Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendiri yang Menghilang
"Kakekmu adalah orang yang menciptakan semuanya."
Kalimat itu menggema di dalam pabrik.
Tidak ada suara lain.
Tidak ada gerakan.
Hanya keheningan yang terasa semakin berat.
Aruna berdiri membeku.
Pikirannya menolak menerima apa yang baru saja ia dengar.
Sepanjang hidupnya, ia tumbuh dengan satu kenyataan sederhana.
Ibunya telah meninggal.
Ayahnya adalah Dimas.
Keluarganya kecil.
Biasa.
Sederhana.
Namun dalam satu malam...
Ia mengetahui bahwa ayahnya bukan ayah kandungnya.
Bahwa ayah kandungnya adalah Mahendra.
Bahwa ibunya dibunuh.
Bahwa tubuhnya menyimpan rahasia.
Dan sekarang...
Kakek yang bahkan tidak pernah ia kenal ternyata adalah pencipta organisasi yang telah menghancurkan hidup begitu banyak orang.
Termasuk hidup ibunya sendiri.
---
"Tidak."
Suara Aruna terdengar pelan.
"Tidak mungkin."
Mahendra tidak menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya, ia berharap hal yang sama.
Berharap semua ini tidak pernah terjadi.
Berharap Alya tidak pernah menemukan kebenaran.
Berharap malam itu tidak pernah datang.
Namun kenyataan tidak bisa diubah.
Dan kebenaran tidak bisa dikubur selamanya.
"Namanya siapa?"
tanya Aruna.
Mahendra memejamkan mata.
Lama.
Sangat lama.
Lalu menjawab,
"Surya Atmadja."
Nama itu terasa asing.
Sangat asing.
Aruna belum pernah mendengarnya.
Tidak sekali pun.
Namun reaksi orang-orang di sekitarnya berbeda.
Jonathan membeku.
Ratih menunduk.
Reza memucat.
Bahkan Adrian terlihat tegang.
Dan itu membuat Aruna sadar.
Nama itu mungkin asing baginya.
Namun tidak bagi mereka.
---
"Dia seharusnya mati."
bisik Reza.
Jonathan tertawa kecil.
"Tidak."
Senyumnya tipis.
Hampir tidak terlihat.
"Itulah masalahnya."
Tatapannya berubah jauh.
Penuh kenangan lama.
"Tak ada seorang pun yang pernah menemukan jasadnya."
Ruangan kembali sunyi.
Kalimat itu terasa mengerikan.
Karena mereka semua sudah melihat pola yang sama berulang kali.
Mahendra seharusnya mati.
Ternyata hidup.
Jonathan seharusnya tidak ada.
Ternyata ada.
Dan sekarang...
Pendiri organisasi itu juga tidak pernah ditemukan.
---
"Jadi kalian pikir dia masih hidup?"
tanya Adrian.
Mahendra tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia menatap Jonathan.
Pria tua itu balas menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Mereka terlihat sepakat dalam satu hal.
"Kami tidak tahu."
kata Jonathan.
"Tapi kami tidak pernah berani menganggap dia mati."
Bulu kuduk Aruna langsung berdiri.
Karena ada rasa takut dalam suara Jonathan.
Ketakutan yang nyata.
Dan jika Jonathan takut kepada seseorang...
Maka orang itu pasti jauh lebih berbahaya daripada dirinya.
---
"Alya menemukan namanya di daftar."
Ratih kembali berbicara.
Suaranya semakin lemah.
Namun semua orang tetap mendengarkan.
Karena wanita itu adalah salah satu saksi terakhir dari masa lalu.
"Awalnya dia hanya terkejut."
Ratih tersenyum sedih.
"Sangat terkejut."
"Ayah yang selama ini dia cari ternyata terkait dengan organisasi yang selama ini dia selidiki."
Aruna menunduk.
Dadanya terasa sesak.
Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar bisa memahami perasaan ibunya.
Betapa bingungnya.
Betapa hancurnya.
Betapa sulitnya menerima kenyataan tersebut.
---
"Tapi itu belum semuanya."
kata Ratih.
Dan kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali menegang.
Karena setiap kali seseorang mengatakan "belum semuanya" malam ini...
Selalu ada rahasia baru yang lebih buruk.
"Apa lagi?"
tanya Aruna.
Ratih menatapnya.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Lalu ibumu menemukan sebuah foto."
Jantung Aruna berdegup keras.
Foto?
Foto apa?
"Foto yang diambil tiga tahun sebelum dia dibunuh."
Ratih menarik napas dalam-dalam.
"Dan di foto itu..."
Suaranya mulai bergetar.
"...ayahnya masih hidup."
Ruangan langsung membeku.
---
"Apa?"
Aruna membelalak.
