya. Rumahnya dikotori, ibunya ditampar, dan anak kandungnya yang masih kecil diancam oleh sepasang iblis itu. Kemurkaan Anita kini telah mencapai titik tertingginya.
Trian melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Anita dengan erat. Tatapannya terkunci pada pada mata Anita yang terbuka.
"Aku bersumpah. Aku akan membuat Valeria dan Randy mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang kamu rasakan malam ini. Mereka akan memohon untuk mati saat pembalasan kita tiba."
Keesokan harinya, tirai jendela kamar rawat dibuka sedikit, membiarkan cahaya matahari pagi masuk. Seorang dokter spesialis bedah plastik senior masuk bersama dua perawat untuk memeriksa kondisi visual dari berkas rekam medis Anita.
Setelah melakukan pemeriksaan singkat pada denyut nadi dan kondisi perban luar, dokter tersebut mengajak Trian dan Anita berdiskusi secara tertutup.
"Kerusakan pada jaringan kulit luar akibat siraman air panas tersebut berada di tingkat derajat tiga," jelas dokter dengan nada serius.
"Kita harus menunggu jaringan kulitnya sedikit stabil dalam beberapa hari ini sebelum melakukan tindakan operasi rekonstruksi total. Kami akan menggunakan teknik skin grafting terbaik untuk mengembalikan struktur wajah Bu Anita."
Setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan, Trian langsung duduk di kursi samping brankar. Dia menatap Anita dengan pandangan penuh dedikasi.
"Soal operasi perbaikan wajah kamu, kamu nggak usah mikirin biayanya sama sekali, Anita. Aku sudah menghubungi salah satu tim dokter bedah plastik terbaik dari Korea yang menjadi rekanan rumah sakit ini. Aku yang akan menanggung semua proses rekonstruksinya sampai wajah kamu pulih total," ucap Trian tanpa ragu.
Anita menatap Trian, tersentuh oleh ketulusan pria yang selalu ada di sampingnya di saat paling hancur sekalipun. Namun, sorot mata Anita tidak lagi menunjukkan kelemahan. Ada ketegasan yang mematikan di sana.
"Terima kasih, Trian," jawab Anita lambat namun jelas. "Aku mau operasi ini dilakukan secepatnya secara rahasia. Wajah baruku nanti bukan cuma untuk memulihkan diri... tapi wajah ini yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa bagi Randy dan Valeria. Saat aku melangkah keluar dari rumah sakit ini dengan identitas baru, aku akan memastikan mereka berdua merangkak di bawah kakiku untuk menebus setiap tetes darah yang mengalir dari tubuhku."
Beberapa hari kemudian, hari yang dinanti tiba. Perban yang membungkus wajah Anita dilepas secara bertahap. Di depan cermin besar ruangan rawat, Anita menatap pantulan dirinya dengan napas tertahan.
Luka bakar mengerikan itu telah hilang, digantikan oleh kulit baru yang halus. Namun, kejutan besar menyapanya, wajah barunya masih sangat mirip dengan Anita yang dulu, hanya sedikit lebih tegas pada garis tulang pipi akibat proses rekonstruksi.
Anita termenung, keraguan langsung menyergap.
"Trian, wajah ini... ini masih terlalu mirip denganku. Bagaimana kalau Randy atau Valeria mengenaliku saat aku berpapasan dengan mereka? Rencanaku untuk menyamar dan menghancurkan mereka dari dalam akan gagal total," keluhnya dengan nada cemas. Dia merasa bahwa fitur wajah ini adalah kelemahan, bukan senjata.
Trian mendekat, meletakkan tangannya di bahu Anita, lalu menatap pantulan mereka di cermin. Dia tersenyum tenang.
"Jangan khawatir, Anita. Perubahan drastis bukan selalu soal struktur wajah. Jika kamu ingin orang tidak langsung mengenali 'Anita' yang mereka pikir sudah mati, kita tidak perlu merombak wajahmu lagi. Cukup ubah gaya rambutmu secara drastis."
Trian melanjutkan dengan ide taktisnya,
"Potong pendek sebahu, warnai dengan warna yang pirang gelap, atau mungkin beri poni. Dengan riasan yang tepat dan gaya rambut baru, aura kamu akan berubah total. Mereka tidak akan pernah menduga bahwa sosok yang mereka lihat di depan mata adalah wanita yang mereka anggap sudah membusuk di jurang."
Anita terdiam, meresapi saran Trian. Sebuah seringai tipis, yang pertama kalinya muncul setelah sekian lama, terukir di bibirnya. Rencana itu masuk akal. Ia tidak perlu menjadi orang lain, ia hanya perlu menjadi versi yang lebih tajam dan tak tertebak dari dirinya sendiri.
Bersambung