Tiga tahun sebelum kematiannya?
Berarti kakeknya masih hidup saat itu.
Masih hidup.
Setelah puluhan tahun menghilang.
Setelah semua orang mengira dirinya telah mati.
"Tidak mungkin."
bisik Adrian.
Namun Ratih mengangguk.
"Itulah yang membuat Alya tidak berhenti mencari."
Air mata kembali mengalir di wajah wanita itu.
"Dia yakin ayahnya masih hidup."
"Dan semakin dia mencari..."
Tatapannya beralih kepada Jonathan.
"...semakin dekat dia pada kematiannya."
---
Jonathan menghela napas panjang.
Seolah mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan.
"Aku memperingatkannya."
Kalimat itu membuat semua orang menoleh.
"Apa?"
tanya Aruna.
Jonathan mengangguk.
"Aku benar-benar memperingatkannya."
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan dalam suaranya.
Tidak ada ejekan.
Hanya kelelahan.
"Karena saat itu aku tahu."
"Tahu apa?"
Jonathan tersenyum pahit.
"Bahwa ada orang yang sedang mengawasinya."
Ruangan menjadi sunyi.
Sangat sunyi.
Karena semua orang mulai memahami ke mana arah pembicaraan itu.
"Orang itu bukan aku."
kata Jonathan.
"Bukan Mahendra."
"Bukan Ratih."
"Bukan siapa pun yang ada di sini."
Jantung Aruna mulai berdegup semakin cepat.
Karena ia sudah bisa menebaknya.
Atau setidaknya mencoba menebaknya.
---
"Surya Atmadja."
bisiknya.
Jonathan tidak menjawab.
Namun diamnya terasa lebih kuat daripada kata-kata.
Dan itu membuat darah Aruna terasa dingin.
Karena untuk pertama kalinya...
Nama itu mulai terasa nyata.
Bukan sekadar sosok dari masa lalu.
Bukan sekadar orang yang hilang.
Melainkan seseorang yang mungkin masih hidup.
Dan mungkin...
Masih mengendalikan semuanya.
---
"Tidak."
Mahendra tiba-tiba berbicara.
Suaranya tegas.
Berat.
Penuh keyakinan.
Semua orang menoleh.
"Ada satu hal yang tidak cocok."
Jonathan mengernyit.
"Apa?"
Mahendra mengepalkan tangan.
Tatapannya menjadi sangat serius.
"Seseorang membunuh Alya."
Ruangan kembali sunyi.
"Tentu saja."
kata Jonathan.
Mahendra menggeleng.
"Tidak."
"Seseorang yang sangat dekat dengannya."
Jantung Aruna langsung berdebar.
Apa maksudnya?
"Alya tidak akan bertemu orang asing malam itu."
Mahendra melanjutkan.
"Dia terlalu berhati-hati."
"Dia terlalu pintar."
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
"Artinya pembunuhnya adalah seseorang yang dia percayai."
Kalimat itu menghantam semua orang.
Karena memang benar.
Alya tidak mungkin datang sendirian menemui orang yang tidak dikenalnya.
Tidak setelah mengetahui begitu banyak rahasia.
Tidak setelah diburu.
Tidak setelah diancam.
---
Dan saat itulah...
Sebuah suara terdengar.
Suara yang selama ini tidak terdengar.
Suara yang selama beberapa bab hanya diam.
Suara yang berasal dari pria yang selama ini dianggap korban.
Dimas.
"Aku tahu siapa orang itu."
Ruangan langsung membeku.
Semua kepala menoleh kepadanya.
Termasuk Aruna.
Termasuk Adrian.
Termasuk Mahendra.
Bahkan Jonathan terlihat terkejut.
Karena tidak seorang pun menyangka Dimas akan mengatakan itu.
"Apa?"
bisik Aruna.
Dimas mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya merah.
Penuh air mata.
Penuh rasa bersalah.
Namun juga penuh tekad.
Seolah akhirnya ia memutuskan untuk membuka rahasia terakhir yang selama ini ia simpan.
"Aku tidak melihat wajahnya."
katanya pelan.
"Tapi aku mendengar suaranya."
Jantung semua orang berdegup keras.
"Ayah..."
bisik Aruna.
Dimas menatap putrinya.
Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan kehilangan napas.
"Dan aku pernah mendengar suara itu lagi."
Keheningan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu Dimas perlahan mengangkat tangannya.
Menunjuk ke arah seseorang.
Seseorang yang sama sekali tidak diduga oleh siapa pun.
Seseorang yang selama ini berada di sisi mereka.
Seseorang yang selama ini tampak tidak berbahaya.
Dan saat semua mata mengikuti arah jarinya...
Wajah Ratih Mahesa berubah pucat.
Bersambung...